Eng, Harga Sebuah Keputusan

(Simon Nagari)
Lomba Nulis Hari Aksara 2009

“Gimana kabar Eng?,” tanya Slamet ketika aku berkunjung kerumahnya, “Baik, sangat baik, tidak seperti yang kita bayangkan disini,” jawabku, “Maksudmu gimana?,” Slamet seperti kebingungan dengan jawabanku, “jelaskan sedetail mungkin, biar aku bisa tahu dengan jelas,” aku tersenyum, “Dia cukup sehat, cukup bahagia hidup dengan seseorang yang dicintai dan mencintai, mereka seiring dan saling melengkapi, mengerjakan pekerjaan bersama dan bergantian,” aku mulai menyulut rokokku, kuhisap pelan-pelan, Slamet memandangiku penasaran, “aku tak tidur semalam, kami habiskan untuk bercerita,” aku jelaskan semua dialog yang terjadi antara aku dan Eng, “mungkin dia benar bahwa wanita yang dinikahi dulu, membuatnya gila, membuatnya bagaikan hidup dineraka, sehingga demi menyelamatkan anak-anaknya dari tontonan menyakitkan yang terus menerus, dia nekat untuk mengambil pilihan terburuk, pergi dan tak kembali, terlunta-lunta di berbagai kota, hingga dia bisa mulai bisa berpijak lagi sekarang, menyedihkan memang, tapi aku merasakan kedamaian yang diperolehnya sekarang, merasakan ketentraman untuk menutup sisa-sisa hidupnya,” lanjutku, “pilihan yang tidak gampang, tapi sungguh keberanian yang luar biasa, aku salut, aku yakin dia tetap punya rencana besar untuk anak-anaknya kelak,” kututup cerita itu seiring dengan tegukan tetes terakhir kopi yang disuguhkan padaku.

Ya, aku ingat ketika Eng datang ke pernikahanku di gereja itu, menyaksikan banyak tangis pilu disana, tangis penuh sesal dan tangis ketakutan terhadap apa yang akan terjadi di masa depan, hanya kepada seorang ibu yang mengasihiku aku berlutut penuh derai permintaan maaf, atas semua sayatan-sayatanku pada hatinya. Tak ada kebahagiaan sedikitpun saat itu, yang ada hanya penyesalan dan rasa takut yang teramat mencengkeram, dan Eng memelukku erat, sangat erat, “Sabar ya, kita akan atasi bersama,” sambil menepuk pundakku. Ketentraman yang kubutuhkan ada di kalimat itu, seperti aku selalu dikuatkan oleh semua kata-katanya, jauh sebelum ini.

Ya, aku ingat ketika Eng mulai bermasalah dengan istrinya, aku ingin sekali membantunya, aku ingin sekali menguatkannya, sehingga semua yang akan aku lakukan untuk merapatkan lagi keluarga kecilnya, penuh ketulusan,  penuh semangat dan tanpa pamrih, karena Eng telah menguatkan aku dari segala penderitaanku, dari segala keterpurukanku, dari segala hinaan dan cercaan, dan dari segala keputusasaanku. Aku selalu mengatakan untuk berusaha terus, berbicara terbuka, membuka pikiran dan saling bertanya “apa keinginanmu kepadaku”, agar keluargamu terselamatkan, agar perkawinan itu tak sia-sia, agar gadis kecil dan pria kecil itu bisa tersenyum bahagia. Karena sebenarnya aku tahu, bukan masalah yang rumit bagi mereka, untuk memecahkan semua persoalan keluarga ini. Dan sepertinya aku ini penasehat perkawinan yang handal, Eng dan istrinya mau mendengarku, dan memulai lagi dengan lembaran baru, aku senang melihat Eng mulai menikmati hidup berkeluarga.

Ya, aku ingat ketika Eng mulai bersikap menyingkirkanku, tapi aku anggap itu wajar, karena ada kesalahan yang kulakukan, dan aku tahu diri, aku mulai menyingkir dari kehidupan Eng, “Demi keutuhan keluarganya, dia pantas membela istrinya,” pikirku tanpa terbesit sedikitpun rasa marah ataupun sakit hati, aku menerima semuanya tanpa ekpresi apapun, dan seperti tak pernah terjadi perselisihan apapun antara aku dan Eng, kemudian aku mulai tenggelam lagi dalam duniaku, dunia tak berujung. Kabar kudengar, Eng telah memboyong seluruh keluarganya ke kalimantan, “Ahhh, baguslah, paling tidak aku punya andil merekatkan keluarganya yang diambang kehancuran dulu,” pikirku sambil tersenyum penuh kebanggaan.

