Surat terakhir dari si penyakitan

(Shafira Sulaiman)

Aku kembali merenung, menarik nafas dalam dan mencoba mengaitkan koordinat-koordinat yang terus melintas didepanku, koordinat masa depan yang entah akan menemui puncaknya dan sketsa bayangan masa lalu yang kian menusuk lembar-lembar ingatanku, ahh,,, percuma rasanya. Kuubek-ubek memoriku, tapi terlalu kecil kecepatan yang tersisa untuk menjalankan fungsi otakku. Siluet yang tak pernah lupa mengunjungi ku disenja-senja terakhirku, benar-benar melegakan sedikit, yah walaupun hanya sedikit, tapi setidaknya, aku merasakan kehidupan masih bisa berpihak padaku.

Saat dukaku menjadi kilasan-kilasan yang tak berarti bagi orang lain, bahkan tak bisa terbaca karena kediamanku, aku masih memiliki Dia, ya, hanya Dia, tempatku melabuhkan segala perasaanku, yang takkan pernah membocorkan rahasiaku, tidaak seperti segelintir orang yang sempat menyebutku sahabatnya, namun kemudian tanpa segan-segan melemparku kejalanan setelah mendapatkan keinginan-keinginan mereka..

aku kembali disini, seperti awal-awal ku injakkan kaki ditrotoar yang tak sanggup kulalui tanpa izin_Nya. Hari ini hari kesekian dalam hidupku, berada diruang putih beraroma anastesi , hah, ruang favoritku beberapa bulan terakhir… selesai terapi kembaliku lanjutkan tulisanku, tapi kali ini bukan tulisan motivasi ataupun novel bersetting negeri-negeri yang luar biasa indahnya, Karena tulisanku telah selesai dan besok akan diterbitkan,tulisan ketigaku, buku ketigaku, dan semoga kali ini kembali best seller, seperti yang sudah-sudah dan telah kalian baca beberapa kali, penulis favorit kalian yang memakai nama pena archima, itulah aku, ARCHIMA, kuambil dari nama kalian…

kali ini aku hanya ingin menulis , yang mungkin saja bisa jadi tulisan terakhirku, dan juga mungkin surat permintaan maafku Sebelum sel2 otak ku benar2 tak bisa lagi diajak kompromi, yah aku hanya ingin kalian tak menjadi sebodoh diriku yang tak sempat menunaikan janjiku, janjiku pada_Nya…. bahkan dalam hari2 terakhirku ini. Penyakitku ini, hampir menjadikanku tak ingat siapa diriku sendiri, perlahan nama-nama kalian (sahabat-sahabat ku) luput dari ingatanku, dan terakhir saat aku bertemu kalian (tentu saja bukan diruang puth ini, )aku tak bisa mengngat nama kalian satu persatu dengan baik, bahkan tertukar antara siA dan SiR, padahal baru tiga bulan setelah wisuda aku takmenatap kalian, maafkan aku.. setiap benda yang kugenggam seolah longgar dari tanganku dan jatuh lunglai menyentuh tanah, 5 kali dihari yang sama aku menjatuhkan benda-benda berharga kalian ,salah satunya kamera special buah tangan dari singapura yang tak pernah kukunjungi, maklumlah keuanganku tidaklah seperti mereka, sampai-sampai kalian semua memakiku.

Maafkan aku, indera peraba ku tak berfungsi dengan baik. Kututupi semua penyakitku, tak seorangpun kubiarkan merasakan deritaku, karena bagiku tangisan kalian dan keluargaku adalah duka yang paling menyayatku, karena bagiku hanya bahagia yang mampu kubagi untuk kalian, bukan kesedihan… Kuhabiskan sisa-sisa nafasku dengan menghafal surat-surat cinta dari ilahi, padahal jelas, tiap hari hanya melakukan hal yang sama , mengulang  yang sama, karena memori yang kumiliki setiap hari makin berkurang…..

masih kuingat terakhir kali kita bersama, saat one litre of tears diputar dibasecamp kita, aku yang bukan sosok cengeng, tiba-tiba menguras air mata yang kalian sebut lebih dari satu liter..ha..ha..ha.. yah kuingat tawa kalian, “kok, tiba-tiba jadi cengeng ni anak??”… aku pun ikut tertawa meski dengan perih yang tertahan… “filmnya sedih, ngingatin sama seseorang, seseorang yang punya penyakit yang sama….” Yaitu orang yang ada didepan kalian…bisikku dalam hati… Yah, masih bisa kutatap pohon2 asam dan cemara yang berjejer rapi disepanjang ruang-ruang putih ini, meski hanya duduk dan menerawang melalui kaca bening ini… karena sekarang aku kehilangan keseimbanganku, tak mampu lagi menopang tubuhku…

Bukanlah kesempurnaan yang kucari, karena kebahagiaan bukan terletak pada sebuah kesempurnaan, acapkali aku merasa berada jauh dibawah kalian, merasa kalian tinggalkan, bahkan disisa hidupku!!!, tapi itu tidaklah benar, aku yang tak ingin mengganggu kalian,dan tanpa kusadari aku menjauhi kalian setapak demi setapak. Aku benar2 tak ingin mengirim surat duka ini, aku memilih larut dalam kesendirianku, kutolak semua ajakan kalian, karena kuyakin segala kebahagian kita akan percuma , TAKKAN TERSISA DALAM MEMORIKU , hanya akan hilang bagaikan debu yang diterpa angin…tak setia berada diposisi awalnya..…

Jaga untaian itu baik-baik, walaupun aku tak ingat apa aku pernah mengajak kalian mengeja bait2 indah itu.. aku tak ingat apakah kalian yang mengajakku mengulang bait2 itu, ataukah orang lain..ah..sudahlah… Maafkan aku,, mungkin saat kalian baca surat ini, kamboja sudah memenuhi rumah baruku .. ^_^

TERIMAKASIH UNTUK DOKTER-dokter YANG BERBAIK HATI DAN TAK MEMANDANG STATUS SOSIALKU SAAT MEMBANTUKU TETAP TEGAR, PERAWAT-perawat YANG BEGITU RAMAH SELAMA AKU MENJALANI KLISE TERAKHIRKU……., MEREKA DISEKITAR RUANG PUTIH INI YANG SAMA SEKALI TIDAK MEMPERSOALKAN DARI STRATA MANA AKU BERANGKAT UNTUK MENETAP DISINI, juga kalian yang menyakitiku secara tak langsung dengan cacian dibelakangku yang semuanya kuketahui lewat mimpiku, dan ternyata memang benar adanya,, aku tetap menguras sel-sel otakku agar bisa mengingat kebaikan kalian, agar tak ada benang benang dendam yang mencekik leherku dihari-hari terakhir ini.. diTetes – tetes terakhir air mata yang kumiliki, dan memori memori  yang masih tersisa tentang kita…….

Banda Aceh 1 n0vember 2009

copast dari catatan fb pribadi

http://www.facebook.com/note.php?note_id=165299362263

dengan pengubahan seperlunya



Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment