LELAKI POHON SESAWI
(Rini Giri)
Tahukah kau, kenapa aku tidak pernah jatuh cinta pada lelaki dengan postur tubuh besar dan kekar? Hampir semua perempuan, temanku, selalu tergila-gila pada dada bidang, lengan besar, perut keras bergaris kotak dan punggung berbentuk segitiga terbalik itu. Apa namanya? Otot bisep dan trisep? Entahlah, aku kurang berselera dengan hal-hal seperti itu. Aku lebih suka tubuh biasa cenderung kecil tapi gesit berenergi.
Mungkin karena aku keras kepala dan penentang. Jadi kalau bersitegang dengan pasangan, akan lebih aman jika punya partner yang bertubuh kerempeng. Kalau dia mukul, aku bakalan sanggup membalas. Atau kalau dia menendang aku bisa menangkisnya. Coba kalau partnerku tinggi besar, wah, bisa jadi lemper aku di tangannya karena tidak sanggup mengimbangi kekuatan fisiknya jika murka. Ah, tapi itu hanya lelucon konyol saja. Tentunya akau akan memilih partner yang anti kekerasan. Suatu relasi cinta harus sehat, suatu hubungan harus didasari kasih, dan salah satu syaratnya adalah tiadanya kekerasan.
Aku lebih mengartikan suatu kegagahan sebagai kesanggupan untuk membela yang lemah, kepedulian untuk merangkul yang tersisih, kemauan untuk merengkuh yang terpinggirkan. Bukan suatu kebanggaan yang ditunjukkan dengan kekuasaan, wibawa, gengsi, dan sifat otoriter.
Bapakku tentara. Saat muda ia berotot dan tinggi besar perawakannya. Hingga suatu kali ketika aku sakit, kulihat kakinya yang berbalut sepatu lars itu menendang tubuh ibuku karena marah. Dia bilang ibu tak becus merawatku. Sejak saat itu aku tidak suka lelaki tinggi besar. Bahkan adik-adikku yang perawakannya menurun dari bapak pun kubisiki,”Jangan sekali-kali kalian punya cita-cita jadi tentara!”
Sejak kecil tak kutemukan kasih sayang dan belaian mesra dari sebuah otot besar yang dimiliki bapakku. Seharusnya dengan kegagahan seperti itu rasa aman dan nyaman bisa kudapatkan. Tapi tidak. Tangan-tangan dengan pembuluh nadi menonjol menyerupai akar-akar beringin itu tidak pernah menyentuhku dengan kesayangan, kaki-kaki kokoh penuh bulu itu tak sekalipun pernah dipakainya untuk mengayunku, dan punggungnya yang menonjolkan otot-otot keras itu belum pernah dipakainya untuk menggendongku. Tak ada welas asih dari daging-daging gempal itu, tak ada tegur manja dari jari-jari kokoh miliknya.
Aku iri pada teman sebangkuku. Ayahnya bertubuh kecil dan biasa, tapi selalu menegurnya dengan acakan sayang pada rambut, kadang cubitan manja di pipi, juga pertanyaan-pertanyaan penuh perhatian akan setiap hal yang baru saja dialami oleh temanku itu. Bahkan tanpa temanku minta, bapaknya selalu menyediakan hal-hal yang dibutuhkan oleh temanku. Bapaknya serba tahu akan apa yang menjadi keperluannya. Coba kalau aku? Bilang minta ini-itu saja, aku tak berani.
“Aku ingin punya bapak seperti bapakmu itu,” kataku suatu ketika. Dia tertawa.
“Huh membosankan! Setiap hari aku selalu ditanyai tentang hal-hal yang aku kerjakan! Bukankah itu sangat menjengkelkan?” Begitu komentarnya.
“Tapi aku rindu untuk ditanyai seperti itu. Bapakku tidak pernah bertanya tentang kesulitan dan kegembiraan yang kuhadapi. Dia tidak peduli sama sekali. Itu jauh lebih menjengkelkan.” Dia malah semakin tertawa.
“Selamanya kau akan dianggap seperti anak kecil oleh bapak seperti bapakku itu!” Katanya lagi.
“Aku ingin seperti itu!” Jawabku mantap.
“Dasar bodoh!” Sungutnya.
“Kau yang bodoh!” Balasku.
