KENAPA AKU LELET, BU?

(Rini Giri)

“Kenapa di masa kecil aku kurang mendapat perhatian orang, Bu? Kenapa rasanya masa itu tidak seindah masa remajaku? Kenapa seingatku aku  tidak pernah disertakan dalam lomba-lomba? Kenapa pula guru tariku tak pernah mengajakku pentas? Kenapa aku juga selalu tertinggal dan tidak selincah lainnya?” Aku bertanya pada ibu.

“Kau penyakitan waktu kecil dulu. Waktumu habis untuk jadwal berobat. Penyakitmu itu bikin kamu tidak pernah bisa konsentrasi.” Jawab ibuku. Ya, aku ingat. Waktu itu aku kelas empat, ikut les tari tradisional. Ketika teman-teman diajak pentas di kelurahan, aku tidak disertakan. Guruku bilang, aku belum juga hapal gerakannya. Aku memang luwes menari, tapi urutan gerakannya hanya mengikuti teman. Tidak bisa menghapal sendiri. Waktu kelas lima SD aku ikut lomba paduan suara tingkat kecamatan. Sebenarnya aku disertakan karena suaraku lumayan lantang, tapi di tengah proses latihan, tempatku ditukar dengan anak lain dan aku hanya dijadikan cadangan. Alasan guruku, aku tidak fokus.

Teman-teman sepermainan juga hanya menganggapku pupuk bawang. Sama sekali tidak diperhitungkan. Sebab jika main gobak sodor mudah tertangkap, main jelung umpet kurang gesit mencari musuh, main lompat tali selalu meleset, dan main jethungan lariku tidak kencang. Akhirnya malah merugikan kelompok yang merekrut aku. Aku memang lelet, kelemar-kelemer geraknya, dan berjalan saja butuh waktu lama. Bahkan teman-teman yang sekampung tidak ada yang mau berangkat sekolah bareng sama aku. Mandinya lama, pakai baju berjam-jam, sisiran boros waktu, belum lagi pakai kaos kaki dan sepatu. Berjalannyapun lenggang-kangkung sampai-sampai sering ditinggal duluan. Namun kelak saat kelas enam dan pindah rumah, ada teman sebaya bernama Rere yang bisa mengerti kelambananku itu. Dia sahabat terbaik.

Aku baru sembuh dari flek paru-paru kelas 6 SD. Sejak masih di bangku taman kanak-kanak hingga kelas enam, seminggu sekali ibu atau bapak mengantarku ke BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru) Salatiga. Letaknya dekat Pasar Sapi. Empatbelas kilometer dari rumahku di kaki Merbabu. Orang yang tahu masa kecilku lantas berjumpa denganku sekarang, pasti akan terheran-heran. “Bagaimana mungkin kamu sekarang bisa sesubur ini, padahal dulu waktu kecil napasmu tinggal rabu-jumat? Dadamu persis papan piano karena tulang iganya menonjol semua? Yang masih sama cuma hidung besarmu itu yang sering cungar-cungir. Ya, itu tetap, tidak bisa berubah.”

“Puji Tuhan. Berkat doa semuanya.” Jawabku selalu.

Waktu itu jika terserang flu ringan saja, hidungku akan tersumbat, dadaku sesak, nafasku berbunyi, dan disertai batuk-batuk yang berdahak banyak. Dadaku ini rasanya seperti terbakar jika akan memuntahkan riak dari dalam tenggorokan. Pengobatan itu begitu lama dan membosankan. Setiap hari selama hampir tujuh tahun aku harus minum puyer dan obat batuk hitam. Beberapa bulan sekali dironsen untuk mengetahui perubahan kesehatan paru-paruku. Kadang-kadang juga diberi suntikan. Saking napasku susah dan ujung hidungku jadi gatel, hidungku sampai sering bergerak cungar-cungir. Itu kebawa sampai sekarang.

“Kalau mau sembuh, tidak sakit lagi saat batuk, kamu harus terus berobat sampai dokter bilang bahwa paru-parumu sudah sembuh. Kamu tidak mau kan kalau batuk sampai keluar darah seperti bapak-bapak tadi?” Ibuku selalu memberi dorongan. Aku mengangguk-angguk karena serem juga melihat seseorang di BP4 tadi batuk sampai muntah darah.

