Sebuah Sudut Di Bagian Utara Ibukota
(Shandra Syailendra)
Ini masih terbilang pagi.
Aku tentu saja bukan sudah bangun, tapi belum tidur lebih tepatnya.
Semalam aku terdampar di tempat ini. Aku mengendarai mobil tua tanpa air conditioner dengan seseorang yang aku kenal tapi tak dekat.
Ia tak tahu aku sedang didominasi alkohol. Aku sedang berpura-pura.
aku hanya takut menjadi kikuk saat harus berdua saja. Aku memang bodoh. Aku terlampau tertutup.
Aku tak suka ia mengetahui kalau aku menyembunyikan rasa. Aku bersikap seolah-olah ini hanyalah bumbu kekhilafan tanpa rasa apalagi asa. Biar saja ia menilaiku liar. Justru itu yang aku inginkan. Aku mau ia menganggap aku tak terbawa permainan desahan ini.
Aku mencoba mengingatnya. Yah, semalam untuk kesekian kalinya ia mentransfer pergumulan ini. Aku sakit seketika, aku sakit menduga-duga apa yang ada di hati dan otaknya. Memikirkan apakah ia juga mulai memiliki getaran yang sama saat bibir kita terkatup bersama. Ohhhhh….aku melupakannya. Seperti saat kupaksa ia pulang dengan taksi karena aku merasa makin tak dapat aku menyembunyikan tatapanku yang mulai dikotori perasaan aneh.
aku takut, karena tiba-tiba ia bilang ia suka mataku yang indah. Dan aku menjadi tak suka karena itu sudah mengagitasi dan mengotori permainan liar ini. Tak boleh ada kalimat romantis di antara dosa, bukan?
Kini kucuci wajahku dengan sisa air mineral. Kusudahi memikirkannya. Aku keluar dari dalam mobil. Kulihat ada segerombolan manusia melintasiku. Tatapanku bersinggungan dengan seseorang pria, ia memiliki rambut gelombang yang menggantung, kulitnya putih kekuning-kuningan. Tak disengaja, tapi aku seperti mengenalnya. Mungkin saja di kehidupan sebelum ini. Sudahlah, ia sedang bersuka tak sama denganku yang menyimpan duka karena susah untuk berkata tidak.
*akan bersambung nampaknya












