ROMO MANGUN, KAU CINTAKU
(Rini Giri)
Aku jatuh cinta pada kakek-kakek itu sejak membaca buku pertama yang kutemukan. Burung-Burung Manyar. Wah, ada ya simbah-simbah secerewet ini? Batinku. Tapi petuahnya gak habis buat digali. Waktu itu, masih SMA, aku belum tahu banyak tentangnya. Lantas dia muncul di koran-koran daerah yang kubaca. Rupanya kakek ini sedang dimusuhi pemerintah yang berkuasa kala itu. Karya-karyanya dalam membela kaum miskin dianggap subversif, karena bisa menghambat proses pembangunan. Wah, apa aku jatuh cinta sama orang yang salah? Udah kakek-kekek, masih terlibat kasus subversif pula. Ah, nyatanya tidak. Aku malah makin cinta.
Burung-Burung Manyar tidak mudah dipahai alur ceritanya seperti aku baca novel lainnya. Temanku yang lain pada gandrung pada Lupus dan Olga, tapi kenapa aku malah terobsesi dengan Larasati dan Setodewo? Bahkan aku butuh tiga kali baca dalam kurun waktu lima tahun baru bisa ngeh!Soalnya aku memang tidak cerdas. Bahkan sering telmi. Dulu waktu masih kerja jadi wartawan, redakturku sampai sering nyuruh aku balik ke narasumber gara-gara banyak hal penting yang kelewat. Buntutnya , karena aku lebih bisa menulis daripada liputan, aku dipindah ke rubrik feature yang bahannya cukup baca di perpustakaan dan browsing internet. Telmi-ku memang sungguh terlalu!
Sang kakek yang kucinta itu ternyata curhat tentang apa yang jadi motivasi utamanya jadi pastor dalam novel sastra berbalut romantika itu. Yaitu membalas pengorbanan rakyat selama perjuangan meraih kemerdekaan. Dia tergetar pidato seorang pejuang bernama Pak Isman yang kurang lebih intinya para pejuang yang disambut bak pahlawan oleh rakyat itu tak ada apa-apanya dibanding pengorbanan rakyat yang rela mengorbankan apapun untuk dipakai berjuang. Sapi, kerbau, kambing, ayam, semua diserahkan ke dapur umum untuk dijadikan bekal para pejuang. Dia juga kagum pada si kecil Syahrir, wakil golongan muda dan menentang golongan tua yang akan menerima hadiah kemerdekaan Jepang. Dia ingin kemerdekaan diperoleh dan dimiliki bangsa Indonesia bulat seutuhnya dan hasil kerja keras sendiri, bukan hibah dari musuh! Jiwa dan pemikiran yang sungguh merdeka!
Dari Setodewo dan Larasati yang masing2 punya prinsip berseberangan pada NKRI tapi terhanyut biru dalam jalinan asmara yang sulit dilakoni, akupun beralih pada Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa yang mengumbar keindahan kepulauan Maluku Utara jaman penjajahan Portugis dan Belanda. Bersama Teratai Rorasai yang berani keluar jalur dan Ibu Oelema Dara yang setia. Bukunyapun aku temukan di antara buku loakan yang dijual di kios buku bekas. Tapi Puji Tuhan aku telah menemukannya dan semakin jatuh cinta.
Di perpustakaan asrama menyimpan trilogi Roro Mendut, Genduk Duku dan Lusi Lindri. Ketiganya perempuan jaman Mataram yang setia pada apa yang telah diyakini. Cinta dan Negara. Wah, tokoh-tokoh yang diciptakan sang kakek semua perempuan yang jempolan. Siapa yang tidak tergugah?
Lalu, Durga Umayi mengantarkanku untuk memahami metamorfosa manusia. Betapa perubahan jaman, perubahan rejim, perubahan kurs rupiah, perubaan dunia mode, mampu menggoyahkan kesetiaan seseorang. Ke arah mana yang lebih menguntungkan dan menyenangkan. Tiwi Nusamusbida, seorang gadis pengagum Sukarno di masa pra kemerdekaan, kenapa bisa menjadi anggota Gerwani, lantas jadi pengusaha yang memanfaatkan KKN dengan para cukong dan pejabat? Tiga masa, tiga wajah, tiga perubahan. Aku belajar untuk setia pada Yang Aku Pegang meski bumi kan bergoncang dan langitpun kan berlalu.
