LELAKI KECIL YANG KUCINTA

(Rini Giri)

Apa ya yang membuatku jatuh cinta padanya? Badannya kecil dan rambutnya keriting. Jauh dari unsur-unsur kegantengan pada umumnya. Tapi aku suka. Aku sempat menyesal telah menolaknya dan mati-matian berusaha meraih perhatiannya kembali. Apa karena dia anak eksakta, sosok yang kuimpikan untuk melengkapi kekuranganku? Ah, sebenarnya bukan itu alasan utamanya.

Aku lebih merasa nyaman saja berada di dekatnya. Keluguan, kurang gaulku, introvert-ku,  minderku bisa dilindunginya. Dia melihat suatu sisi lain yang layak dibanggakan dari hidupku yang serba kurang lengkap. Di depan teman-temannya, dia selalu tanpa beban memperkenalkanku.

Bukankah dirimu sendiri keki jika pergi ke mana-mana dengan seseorang yang lebih sering menundukkan kepala, diam, canggung, dan asyik dengan dunianya sendiri? Itulah aku. Tapi dia malah menganggapnya sebagai sesuatu yang menarik. “Kenapa harus menjadi seperti orang lain jika dirimu nyaman dengan keadaanmu? Tapi, ada baiknya kalau lebih ramah pada orang lain. Sapaan dan senyuman kan bisa mendatangkan teman. Punya teman banyak itu enak lho. Kita jadi punya banyak jalan untuk meraih sesuatu.” Begitu komentarnya. Ya, dari dia, dan sejak dekat dengannya, aku mulai bisa belajar membuka hati  dan menjadi lebih ramah pada orang lain.

Dia tidak pernah menyuruhku diet agar punya perut selangsing gadis-gadis lain. Aku dengar, beberapa teman di asrama sengaja mengurangi makan karena disuruh oleh cowoknya. Kasihan! “Ngapain diet, nanti malah sakit. Kamu kan jauh dari keluarga. Kalau sampai kena tipus atau mag akut, siapa yang mau ngurus? Aku kan gak boleh masuk ke dalam asramamu.” Dia malah sering datang ke asrama dan mengajakku keluar untuk makan pecel lele, gudeg ayam, atau nasi padang demi melihat menu asrama yang serba minimalis itu. Dia khawatir aku kurang gizi hahahaha. Nah, untuk urusan ini dia tajir. Kuliahnya dibiayai beasiswa URGE dari Bank Dunia.

Ketika uang sakuku per bulan hanya 75 ribu (sebelum krisis moneter tahun 1997), dia bisa mengantongi 500 ribu per bulan hanya dari beasiswanya. Belum lagi, dia jago cari uang. Matematika, Fisika, dan Kimia yang dikuasainya mendatangkan pemasukan baginya dengan cara jadi guru les privat. Ah, tapi itu sih hanya nomor sekian dari hal-hal utama yang membuatku tergila-gila padanya. Buat apa pacaran sama cowok tajir tapi hatimu digerogoti dan direndahkan? Nomor satu tetap rasa aman dan nyaman. Nomor dua perasaan dihormati dan dihargai. Cewek selalu butuh sosok yang mampu bertanggung jawab.

Aku tidak munafik, aku pasti akan memilih yang punya masa depan bagus. Tapi yang kukagumi dari dia, masa depan itu bukan warisan atau pemberian orangtuanya. Masa depan itu miliknya sendiri, usahanya sendiri, hasil keringatnya sendiri. Otaknya cemerlang, tutur katanya runtut dan santun, tangan dan kakinyapun mau bekerja. Orang lainpun menghargainya karena dia suka membantu. Itu jauh lebih kucari. Dan dia punya.

