Tangis Sang Cucu

(Rini Giri)

Gadis belia dengan dua kuncir memandang meja. Semangkuk agar-agar telah membeku. Belum ada yang menyuapkan atau memang tidak selera makan? Dia menoleh pada ibunya. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk setuju. Si dua kuncir segera memburu ke meja. Sendok di nampan yang sama juga diambil.

Bibir kering dan mengelupas tersentuh sendok dan sejuknya agar-agar. Sedikit terbuka dan menerima suapan siapa saja yang rela. Si gadis belia sangat gembira. Mengetahui apa yang dilakukannya. Tapi bibir itu tetap bisu. Padahal gadis belia sangat ingin dipanggil namanya. Dia hanya ingin mendapat balasan cinta lewat kata-kata. Tapi rupanya tak bisa.

“Apa dia senang aku suapi, Bu?” Tanyanya ragu.”Tentu, dia tau kau mengasihinya.” Tapi bibir itu tak bergerak, kecuali ada sendok dingin yang menyentuhnya. “Kenapa dia dulu memanggilku dengan nama Inka? Bukankah namaku Moni? Apa ibu salah memperkenalkanku?” Ibunya menggeleng. “Apa aku mirip anak yang bernama Inka itu?” Ibunya mengangguk. Tampak ada getaran di bibir perempuan itu. Diam-diam tangannya mengusap ujung mata. “Apa Inka juga suka menguncir rambutnya?” Ibunya memejamkan mata, dan sekarang aliran itu tak terbendung lagi. “Kenapa menangis, Bu? Apa ibu kenal Inka? Apa dia sudah tidak ada lagi?” Gadis belia menanti jawaban. Tapi ibunya hanya tertunduk sambil mengelus tangan beku berbibir kaku  itu.

Dulu, Inka gadis yang rajin membantu ayah-ibunya. Dia gadis baik. Rela pergi dari kampung untuk mencari uang ke  Jakarta. Terpisah dari keluarga yang melindunginya. Usianya masih sangat muda. Jauh dari sayang dan peluk mesra seorang ibu. Padahal dia masih ingin bermanja-manja seperti teman sebaya. Tapi tangis lapar adik-adiknya membuatnya tergerak pergi. Apapun akan dilakukannya asal bisa mengirim uang belanja untuk beli tahu dan ikan asin.

Belasan tahun dalam kerja telah membuatnya jadi dewasa. Belasan tahun pula dia jadi perempuan setia yang selalu mengutamakan nasib ayah-ibunya. Setiap menggenggam uang, dia tak pernah tega untuk memanjakan hidupnya sendiri. Adik-adiknya di kampung butuh seragam dan buku baru. Hidupnya hanya untuk menghidupi mereka. “Ayah dan ibuku sangat cinta padaku. Mungkin inilah caraku untuk mengasihi mereka.” Itu yang membuatnya bertahan.

Kematangannya sebagai perempuan mendorongnya untuk memilih seorang partner hidup. Diapun berkeluarga. namun, perjalanan keuangan seseorang nyatanya tidak selalu tepat seperti rencana. Ketika PHK terjadi di mana-mana, dia dan suaminya turut merasakan pahitnya. Suaminya orang baik, dia tak keberatan Inka selalu mengirimi keluarganya. Tapi ketika musibah itu datang dan mereka harus pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil, Inka tidak punya pilihan lagi selain sembunyi. Jangankan kabar berita, wesel pun tak pernah tiba di alamat ayah ibunya. Dia malu untuk berterus terang. “Ibu, aku tak bisa bantu lagi.” Kata-kata itu tak sanggup terucap. Belasan tahun dia selalu setia, tapi kini semua berubah.

Orang di kampung sudah terlanjur menganngapnya berhasil. Bisa menyekolahkan adik-adiknya dan memberi makan ayah-ibunya. Tapi sekarang semua sirna. Inka malu dan tak mau semua orang tahu. Surat-surat ibunya tak dibalas, telepon dari adiknya pun sudah tak sampai lagi karena telepon selulernya sudah terjual di Roxy. Sampai anaknya sudah umur 4 tahun, dia tetap sembunyi. Kehidupannya sulit untuk pulih kembali.