Wah, pacarku menghadiahi Burung-Burung Rantau di ulatahku yang ke-20. Dia tahu aku pengin beli tapi gak punya uang, heheheheeeeee. Di buku itu sang akkek yang kukagumi meramal masa depan rupanya. Pasca nasional. Masing-masing orang tetap punya nasionalisme pada bangsanya, tapi pergaulannya sudah melampaui batas-batas negara. Seperti Marineti Dianwidhi yang pekerja sosial di bantaran kali, anak jenderal, punya kakak hebat di bidang masing-masing, punya pacar orang India, tapi juga punya adik yang morfinis. Sejauh apapun dia menjelajah bumi ini dan berkelana mengenal orang-orang dari segala bangsa, akhirnya dia menemukan kehidupan surganya justru dengan menjadi pendamping anak-anak miskin di bantaran kali.
Sejak mengenal tokoh ini, kegandrunganku pada kakekku ini makin memuncak. Bahkan bukan hanya membaca karya sastranya melainkan juga ingin napak tilas hasil karya-karyanya di bidang pendidikan dan kemanusiaan. Anak sulungku yang lahir sehari setelah peringatan dua tahun meninggalnya kakek ini, kunamai dengan tokoh ini, Dianwidhi. Cahaya Ilahi. Dan di ucapan terimakasih skripsiku, nama Romo Yusuf Bilyarta mangunwijaya kutulis sebagai bapak rohani. Karena melalui karya-karyanya aku mengenal Larasati, Marineti Dhianwidhi, Teratai Rorasai, Tiwi Nusamusbida, Roro Mendut, Lusilindri, Genduk Duku yang telah memberi banyak pencerahan untuk menjadi perempuan yang perkasa namun penuh kasih seperti bumi.
Lalu, seorang teman mengajakku ke SD Mangunan di Kalasan. Ruang kelasnya hanya dari kayu dan bambu, tapi anak-anaknya diajak untuk mengenal kehidupan dan bukan sekedar menghapal rumus dan urutan sejarah. Juga bantaran Kali Code RT V, tempat kakek berjenggot itu pernah tinggal sambil menata hunian yang akan digusur pemda itu. Seorang teman mengajakku ke sana, memperkenalkanku pada anak-anak dan ibu-ibu di sana. Lalu aku diajak ke balai pertemuan RT yang berupa rumah panggung dengan TV tua, tumpukan meja kecil, dan rak buku. Di sana, temanku itu mendampingi anak-anak belajar.
“Boleh aku membantumu di sini?” tanyaku padanya. Tentu dijawab dengan anggukan mantap. Anak-anak di sana gampang akrab pada orang baru. Di situ aku merasa punya kedekatan jiwa dengan kakek yang belum pernah kutemui itu.
“Besok ada hajatan. Romo Mangun pasti datang. Nanti kukenalkan padanya.” Ujar seorang remaja Code padaku. Aku meluap-luap. Itulah pertemuan pertamaku dengannya. Rambut, alis mata, kumis, dan jenggotnya sudah memutih. Mengenakan batik sederhana dan senyumnya luar biasa menyejukkan.
“Romo, ada yang mau kenalan sama Romo.” Ujar remaja tadi. Hatiku ketar-ketir. Inikah kakek yang bikin aku jatuh cinta? Mendengar apa kata temanku dari Code itu, berderailah tawa sang kakek. Dia sangat erat menjabat tanganku, sampai-sampai aku tak tahu harus ngomong apa selain tersenyum penuh hormat.
“Dia anak asrama, Mo.” Ujar temanku lagi.
“Oh, asrama blek sarden itu ya?” Lagi-lagi tawanya berderai. Wah, beliau tahu bagaimana suasana di dalam asramaku. Dari luar tampak bagus tapi setelah masuk, jemuran bergantungan di sana-sini. Dan kamr anak-anaknya empet-empetan kayak ikan sarden dikalengin. Malu aku. Itu pertemuan pertama yang sangat mengesankan. Hatiku penuh bunga.
Pertemuan kedua terjadi di rumahnya di gang Kuwera. Saat itu teman-teman dari Code ingin mengajukan proposal pengadaan buku dan kegiatan remaja. Katanya bisa minta dana pada Romo Mangun, dari penghargaan Aga Khan (kalau tidak salah dengar). Akupun minta ikut. Padahal aku tidak ada sangkut-pautnya. Tapi teman-teman dari Code mengijinkanku, karena mereka tahu bahwa aku cuma ingin bertemu pujaan hati.