Kakiku, yang oleh sebagian orang dianggap “ya ampun” karena super gebug maling (SGM) dan berbulu, baginya dianggap sebagai penyangga tubuh yang kokoh. “Bersyukurlah karena punya kaki yang kuat. Kau kan pengin jadi wartawan. Kalau kakimu cungkring dan gampang lelah, bagaimana kamu akan mengejar narasumbermu?” Begitu dia memberi semangat. Sejak saat itu aku jadi sangat mencintai kakiku. Seperti apapun bentuknya, bukankah aku jauh lebih beruntung dan harus bersyukur karena diberi anggota tubuh yang lengkap? Sebelumnya aku selalu memakai rok panjang sebetis atau celana panjang untuk menutupinya. Pernah di suatu acara remaja aku pakai rok selutut, tiba-tiba ada cowok yang nyeletuk,”Wajahnya sih manis, tapi kakinya boooooo….kesebelasan!” Aku jadi benci sama cowok itu, jadi benci pada kakiku, dan jadi benci kenapa punya tubuh tidak seramping kawan yang lain.

Hobinya main bola. Kulit pada tulang keringnya penuh dengan luka bekas pole sepatu bola. Temannya jadi banyak karena hobinya itu. Selain itu hampir setiap olahraga dan permainan dia gape. Bulu tangkis bisa, tenis meja mampu, tenis lapangan suka, bola sodok OK, gaple apa lagi, catur boleh ditantang, truf sanggup. Cuma basket aja yang gak nyampe hahahaha. Aku gak mudeng bola dan bosan setiap kali diajaknya mengikuti pertandingan atau latihan. Dia juga tidak pernah memaksaku untuk memahami dunianya. Dia juga tidak menuntut aku harus bisa nimbrung dengan teman-temannya. Biasanya, teman-temanku akan mudah menjadi temannya juga. Tapi, teman-temannya belum tentu bisa akrab denganku. Karena aku sangat tertutup dan sulit bergaul. Di dalam jiwaku memang ada segudang keinginan untuk mendobrak, tapi sulit untuk mengungkapkan.

Kami sering jalan sendiri-sendiri karena hobi dan ketertarikan yang berbeda. Tapi saling dukung dan menghargai. Teater, volunteer pendampingan anak, dan komunitas penulis pemula adalah kegemaranku. Biasanya kalau dia sempat, mengantarku dulu ke tempat-tempat itu lantas pergi sendiri ke tempat dia berkegiatan. Tapi kalau tidak sempat, dia akan memberikan kunci motornya padaku agar aku bisa leluasa bepergian ke tempat kegiatan. Dia punya teman banyak, bisa nebeng siapa saja.

“Kau tidak malu punya cewek yang pakai gigi palsu?” tanyaku. Dia malah heran dan pengin lihat seperti apa gigi palsuku.

“Apa bedanya sama kaca mata? Bukankah itu hanya benda asing yang menempel di tubuhmu untuk membantu fungsi anggota tubuhmu yang kebetulan sudah rusak menjadi lebih baik? Mataku juga minus dan pakai kacamata, tapi kamu tidak malu.” Oh, Tuhan, apa ada hati lain yang sepengayom itu? Yang mampu membuat aku jadi percaya diri dan bangga pada diriku sendiri? Dia malah bisa terlebih dahulu menerimaku apa adanya dibanding diriku sendiri dalam menerima diri ini. Itulah kenyamanan yang aku dapat darinya. Belum pernah aku bisa betah pacaran sampai lima tahun dengan seseorang selain dia. Dan selama itu akupn tidak pernah lirak-lirik pada cowok lain, karena aku yakin tidak ada cowok lain yang bisa melindungi dan siap kuandalkan seperti dia. Sama sekali tidak punya saingan.

Latar belakang keluarga kami hampir mirip. Sama-sama dibesarkan di dalam keluarga sederhana, sama-sama anak pegawai negeri sipil, sama-sama anak gunung, dan teristimewa punya iman yang sama. Jadi tidak sulit bagiku untuk beradaptasi dengan saudara-saudaranya. Diapun lancar saja mendekati bapak-ibuku. Sesuatu yang wajar, mudah dipahami, dan gampang dilakoni. Anak guru ya dapat anak guru. Anak desa ya dapat anak desa. Mungkin akan jadi istimewa jika ada anak guru dapat anak konglomerat atau anak lereng gunung dapat anak metropolitan. Saling adaptasinya mungkin lebih rumit. Puji Tuhan, meski sifat, kepribadian, kemampuan, kebiasaan dan selera kami berbeda, tapi kami masih disatukan oleh beberapa latar belakang yang seirama, sehingga tidak terlalu sulit untuk mendekatkan dua keluarga.

