Tertusuk Padaku, Luka Padamu Jua

(Rini Giri)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009

Persahabatan kami sudah berumur 28 tahun. Sejak kami mulai masuk SD, 1982. Jangan sangka kami memiliki banyak kesamaan sehingga klop. Kami sangat berbeda, namun saling mengisi dan melengkapi. Apa yang tidak kupunya dia ada. Apa yang tidak dikuasainya aku mampu. Keunggulan dan kelemahan itu membuat kami saling menghargai dan membantu. Berbagi adalah nyawa hubungan ini.

Dia pandai pelajaran eksak, aku telmi abis. Makanya aku selalu belajar padanya. Keunggulanku menggambar dan kami bisa membuat lukisan cat air bersama. Aku banyak ketularan sifat baiknya. Antara lain jadi rajin belajar. Tapi aku gak bisa ikut suka pada pelajaran eksakta.

“Aku mumet, Re. Lebih baik aku cari pacar anak eksakta aja deh. Yang jago matematika, fisika, kimia, gitu.” Keluhku suatu hari.

Namanya Rere. Belum pernah aku menemukan lagi sahabat seperti dia. Apa ada teman yang benar-benar mau meluangkan waktu untuk mengajarimu matematika yang kau benci? Biasanya yang ada persaingan. Teman bertanya sedikit saja langsung berlagak pelit, takut ilmunya tersaingi. Tidak dengan dirinya. Buku-buku latihan soal yang dibelikan ayahnya, ditunjukkan semua padaku. Diajaknya aku mengerjakan bersama.

“Kamu gak usah minta dibeliin ibumu. Ini buat kita berdua. Kita bisa mengerjakan dan membahasnya bersama.” Ujarnya sepenuh hati.

Kalau saja tidak sering belajar dengannya, belum tentu aku bisa kuliah di universitas negeri ternama di negara ini. Dari kelas satu  sampai lima SD, sebelum kenal secara intensif dengannya, nilaiku hanya pas. Bahkan ada angka 5 di kolom matematika. Tapi begitu aku pindah ke dekat rumahnya, aku jadi tahu cara dia belajar. Akhirnya, mau tidak mau aku turut mengalir dalam kedisiplinan yang dimilikinya.

Kami bertetangga dan rumahnya sudah seperti rumah keduaku. Kalu pulang sekolah dan lapar, aku akan numpang makan di rumahnya. Masakan tahu goreng dan sayur asem almarhumah neneknya sangat nikmat. Bahkan aku juga sering menginap di rumahnya jika akan  ada ulangan. Keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Ayahnya selalu mendukung kami belajar dan mendoakan kami setiap akan ulangan umum. Abangnya juga sangat aku hormati laksana kakakku sendiri. Bahkan adiknya dan adikku bersahabat. Lengkap sudah kedekatan hati kami. Ibunya dan ibuku juga cocok. Bapaknya dan bapakku kalau ngobrol lama sekali. Persahabatan kami mampu mendekatkan dua keluarga.

Kemanapun kami pergi selalu berdua. Di situ ada Rini pasti ada Rere. Di sana ada Rere pasti ada Rini. Segala curhatku didengarnya. Dan segala isi hatinya bebas ditumpahkan padaku. Ada kejujuran dalam jalinan persahabatan kami. Dalam melakukan hal-hal kecil kami berusaha untuk setia, agar suatu hari nanti bisa dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang besar. Duet kerja kami cukup populer kala itu. Di tingkat RT, kami dipercaya sebagai kolektor tagihan listrik warga. Di gereja, kami aktif dalam putra-putri altar dan Mudika. Jadi perancang acara kegiatan sekaligus eksekutornya sering kami lakukan. Jika ada pengiriman delegasi untuk mengikuti kegiatan di paroki lain, kami berdua yang sering diutus karena tak perlu menciptakan cemistry lagi. Udah klop dan tinggal jalan. Betapa kuatnya “R Kuadrat” saat itu. Rere dan Rini. Begitulah orang menamai hubungan kami.

Selama di SMP dan SMA, kami pergi dan pulang bersama. Dia selalu menjemputku. Kadang saat dia memanggil namaku, aku baru mandi. Buntutnya, kami terlambat masuk sekolah. Mungkin sebenarnya dia gondok juga padaku, tapi setiap kali aku minta maaf dia selalu memaklumi. Terlambat, terlambat bersama. Disetrap, disetrap bersama.

Ada yang ganjil bila sehari saja aku tidak bertemu dengannya. Mungkin karena selama itu dia sudah menjadi bagian lain dari hidupku. Begitu banyak cerita yang ingin segera kubeberkan padanya. Diapun tak sabar untuk berbagi kisah padaku. Tak ada rahasia di antara kami. Rasanya lega sekali kalau sudah menumpahkan penatku padanya. Karena kami seumur, kadang kami bingung sendiri dan tak punya solusi dalam menghadapi masalah. Tapi paling tidak, dengan didengar dan diberi semangat, akan ada senyum yang merekah kembali.

Aku ikut bangga pada prestasinya. Biasanya para gadis akan memuji jika iri dan bilang iri kalau ternyata mengagumi. Aku tahu betul jarak kemampuanku dengannya, jadi  untuk apa iri. Diajak belajar olehnya saja sudah beruntung.

“Re, aku sama sekali gak belajar matematika. Please, ajari aku bahas soal ini. Kamu gak usah belajar lagi deh, udah pinter.” Kataku sambil menyodorkan dua lembar soal EBTANAS tahun sebelumnya. Diapun membahas soal satu demi satu, mulai kami duduk di kursi bus sampai menjelang turun. Hasilnya? Nilai EBTANAS Matematikaku dapat 7,3. Coba kalau Rere tidak membriefing aku selama 30 menit dalam perjalanan bus itu. Bisa jeblok deh!

