SURGAKU BERLALU

(Rini Giri)

Masa kecilku habis di Kaki Merbabu. hamparan tanah hijau penuh bahan makanan. Pisang, jambu, ubi, talas, singkong, dan labu tinggal memetik di kebun jika mau. Ladang-ladang penuh jagung dan kelapa. Bahkan jika aku dan teman-teman menyusuri tepi jurang, buah-buah kecil masak bisa mengenyangkan perut kami. Caplukan, ranti, dan ucen-ucen.

Sebuah kali membelah desa kami. Airnya jernih seperti hati bayi. Semua orang mandi, mencuci dan mengguyang ternak di sepanjang alirannya. Ceruk di dekat pancuran adalah sahabat anak-anak. Melompat, mencebur, dan mandi tanpa sabun. Pupus daun sengon biasa untuk menggosok badan dan tubuh sapi. Sesuatu yang surgawi dan alami.

Itu cerita tentang kaki Merbabu duapuluh lima tahun lalu. Kini anak-anak sudah tidak main boneka jagung atau wayang batang lamtoro lagi. Tapi robot-robaotan plastik yang kan segera jadi sampah jika rusak. Aku tidak melihat buah-buah pohon perdu lagi. Aliran kali itupun sudah mati, tinggal batu-batu kali yang merana sendiri.

Kemana kau air, kemana kau gemericik, kemana kau kubangan yang dulu aku ceburi? Semua sudah berganti. Tak ada yang menganggapnya penting. Mau minum tinggal beli galon di warung. mau mandi dan cuci tinggal langganan air ledeng. kali yang membelah desa seolah jadi jalan setapak saja.

Kaki Merbabu, surga masa kecilku. Rumah-rumah bambu dengan lincak kecil di depannya sudah tergusur rumah-rumah tembok orang kaya dari kota. Kamar kost juga bisa ditemui di mana saja. Kantor-bank, mini market, rumah sakit, perguruan tinggi berderet di sana dan membuat orang asing bekerja di situ. Kemana para pemudanya? Kemana ank gadisnya? Mereka pergi seperti aku. Di sana tak ada pekerjaan buatku. Pekerjaan itu buat orang lain. Maka akupun seperti yang lain, lebih baik merantau daripada terlantar di kampung sendiri. Aku kehilangan surga masa kecilku. Aku kehilangan akar. Aku kehilangan tanah subur yang pernah menyediakan pisang dan talas. Mungkinkah aku bisa kembali? Mungkinkah surgaku bisa kumiliki lagi? Ataukah dia sudah benar-benar berlalu? Tak bisa diharapkan lagi.

Membangun tanah kelahiran adalah suatu omong kosong bagiku. bagaimana bisa membangunnya jika semua sudah jadi milik orang lain? Bahkan aku yang pernah dikandung dan belajar mengenal hidup di buminya sudah tak punya tempat lagi. Jika aku pulang pun sudah jarang yang kenal siapa aku. Aku hanyalah bagian masa lalu dari kaki Merbabu. Sudah dilupakan. Sudah berlalu.

Baca juga

  • Hari Esok
  • Serial Traveling on Vacation.. Ngelayap Ke Jogja. ( Part 2 )
  • Hikmah
  • malam satu bintang
  • #40MariBerbagi – Hidup bukan Untuk Gengsi
  • Waktu yang Menguatkan
  • Dan Setelahnya
  • Hey, apakah gerangan ini?
  • #30HariMembaca (Puisi)
  • Cinta

Leave a comment

Your comment