KARTU NATAL, JODOHKU

(Rini Giri)

Dia pernah kutolak. Tapi akhirnya aku kelimpungan sendiri karena menyesal. Apa ada kesempatan kedua? Wah, dia udah gak nawarin lagi tuh! Lagipula, mana mungkin aku menjilat ludahku sendiri? Gengsi dong! Tapi gimana ya, apa ada cara untuk memancingnya kembali? Waktuku tidak banyak. Jika aku tidak segera bertindak, bisa-bisa dia keburu berpaling sama yang lain. Kata teman, dia jagoan di bidangnya. Banyak cewek-cewek yang bertandang buat tanya ini-tanya itu. Gimana kalau salah satu diantara mereka bisa mengalihkan dunianya dalam waktu singkat? Oh, tidak! Kali ini aku harus jadi juaranya!

Natal sudah berlalu. Hatiku sepi. Kemana kegembiraan yang baru saja kumiliki dalam derai tawa, saling jabat tangan, dan lagu Gloria In Excelsis Deo? Aku merasa sendirian lagi. Sudah berumur sembilanbelas tapi tidak punya pacar. Gerimis  dan turunnya kabut dari lereng Merbabu membuatku bergidik. Hatiku terasa dingin. Sudah saatnya aku mengenal cinta. Sudah sangat ingin. Tapi kenapa tak datang juga yang seperti kumau? Katanya jodoh itu di tangan Tuhan. Gak usah dicari bakal datang sendiri. Tapi kok gak datang-datang? Padahal sohibku sudah gonta-ganti tiga kali! Atau jangan-jangan dia cuma try and error ya, tanpa menunggu yang seperti dia mau. Jadi kalau sudah ketahuan gak sesuai selera, putus aja! Amit-amit!

Sikap ini adalah pendobrakanku. Aku gak mau hanya menunggu dan sabar menanti disamperin cowok duluan. Aku betina, calon induk, jadi harus memilih sesuai dengan kebutuhanku. Aku gak mau try and error kayak sohibku itu. Jadi, kalau aku memang suka pada seseorang, aku akan katakan padanya terus terang. “I like you very much.” Soal dia mau, jadi jijik, pengin muntah, jadi cegukan karena saking kagetnya, aku gak peduli. Yang penting suara hati di dalam ini sudah terungkapkan dan dia tahu kalau aku suka. Kalau aku gak ngomong mana paham dia, apalagi rata-rata cowok itu radarnya kacau, sampai-sampai gak ngeh kalau cewek yang sedari tadi duduk ngelihatin dirinya itu sebenarnya suka sama dia. Jadi daripada rasa dipendam dan jadi busuk, mending dikatakan dan jadi kejutan.

Wah, tapi cowok rata-rata masih sangat konservatif. Menjunjung tinggi budaya ketimuran. Harus mereka dulu yang nembak, harus mereka dulu yang ngelamar, bahkan harus mereka dulu yang ngajak kencan dan bayar ini-bayar itu. Weleh-weleh! Rugi amat jadi cowok ya? Tapi di mataku, cewek dan cowok punya hati dan perasaan yang harus sama-sama dihormati. Cewek yang berani ngungkapin perasaannya adalah cewek yang merdeka. Kalu cuma nunggu dilamar orang, nunggu ditembak duluan, bisa seret jodoh deh. Soalnya yang ditunggu keburu nembak dan ngelamar orang lain. Tapi, terlalu agresif ternyata juga tidak aman, bisa susah jodoh juga karena cowok-cowok pada takut. Takut disaingi prestasinya, maksudnya. Cuma caranya, Sob, caranya. Mengungkapkan perasaan itu tidak harus dengan teriak kok. Bisa pakai cara halus, mulus, bahkan nyaris tak terlihat. Tapi punya efek yang jitu.

Ini yang baru kucari. Cara. Bagaimana caranya untuk memancing dia perhatian sama aku lagi? Aduh, kenapa sih kok aku tolak dia? Kesambet apa ya waktu itu kok sampai-sampai mataku jadi buta, kupingku jadi tuli, kulitku tak sepeka biasanya, lidahku tak mampu mengecap rasa, dan hidungku tak bisa mencium aroma. Padahal mataku menangkap pribadi yang santun, kupingku mendengar penuturan yang rendah hati, kulitku menyentuh keteduhan jiwanya, lidahku mencicip manis ketulusannya, dan hidungku menghirup wangi semangat hidupnya. Aku bodoh banget! Kenapa aku jadi betina yang bodoh, yang tak mampu membedakan mana sarang berkualitas dan sarang lapuk? Oh, mungkinkah aku bisa memutar waktu untuk kembali?

“Ada kartu Natal tuh! Baru datang!” Teriak ibu. Natal sudah lewat, masa masih ada orang kirim kartu sih? Kurang kerjaan! Ternyata dari sepupuku yang di Jogja. Masih ingat juga dia sama kakak sepupunya ini. Lucu juga rasanya menerima kartu natal terlambat! Ah, iya…kartu Natal. Gara-gara kutolak kemarin, dia kan agak mengundurkan diri dan udah gak kepikiran lagi buat kirim kartu natal padanya. Kukirimi aja dia kartu Natal. Akan kusengaja dibikin sampai di alamatnya setelah tahun baru. Apa reaksinya? Apa dia bakal merasa lucu juga? Lantas ingat padaku dan mencoba menghubungi aku lagi….lalu….

“Terimakasih ya atas kiriman kartu Natalnya. Selamat Natal dan Tahun Baru. Tuhan memberkati. Sepertinya sudah tidak ada salju turun dan tidak ada kue jahe, tapi syahdunya Natal masih terasa sampai di sini begitu aku buka kartu kamu. Best whises.” Hanya itu yang dia tulis sebagai balasannya. Tak apalah, yang penting dia senang dengan kartu telat itu. Apalagi dia punya harapan yang terbaik buatku. Hehehehe….aku sedikit tersenyum. Langkah pertama cukup berhasil.

Wah, tapi aku harus buru-buru. Dia sudah cukup kecewa dengan penolakanku, jadi bisa saja kartu itu hanya dianggapnya sebagai permohonan maaf dariku dan tanda bahwa kami masih bisa saling berteman. Dia kan masih bisa menoleh ke arah cewek lain. Ini tak kan kubiarkan terjadi. Kutulis lagi balasan, menanyakan kabarnya dan minta maaf karena kartunya terlambat. Kutanya pula bagaimana dia melalui Natal dan Tahun Baru. Kutanya bagaimana kuliahnya, apa skripsinya udah mau kelar, apa dosennya gampang ditemui, apa kampus barunya udah diresmikan. Pokoknya tanya apa saja untuk memancing dirinya agar merasa punya kewajiban untuk membalas suratku dan menulis banyak. Wah, tapi rupanya dia sangat hemat. Suratku yang tiga lembar itu hanya dibalas selembar kecil dengan empat kalimat. Kayak pantun aja.

“Skripsiku lancar dan minggu depan ujian pendadaran. Semoga bisa wisuda tahun ini. Rencananya aku akan kerja di Jakarta. Doakan ya, Tuhan memberkatimu.” Waduh! Mau pergi jauh dia! Saat itu awal Februari menjelang hari kasih sayang. Apa yang bisa kulakukan lagi untuk membuatnya menoleh padaku lagi? Kalau dia pergi tanpa tahu bagaimana perasaan aku sebenarnya, bisa-bisa sarang nyaman yang kubutuhkan itu akan lenyap selamanya. Lantas kugunting kertas asturo warna merah hati, kutempeli potongan hati dari kertas serupa warna merah jambu. Kukirim padanya tanpa tulisan. Apapun yang bakalan terjadi, aku gak peduli. Yang penting dia tahu bahwa ternyata ucapanku sebelum Natal itu keliru dan hatiku memberi kesempatan kedua. Kutunggu lama, kartu valentine tanpa kata itu tak dibalas. Hatiku kian gelisah. Pasti dia menganggapku cewek plin-plan dan memilih untuk tidak peduli lagi. Ya sudah, yang penting aku sudah berusaha dan mencoba jujur.

Akupun kembali larut dengan kuliah dan kegiatan kampus. Ingin melupakan strategi yang kuanggap jitu tapi ternyata bodoh itu. Hufh! Otakku malah kepikiran dia terus. Gila, kenapa malah aku yang berbalik jatuh cinta padanya? Kenapa dia malah tampak kian menarik justru setelah kutolak mentah-mentah? Kenapa aku jadi kangen? Waaaaaaaaaa!

“Rin, tadi pagi ada temanmu yang datang ke rumah. Katanya dia mau pamitan. Kubilang kalau kamu masih di tempat kuliah dan baru pulang lusa. Lalu dia minta alamat dan nomor telepon asramamu.” Kata ibu di telepon sore itu.

“Siapa?”

“Yang sebelum Natal main ke rumah.”

“Yang keriting dan suka bawa tas hitam itu?”

“Ya. Yang itu.”

“Trus Ibu bilang apa lagi? Dia bilang apa ke Ibu? Gimana dia? Trus sekarang dia di mana? Apa Ibu ajak dia ngobrol? Apa Ibu ngajak dia masuk rumah dan bikin teh? Apa Ibu tanya kenapa datang? Trus pamitan kemana? Nitip pesan gak? Ninggalin alamat ato nomor telepon baru gak?” Ibuku sampai gelagapan.

