Enggak Sadar Kalau Cinta

(Sri Wahyuni)

“ jangan lakukan hal yang sering membuatku merasa bersalah padamu..??” pintaku pada Tyler. Aku lelah, setiap saat ku selalu membohonginya, membuatnya mempercayai bahwa ku mencintainya.  Hanya mencintainya. Sesungguhnya ku hanya ingin mencintainya. Namun ku tak bisa, aku lelah selalu membohonginya dan hatiku.

“ kenapa..?? kamu berkata seperti itu…??” jawabnya singkat dan menatap wajahku dengan penuh harap. Seolah ingin mengatakan padaku. Jangan kau halagi semua yang ingin ku lakukan untukmu. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Melihat tatapannya membuatku tak sanggup berkata lagi. Semua kata-kata yang kurangkai tadi, sebelum ku bertemu denganya. Lenyap semua, seolah aku memang tak seharusnya mengatakannya. “ aku sangat mencintaimu, tapi jika rasa cintaku telah membuatmu sakit dan tersiksa. Maka ku rela melepasmu, ku takkan memaksamu untuk terus menggandeng tanganku, berjalan disampingku lagi. Hanya satu permintaanku..??? izinkanku berjalan dibelakangmu, menjagamu, mengikuti setiap langkahmu……”


“ cukup..!!! jangan kamu teruskan lagi..!!” aku menutup mulut Tyler dengan jari telunjukku. Memberitahunya agar jangan meneruskan kalimat yang membuatku semakin bersalah. Semakin tak ingin meninggalkannya. Mendengar kata-kata Tyler barusan, membuatku berfikir. Apa yang sebenernya kucari?? Cinta seperti apa sebenarnya yang kuinginkan. Bukankah ku sudah memiliki orang yang sangat mencintaiku. Selalu membuatku nyaman dan aman saat didekatnya. Cinta yang tulus. Yang orang lain tak mungkin mendapatkannya. “ maafkanku, ku hanya sedikit tak sanggup menerima cinta yang begitu besar ini..??? ku hanya menginginkan cinta yang ringan, cinta yang apa adanya, cinta yang tak berlebih. Seperti yang kau berikan padaku..” aku senang akhirnya ku bisa mengutarakan maksudku. Kuharap dia mau mengerti, dan mau melepasku walau hanya semenit. Menghilang dari sampingku, dan membiarkanku bebas memilih hidupku.

“ bukankah sudah ku bilang dari awal, saat ku telah memilihmu. Ku sudah tahu kalau aku takkan pernah bisa menjadi sepertinya. Tapi aku hanya ingin membuatmu bahagia. Tertawa bersamaku dan melupakan kesedihan yang pernah kau miliki bersamanya. Tapi jika apa yang kulakukan untukmu selama ini, telah membuatmu tersiksa dan terus merasa bersalah padaku. Ku akan melepaskanmu, membiarkanmu memilih jalan hidupmu sendiri.. tidak peduli kau suka atau tidak..?? aku akan tetap berada disini, menunggumu kembali. Menunggumu menggandeng tanganku, berjalan disampingku, dan menjadi matahariku.”

Aku tidak menyangka kalau Tyler akan melepaskanku. Dia melepaskanku…. Sungguh melepaskanku…. Perasaan bahagia dan lepas dari tekanan. Perasaan yang selalu membuatku merasa bersalah, karna aku tidak pantas mendapatkan cinta yang berlebih ini. Aku pun beranjak dari sofa dan pergi meninggalkan Tyler sendiri. Aku terus berlari, hingga ku sampai kepadang rumput yang luas. Merasakan angin yang berembus kencang, dan bau rerumputan yang menyengat namun sejuk. Membuat hatiku makin senang dan bahagia. Aku pun menghantamkan tubuhku ke tanah, membiarkan seluruh tubuhku merasakan tajamnya rumput yang kutiduri. Aku sudah tak dapat mengutarakan lagi perasaan lega yang kurasakan saat ini. Seolah ku sudah melepaskan berton-ton beban yang kupikul dipundakku.

Hari-hari yang kulewati tanpa kehadiran Tyler sudah dimulai. Kuharus melakukan semuanya sendiri.. tanpa ada orang yang mendampingiku, memberiku dukungan, membantuku bila ku mendapatkan kesulitan. Membuatku tertawa setiap saat. Saat sampai di tempat kerjaku, aku pun bersikap seperti biasanya. Seolah tak terjadi apa-apa denganku. Yang berubah hanya, biasanya Tyler mengantarkanku ketempat kerja. Tapi tidak untuk hari ini dan seterusnya.

“ Tyler……. Aku mau omelet sama susu cokelat..??” teriakku ke tyler begitu aku membuka pintu apatemenku. Aku sudah tidak sabar menyantap omelet buatan Tyler dan susu cokelatnya. Bingung mulai meyelimuti diriku saat ini. Sedari tadi ku mulai mencari keberadaan Tyler. Tapi tak kutemukan juga. padahal ku yakin tadi dia mengajakku bicara. Hampir disetiap sudut ruangan ke mendengar dia memanggilku. Disetiap sudut itu pula ku melihatnya tersenyum padaku. Bergurau denganku. Saat semua bayangan itu hilang. Ku sadar kalau semua yang kudengar, kulihat barusan hanyalah khayalanku belaka. Kenyataannya Tyler telah pergi dariku. Meninggalkan semua kenanganku bersamanya disini.

