Jangan Tatap Aku Seperti Itu!
(Sebastian Ranla)
Berapa kali sudah kita bertemu, aku tak menghitungnya pasti. Puluhan kali? Tentu tidak. Ratusan kali? Atau bahkan seribu lebih kali? Mungkin kamu tahu sebab perempuan suka pada hal-hal sepeleh seperti itu.
Tapi… Apa gunanya membilang hal sepeleh seperti itu? Pemborosan waktu namanya. Lebih baik marilah kita mempertanyakan sejak kapan kautatap aku seperti itu. Sejak pertama kali kita bertemu? Mungkin, bila kamu percaya bahwa cinta datang pada pandangan pertama. Sejujurnya, aku sendiri tidak percaya pada pandangan itu. Sebab, yang pertama kali datang kan cuma kesan. Boleh jadi mengesankan. Tapi, namanya tetap kesan kan? Tidak lebih dari itu. Karena itu, aku tidak mau percayai cinta pada pandangan pertama.
Aku baru tahu kautatap aku seprti iut kemarin sore, ketika matamu cemas mencariku di dalam kelas dan tersenyum sangat manis menakala menemukan aku berada di deret paling belakang. Dan…. My God!!! Aku terhanyut dalam tatapanmu itu hingga tak kugubris lagi mata kuliah yang paling kugemari dan dosen yang paling banyak menyedot perhatianku itu. Gila!!! Sensasi tatapanmu sungguh memukau dan membuatku melupakan segalanya: kuliah, dosen, teman-teman sekelas, kursi-kursi, ruangan kelas, gambar-gambar di dinding, coretan-coretan di papan tulis, kertas-kertas yang berceceran di lantai dan suara-suara berisik di dalam dan di luar kelas.
Aku terhipnotis dan menemukan diriku berada di semesta luas. Tak ada siapa-siapa. Tidak juga kamu. Aku sendirian saja. Begitu hening! Dan aku terpesoana dalam keheningan yang agung. Diriku cuma sebuah nokhta kecil di tengah semesta maha luas. Namun bermakna karena semesta itu menjadi bermakna karena aku ada di sana.
Ah… Sensasi itu begitu memukauku hingga kautepuk pundakku ketika ruang kuliah sudah melompong. Aku tersentak dan kembali ke realitasku dan menemukan cuma kau dan aku dalam ruang kelas yang sepi. Dan, aku cuma mohon: Jangan tatap aku seperti itu lagi sebab aku takut kehilangan kuliahku, dosenku, teman-temanku dan duniaku. Aku tak mau kehilangan realitasku, tempat aku berpijak. Aku tak mau kehilangan segala-galanya walau menemukan keheningan yang agung dalam tatapanmu.
Tolong jangan tatap aku seperti itu lagi ketika kita berduaan saja di sini. Aku takut kehilangan dirimu. Sungguh!!!!













duh, jadi makin kangen sama yang sering menatapku
hmm…
gud job!
Thanx Lini… Any notification or suggest?
astaga
Wah…….. mantap Artikelnya bro. Semuanya gara-gara tatapan mata. Seperti yang biasa anak ABG bilang dari Mata turun Ke hati.
@ Ranla: secara umum ok2 aja kok

@ Frans: napa? ;p