“Ayo berobat lagi. Nanti habis dari BP4 kita makan sate di Rumah Makan Kantil, atau soto Elang Sari, atau gulai di Mbok Wedus.” Nah, itu jurus bapakku. Dan biasanya aku memilih gulai Mbok Wedus di tengah pasar Salatiga. Lemak iso dan babatnya gurih banget, sampai-sampai menempel di langit-langit mulut. Aku pasti akan menurut kalau sudah diberi janji manis seperti itu.

Namun, lama-kelamaan, bujukan ibu dan janji-janji bapak tak mampu mengalahkan kejenuhanku berobat. Aku capek harus minum puyer pahit, OBH yang rasanya getir, disuntik terus-terusan. Suatu hari ketika dokter akan menyuntik, ibu bertanya bagaimana kondisiku, apa sudah akan membaik. Dokter itu menyuruh ibuku untuk tetap bersabar, butuh waktu agak lama lagi. Aku yang sudah kelas satu SD paham maksud pembicaraan itu. Berobatnya masih lama, menelan obatnya masih lama, masih akan disuntik terus tiap minggu. Sebeeeeel!!!!

Saat aku tengkurap di pangkuan ibu dan siap disuntik, aku sengaja kencing di celana. Soooorrrrr owor-owor-owor! Ibuku kaget sampai setengah berdiri dan sepatu dokter yang mengkilap tersiram oleh pipisku. Kuingat betul wajah ibu yang menahan malu dan berkali-kali minta maaf pada dokter. Akhirnya dokter membiarkanku pulang tanpa disuntik. Dokter agak marah dan perawatnyapun ngomel. Ibuku marah besar. Sepanjang jalan aku diomeli. Dan waktu bapak yang mengantar, saat dokter siap dengan ampul dan jarum suntik, aku buru-buru lari ke luar ruang periksa sambil berteriak-teriak. Semua pengunjung sampai menoleh ke arahku. Bapak mengejar tapi aku terus lari. “Habis ini kita ke gulai Mbok Wedus!” Aku berteriak tidak mau dan hari itu dokter batal menyuntik.

Pemberontakan kecilku membuahkan sedikit hasil. Tapi apa akibat berikutnya? Ketika aku terserang flu lagi, badanku jadi panas, sesak napas, tidak bisa tidur, bahkan seolah-olah semua benda di rumah kami menjadi gumpalan hitam. Aku masih ingat betul kejadian itu. Lemari, rak, gambar, pintu, jendela, jadi bergumpal hitam. Aku berteriak-teriak ketakutan meskipun sudah berada di gendongan ibu. Sejak saat itu aku tidak berani berontak lagi saat berobat. Bahkan tak perlu diajak makan ke gulai Mbok Wedus pun aku mau.

Saat kelas enam SD, penyakit itu dinyatakan sembuh. Namun setiap aku terserang flu, masih agak menyiksa. Terkena dingin dan angin sebentar saja, batuk-batuk langsung menyerangku lagi. Tapi aku sudah tidak harus pergi ke BP4, cukup berobat di puskesmas atau klinik terdekat. Setiap bepergian malam aku pasti memakai jaket dan bawa remason untuk menghangatkan tenggorokanku. Tubuhku mulai berisi dan makanku lahap. Kelas enam SD merupakan titik balik pertumbuhanku.

Sejak kesehatan tubuh mulai kumiliki dan aku makin akrab dengan sahabatku Rere, prestasi demi prestasi mulai bisa kuraih. Di kelas enam, mendadak sontak aku jadi rangking 3, padahal sebelumnya boro-boro!  Aku juga mulai disertakan dalam lomba menggambar dan baca puisi. Aku mulai dianggap fokus. Dan setelah SMP, nilai-nilaiku semakin mengalami kemajuan dan konsentrasikupun membaik. Lomba cerdas cermat P4, baca puisi, dan mengarang mulai dipercayakan kepadaku. Saat SMA kondisinya menjadi lebih baik lagi. Dan puncaknya saat kuliah. Fisikku semakin kuat sehingga mampu mengikuti banyak kegiatan.

