Senandung Airmata Dalam Balutan Melankolia

Ia menetes, setetes.
Basah dan membasahi.
Aku terhasut dalam buaian keindahannya.
Seketika melankolia lalu bersenandung.
Mengeluarkan bunyian terisak bersama wajah yang lalu basah.
Aku terhasut oleh kebahagiaan.
Kebahagiaan diantara desahan nafas dan betapa kokoh garis rahangnya.
Ia pun kini menetes, setetes.
Basah dan lalu menggenangi.
Tanpa bahagia karena kini balutan kesepian yang menghasutku.
Lagi-lagi melankolia ikut bersenandung.
Menumpahkan berjuta kegundahan dan rindu.
Isaknya kini berbeda, kepedihan yang membalutnya.
Aku terbelenggu dan terjebak dalam duka.
Ia, airmata dan melankolia.
Selalu datang dikala suka dan duka.
Ia, airmata dan melankolia
Tebet 11 februari 2010



Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment