suatu sore saat kita bercerita dalam diam
(Shandra Syailendra)
Suatu sore dimana hanya ada kamu dan aku.
Kita bertatapan saling menelanjangi dalam diam. Tak satu pun dari kita bersuara. Kita sedang bercerita dalam diam. Hening. Sepi. Hanya matamu dan mataku yang saling bersenda gurau. Senyummu dan senyumku yang bersentuhan. Bahkan airmata kita yang bermuara tanpa kesedihan. Ini adalah tangisan kebahagiaan karena kau adalah aku, dan aku adalah milikmu.
Itu adalah dulu. Dulu kala suatu sore masih menjadi indah untuk kita.
Tak sama dengan sore ini. Kini aku sendiri. Kau pun sendiri di sana. Sore yang sama namun berjarak. Aku tak berani menyebutmu milikku. Terlalu mendominasi, karena kita telah sepakat untuk menjalani hari-hari kita sendiri. Kisah ini memang belum diakhiri. sama seperti beberapa tahun yang lalu saat kita terpisah. Sungguh teramat aku sesali mengapa kau harus jadi pohon dan aku adalah burung. Kau biarkan aku terbang bebas menikmati awan dan hujan. Sendiri. Dan kau, kau tetap memilih menjadi pohon, yang hanya diam di tempat, namun tumbuh semakin kokoh dengan batang, cabang, dan ranting yang semakin hari semakin menguat. Lalu bagaimana dengan aku? Akankah aku akan menjadi kuat atau lalu malah akan nanar dan tersasar? Entah? Ini belum mencapai akhir sehingga aku pun tak tahu bagaimana akhir kisah ini.
Sore ini lagi-lagi aku menyesali diri, kenapa aku bukan menjadi daun saja, atau lumut yang bisa terus berdekatan denganmu dan menumpang hidup dalam kokohnya dinastimu? Atau mengapa bukan kau saja yang menjadi burung pejantan hingga kita bisa terbang bersama, bermesraan dan bercengkrama di balik indahnya cakrawala lalu saling melindungi saat badai datang?
Kini aku dan kau harus sendiri. Kau meneruskan sendiri, begitu pula aku. Tak ada kata berpisah, sama persis seperti babak cerita kita yang lalu.
Dalam hati aku berjanji akan tetap menunggumu. Aku belum lelah. Aku masih memiliki pengharapan. Mungkin suatu hari nanti aku akan punya kesempatan bersarang di atas dahanmu. Kau melindungi dari hujan dan matahari. Aku tahu kau pun berharap sama. Kau menyayangi burung kecil ini dan aku pun mencintai sang pohon.
Aku akan menunggu di hitungan keenam belas di sore yang lain