“Loh, kok ada yang mirip Zarima? Sejak kapan di Code ada remaja mirip Zarima?” Komentar Romo Mangun ketika aku berjabat tangan dengannya. Waktu itu aku masih langsing dan rambut panjangku modelnya shagi kayak milik Zarima.
“Saya yang tinggal di blek sarden, Romo.” Kataku. Berderai lagilah tawa sang kakek. Dalam pertemuan itu aku hanya diam saja, karena memang yang punya gawe teman-teman Code.
Selanjutnya, aku menguntit Romo Mangun kemanapun dia menjadi narasumber seminar. Asal masih berada di dalam kota dan temanya tentang sastra atau sosial budaya. Kalau yang dibawakannya tentang arsitektur aku tidak datang, karena pasti gak bakalan mudeng. Soal arsitekturnya, cukup kunikmati dalam Mendidik Manusia Merdeka yang ditercbitkan Interfidei untuk ultahnya yang ke-65.
Setelah lulus kuliah dan bekerja di sebuah tabloid wanita, akupun punya kesempatan istimewa untuk mewawancarainya secara eksklusiv. Waktu itu Megawati sedang jadi pro dan kontra. Lantas tabloid kami akan mengangkat laporan investigasi tentang Presiden Wanita, Kenapa Tidak? Narasumber yang akan diwawancarai dari berbagai kalangan. Satu diantaranya seorang budayawan. Buru-buru aku angkat tangan dan kasih usul. “Romo Mangunwijaya! Semua karyanya bertokoh perempuan. Saya yang berangkat!” Belum pernah aku sesemangat itu. Redaktur menyetujui usulanku. Akhirnya akupun harus ke Jogja malam itu juga. Dengan kereta. Tabloid kami terbit mingguan, jadi harus gerak cepat. Waktu itu alat komunikasiku hanya pager. Handphone masih barang langka. Akupun menghubungi Kuwera di wartel dekat stasiun.
“Romo sedang kurang enak badan, Mbak.” Jawab si pengangkat telepon pagi itu.
“Saya hanya butuh waktu 15 menit saja, Mas.” Desakku.
“Atau telpon besok lagi saja jika Romo sudah membaik.” Waduh, aku sudah sampai di Jogya. Waktuku tidak banyak. Untung masih ada teman yang belum lulus kuliah, sehingga aku bisa numpang sebentar di kostnya. Tapi aku tidak sabar. Beberapa jam aku menelpon lagi, berharap diangkat langsung oleh Romo. Mau langsung ke Kuwera, kan belum bikin janji. Padahal pertanyaanku banyak. Nah, jodoh memang tidak bakal kemana. Suara itu suara Romo Mangun.
“Pagi Romo, saya Rini dari tabloid wanita di Jakarta. Saya yang dulu tinggal di blek sarden, Romo. Ingin ngobrol seputar presiden wanita dari matra budaya. Kebetulan saya sudah berada di Jogja. Kapan saya bisa bertemu?”
“Oh, dari Jakarta ya? Saya sedang kurang enak badan. Tapi sudah jauh datang. Blek sarden? Ah, wartawan memang pintar mendesak. Setengah jam saja ya.” Puji Tuhan. Melonjaklah aku di kamar wartel daerah Gejayan itu. Buru-buru aku berangkat.
Kamipun ngobrol seputar tema yang kubawa dari redaksi. Setengah jam berlalu, tapi Romo Mangun masih terus bertutur dan aku mendengarkannya seperti cucu yang sangat rindu pada kakeknya. Pertanyaanku habis, tapi kami malah ngobrol soal novel-novelnya.
“Perempuan sepertimu itulah Marineti Dianwidhi.” Pujinya.
“Saya memang mendapatkan pencerahan dari tokoh itu, Romo. Terimakasih sudah membaginya pada kami.” Jawabku.
“Saya ini sudah tua. Kalian-kalian lah yang lebih punya ide-ide segar.”
“Bukannya masih bisa didaur ulang, Mo?” Tanyaku bercanda. Derai tawa itu terdengar renyah di sela batuk-batuk kecilnya.
“Ya, yang muda-muda yang punya tanggungjawab untuk mendaur ulang. Bagus itu.” Kamipun ngobrol sampai satu setengah jam. Lupa bahwa waktu untukku hanya setengah jam. Aku berjanji akan mengirimkan tabloid yang akan memuat hasil wawancara itu. Diapun memberi kesempatan padaku untuk datang jika ingin mengkopi Romo Rahadi dan Balada Becak yang entah lupa disimpan dimana. Soalnya kedua karya itu sudah tidak dicetak lagi.
