Romantis Yang Patah

(Shandra Syailendra)

Ironinya si romantis. Jauh-jauh ia mengayuh. Tak hanya setes dua tetes peluh yang jatuh. Banyak. Banyak sekali. Basah. Mengguyur. Sejenak terbesit kelelahan dari raut wajahnya. matanya bergradasi kehitaman. Entahlah mungkin karena beban yang sudah terlalu berat dipikulannya. Tapi ia tak memikul apa-apa. Mungkin beban itu memang tak kasat oleh target pandang. Yang kutahu pasti ia sedang patah.

Kutanya, ia tak mengakuinya. Ia memang begitu. Terlalu angkuh untuk mengakui kalau ia sedang patah. Namun dapat dengan sombong aku katakan ada yang hilang dalam setiap geraknya, setiap hembusan nafasnya, dan setiap detak nadinya. Ia pasti sangat patah.

Wahai romantis! Seandainya saja kau tak perlu berpura-pura. Seandainya saja kau membaginya bersamaku tentu segalanya akan menjadi lebih mudah untuk kita. Aku tetap akan menyanjungmu walau kau tak lagi menjadi si romantis. Kau adalah surga  menawan melebihi kebisaanmu yang romantis. Kalaupun kau nantinya akan menjadi ironi sekalipun. Kau tetaplah kau. Tak ada yang berubah bagaimana aku menganggapmu. Tak sebilah belatipun mampu mengiris pesonamu. Kau tetaplah kau. Walau tanpa embel-embel romantis. Kau tetaplah malaikat malam dengan helaian rambut yang yang tersebar di seluruh penjuru jiwa. Menjagaku hingga lelap.

Ketahuilah. Ini bukan tentang kapan, tapi lebih tepatnya tentang dengan siapa.

Tebet. Awal Februari

Tertarik dengan yang ini?

  • 10 Tips agar Semangat terus mengalir dalam dirimu!
  • Love’s Melody
  • Broken Mirror!
  • Dear Mom
  • Mimpi Berhadiah
  • MUJIZAT ITU NYATA
  • Leaving on a Jet Plane
  • KISAH ANTARA GUA – (di)TILANG – POLISI
  • Pohon
  • Benarkah Kita sudah Merdeka ?

Leave a comment

Your comment