4 Sekawan

(San San Tjahaya)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009

“Empat Sekawan”, begitulah orang-orang menjuluki kami berempat di sekolah dulu, karena kami selalu bersama, sejak awal masuk SMP, sampai kami lulus SMA, bahkan sampai sekarang. Entah bagaimana awalnya, kami berempat merasa cocok satu sama lain, sehingga tanpa dikomando, setiap jam istirahat dan sepulang sekolah kami selalu saling mencari dan berkumpul untuk makan, jalan-jalan atau sekedar mengobrol ngalor-ngidul tak ada habisnya. Inilah kami :
Vera, si mungil berhati baja, idealis, smart, naturalis, seniman sejati dan galaknya minta ampun. Julukannya : “Amul Cakar Setan”.
Ingrid, si bongsor bertenaga kuli, gampang marah, tapi gampang tertawa, berbadan besar tapi feminin, pintar masak dan sangat sangat lucu. Julukannya : “Adag” (singkatan dari Amoy Badag, badag dalam Bahasa Sunda berarti besar).
Wina, si pendiam yang manis, keriting, berkaca mata, sangat pandai, pendengar yang baik, kalem, tapi senang tertawa, terutama kalau melihat tingkah polah si Adag. Julukannya : “Pinguin Galing” (pinguin, karena orang-orang selalu menyapanya dengan “Win!Win!”, galling dalam Bahasa Sunda berarti keriting).