Setelah aku jadi perawan dan mulai tertarik pada lawan jenis, kulihat teman-teman lelakiku yang berperawakan kecil rata-rata jauh lebih cerdas, lebih lincah, lebih lucu dan sering bikin aku tertawa. Mereka lebih menarik. Aku merasa seram pada cowok-cowok tinggi besar.
“Kenapa lagi pelipismu?” Tanyaku pada salah satu teman sekegiatan ekstrakulikuler. Setiap Senin pagi, sering kulihat ada luka memar di salah satu bagian tubuhnya.
“Dia memukulku lagi.” Jawabnya lirih. Wajahnya menunduk, tertekuk sedih.
“Ya Tuhan. Baru jadi pacarmu saja dia sudah seperti itu? Bagaimana kalau kelak benar-benar jadi suamimu? Bisa hancur tubuhmu! Kalau orangtuamu tahu ini, aku yakin mereka juga akan menentang hubungan gila ini. Apa kamu pikir mereka tidak akan tersayat-sayat hatinya melihat anak perempuannya disakiti orang lain seperti ini? Kamu harus putus dari dia!” Ujarku geram. Dia hanya menarik nafas dalam. Selalu kutahu apa jawabannya.
“Aku mencintainya.” Huh! Benar kan?
“Tapi ini cinta yang nggak sehat! Kamu cantik, pintar, lincah, dan baik. Kamu berhak atas cinta yang sehat, yang tidak melibatkan kekerasan dalam menghadapi setiap permasalahan. Kamu jangan bodoh!”
“Tapi aku nggak bisa ninggalin dia.”
“Apa alasanya? Cintamu padanya begitu dalam sampai-sampai kamu diperlakukan seperti rongsokanpun mau? Kamu pribadi yang mulia, yang punya harga diri, berhak atas hidup yang aman dan tenteram.”
“Dia selalu mengancamku.”
“Oh, Tuhanku.” Aku tidak habis pikir, kenapa cowok tinggi dan berperawakan bagus itu bisa tega menganiaya gadis selemah lembut kawanku itu. Seharusnya dengan sulur-sulur beringinnya dia bisa memberi keteduhan, dengan akar-akar kokohnya dia bisa melindungi, dan dengan dahan-dahan besarnya dia bisa memberi kesejukan. “Sebenarnya kamu tidak mencintai dia lagi. Kamu hanya takut. Kamu harus berani meninggalkannya sebelum semuanya menjadi bertambah parah. Kamu bisa mencari perlindungan dari orang-orang yang kamu percaya.” Kawanku itu menutup kedua matanya dengan dua lembar telapak tangan, lantas menangis terisak. Menangislah jika itu membuatmu lega dan menemukan kekuatan baru untuk berani melakukan pendobrakan.
“Kenapa kamu naksir cowok seperti dia? Dia itu sepertinya ringkih, sakit-sakitan, nggak ada kokohnya sama sekali! Carilah cowok yang bertubuh bagus, supaya bisa melindungimu!” Begitu komentar ibu ketika kuceritakan bahwa salah satu teman lelakiku penuh perhatian padaku dan aku suka dengan perhatiannya itu. Dia memang kerempeng, tingginya hanya beberapa centimeter di atasku, dan penampilannya memang tidak berwibawa.
Aku sedih mendengar apa kata ibu. “Bu, apakah bapak yang bertubuh besar itu bisa melindungimu?” Hanya itu yang terungkap di hatiku tanpa terkatakan. Aku takut ibu menjadi kecil hati. Ibuku perempuan yang teramat mandiri. Tak pernah sekeping duitpun dia meminta dari bapakku. Bahkan gajinya jauh lebih besar. Apapun dilakukannya sendiri tanpa tergantung pada bapakku. Itu karena sikap bapak yang tidak begitu peduli. Lebih mementingkan wibawa di depan banyak orang daripada citra di mata keluarganya sendiri.
