PEREMPUAN TANPA LELAKI?
(Rini Giri)
Apa benar perempuan bisa mengerjakan hal-hal hebat tanpa campur tangan kaum pria? Mustahil! Begitu jawaban sebagian besar orang, apalagi kalau yang menjawab kaum adam. Tentu bisa! Dan sangat bisa! Itu jawabanku. Kami, kaum perempuan, membuat sebuah perhelatan besar tanpa sentuhan laki-laki secuilpun. Seratus persen karya perempuan. Waktu itu kaum cowok hanyalah para tamu yang kami undang untuk menyaksikan betapa menakjubkan karya yang telah kami hasilkan.
Pamer, pamer, pamer! Dan suatu sikap bahwa kami bukan elemen dunia yang bisa disepelekan. Kami adalah bagian dunia yang sama hebat. Atau malah lebih hebat? Ah, kami toh tak sesombong itu. Ini bukan gerakan kaum perempuan tak butuh laki-laki kok. Ini hanya suatu tantangan apakah kami bisa mengerjakannya sendiri atau tidak, dan nyatanya kami mampu. Kami toh tetap kaum hawa yang butuh pendamping lawan jenis yang secitra dan setara. Kalau kaum lelaki bilang, “No woman, nuangiiis!!!” Maka kami bilang, “No man, bikin geregetan!!!” Hohohoho.
Malam itu, jam tujuh tepat, semua sudah siap. Kami mengenakan gaun terbaik kami. Tentunya yang terindah namun tetap yang sopan. Tak ada leher rendah, rok mini, ataupun lengan kutang. Semua berdandan anggun dengan sapuan make up tipis. Ayu alami. Para resepsionis sudah siap di ambang pintu. Dengan senyum paling tulus dan paling bangga, kami menyambut setiap tamu yang datang. Kursi kami tata sedemikian rapi sehingga nantinya para hadirin nyaman. Panggung gemerlap dengan dekorasi apik. Pagar ayu hilir-mudik mengantar tamu ke kursi sesuai dengan kelas tiket. Di balik layar, para pengisi acara sudah bersiap dan sedang ambil nafas dalam atau sekedar goyang-goyang kecil untuk mengurangi perasaan nervous. Setengah delapan seluruh bangku berjumlah enam ratus itu sudah penuh. Dua orang MC naik ke panggung dan membuka acara. Tarian baik modern maupun tradisional, vokal grup, puisi, duet, drama, dan polonais akan menghibur mereka yang datang bagai laron menyerbu lampu malam.
Ini adalah puncak kerja kami. Enam bulan kami mempersiapkan dan mengerjakan semuanya. Bukan hanya acara malam ini saja. Kami memulainya dengan misa bersama di awal kegiatan, tengah semester yang lalu. Lantas ada pameran buku. Inipun kami sendiri yang merancang dan menggarapnya. Petak-petak tembat para penerbit menggelar dagangan pun kami yang mengatur. Mereka tinggal datang dengan rak dan buku seperlunya. Tentu saja butuh kerjasama dengan laki-laki, soalnya para pemimpin penerbitan kebanyakan bapak-bapak. Dan mereka tampak antusias sekali bekerjasama dengan para gadis yang penuh semangat ini. Sistem sewa tempat yang kami tawarkanpun tanpa ragu-ragu mereka terima. Berarti, buku laku ataupun tidak, mereka tetap akan bayar uang sewa. Suatu keputusan yang mengandung resiko tinggi tapi mereka iyakan dengan rela hati. Padahal biasanya mereka lebih suka sistem rabat. Harga buku dinaikkan sekian persen. Sekin bagian untuk penerbit, sekian bagian untuk panitia, dan sisanya untuk diskon para pengunjung. Ah, para gadis memang selalu punya magnet entah di tubuhnya, entah di otaknya, entah di hatinya, maupun entah di tangan dan kakinya. Punya satu di salah satu bagian saja sudah anugerah dan bisa mengubah dunia, apalagi lebih.
Usai pameran buku seminggu penuh yang diserbu ribuan pengunjung yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, akademisi, kaum ibu, anak-anak dan masyarakat luas, kamipun menggelar peragaan busana yang tak lazim. Tentu saja ini hanya dipersembahkan dan disaksikan kalangan intern kami. Busana dikreasi dari kain-kain tradisional yang ada pada kami. Kami berasal dari berbagai etnis. Jawa, Batak, Palembang, Dayak, Bali, Flores, Manado, Ambon, dan Papua. Kain batik, kain ulos, kain songket, kain tenun ikat, kain pantai Bali, ada pada beberapa anak. Itulah yang dimanfaatkan untuk bahan peragaan adibusana. Tanpa jahitan. Hanya ikatan dan tusuk jarum atau peniti. Bahkan ada kelompok yang saking tidak punya kain tradisional sama sekali, akhirnya mereka mengambil sprei bergambar bunga anggrek dan dibuat kimono yang sudah berinkulturasi dengan baju bodo Sulawesi. Anggrek kan juga khas Indonesia, begitu alasannya. Ada-ada saja. Tentu saja acara ini hanya untuk bersenang-senang. Bertepuk tangan jika ada kawan yang berdandan anggun, meledek jika dandanan teman kalang kabut, dan bersorak senang jika ada kain yang melorot, cara jalan yang tak lazim, atau sanggul yang jatuh. Tapi lebih dari itu, ternyata acara tertawa bersama ini bisa menyadarkan kami akan arti persatuan dalam perbedaan. Betapa kami yang berasal dari Sabang sampai Merouke, bisa berkumpul dan tertawa bersama sebagai saudara. Kamipun jadi semakin tahu betapa banyak kekayaan budaya bangsa yang butuh sentuhan tangan-tangan kreatif. Melestarikan kekayaan bangsa bukan dengan menyimpannya di museum atau mengenangnya dalam buku sejarah. Tapi dengan menjadikannya sebagai bagian dari hidup sehari-hari, tentu saja dengan gaya masa kini. Kami tanpa sadar sudah dirangsang untuk memulainya.
Lomba memasak juga bisa menjadi ajang bersenang-senang yang kreatif. Kebetulan di kebun asrama tanaman singkong sedang melimpah. Setiap unit diberi jatah lima lonjor singkong. Terserah mau dimasak apa. Pokoknya yang kreatif dan enak. Suatu langkah merintis pengolahan pangan bukan berbahan dasar beras atau terigu. Bergizi, lezat, murah, dan menarik. Para suster yang akan menjadi dewan juri. Dari kegiatan itu, lahirlah kue tart singkong (gethuk dicampur gula pasir dan coklat lalu dibentuk bak kue ulang tahun), kornet singkong, bolu kukus gulung singkong, onde-onde singkong, donat singkong, pizza singkong, bahkan kering singkong campur teri kacang. Wah, pokoknya seru banget. Usai dinilai kamipun saling mencicip dan mencuci piring bersama. Kami ini perempuan, calon ibu, harus kreatif soal memasak. Kreatif lho, bukan mahir. Tak perlu pakem tertentu. Yang penting selalu punya ide untuk mengolah sesuatu yang enak dan bergizi dengan mencukupkan diri dalam kondisi seperti apapun. Lulusan asrama kami terkenal dan diakui tahan banting lho. Berbahagialah para pria yang telah punya nyali untuk melamar kami. Hehehe. Tapi banyak juga yang tidak berani. Mungkin takut jadi suami kalah pamor, kalah wibawa, atau malah khawatir penghasilan istri lebih besar.
Kami sudah melakukan sesuatu untuk masyarakat kelas menenah ke atas dengan pameran buku itu. Kamipun ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat kecil yang sehari-hari kami jumpai. Maka kamipun menggelar aksi kumpul buku dan barang bekas. Buku-buku bacaan yang masih bagus dan isinya mendidik dikumpulkan secara sukarela dari setiap warga asrama. Lantas setelah terkumpul dipilah-pilah antara yang untuk anak-anak dan umum. Yang untuk anak-anak disumbangkan ke sebuah perpustakaan milik kelompok belajar anak-anak di pinggir kali. Sedangkan yang bersifat umum disumbangkan ke taman bacaan di lingkungan RT setempat. Kumpul sampah kami lakukan dengan mengumpulkan koran bekas, buku bekas, kardus, kertas bekas, botol bekas, dan plastik bekas. Lantas dibagikan kepada pemulung yang lewat. Sesuatu mungkin sudah tak berguna bagi kita, tapi ternyata bisa sangat bermanfaat bagi orang lain. Kini, kegiatan itu membuatku tidak pernah menjual koran atau buku bekas yang ada di rumah. Aku selalu teringat pada anggukan penuh terimakasih pemulung yang kami beri barang-barang bekas dari asrama dulu. Koran bekas, buku bekas, botol, kardus, dan plastik selalu kukumpulkan dan kuletakkan di pinggir bak sampah. Supaya jika ada pemulung lewat, barang-barang itu bisa sedikit berguna bagi mereka.
Rangkaian acara dies natalis asrama, ditutup dengan acara pentas malam itu. Semua acara kami yang merancang, mengatur, menciptakan, melatih dan melaksanakan. Semua tatanan dekorasi kami yang mengerjakan. Bahkan menyusun panggung, menghias, dan mengusung pot-pot bunga. Memanjat tangga bisa, memaku sana-sini bisa, menggotong meja-kursi bisa, memasang lampu-lampu dan merapikan kabel-kabel juga bisa. Tentu kami kerjakan bersama-sama dalam semangat tinggi dan kekompakan luar biasa. Ini pekerjaan bersama, jadi tak ada satupun dari kami yang hanya berdiri melihat. Semua terjun. Kami kan berasal dari aneka jurusan di universitas. Anak-anak fakultas tehnik pun banyak. Jadi soal rancang bangun kami tak perlu khawatir. Anak-anak design interior pun ada, sehingga soal selera keindahan dan tata ruang kami tak canggung. Kembang teater kampus dan calon guru pendidikan seni pun tidak sedikit. Jadi urusan pentas malam itu total bisa diandalkan tanpa memanggil pelatih dari luar.
Kami selalu meraup laba jika menggelar pentas seperti ini. Tenaga kerja ahli melimpah dan tak perlu honor. Cukup diupah pujian dan terimakasih. Dan merekapun sudah sangat senang karena menemukan proyek uji coba di sini dan kesempatan untuk mengaktualisaikan diri. Itu upah yang jauh lebih berguna. Dana yang dibutuhkan paling untuk membeli bahan baku dekorasi dan konsumsi bagi para tamu. Kostum pemain pun diambil dari bahan-bahan yang sudah dimiliki warga asrama. Tidak pernah menyewa kostum. Karena di asrama, sprei yang masih kinclong pun bisa disulap jadi kostum yang menawan. Alat make up sudah punya sendiri-sendiri. Yang tidak punya, bisa minta temannya. Memang memberdayakan apa yang ada, tapi kami tidak tampil seadanya. Kami selalu membuat para penonton bertepuk tangan tanpa dikomando. Dan laba yang kami peroleh tentunya tidak untuk bersenang-senang sendiri. Kami punya perpustakaan yang perlu diperbaharui bukunya, berlangganan beberapa media cetak yang butuh diperbanyak variasinya, butuh pita print untuk ruang komputer, dan jika memang masih ada sisa lagi, tentunya untuk modal awal pelaksanaan dies natalis tahun berikutnya.
Siapa bilang asrama hanya akan menjadikan diri seseorang kurang gaul dan egois? Asrama yang dikelola para suster tempatku bernaung selama kuliah empat tahun di kota orang itu, telah menjadi jendela bagiku untuk melihat dunia yang lebih indah dan seru. Aliran hawa positifnya bisa kureguk sepanjang hari sehingga membuatku menjadi lebih dewasa dan percaya diri. Kebiasaan hidup bersama dan saling berbagi membuatku sadar akan arti penting bermasyarakat. Transfer nilai antara satu anak dengan anak lainnyapun membuat setiap individu semakin kaya akan wacana. Suatu sistem yang menaungi banyak orang akan membuat para individunya memiliki stereotip yang sama. Tapi asramaku ini tidak begitu. Aturan main tetap harus dipatuhi setiap orang, namun masing-masing bebas dan bertanggungjawab untuk mengembangkan talenta masing-masing. Acara dies natalis setiap tahun ini menjadi wahana untuk menampung aspirasi, bakat, minat, kegelisahan, dan pencarian jiwa muda kami. Tak pernah aku merasa rugi telah tinggal di sana. Meski banyak orang menganggap kegiatan itu sebagai kerja rodi, tapi aku menganggapnya sebagai latihan kerja.












