ibuku, kartiniku

(SHAFIRA SULAIMAN)

Aku punya seorang ibu yang hebat. Kurasa kalian juga..sedikit saja yang ingin kubagi,bukan karena aku tak menyayanginya. Namun jika kutulis semua kekagumanku akan dia maka kurasa tak cukup waktuku menjabarkan kebaikannya.

Aku ditinggalkan ayah saat berusia sepuluh tahun. Perih memang, saat anak – anak seusiaku masih bisa ngelendot manja , aku harus diam, iri, namun kutepis semuanya. Aku masih punya ibu yang spektakuler. Dia ibuku, pahlawanku.

Saat kabar kepergian ayah kuterima dalam gedoran pintu di pagi buta, saat itu masih jam dua malam, aku hanya terdiam didepan pintu rumahku. Ibuku sendirian di rumah sakit. Hanya ia sendiri, sedangkan kami anak – anaknya sama  sekali tak diminta tinggal bersamanya menjaga ayah, ya, ia yang begitu tegar merawat ayahku bahkan sampai cuti dari pekerjaannya selama dua hingga tiga bulan. Syukurlah rekan – rekannya berbaik hati, menerima alasan tanpa ricuh dibelakang.

Ayahku menderita kompilasi penyakit yang sudah terlalu parah, aku hanya sesekali kerumah sakit karena emang ibu tidak pernah meminta kami turut serta berjaga dirumah sakit, dengan alasan tidak mau sekolah kami terganggu.

Setelah kepergian ayah, ibu tetap berjuang membiayai hidup kami. Jujur saja saat itu aku sudah pasrah kalau hidup dan sekolahku tak berhujung keperguruan tinggi.  Dua kakakku belum bekerja, satu lagi saat itu kelas tiga sma.

Seringkali kami diintimidasi orang sekitar karena rumah kami hanya terisi kaum hawa saja lepas kepergian ayah. Satu – satu sahabat dekat ayah yang dulunya begitu sumringah lenyap satu persatu. Entah ditelan bumi atau terbang kelangit. Kami  dihujat, entah dengan alasan apa, kebun peninggalan ayah dituangi sampah oleh orang – orang aneh, bahkan tak segan (maaf) kotoran manusiapun hadir  dikebun kami. Bahkan intimidasi oleh keluarga ayah.Tahukah kalian apa yang beliau ucapkan? ‘suatu saat nanti, kalian lihat saja, yang akan menolong kalian adalah mereka yang tak pernah kalian kenal, tak usah takut,,,, kita akan ditolong..”

Ternyata benar. Orang – orang yang bermunculan dalam masa  masa berikutnya adalah mereka yang justru dulunya hanya bertegur sapa ringan, mereka yang menyuapi kami dengan curahan rezeki mereka, menolong kami menemukan peminjam uang terbesar yang bahkan belum membayar sepeserpun hutangnya hingga saat ini, yang jumlahnya saat itu kira – kira cukup untuk membayar biaya operasi ayah.

Aku ingat banyak orang yang bertanya mengapa beliau tidak menikah lagi.. pertanyaan yang ditujukan pada kami.. ah ibu kau begitu tegar, mendidik kami ditengah hardikan dan hujatan orang – orang yang menanam iri atas kesuksesan ayah di tempo dulu..

Dan sekarang dengan perjuangan kerasnya yang tak pernah membagi tangisnya di depan kami, dia telah berhasil mendidik kami,  ketiga kakakku sekarang sudah mapan, tinggal aku sendiri yang harus berjuang di semester akhir ini…

Ibuu.. perjuanganmu membesarkan kami , semoga benar – benar menghadiahimu pahala berlipat ganda

Banda aceh….akhir 21 april 2010

Tertarik dengan yang ini?

  • Kartini ini adalah isteri, ibu dan juga teman
  • Wangi, tak lagi semerbak
  • Kartini ( Hanya Milik ) Ku
  • Kartini ( Hanya Milik ) Ku
  • Seorang Istri bernama Ida Laksmiwati
  • Kartini(ku)
  • Kartini(ku)
  • Karena Kartini?
  • Karena Kartini?
  • Kartini dari Rumah

Leave a comment

Your comment