Jika teringat masa kecil yang nyaris tanpa prestasi itu, meskipun prestasi itu hanya sekedar bisa ikut manggung di acara RT, hatiku nelangsa. Itu menjadi dendam kesumat yang luar biasa. Aku tidak ingin ada anak-anak yang melewatkan masa kecilnya tanpa kenangan manis, meski itu hanya sekedar turut serta dalam lomba tujuhbelasan di gang. Maka dendamkupun bekerja. Sejak kuliah aku mulai tertarik menjadi volunteer pendampingan anak-anak. Di Code, Tepus Gunung Kidul dan di Tritis Merapi. Aku pernah belajar tari, teater, puisi, dan melukis. Setiap ada kesempatan bagi anak-anak untuk pentas, aku segera melancarkan serangan dendamku itu.

Bagiku, tidak ada anak yang tidak bisa. Semua bisa mengeksplor dirinya. Tak pernah aku memilih si A harus nari atau si B harus main drama. Selalu kutanya,”Ning, kamu mau ikut apa? Tari atau  drama? Puisi atau nembang?” Mereka menentukan minatnya sendiri. Dengan begitu mereka lebih bertanggungjawab dalam latihan dan tidak merasa terpaksa. Semua  anak boleh ikut. Semua anak boleh berperan. Supaya mereka tidak perlu bertanya,”Mbak Rini, kenapa aku tidak diikutkan dalam pentas?” Seperti pertanyaanku kepada ibu. Dan akupun tidak perlu menjawab,”Ning, kamu gak fokus. Kamu gak bisa konsentrasi. Kamu gak apal gerakan dan dialognya. Gimana mau pentas?” Kekompakan tim akan terwujud tergantung pendekatannya.

Aku benar-benar kecewa telah dijadikan cadangan dan tidak disertakan dalam pentas tari di kelurahan duapuluh tiga tahun silam. Maka aku tidak ingin ada anak yang kecewa karena tidak dipilih sepertiku. Bagiku hasil di panggung bukan tujuan. Yang penting adalah bagaimana anak-anak belajar selama latihan. Saling mengingatkan, saling membantu, dan saling menyemangati. Bukan persaingan!

Sekarang, saat aku sudah punya rumah dan lingkungan sendiri, aku selalu memanggil setiap anak untuk turut ambil bagian dalam acara-acara RT. Tujuhbelasan, tahun baruan, dan Natalan. Mereka bisa menari, membaca puisi, main drama, fashion show dan membuat vokal grup. Percaya tidak kalau aku hapal semua nama anak di RT-ku yang jumlahnya ada 125 orang? Padahal kadang aku tidak tahu nama bapak dan ibunya. Merekapun selalu memanggil,”Bu Giri! Bu Giri!” setiap kali aku lewat di depan rumah mereka dengan sepeda motor bututku. Soalnya nama suamiku, Pak Giri. Itulah upah yang telah terbayar dari dendam masa laluku.

“Aku heran sama kamu. Bisa-bisanya setiap tahun kamu ajak anak-anak berlatih. Apa gak capek? Apa suamimu gak protes? Apa anak-anakmu gak keteteran?” tanya salah seorang tetangga. Aku hanya tersenyum lantas menggeleng.

“Energiku banyak sekali, Bu. Sayang kalau terlewatkan.” Jawabku. Energi yang lahir dari dendam kesumat masa kecilku memang luar biasa banyak. Hatiku senang jika melihat anak-anak berlenggak-lenggok di panggung dengan penuh percaya diri, sementara ayah dan ibu mereka sibuk menjepret kesana-kemari dengan kamera. Aku merasa hidup melihat ibu-ibu yang anaknya ikut pentas merasa begitu bangga. Mungkin seandainya aku tidak penyakitan, bisa fokus dan konsentrasi, ibuku pasti juga akan sangat bangga padaku seperti ibu-ibu itu.

Kupersembahkan hidupku untuk senyum anak-anak. Aku khawatir mereka akan punya dendam kesumat sepertiku. Mungkin jika mereka bisa mengelola dendam itu dengan baik dan menjadikannya energi positif untuk berkarya, tak jadi soal. Tapi aku belum yakin jika semua orang bisa mengelola dendamnya sedemikian bagus. Aku harap semua bisa, tapi aku belum yakin.

Tertarik dengan yang ini?

  • I wish…. (sebuah catatan menjelang Natal…)
  • KARTU NATAL, JODOHKU
  • Selamat Menikmati Tahun Baru 2011!
  • Dekil
  • The Colors of Christmas
  • Sinterklas dan kado
  • CUNG BALONTHET!
  • Selamat Tahun Baru 2010
  • I lost  my friend a week before christmas…
  • Enam Hari Sebelum

Leave a comment

Your comment