Dan aku, San San, si cerewet yang romantis, seorang perfeksionis tapi kurang percaya diri, kutu buku dan aktivis yang tak pernah bisa berhenti bicara. Julukanku : Oa (Oa adalah sejenis kera yang sangat berisik, selalu mengobrol bersahut-sahutan dengan kawanannya).
Masa-masa penuh canda tawa selalu kami nikmati bersama, kegiatan favorit kami adalah masak bersama, biasanya di rumah Amul, karena dapur di rumahnya cukup luas untuk kami bereksperimen. Kami pernah mencoba membuat spaghetti, salad, steak, juga berbagai kue-kue yang tampak menggugah selera di buku resep. Kenangan yang tak terlupakan, ketika kami mencoba membuat Apple Schotel, entah salah di tahap mana, akhirnya kue itu tidak berbentuk, isian dalamnya menyerupai bubur dan saat dipotong berbunyi “Nyop! Nyop!”, rasanya pun tak terlukiskan, TIDAK ENAK!! Sampai saat ini setiap ada yang mengingatkan tentang Apple Nyop Nyop, kami masih selalu tertawa terbahak-bahak.
Kami juga selalu berburu jajanan-jajanan enak untuk teman kami ngerumpi seharian, beberapa yang paling berkesan sampai sekarang di antaranya keripik lada (lada dalam Bahasa Sunda artinya pedas) di warung depan rumah Amul, keripik gopek yang dijual Rp.500,- sebungkus di depan rumahku (ini adalah keripik singkong renyah dengan bumbu manis pedas yang sungguh menggoyang lidah), sampai sekarang pun kami masih sering membeli keripik ini, tapi karena pengaruh inflasi harganya sekarang Rp.5.000,- sebungkus, lidi gurih pedas yang dibeli di kantin 2 sekolah kami, kerupuk odol (kerupuk putih yang berbentuk langsing dan panjang-panjang dengan bumbu cabai kering, nama sebenarnya sih gurilem kalau tidak salah), dan gorengan yang dijual di gerbang sekolah.
Memang kami tak terpisahkan, bahkan setelah bersama-sama di sekolah seharian pun, malam harinya kami pasti saling menelepon, sampai-sampai orang tua kami mengomel karena tagihan telepon yang terus membengkak, maklum, jaman itu belum ada handphone dan internet seperti sekarang, jadi kadang kami harus susah payah bersabar sampai esok hari untuk menyampaikan suatu kabar apabila kebetulan telepon tidak dapat digunakan. Topik terhangat biasanya seputar kecengan kami dan keluarga di rumah. Indahnya masa muda, rasanya saat itu masalah terberat adalah kecenganmu hari ini tidak menoleh ke arahmu sama sekali, ha ha ha ha….
Tapi bukan hanya saat-saat manis yang mewarnai persahabatan kami, kami juga saling berbagi kepedihan dan air mata, saat salah seorang dari kami patah hati, yang lain selalu ada untuk menghibur dan mendukung, juga saat salah satu dari kami mengalami masalah keluarga atau pun pertengkaran dengan saudara, yang lain selalu stand by untuk dijadikan tempat curhat dan penghiburan.
Cobaan terberat datang menguji persahabatan kami ketika akhirnya aku mempunyai seorang kekasih, yang pertama di antara kami berempat. Saat itu kami sudah duduk di bangku kuliah, dan kebetulan kekasihku adalah seorang yang sangat posesif dan mengekang, sehingga akhirnya hubunganku dengan teman-temanku menjadi renggang. Khususnya Amul, dia merasa sangat terpukul karena merasa aku rela meninggalkan sahabat-sahabatnya demi seorang laki-laki yang tidak berguna. Ditambah lagi pada saat itu terjadi ‘Kerusuhan Mei ‘95’, Amul pun dikirim ke RRC untuk menghindari bahaya dan untuk belajar Bahasa Mandarin, maka kami pun putus hubungan.
Tak lama setelah itu, Adag pun berangkat ke Australia untuk melanjutkan pendidikan di bidang kuliner, sedangkan Wina pun setelah lulus kuliah entah bekerja di mana dan kami berempat tidak lagi saling kontak dan berkomunikasi, karena aku pun sibuk membenahi hidupku yang sempat kacau karena hubunganku dengan laki-laki itu. Ternyata keluarga dan teman-temanku benar, dia bukanlah pangeran impianku, dia hanyalah seseorang bermulut manis yang hanya bermaksud memanfaatkan diriku.
Tapi puji Tuhan, seiring berjalannya waktu, ternyata Tuhan tidak membiarkan persahabatan kami berakhir begitu saja. Beberapa Tahun kemudian, dalam suatu kesempatan, aku bertemu kembali dengan Wina, dan kami mulai menjalin lagi komunikasi di antara kami. Beberapa waktu kemudian, aku mengetahui ternyata Amul adalah jemaat di gereja yang sama denganku, dan proses rekonsiliasi di antara kami pun mulai bergulir, akhirnya dia bisa memaafkan diriku, dan kami mulai menjalin hubungan kembali.
Tinggal satu lagi anggota “4 Sekawan” yang terhilang, tapi puji Tuhan teknologi internet sudah berkembang, dan akhirnya kami menemukan Adag kami tersayang di Facebook, dan babak baru persahabatan kami pun dimulai di usia kami yang sudah menginjak kepala 3. Begitu banyak yang telah berubah dalam diri kami, tetapi ternyata ada begitu banyak hal juga yang tidak pernah berubah di dalam persahabatan kami, kasih, persaudaraan, dan kepedulian kami satu sama lain yang kuharap akan bertahan sampai selamanya.
Vera, kini berprofesi sebagai guru Bahasa Mandarin dan penulis amatir di Bandung, sudah menikah dan sedang menantikan kelahiran putri pertamanya di Bulan September ini. Dia akhirnya bertemu dengan seorang suami yang sangat mengasihinya, padahal dia sendiri tadinya meragukan apakah akan ada laki-laki yang berani mendekati dirinya.
Ingrid, sekarang bekerja sebagai seorang Chef profesional di sebuah restaurant di Melbourne, Australia. Dalam waktu dekat Ingrid akan berkunjung ke Bandung untuk menyambut kelahiran putri Amul dan untuk reuni lengkap “4 Sekawan” yang pertama.
Wina, berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar ternama di Bandung, sudah menikah, dan sudah dikaruniai seorang putri berusia 3 tahun yang sangat manis dan cerdas seperti mamanya.
San San, kini mengelola Toko Berkat, sebuah toko peralatan rumah tangga di Bandung bersama seorang suami yang sangat sabar dan baik hati, dikaruniai 2 orang putra yang sepertinya mewarisi bakat cerewet yang akut dari mamanya, ha ha ha ha…..



Tertarik dengan yang ini?

Comments (16)

shinta mirandaSeptember 8th, 2009 at 11:32 am

Cerita yang mengalir dengan ringan, lucu, mengesankan……bagus, pake bintang deh !

yenny IbrahimSeptember 8th, 2009 at 12:53 pm

ceritanya natural, manis, enak untuk dibaca… seperti gula kapas berwarna merah muda…. so sweet :D

ingridSeptember 8th, 2009 at 1:18 pm

Eight thumbs up!! Ini semacem dokumentasi tapi menarik & kocak. Buat yg ga kenal ama tokoh2nya aja ini cerita kerasa rame, lucu & bawain inspirasi ttg kuatnya persahabatan. Buat para tokoh pemeran, so pasti ini kenangan super manis yg bikin kita ngakak2 sendiri kalo inget jaman itu, sekaligus ngeharuin jg nih, ga nyangka persahabatan kita ternyata emang kuatttt!!!!

sansan11176September 8th, 2009 at 1:32 pm

cerita yg mengingatkan kita pada kehidupan kita sehari2 diringkas dengan simpel namun berisi mungkin kalo dibahas lebih lanjut akan lebih mengesankan

sansan11176September 8th, 2009 at 1:38 pm

Buat Tim Juri (Nasi Tim), yg di atas itu comment dari suamiku, hehehe sorry salah pake id aku yah, maap…maap…

Zheng Qiu HuiSeptember 8th, 2009 at 1:58 pm

Cerita yang mengingatkan kita akan asam manisnya rujak “remaja”,jadi teringat setiap kejadian konyol yang berkesan dan hangat nya persahabatan yang masih polos dan murni,diceritakan dengan bahasa yang mengelir secara ringan dan enak dibaca.

