SENANDUNG GIGI PALSUKU

(Oleh Rini Giri)

Apa ada cowok yang mau sama cewek bergigi palsu? Gimana kalau mereka nanti malah jijik? Wajah manis, tapi ada seonggok akrilik yang mengganjal rahang atasnya. Wuih serem!!! Aku berjanji dalam hati, tak akan ada seorangpun yang boleh tahu tentang keberadaan gigi palsuku ini! Nggak ada satupun! Seumur hidup!

Padahal waktu itu umurku baru 13 tahun, kelas 2 SMP. Dua gigi seri atasku berlubang dan tidak segera dibawa ke dokter. Aku kurang terbuka pada ayah dan ibu, akibatnya merekapun tidak tahu kalau aku sedang dalam masalah serius. Sesal kemudian hari tak berguna. Harusnya, sekecil apapun lubang pada gigi harus segera mendapat penanganan sehingga tidak berakibat fatal. Masalah sesimpel apapun sebaiknya dibahas bersama orang tua. Mereka baru paham ketika aku mulai menangis dan mengeluh bibirku bengkak sebesar pisang Lampung.

Dokter gigi geleng-geleng. Kenapa sudah sebegitu parah baru diperiksakan. Aku harus minum obat untuk menghilangkan bengkak dan rasa sakit. Seminggu kemudian harus datang lagi untuk cabut gigi. Untung gigi seri satunya masih bisa dipertahankan dengan cara ditambal. “Berarti aku bakal ompong dong?” tanyaku. Dokter itu tersenyum,”Paling ompongnya dua minggu. Habis itu dikasih gigi baru.” Ha? Gigi palsu? Kayak embah-embah saja! Tapi apa boleh buat, daripada ompong kayak anak kelas satu SD yang baru tanggal gigi susu!

Begitu bengkak di bibir hilang dan rasa nyeri tidak datang, aku datang lagi ke klinik gigi. Sebuah jarum suntik menembus gusiku tiga kali. Beberapa  menit kemudian, bibir dan mulutku serasa menebal dan mati rasa. Dua buah gulungan kapas kecil menyekat gusi dan bibir. Tiba-tiba saja sebuah tang sudah mencabut gigi bolongku dalam tiga gerakan. “Krek…krek…krek!!!” Kapaspun segera menyumbat gusi tanpa gigi itu untuk menghambat pendarahan. Tiga hari aku tidak berani masuk sekolah. Apa kata dunia?

Akibatnya akau ketinggalan banyak pelajaran. Akhirnya aku berangkat juga ke sekolah, tanpa buka mulut sedikitpun. “Rini kenapa kok jadi diem begitu? Sakit dia?” Tanya seorang teman yang selama ini selalu cekcok denganku. Rupanya dia kehilangan lawan berantem. Setiap pertanyaan gurupun hanya kujawab dengan menggeleng dan mengangguk. Tak ada senyuman apalagi tawa. Bisa-bisa mereka semua lari terbirit-birit melihat seringai ompongku.

Seminggu usai dicabut, aku harus kembali ke dokter gigi untuk menambal gigi satunya dan mencetak gigi palsu. Huah! Capek banget, setengah jam mustu buka mulut. Cetak gigi itu benar-benar bikin mual. Suatu adonan halus dituang ke  cetakan mirip tapal kuda. Ada dua cetakan, untuk gigi atas dan bawah. Trus cetakan itu dimasukkan ke mulut sampai terkulum semuanya, ditunggu sampai adonan mengering, baru dikeluarkan dari mulut. Prosesnya dua kali untuk gigi atas dan bawah. Untung aku bisa tahan dan tidak muntah.

Seminggu kemudian, gigi palsuku jadi dan langsung dipasang ke rahang atasku. “Tuh, jadi cantik lagi kan!” Ujar dokter sambil menyodorkan cermin ke wajahku. Aku mencoba tersenyum. Eh, tidak ompong lagi. Tapi suatu benda asing terasa mengganjal dan sangat tidak enak. “Semua benda asing yang dipasangkan ke tubuh kita, pasti butuh proses untuk adaptasi. Lama-kelamaan pasti akan enak bahkan kamu akan lupa kalau itu palsu.” Lalu dokter menjelaskan cara membersihkannya. “Disikat pelan-pelan dengan sabun colek saja. Karena ini plastik. Kalau pakai odol, nanti warnanya cepat berubah.”

Paginya aku sudah cengar-cengir lagi di sekolah. Teman-temanku tampak heran. “Kamu sudah sembuh?” tanya mereka. “Sudah. Sangat sehat.” Jawabku. “Kamu udah normal lagi?” tanya temanku yang suka ngajak cekcok. Aku mengangkat alis beberapa kali. Sejak saat itu dia seperti tidak berselara untuk cekcok lagi denganku. Mungkin takut bikin aku sakit dan jadi pendiam seperti kemarin-kemarin lagi.

“Kenapa di gigi sebelah kirimu ada kawatnya?” Tanya Rere, karibku suatu ketika. Wah, aku paling tidak bisa bohong padanya.

“Ini rahasia ya. Kawat itu pengait gigi palsuku.” Dan dia menjaga rahasia itu dengan penuh tanggungjawab. Seingatku, selama SMP, SMA, dan kuliah, tak ada satupun orang yang tahu kalau aku pakai gigi palsu. Bahkan pacar-pacarkupun tidak ada yang tahu! Paling mereka hanya tanya,”Gak suka kripik ya? Gak suka daging ya? Gak doyan permen karet ya?” Makanan keras pantangan. Bisa bikin gigi palsu patah. Kalaupun pengin makan makanan yang keras, musti dicuil-cuil dulu. Permen karet  juga pantangan, soalnya bisa lengket di langit-langitku yang penuh dengan akrilik.