Ya, aku ingat ketika Eng menulis pesan di Facebook berturut-turut, memohon jawabanku, bukan aku tak mau menjawab, tapi karena waktu itu memang pasif, aku tak tertarik dengan Facebook, aku hanya sekedar mendaftar karena iseng. Dan karena iseng pula aku bisa baca pesan-pesan Eng, dengan segala kerendahan hatinya, Eng banyak memohon maaf dan memintaku untuk segera menghubunginya, hari itu juga aku jalin kembali komunikasi yang telah lama hilang. Kemudian dengan segala keingintahuanku akan keberadaannya, aku tekatkan juga pergi beranjak ke kotanya sekarang, walaupun ini hanyalah sebagai alasan kedua, tapi setidaknya aku rindu bertemu dengannya, rindu akan sosoknya dan rindu akan kata-katanya yang menentramkan.

Ya, aku ingat di sebuah stasiun kereta beberapa minggu lalu, jabat erat dua sahabat yang telah lama hilang, membuatku merasa nyaman dan tak takut apapun, aku merasa menemukan lagi rasa percaya diriku. Kemanapun Eng melangkah, aku mengikutinya menyusuri trotoar-trotoar, menelusuri kegelapan dan memasuki himpitan manusia-manusia dengan berbagai keringat disebuah KRL, aku mengeluh dan menggerutu, namun masih seperti dahulu, Eng selalu menentramkanku dengan kata-katanya ketika aku mulai goyah. Akhirnya kami tiba di sebuah rumah kecil, disambut hangat seorang wanita sederhana penuh senyum, yang telah kukenal wajahnya dari foto yang dipasang Eng dichat kami.

Ya, aku ingat dialog kami, tentang perjalanan hidup Eng, sejak kita tak pernah bertemu, aku terdiam dan hanyut dalam kesedihan, tapi aku memahami alasan-alasan Eng, aku mengerti semua sakit hati dan kekecewaan Eng, aku mengerti alasan tindakan nekat Eng terhadap anak-anaknya, aku mengerti siapa wanita pilihan Eng sekarang, dan aku mengerti rencana-rencana Eng kedepan.

Ya, aku ingat juga, Eng menanyakan banyak hal tentangku, keluargaku dan anak-anakku, aku ceritakan semuanya, tentang anak-anakku, tentang keluargaku dan tentang aku, aku yang memilih untuk bertahan dan mematikan rasa, tentang kesulitan komunikasi yang selalu kubangun dan runtuh kembali, tentang keputusasaanku yang membawa aku kepada satu pembunuhan ekspresi dan pembekuan keindahan hidup, dan seperti biasanya Eng mengangguk, kemudian mengeluarkan kata-kata penghiburan, membuatku kuat dan menyadarkanku, semua yang kulakukan tak akan sia-sia.

Dan aku ingat saat Eng jabat erat tanganku lagi di pagi buta, “Selamat jalan, hati-hati,” katanya, “Ya, suatu saat kita ketemu lagi, dan komunikasi jangan putus, saat seperti ini aku butuh banyak nasehatmu, agar aku tetap tegak dan tak roboh,” jawabku penuh harap, Eng mengangguk, taksipun segera meluncur memutuskan semua perbincangan kami dan meninggalkan sosok seorang sahabat yang selalu kubutuhkan dulu, sekarang, besok, dan mungkin hingga waktu yang diberikanNya kepadaku telah habis.

Selamat tinggal sahabat, aku ikut bahagia engkau telah menemukan apa yang kau cari, walau harus kau bayar dengan harga yang sangat mahal, ya sangat mahal. Namun aku percaya suatu saat semua orang akan setuju, bahwa semua pelarianmu penuh dengan pengorbanan yang berat, dan bukan hanya untuk mencari kebahagian dirimu sendiri, namun juga untuk menghindarkan tontonan layar menggenaskan sepanjang hidup dari anak-anakmu. Tetaplah dijalanmu sekarang sahabat, still listening Race to the End from Demmis Roussos, God bless you.



Tertarik dengan yang ini?

Comments (2)

LiniSeptember 14th, 2009 at 8:06 am

bagus!

[...] Eng, Harga Sebuah Keputusan (Simon Nagari) [...]

Leave a comment

Your comment