memaknai sebuah esensi

(Shandra Syailendra)

mengapa terkadang banyak yang tidak sadar bagaimana menyadari dan memaknai esensi dari pergaulan? esensi bagaimana harusnya bersikap. esensi bagaimana harus memaklumi orang di sekitar kita. bagaimana menyadari kalau kita bukanlah makhluk paling sempurna, makhluk paling pandai dan paling segalanya. pernah pada suatu malam saya melihat seorang motivator sedang beraksi di layar kaca. sangat sangat ingat bagaimana qoute-nya. “bagaimana supaya kita diangkat? ya, kita harus terlihat”. saya sangat setuju dengan qoute itu. tapi banyak sekali yang memakan mentah kalimat itu, tanpa ditelaah dan ditelanjangi terlebih dahulu. hey teman.
bukankah untuk menjadi terlihat bukan dengan cara menghalangi gerak orang lain?
bukankah untuk menjadi terlihat bukan dengan membutakan orang lain?
bukankah untuk menjadi terlihat bukan dengan membuat yang lain menjadi tidak tampak?


apapun itu teman.
akan lebih berharga jika kita menjadi terlihat memang karena kita terlihat.
akan lebih berharga jika kita memang layak dilihat karena apa yang sudah kita perlihatkan.

hey teman.
malu saja jika kau harus terlihat dan menghalalkan segala cara.
itu bodoh, dungu, dan saya percaya alam ini memiliki pengadilan. memiliki hakim. memiliki jaksa, walau kau memang punya pengacara.
terus saja mengkasatkan mata mereka, kau akan semakin tak kasat. dan silahkan rasakan.

29juli2009
mati saja kau yang mencari muka, karena aku tak perlu itu. aku tetap punya muka. dan akan tetap begitu.

Baca juga

  • Ny. Lars – Part 22 -
  • Indahnya Mencintai
  • Akupun Memilih (Sebuah Pisau dengan Ukiran yang Indah)
  • Matamu
  • chapters of life: FROM NOTHING INTO SOMETHING  	  (Menuliskan Kebaikan dari Hal-Hal yang Sederhana)
  • Bila Duniaku dan Dunianya menjadi Satu
  • #31haringeblog – Day 5 Enam Tahun Sudah
  • KELANA 2009-11-12 10:58:00
  • Mata Terbalik
  • Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Leave a comment

Your comment