VerySeptember 8th, 2009 at 2:21 pm

Mengingatkan kita betapa berharganya arti persahabatan,tak bisa dibeli,tak bisa ditukar dengan apapun,cukup mengharukan.Membuat saya jadi ingin memperbaharui persahabatan dengan teman2 lama saya

SunggarnawatiSeptember 8th, 2009 at 3:52 pm

Jadi terkenang jaman SMA dulu, ngga mungkin terulang. Tapi cerita seperti ini melayangkan memori ke jaman itu.
Salut pada penulis yang mampu menggambarkan dengan penuh emosi di dalamnya.

WFSeptember 8th, 2009 at 6:16 pm

cerita menarik, singkat, padat, bisa dikonsumsi untuk semua umur…..

yvonneSeptember 8th, 2009 at 10:34 pm

ceritanya natural tp detail.. jd bener2 kebayang karakter dari masing2 tokohnya..
aku sampe ikut ngerasa ada di tengah2 empat sekawan, walaupun ga ada salah satu tokoh yg mirip aku.. tapi minimal aku bisa ngebayangin situasi di dapur yg waktu bikin apel nyop2 itu :)

Dominique HandokoSeptember 9th, 2009 at 1:21 am

Sebagai teman yang selalu mengikuti perjalanan persahabatan kalian, cerita di atas memang seperti itulah adanya. Simple tapi menyentuh. Dari masa SMP sampai udah jadi ibu sekarang ini, persahabatan kalian memang luar biasa. Yang hebat, persahabatan kalian itu memang sudah diuji lewat berbagai proses lewat dan ternyata makin erat aja dari waktu ke waktu tanpa pamrih. Moga-moga cerita nyata ini bisa jadi teladan bagi yang membacanya dan menjadi setetes embun sejuk di tengah masyarakat sekarang ini yang cenderung apatis dan oportunis dalam memandang persahabatan.

FitriSeptember 10th, 2009 at 4:20 pm

Friendship is never die….jia you!!! :)

Yoyo CahyadiSeptember 12th, 2009 at 12:11 am

Ceritanya mengalir karena memang pengalaman pribadi penulisnya. Bahasanya pun sederhana dan tidak membosankan. Beberapa detail cerita bahkan digambarkan dengan sangat baik.

Yang perlu dikembangkan lagi ke depan adalah memperpendek kalimat. Jangan terlalu banyak kalimat panjang dengan banyak tanda koma sehingga lebih mudah dicerna. Mungkin ini karena sang penulis adalah seorang yang ‘cerewet’ sehingga lebih banyak menggunakan bahasa percakapan dengan kalimat panjang… hahahaha….. Itu memang memudahkan untuk langkah pertama. Semacam menggulirkan cerita yang mengalir begitu saja dari mulut penulisnya. Cara mudah untuk membuat kalimat seperti itu adalah dengan memperhatikan SPOK (subyek, predikat, obyek, keterangan) pada setiap kalimat yang dibuat.

Masukan berikutnya adalah menggunakan cetak miring untuk bahasa daerah maupun bahasa asing sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kadang-kadang memang aturan-aturan kecil seperti itu membuat rumit pada awalnya. Tetapi nantinya pasti akan terbiasa. Tulisan juga lebih enak dibaca dan dimengerti karena memakai standar yang berlaku umum. Panduan lengkapnya dapat dibeli di toko buku.

Salut untuk keberanian memulai langkah pertama dalam menulis. Jangan takut dan bosan dengan kritik karena akan membuat kita lebih maju dan memberikan masukan yang berharga. Sukses buat San San!

Wina Sutra NingsihSeptember 12th, 2009 at 3:23 pm

Sebagai salah satu pemeran dalam cerita ini, tadinya saya tidak menyadari betapa berartinya persahabatan kami.
Kami hanya menjalani dan menikmati semuanya ini. Persahabatan kami telah teruji oleh waktu dan berbagai rintangan. Tidak ada yang lebih berharga daripada persahabatan kami ini. Kami akan selalu menjaga persahabatan ini selamanya. GBU all….

LiniSeptember 14th, 2009 at 7:59 am

bagus!
lucu

And The Winner Is…November 5th, 2009 at 5:26 pm

[...] 4 Sekawan (San San Tjahaya) [...]

Leave a comment

Your comment