Dia cowok yang sangat rapi. Kerapiannyapun hasil kerjanya sendiri, bukan karena dilayani orang lain. Ketika teman-teman kostnya ribut cari loundry yang paling miring ongkosnya, dia mau mencuci dan menyeterika sendiri. Kedua adikku laki-laki, kondisi  kamar keduanya sangat berantakan. Tapi dia menata ruang kostnya sedemikian teratur.

Bukunya yang seabrek berjajar pada rak, disket-disket dalam boks khusus, baju-baju digantung dan dilipat dalam lemari, sprei licin (padahal waktu itu aku sendiri belum becus pasang sprei untuk tempat tidurku sendiri di asrama dan masih dibantu para kakak asrama), dan bebas bau rokok. Dia selalu merokok di luar. Sepeda motornya selalu kempling dan tugas-tugas kuliahnya selalu terbendel rapi. Aku kadang malu padanya. Seharusnya aku punya naluri lebih kuat dalam memelihara dan merawat. Tapi nyatanya, aku lebih sering pinjam saputangannya daripada memberikan selembar tisyu padanya sehabis makan sesuatu. Aku ceroboh dan seenaknya sendiri.

Adikku yang tua pernah berkomentar,”Mosok kamu pacaran sama cowok sekecil itu sih? Gimana aku kalau ngomong sama dia nanti? Apa dia musti mendongak padaku?” Adikku ini tingginya 187 cm. Sedangkan pacarku cuma lima senti di atasku. Ibuku malah lebih parah lagi menilai,”Oh, aku pikir dia masih SMA. Baru aja aku mau tegur kamu supaya tidak pacaran sama yang lebih muda.” Sembarangan! Dia waktu itu sudah tercatat sebagai mahasiswa strata dua. Umurnya 26 tahun. Tujuh tahun lebih tua dariku. Mereka baru mulai tertarik pada sosok satu ini ketika adikku itu harus operasi rahang akibat kecelakaan di RS Karyadi Semarang.

“Ibu dan Rini pulang saja. Biar saya yang jaga adik di sini. Istirahat aja dulu. Besok sore atau lusa baru kesini lagi.” Ujarnya. Padahal waktu itu baru liburan semester dan sebenarnya dia bisa main bola sepuasnya. Aku pikir itu usahanya untuk mencari simpati ibuku, tapi rupanya karena dia sayang sama adikku. Ketiga adiknya perempuan semua. Bisa dekat dengan adikku yang laki-laki adalah kesenangan tersendiri baginya. Adikkupun jadi respek padanya. Bahkan ketika adik kabur dari rumah karena beda paham dengan bapak, dia yang mencari dan mengajaknya pulang. Adikku juga nurut aja.

“Apa yang kau suka dariku?” Tanyaku suatau saat.

“Kau memiliki apa yang aku tidak punya.” Jawabnya.

Semua yang dia punya, lebih maupun kurangnya memang mampu membuatku makin kagum. Tapi rasa nyaman dan bisa jadi diri sendiri saat bersamanya itulah yang membuatku benar-benar merasa butuh dia. Kadang pendapat kami berseberangan karena beda pandangan. Tapi itulah yang membuat kami selalu bisa melihat suatu masalah dari banyak matra. Tuhan sudah memilihkan dirinya untuk kupilih.  Kuyakin pilihanku kali ini sangat tepat.

Baca juga

  • My Private’s " Part4 "
  • Berharap
  • Rindu
  • Mau gimana lagi…. ?
  • tanpa
  • Thank God I Found You Part 15
  • Being Mom: Baby Sitter Part 2
  • The Spell of A Night Dancer
  • Hasrat
  • 4 Sekawan part.2 (The Reunion)

Leave a comment

Your comment