“Pulanglah, In. Ibumu kangen. Ayahmu sakit.” Kabar seorang teman sekampung yang baru saja mudik. Demi mendengar ayahnya jatuh sakit, dia rela lari kesana-kemari meminjam uang, demi sebuah tiket bus kelas ekonomi. “Salam saja untuk ayah dan ibumu.” Kata suaminya ketika Inka menaiki tangga bus mmalam itu bersama anaknya. Suaminya tak ikut demi menghemat ongkos perjalanan.

Di rumahnya, semua saudara menyiapkan penyambutan bak tamu jauh. Dikira dia akan pulang dengan mobil seperti orang-orang Jakarta lainnya. Raut kecewa tampak kentara ketika melihat Inka dan anak perempuannya turun dari bus kelas tiga. Tapi ibunya tetap memeluknya dan menciumi pipi anaknya. “Maaf, sudah mengecewakan ibu dan semua keluarga.” Ucap Inka. “Yang penting kau pulang Inka.” Tutur ibunya dalam sedu sedan.

Lelaki tua itu sudah linglung. Tak mengenali Inka lagi. tapi begitu melihat anaknya, dia langsung tersenyum sambil memanggil-manggil namanya,”Inka…Inka…Inkaku sayang!” Dia tertawa melihat anak balita itu menggoyangkan kuncirnya. Dengan gemas dipeluk dan direngkuhnya dalam gendongan. Si dua kuncir tersenyum. Tapi ibunya menunduk dalam pilu. lelaki yang dulu sangat mengasihinya sudah tak kenal lagi padanya.

Lima tahun berselang. Lelaki itu kian mundur kesehatannya. Kini dia terbujur kaku, bibirnya beku, dan tubuhnya membatu. Hanya matanya yang hidup. Sesekali melelehkan kepedihan masa lalu. Tentang Inka kesayangannya.

“Agarnya sudah habis, Bu. Boleh aku main?” Tanya gadis belia. Ibunya mengangguk. Si dua kuncirpun segera berlari ke belakang rumah menemui sepupunya. Bocah kampung punya mainan aneh, pikirnya. Boneka dari jerami? Sepupunyapun mengajaknya ke dekat lesung penumbuk padi. lalu menjumput helaian jerami dan membuatnya jadi seberkas. Diikat sana-sani, lalu jadi orang-orangan yang lucu. Kedua gadis belia itupun berlari ke kebun demi melihat kemarahan induk ayam yang anak-anaknya jadi terganggu akibat kedatangan mereka.

“Moni! Nayu! Pulanglah! Semua orang sudah menunggu!” Panggil bibinya. Keduanyapun mengikuti langkah perempuan itu. Di kamarnya, mata lelaki tua itu sudah terpejam. Semua orang menangis selain neneknya. Moni melihat leleki itu melambaikan tangan ke arahnya,”Inka!Inka!Inkaku sayang! “Kenapa nenek tidak menangis?” Tanya Moni. “Sudah saatnya. Sudah banyak yang telah dilewati.” Jawab neneknya. “Dia selalu salah memanggil namaku, Nek. Dikiranya aku Inka.” Dan sekarang neneknya malah menangis. “Siapa Inka?” Tanya Moni. Tapi neneknya sudah terlanjur dalam isak.

Lelaki itu memanggilnya lagi,”Kemarilah Inkaku sayang.” Moni menggeleng,”Namaku Moni, Kek. Bukan Inka.” Tapi lelaki itu tak peduli, terus memanggil dirinya dengan nama Inka. Moni tertunduk,”Panggil aku Moni, Kek. Aku Moni yang menyayangimu.” Gadis belia dua kuncir itupun turut terisak. “Apa ibuku keliru memperkenalkan namaku, Kek?” Moni ingin disayang sebagai dirinya, bukan Inka.

Oh, seandainya saja kakeknya mengenali dirinya sedari bayi dulu. Pasti kakeknya kan memanggilnya,”Moni!” bukan “Inka!”

Baca juga

  • Questions Book ( page 51 )
  • Being Mom: Good Girl
  • Balada Gadis Kecil
  • Kisah Si Jambon dan Si Ungu
  • Cinta dan Kasih
  • Plak!
  • Sekedar Intermezzo (Apa sih sebetulnya kebahagiaan itu?)
  • Kembali
  • Pasar malam
  • Jakarta Kala Malam

Leave a comment

Your comment