“Rin, tenang. Ada apa sih?” Aduh, aku jadi  merah padam.

“Nggak, nggak papa, Bu.” Aku segera menarik nafas dalam begitu Ibu menutup telepon. Dia datang? Mencariku? Setelah dua bulan kartu merah tanpa kalimat itu kukirim dan tak dibalasnya? Aku senyam-senyum sendiri, sampai-sampai suster asrama menegurku. “Rin, sadar diri! Baru dapat kabar baik dari Ibumu ya?” Aku terkesiap dan buru-buru menganguk malu pada suster. Tapi dia mau pamitan? Jadi pergi ke Jakarta? Ya Tuhan, jauh sekali. Apa arti ini semua? Hatiku ketar-ketir.

“Rin! Ada tamu!” Teriak kakak asaramaku. Akupun ambil nafas lagi dan bergegas menuju ruang tamu. Mungkin ada teman kampus yang mau pinjam buku atau catatan. “Ya, Kak, bentar!” Teriakku. Liku-liku lorong asrama yang berlantai licin membuatku tak segera sampai. Setelah menggapai ruang tamu asrama aku celingukan. Tak ada satupun teman kampus yang datang. Tapi, di pintu, dia…yang berambut keriting dan membawa tas hitam tersenyum padaku. Jantungku serasa terhenti, lidahku kelu, tenggorokanku tercekat, bibirku beku, dan jemariku kaku. “Kau?” hanya itu yang kuucap.

“Hai! Apa suster asramamu mengijinkan putrinya untuk kuajak jalan-jalan sebentar?” Sapanya manis. Aku masih gelagapan.

“Oh, iya kali. Eh, iya, iya.” Jawabku kalang kabut.

“Dan putrinya juga tidak keberatan?” Tanyanya lagi. Aku berusaha untuk bernafas. Menelan ludah dan menggerakkan jari-jariku.

“Tentu saja.” Jawabku akhirnya. Nafasku senen-kemis. Kupejamkan mata untuk menghimpun keseimbangan dalam tubuhku. Dia tampak membuka tas dan meraih sesuatu dari dalam. Kartu itu.

“Ini punyamu?” Aku mengangguk. Aduh, jangan-jangan dia datang cuma mau ngembaliin itu. “Kok gak ada tulisannya?” Tanyanya. Aku tersenyum sumbang. Em, ah, eh, oh….“Sekarang ada tulisannya kok. Baca aja.” Katanya lagi sambil menyodorkan kartu itu. Aku menerimanya dengan gemetar. Membuka dan membacanya.

“Aku terima hatimu.” Begitu tulisan di dalam. Aku terbelalak lantas bengong. Menatapnya heran.

“Hei, lekas minta ijin sama sustermu. Mungkin kita pulang agak malam.” Tegurnya. Aku tersipu malu. Kulipat lagi kartu itu dan kukembalikan padanya.

“Kau saja yang minta ijin.” Ujarku. “Tuh, suster sedang berjalan kemari.” Diapun menyapa suster dengan santun dan mengutarakan niatnya.

“Jam sembilan harus udah sampai asrama lagi ya.” Pesan suster. Suster menarik tanganku dan berbisik menggoda,”Dia manis.” Katanya. “Ah, suster.” Aku tersipu-sipu.

Dia memang manis, Suster. Makhluk berhati manis yang pernah kukenal. Tak rugi aku telah memilihnya empatbelas tahun lalu, untuk membangun sarang nyaman kami. Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi dia tak datang dengan sendirinya. kadang melalui jalan yang berliku dan butuh sedikit usaha. Dia telah dipilihkan Tuhan untukku. Untuk kupilih. Dan dialah pilihanku untuk selama-lamanya. Persatukanlah kami dalam ikatan KASIHMU yang kudus dan abadi, ya Tuhan.

Tertarik dengan yang ini?

  • I wish…. (sebuah catatan menjelang Natal…)
  • KENAPA AKU LELET, BU?
  • Selamat Menikmati Tahun Baru 2011!
  • Dekil
  • The Colors of Christmas
  • Sinterklas dan kado
  • CUNG BALONTHET!
  • Selamat Tahun Baru 2010
  • I lost  my friend a week before christmas…
  • Enam Hari Sebelum

Comments (3)

martinaAugust 26th, 2009 at 2:56 pm

Nice……..very nice……! BTW busway anyway…aku kalau di rumah dipanggil Rini juga…!

ImeldaAugust 26th, 2009 at 3:41 pm

so sweet …

rini giriAugust 31st, 2009 at 9:58 am

Martina : nama Rini kayaknya emang banyak yang suka….pasaran tapi keren….keren makanya jadi laku dan banyak yang pake hehehe
Imelda: permen ato coklat?

Leave a comment

Your comment