Tapi, seminggu kemudian, sekitar jam sebelas siang, kudengar berita, Romo Mangun yang kucintai dan pastilah dicintai dan dikagumi jutaan orang di luar sana, sudah berpulang. Saat jadi narasumber di Le Meridien Jakarta Pusat. Tabloid yang memuat hasil wawancara dengannya baru saja kuposkan tadi pagi.
“Rin, kirim file hasil wawancaramu ke komputerku ya. Kita bikin in memoriam untuk Mangunwijaya!” Teriak redakturku. Buru-buru aku menghapus air mata. Kubuka fileku dan kukirim ke redaktur. Hasil wawancara itu dimuat utuh satu halaman penuh untuk edisi minggu berikutnya. Untukmu kakek rohaniku yang kucinta. Aku baru bisa mencintai dan mengagumi karya-karyamu. Belum bisa menerapkannya dalam hidupku. Apa yang telah kupunya darimu akan menginspirasi aku selamanya.
Karya terakhir yang kubaca adalah Pohon-Pohon Sesawi. Cerita seorang pastur dalam memandang keanekaragaman umatnya. Di kebun belakang itu tumbuh pohon nangka, pohon petai, pohon sengon, pohon kelapa, dan lainnya. Semua punya sifat masing-masing tapi toh tetap hidup dalam kebun yang sama dan punya kontribusi yang harus dihormati. Itu menguatkanku ketika umat di lingkungan tempatku tinggal mempercayai aku dan suami untuk menjadi Bapak dan Ibu Ketua Lingkungan. Ragawidya juga membuka pikiranku untuk lebih mengerti sesama dalam tawa, tangis, senyum, kerlingan, dan posisi tubuh mereka.
Dara-Dara Mendut juga menguak sedikit kenangan akan evangelisasi yang dilakukan para misionaris di tanah Jawa. Sejak saat baca yang satu ini, aku gak pernah mengeluhkan menu asrama yang minimalis. Oseng toge dan oblok daun singkong. Nyatanya para gadis Mendut sudah harus masuk asrama dan pisah dari orangtua sejak usia belum genap lima tahun. Oh, Tuhan, tak bisa kubayangkan. Tentunya gemblengan asrama mereka jauh lebih keras dibanding yang kuhadapi. Tak ada satupun dari karya kakekku itu yang tak mampu memberikan inspirasi bagiku. Aku belum punya idola lagi yang seperti dia. Selamanya dia idola. Dalam hatiku, terukir namamu, seindah yang kubisa. Kau cintaku.













Rini….aku jg salah satu penggemarnya. Semua bukunya dah pernah kubaca. Sampai yg kamu sebutkan terakhir Pohon Pohon Sesawi. Ya…betul itu….kita semua akan merindukannya…..karena dalam beberapa tahun ke depan, belum tentu ada manusia seperti beliau…..bagiku dia tak tergantikan…….!
tulisan yang bagus Rini
sepertinya aku juga bakal jatuh cinta setelah baca ini
Rini…aku menikmati tulisan ini, dan benar2 merasa terbawa saat perjumpaan mu dengan Romo Mangun, aku juga salah satu penggemar beliau, sosok nya tidak terlalu aku kenal, tapi kecintaannya pada penghuni kali Code membuatku sangat mengaguminya.
Terima kasih sudah membagi pengalaman yg indah ini, dan sosoknya pasti akan selalu kita rindukan.
Bagi rasa yang benar-benar dahsyat. Saya merasa (ikut) bertemu dengan beliau ketika membacanya.
Terima kasih sudah membagi pengalaman yang menggetarkan ini.
Rini, bagus banget… Aku nanti nyari bukunya ah… (dah ketinggalan yakkk tapi mending daripada nggak sama sekali hehehe..)>
Thanks udah share…:)
mangan ora mangan sing penting kumpul
hayo kumpul… kumpul…
ia mbak lini mangan ra mangan ngumpul……
hmmmm wlopun belum pernah membca karyanya……..dan bertemu orangnya pastilah ia telah menjalankan fungsinya…….
smangat mbak rini
salam hangat joni
Terimakasih buat semuanya karena udah baca. I love all of you full. Salam manis, Rini Giri.
serasa ketemu sama Romo Mangun…. makasih ya…. aku juga penggemar berat novel2nya…
merinding badan diingatkan akan tokoh yang satu ini
saya sedang hunting novel burung2 rantaunya romo mangun. mohon bantuannya.
thank’s b4..