MALU DI METROMINI

(Rini Giri)

Persahabatan kami sudah berumur 28 tahun. Akupun heran kenapa bisa sebetah itu. Jangan sangka kami punya banyak kesamaan, sehingga bisa klop. Beda dari A sampai Z. Sifat, pandangan, dan selera kami benar-benar tak sama. Tapi itulah nikmatnya perbedaan. Yang aku tidak punya, dia ada. Yang dia tidak bisa, aku mampu. Saling mengisi dan melengkapi, membuat kami jadi saling butuh.

Kedekatan itu dimulai sejak masuk SD. Selama SMP selalu sebangku. Kegiatan ekstra kurikuler pun sama. Bahkan kami sering dijadikan satu tim dalam berbagai kegiatan karena dianggap cemistry-nya udah jadi dan tinggal jalan. Baru setelah SMA, mulai tampaklah perbedaan bakat itu. Dia masuk IPA dan aku masuk IPS. Tapi setiap istirahat, kami segera ketemuan lagi.

Rere dan Rini tak terpisahkan. Di situ ada Rini, pasti ada Rere. Di mana Rere berada, pasti Rini turut serta. Selalu ada hal yang ingin segera kami bagikan. Rere selalu mendengarkan segala curhatku. Akupun senang mendengarkan apa saja yang dia katakan. Berbagi adalah nyawa hubungan kami. Aku bisa belajar matematika darinya. Dia juga bisa belajar melukis dengan cat air dariku.

“Kamu gak usah beli buku latihan soal. Bapakku udah beliin semua. Kita bisa mengerjakan dan membahas bareng.” Kata Rere setiap menjelang ulangan umum. Bahkan saat EBTANAS SMA, dia rela gak belajar demi mengajariku matematika.

Kami biasa ke sekolah naik metromini. Beda kelas di SMA tidak menghapus kebiasaan itu. Aku dan Rere bergantian membayar ongkosnya. Berangkat sekolah, dia yang bayar. Nah, giliranku saat pulang sekolah. Itu udah jadi kesepakatan sejak SMP.

Jika metromoni sepi penumpang, duduk berdua di kursi  sebelah sopir adalah pilihan tepat. Kami ngobrol sepuasnya. Jika metromini penuh dan harus bergelayutan di lorong, obrolan tetap jalan. Dalam segala situasi, selalu ada godaan untuk tukar cerita. Dengan pisah kelas, makin banyak hal yang bisa dibahas. Pokoknya, persahabatan ini membuat hari-hari jadi seru dan penuh semangat.

Jika Rere sakit dan tidak masuk sekolah, duniaku jadi sepi. Tidak ada teman yang ditemui saat istirahat. Di dalam metrominipun aku jadi mati gaya. Sepulang sekolah aku segera berlari ke rumahnya untuk mengetahui keadaan karibku itu. Begitu juga jika aku yang sakit. Belum ganti baju seragam pun dia sudah nongol di depan pintu. Kamipun segera membicarakan banyak hal. Kami ngobrol sampai lupa waktu. Kedatangannya membuatku cepat sembuh. Jiwaku serasa lebih kuat jika ada dia dan duniapun kembali cerah.

Rumah Rere adalah rumah kedua bagiku. Jika kelaparan, sementara orangtuaku belum pulang kerja, aku akan numpang makan di tempatnya. Sayur asem dan tahu goreng bikinan neneknya enak banget. Karena persahabatan itu, dua keluarga jadi dekat. Kakaknya sudah kuanggap seperti abangku sendiri dan sangat kuhormati. Adik-adik kami berteman baik. Ibunya cocok dengan ibuku. Bapaknya kalau ngobrol sama bapakku bisa berjam-jam.

Bagiku, Rere adalah sahabat paling hebat. Karena dekat dengannya, aku jadi mau belajar. Tapi kenapa tidak tertular sifat disiplinnya ya? Dia sering terpaksa menunggu lama gara-gara aku bangun kesiangan. Akibatnya dia ikut-ikutan terlambat. Tapi Rere selalu memaafkan. Kadang aku merasa saling berbagi dalam persahabatan ini tidak seimbang. Entah mengapa Rere tetap saja mencariku.

Rere jarang jajan dan lebih suka menabung. Sedangkan aku mudah sekali tergoda pada jajanan yang dipajang di kantin. Uangku sering habis, termasuk yang seharusnya untuk ongkos  metromini saat pulang sekolah. Tapi aku tak pernah khawatir. Kan ada Rere yang bisa kuandalkan. Uang Rere selalu utuh, sehingga bisa minta tolong padanya untuk dibayarin lagi. Keesokan harinya baru akan kuganti. Itupun kalau ingat, soalnya dia gak pernah nagih.