Saat ciuman pertama di semester enam, aku takut setengah mati. Takut ketahuan gigi palsuku. Tapi nyatanya dia tidak tahu. Soalnya aku tidak pakai acara buka mulut. Berlagak masih malu dan takut. Padahal, jangan sampai dia nyenggol akrilik di rahang atasku itu. Bisa hancur berkeping-keping dunia di hadapanku karena malu!

Dokter itu benar, akrilik di rahang atasku itu setelah sekian tahun berasa seperti bagian tubuhku sendiri. Lama-lama tak berasa mengganggu. Bahkan bila tidak ada itu, hidupku terasa kurang. Tapi aku jadi terlalu sering mondar-mandir ke toilet untuk kumur dan sikat gigi. Soalnya setiap kali makan, sisa-sisanya akan nyantol di sekitar suku cadang palsu itu.

Calon suamiku tidak tahu kalau aku punya gigi palsu. Padahal kami sudah pacaran lima tahun. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Ini tentang kecacatanku. Tak bisa disembuhkan. Apa kamu masih tetap mau jadi pacarku dalam keadaanku yang seperti itu?” tanyaku. “Apapun yang ada dalam dirimu kuterima. Memangnya kecacatan apa? Susah buang air besar? Mens tidak teratur? Atau harus cukur ketek tiap tiga hari sekali?” Gara-gara dia bercanda aku tidak jadi menceritakan perihal gigi palsu. Bahkan hingga kami menerima Sakramen Perkawinan di hadapan altar kudus, hal itu terlupa.  Tapi akhirnya, di malam pengantin aku mengaku “Aku punya gigi palsu!”

“Itu kecacatan yang kamu maksud waktu itu? Gak papa deh, yang penting ‘itu’mu nggak palsu!” Kilahnya.

“Nggak merasa kutipu? Nggak merasa kecewa?”

“Gimana mau kecewa, orang udah terlanjur mengucapkan janji nikah di depan Tuhan. Nggak bisa cerai lagi! Ya kuterima aja apa adanya. Kamu ini juga aneh-aneh!”

“Gigi palsuku ini jadi bebanku sejak SMP dulu. Aku takut gak ada cowok yang mau kalau tahu aku punya gigi palsu. Aku serius nih!”

“Nyatanya kamu gonta-ganti cowok!”

“Mereka gak ada yang tahu! Termasuk kamu!”

“Ya udah. Berarti aku istimewa karena dari sekian orang, cuma aku yang diberi tahu. Beres kan?”

“Nggak malu punya istri bergigi palsu?”

“Mungkin aku akan malu kalau punya istri berhati palsu. Pasti senyumnya juga bakalan palsu. Tapi meski gigimu palsu, senyummu kan tetap orisinil, datang dari hati yang kukagumi itu.” Walah!!!!

Gigi palsuku berumur 20 tahun ketika suatu petang, aku, suami, dan anak-anak makan ayam goreng sambil nonton TV di atas karpet. Tiba-tiba “klek!!!” Gigi akrilikku patah. Aku panik bukan main. Aku tidak mau ompong lagi!  Apalagi aku harus tugas menyanyikan Mazmur minggu depan! Malam itu juga suamiku mengajakku ke klinik gigi terdekat. Pokoknya minta dibikinin gigi! Gigi lama itu sudah tidak bisa direparasi lagi karena umurnya sudah tua dan memang sudah sangat rentan patah. Dokter gigi yang cantik itu bilang,”Tiga hari baru jadi!” Oh, syukurlah. Tiga hari aku ompong lagi dan tidak berani keluar rumah. Setelah hari yang dijanjikan, dan dipasang, ternyata  agak kurang pas.

“Dipakai makan bisa sih Dok. Tapi saya jadi tidak bisa nyanyi. Ngomong S-nya jadi susah. Konsonan juga kurang jelas.”  Lalu Dokter itu mencoba mengikir sana-sini. Trus dicoba dipasang. Pas, enak, tapi tetap saja konsonan jadi kurang jelas. Terutama S.

“Mungkin butuh waktu untuk adaptasi. Kalau sampai seminggu tetap saja begitu, kita cetak ulang lagi saja.” Tutur Dokter cantik memberi garansi. OK deh! Tapi gara-gara konsonan kurang jelas, logat medok-ku sedikit hilang. Huruf B dan D yang semula sangat berat di lidah, sekarang agak ringan. Kalau ngomong masih agak medok, tapi kalau nyanyi medok-nya ilang!!!

“Kok gak datang ke klinik lagi? Medoknya udah pulih ya?” Tanya dokter gigi cantik lewat telepon.

“Udah enak kok, Dok. Kemarin ada tugas menyanyikan lagu Mazmur di gereja. Eh, lha kok malah bisa ngatur konsonan kayak penyanyi-penyanyi itu. J sama T kecampur C sedikit. D yang biasanya DH bisa D ringan. Enak kok Dok! Nggak usah datang ke klinik lagi aja ya?” Dokter cantik terkekeh di seberang sana. Gigi palsuku membuat senandungku lebih enak didengar.

Baca juga

  • Perjalanan Pulang
  • Pustaka Buah: Kawista/Maja
  • Terima
  • Peduli Lingkungan. It’s about attitude
  • Indahnya Cinta
  • embun menggantung
  • Thank’s Buluk, You’re The Best
  • Relationship
  • banJIR, anJIR dan taJIR
  • TOLE RAN SI BER agama

Comments (1)

RifaMay 9th, 2010 at 12:35 pm

Keren.
Mbak ,
saya juga punya gigi palsu.
Kalo ciuman gmana cranya ?

Leave a comment

Your comment