Seandainya ibu tahu dan mau mendengarku sedikit saja. Cowok bertubuh kecil yang kusenangi itu selalu membuatku tertawa, membuatku nyaman di dekatnya, dan membuatku tidak pernah merasa takut. “Bu, dia tidak pernah menamparku jika aku menentang apa yang dikatakannya. Dia selalu bertutur dengan lemah-lembut dan tak sekalipun membentakku. Dia tak pernah menendangku jika aku melakukan kesalahan. Dia selalu membesarkan hatiku jika aku takut gagal. Dia rajin bekerja, cekatan, dan selalu punya ide-ide yang berlian. Dia apa adanya dan tidak sok jaga wibawa. Dia suka melucu dan membuat hari-hariku penuh warna, Bu. Dia beda dengan sosok lelaki bertubuh tegap yang kukenal sejak kecil itu. Dia melindungiku bukan dengan ototnya, tapi dengan jiwanya yang penuh welas asih. Dia memberiku jalan bukan dengan kegagahannya tapi dengan otaknya yang cerdas. Dia menaungiku dengan banyak teman bukan karena gaya sok kuasanya tapi dengan keluwesannya bergaul dan kecekatannya dalam bekerja. Itu cukup bagiku.” Aku sungguh tidak mau mengalami nasib sial seperti kawan sekegiatan ekstrakulikulerku itu.
Memang tidak semua cowok tegap tinggi dan berotot bagus tidak mulia perangainya. Tidak. Sama sekali tidak. Banyak yang berotot beringin namun seteduh bayang-bayang yang dihasilkan dari rindang dahan-dahannya. Bahkan akar-akarnya yang meraja mampu menjaga ketersediaan air dan mengalirkannya menjadi mata air-mata air yang menghidupi banyak makhluk. Tapi aku lebih memilih si pohon sesawi. Biarlah bijinya kecil, namun ketika dia tumbuh menjadi pohon, sungguh tidak membahayakan jika suatu saat tumbang. Burung-burung di udara bisa hinggap di dahan-dahannya, dedaunan hijaunya bisa untuk menambah asupan gizi manusia, hewan-hewan liar bisa mengaso di bawahnya, dan bunganya sanggup menyedapkan mata. Aku hanya khawatir, jika pohon beringin tumbang, segala yang ditimpanya akan hancur. Itu yang membuatku kurang suka pada tipe ini. Apalagi daun dan buahnya tak enak dimakan, berserakan di tanah dan mendatangkan banyak lalat. Kayunyapun tak bisa dipakai untuk bangunan.
“Ah, itu kan seleramu saja! Selera tiap orang tidak sama. Dan orang boleh mengajukan alasan apapun untuk mempertahankan sebuah selera yang disukainya. Jangan pukul rata dong!” Protes seorang teman baik. Aku manggut-manggut membenarkannya.
“Kata orang Bung Karno itu seperti pohon flamboyan. Pak Harto seperti pohon beringin. Kokoh mereka. Tumbuh tinggi berwibawa dengan akar tunggang yang kuat. Indah dilihat dan menjanjikan untuk jadi tempat berteduh. Tapi begitu tumbang…sungguh menakutkan.”
“Kamu mau bilang kalau Gus Dur dan Habibie itu pohon sesawi?”
“Kamu kenal Mohamad Hatta, Sutan Syahrir, Hitler, Einstein, Mahatma Gandi, Jusuf Kala termasuk juga Gus Dur dan Habibie? Perawakannya kecil, tapi pemikiran dan manuvernya mampu mengubah dunia, entah ke arah yang didambakan banyak orang, entah yang menjadi kontroversi bagi umat manusia.”
“Seperti itu pohon sesawi?”
“Bukan. Tapi paling tidak mereka mewakili stereotip lelaki bertubuh kecil. Lincah dan cekatan! Mungkin mereka pohon salak, pohon cabe, pohon rambutan, pohon mangga, pisang atau jambu air. Yang selalu panen pada musimnya.”
“Lantas pohon sesawi?”
“Dia membanggakanku karena otaknya cerdas, mulutnya dipenuhi tutur kata yang sopan, kaki dan tananya mau bekerja, dan dibekali dengan hati yang penuh kasih. Jadi meskipun berperawakan kecil, namun punya kebesaran jiwa tempat aku bisa bersandar dan bernaung. Akupun tidak takut tertimpa pohonnya jika tumbang, karena bukan merupakan kayu gelondongan. Lagipula bukankah angin hanya meniup pohon-pohon tinggi?”
“Iya, tapi kalau kena banjir baru deh hanyut!”
“Semoga hujan tidak terlalu deras. Karena diapun punya daya tahan yang terbatas. Tidak sempurna. Butuh pohon-pohon besar untuk menahan air tanah di lereng-lereng. Mungkin itulah gunanya setiap orang diciptakan unik. Agar bisa saling melengkapi.” Aku bersyukur atas pohon sesawi yang telah Kauberikan padaku, Tuhan. Dia menjadi hidupku.