Pagi itu seperti biasa, kami naik metromini. Rere yang bertugas membayar ongkosnya. Sesampai di sekolah kami berpisah menuju kelas masing-masing. Saat istirahat, kami tidak bisa ketemuan karena di kelasku ada olah raga dan kami harus lari mengelilingi stadion kota.

Wah, olah raga di luar sekolah dalam cuaca panas seperti itu membuatku luar biasa haus dan lapar. Akhirnya semua uang jajan habis kubelikan minuman dan camilan. Aku  berharap, Rere bisa membayari ongkos pulang nanti. Yakin deh, Rere pasti masih punya sisa uang saku seperti biasanya.

Saat kembali ke sekolah, bel tanda masuk usai istirahat baru saja berbunyi. Semua orang sudah masuk ke kelas masing-masing. Aku hanya bisa melihat Rere melambaikan tangan padaku dari jendela kelasnya.

Metromini yang kami tumpangi sangat sesak. Maklum jam pulang sekolah. Tapi kami harus tetap naik karena kendaraan dengan jurusan yang sama baru akan lewat setengah jam kemudian. Kami tidak ingin terlambat pulang. Terpaksa aku naik lewat pintu depan dan Rere lewat pintu belakang. Aku lupa memberitahu dia bahwa uangku udah ludes. Saat kondektur menagih ongkos, kukatakan bahwa temanku yang berdiri di belakang yang akan membayar.

Rupanya uang Rere juga habis. Hari itu, dia fotocopy cukup banyak. Rere tidak khawatir karena akulah yang harus membayar ongkos saat pulang. Saat kondektur menagih padanya, dia bilang bahwa teman di depan yang akan membayar. Kondektur jadi gusar.

“Neng, gimana sih? Siapa nih yang bayar?” Tanya kondektur. Rere melongok ke depan, berusaha mencari wajahku di antara ketiak para penumpang. Aku  segera memberi isyarat bahwa uangku habis. Dia panik dan segera memeriksa tasnya. Serupiahpun tak ditemukan.

“Gimana Neng?” Kondektur menagih lagi. Dengan muka pucat Rere memohon belaskasihan.

“Maaf ya, Bang. Uang saya habis. Kalau bayarnya besok aja gimana, Bang. Boleh?” Tanya Rere terbata-bata. Dia menahan malu. Apalagi penumpang lain menoleh semua padanya.

“Ya udah. Udah langganan, gak papa. Besok tak apa lah.” Jawab kondektur.

“Makasih ya, Bang.” Rere bernafas lega walau mukanya masih pucat menanggung malu. Aku menyesal telah membuat sahabatku kebingungan dan malu di metromini gara-gara ulahku. Setelah turun, aku buru-buru minta maaf. Dia malah terbahak-bahak karena menganggap kejadian tadi menggelikan.

Betapa beruntung punya sahabat seperti dia. Teman sebaik itu susah dicari. Benar-benar anugerah dari Tuhan. Sejak saat itu aku berusaha memperbaiki sifatku agar bisa menjadi sahabat yang lebih baik baginya. Aku tidak ingin mengecewakan Rere lagi dengan menganggap enteng hal-hal yang telah disepakati bersama.

Dia mau menerimaku dengan segala kekurangan yang ada padaku. Dia mengasihiku melebihi saudaranya sendiri. Seharusnya aku tau diri dan bisa menjadi teman yang lebih pengertian. Sorry ya, Re, kalau aku lebih sering mengecewakanmu.

“Apa lebihku sehingga kamu mau seperti itu?” Tanyaku suatu saat.

“Kau setia. Itu segalanya.” Jawabnya. Tentangmu, Re, tersimpan apik di dalam hatiku.

Baca juga

  • Bermain Tutup Mata DI Jogya
  • You’ve Got Mail ( 62 )
  • Hujan Dan rindu
  • You’ve Got Mail ( 55 )
  • INDONESIAKU, JANGAN BERLALU!
  • Kepergian Sang Humanis
  • Cerita Hari Ini
  • TAK SELAMANYA MENYENANGKAN
  • Recalling fun memories – a reason to smile
  • Menulis dengan BAHAGIA: Melepas Lelah

Leave a comment

Your comment