Kamipun punya kebiasaan aneh. Berangkat sekolah dia yang bayar, pulang sekolah aku yang bayar. Suatu saat, pulang sekolah seharusnya aku yang bayar, tapi duitku sudah habis buat jajan semua. Dia jarang jajan, makanya aku berharap dia bisa bayarin lagi. Ternyata uangnya hanya cukup buat dirinya sendiri. Lalu kami kebingungan. Masa aku gak ikut pulang? Tercetuslah pikiran untuk memakai uang itu sebagai ongkos transport ke rumah buliknya. Cukup untuk berdua. Waktu itu sudah sore karena pulang sekolah langsung les komputer. Akhirnya dengan malu-malu dia minta uang pada buliknya untuk ongkos pulang. Oh, Tuhan, betapa indahnya punya sahabat dengan pemikiran seperti dia. Tak mau pulang sendiri sementara kawannya bisa terlantar.

Ada cerita lagi. Paginya dia bayar seperti biasa. Tapi pulangnya dia di depan dan aku di belakang. Bus penuh. Saat kondektur meminta uang padaku, kukatakan yang bayar Rere. Lagi-lagi duitku habis buat jajan. Saat yang ditagih Rere, dia bilang yang bayar aku. Karena memang seharusnya itulah tugasku. Akhirnya setelah turun, aku tanya,”Tadi kamu bayar kan, Re?” Dia menggeleng. “Kan tugas kamu.” Yah? Berarti kita enggak bayar? Uff! Malu banget!

Kini kamipun masih jauh berbeda. Dia amat setia pada kariernya sementara aku lebih memilih mengurus anak-anak di rumah. Tapi hubungan baik itu tetap nyata. Saat dia pulang kampung, pasti mengunjungi ibuku dan sering bawa oleh-oleh. Untunglah tehnologi komunikasi memudahkan kami untuk saling menyapa. Kalau kami bertemu dalam liburan di kampung, kamipun kangen-kangenan. Sahabat adalah bagian hidup yang teramat vital. Dengannya kerapuhan hidup kita sedikit dikuatkan. Dia tak pernah dicari, tapi datang sendiri karena Tuhan yang memepertemukan seperti jodoh.

“Kenapa kau begitu betah denganku?” Tanyaku.

“Kau setia. Itu segalanya.” Jawabnya. Kalau kau tanya padaku kenapa aku suka jadi sahabatmu. Jawabanku, “Sebab jika aku sedang tertusuk, kau turut merasakan lukaku.” Tentangmu, Re, tersimpan apik di hatiku.



Tertarik dengan yang ini?

Comments (14)

LintangSeptember 8th, 2009 at 9:51 am

Persahabatan yag indah…..antara ibuku dan Bulik Rere….

martinaSeptember 8th, 2009 at 10:30 am

Itulah arti persahabatan……tidak hanya ada di saat senang tapi juga di saat susah….2 thumbs for you…..!

shinta mirandaSeptember 8th, 2009 at 11:43 am

Wow, ini baru cerita..!! menyentuh…meneladani….pake bintang….congratz !!

Edy CahyantoSeptember 8th, 2009 at 4:22 pm

Persahabatan sejati akankah lekang oleh waktu

Anak2 BIA Antonius 3September 8th, 2009 at 11:46 pm

Bu Rini, semoga persahabatan kita di Bina Iman bisa langgeng kayak persahabatan dalam cerita itu yah….

Rini GiriSeptember 8th, 2009 at 11:48 pm

Lintang, Mbak Sinta, pak Edy, anak2 BIA. Makasih udah membaca dan mendukung. Tuhan memberkati selalu. Semoga kita selalu jadi sahabat. Amin.

Bina ImanSeptember 8th, 2009 at 11:50 pm

Bu Rini, semoga persahabatan kita di Bina iman juga langgeng kayak di cerita ibu. Amin.

re2September 9th, 2009 at 7:52 am

aku jadi terharu terus nih.. persahabatan memang melebihi segalanya… semoga kita selalu bisa jadi sahabat sampai akhir ya… always keep in touch.. GBU…

LiniSeptember 14th, 2009 at 8:02 am

bagus!

mercy sitanggangSeptember 22nd, 2009 at 3:42 pm

Hai.. Gud story,membumi..aku juga pernah punya sahabat seperti itu,tapi tdk lama.. Karena yg tertusuk padaku,ternyata dia yg menusuk.. Dan berdarah padaku..dia pergi meninggalkan luka.. Semoga kita semua tahu,apa artinya bersahabat..amin..GBU

damar wulanOctober 16th, 2009 at 8:28 pm

sahabat sejati selalu ada di saat kita senang dan sedih

And The Winner Is…November 4th, 2009 at 5:17 pm

[...] Tertusuk Padaku, Luka Padamu Jua (Rini Giri) [...]

putri aftatiantyJanuary 22nd, 2010 at 4:01 pm

_uaa~ i give you two thumbs sist . . ^^
moga smw ouranc bsa dptin shbdt sejatina . .

quw ? moga quw jg mendapatkannya . .
krna smpai detik ini , setiap temend yg quw sebudt sahabat , selalu ninggalin quw T.T
gpp , mgkn blum saatna quw bertemu tmnd sahabdtku . .
amind ,

Tuhan menyertai kita semua…….

[...] Tertusuk Padaku, Luka Padamu Jua (Rini Giri) [...]

Leave a comment

Your comment