Akupun hanya bisa duduk disudut ruangan dikamarku. Sambil mendekap kakiku. Airmata pun menetes tak terbendung lagi. Baru sehari ku tidak bersama Tyler, ku sudah merasakan kesepian yang teramat dalam. Seolah ku kehilangan matahariku. Ku kehilangan tongkat ku saat kegelapan merasuki kehidupanku. Bayangan akan Tyler selalu ada dibenakku. Seluruh isi rumah ini sudah penuh dengan dirinya. dirinya Marah, dirinya tertawa, dirinya yang lembut, dirinya yang hangat. Dirinya yang lucu, dirinya yang unik, dirinya yang sabar saat menghadapiku yang keras ini. Dirinya yang selalu memberikan apa yang ku inginkan. Aku…. Aku…. Aku…..

Air mata yang terus menetes dan tak mau berhenti ini. Telah meyadarkanku. Semua hal yang kulakukan terhadap diriku dan Tyler adalah kebodohanku sendiri. Aku sangat membutuhkannya, aku merindukannya. Rindu akan seyumannya, marahnya, pelukannya, kehangatannya, omelannya, wangi tubuhnya. Pokoknya semua tentang Tyler. Dadaku terasa sesak setiap kali kutahu kalau Tyler sudah tak disampingku lagi. Ya Tuhan………. Kebodohan macam apa yang kulakukan ini..

Aku membiarkan cintaku pergi begitu saja. Betapa bodohnya aku Tuhan.. melepaskan cintaku begirtu saja. Membiarkannya dia pergi dari sisiku padahal ku tak sanggup hidup tanpanya.

“ kalau kamu gak bisa hidup tanpaku..?? jemput aku Pupuku.. larilah jemput aku Pupu…….” Tanpa berpikir panjang, akupun beranjak pergi dari apartemenku. Begitu aku mendengar suara Tyler. Aku terus berlari, melewati jalan-jalan trotoar dipinggir kota. Mencari dimana keberadaan Tylerku. Mencari sosoknya yang putih tinggi, rambut yang panjang dan terurai. Sosok yang selalu melebarkan seyumnya untukku. Tyler yang selalu membuatkan ku omelet dan susu cokelat. Tyler yang selalu menggendongku ditengah malam sambil menyanyikan lagu nina bobo untukku. Aku… aku… aku… mencintai Tyler. Mencintai setiap inci yang ada pada dirinya. dan aku takan bisa hidup lebih lama bila tidak ada dia disampingku.

Aku terus saja berlari sambil memanggil nama Tyler… aku tidak peduli kalau orang lain mengganggapku gila. Yang terpenting buatku sekarang aku bisa menemukan Tyler. Aku tidak peduli dengan yang lainnya yang aku pedulikan hanya Tyler. Aku punsudah tidak mempedulikan berapa banyak air mata yang membasahi pipiku. Ku terus mencari kesekeliling jalan raya sampai ke setiap toko ditengah kota. Lelah aku mencari Tyler namun ku tak dapat menemukannya. Ku terus saja mengeluarkan air mata, ku hanya bisa duduk terdiam di pinggir toko sambil memeluk kakiku. Mungkin ini lah yang dinamakan tak ada guna meyesal apabila sudah terjadi.

“ kanapa kamu memanggiliku seperti orang kesurupan seperti itu Pu..???” suara itu, suara yang sangat ingin ku dengar. Suara yang sudah tidak asing lagi ditelingaku. Suara yang selalu menghantuiku sejak tadi. Aku pun memberanikan diri untuk membuka mataku. Dan melihat apakah suara yang kudengar itu benar miliknya. Atau hanya suara pemilik toko yang ingin mengusirku. “ kenapa kau menagisiku sampai seperti ini pu…??? Ada apa denganmu..??? apa kamu baik-baik saja..???” Tanya Tyler sekali lagi setelah melihat keadaanku yang super duper berantakan. Melihat siapa yang berada didepanku ini bukanlah mimpi. Aku pun langsung memeluknya. Memeluk erat sekali. Aku tak ingin melepaskannya lagi. Aku akan terus berada disini dan terus berada didalam pelukannua yang hangat ini. “ maafkanku.. aku bodoh, aku tolol, aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Karna sekarang aku tahu apa yang aku inginkan. Cinta seperti apa yang aku butuhkan, aku membutuhkamu. Aku mencintai setiap detik saat-saat bersamamu. Setiap inci yang ada pada dirimu.. sungguh sangat mencintaimu…..” mendengar ucapanku yang gak karuan Tyler mempererat pelukannya. Memberikan kehagatan tubuhnya untuk menghiburku.

“ aku akan terus berada disampingmu Pu… tak kan pernah melepaskanmu lagi. Sekalipun kau memintanya lagi. Aku janji… aku tidak akan membiarkanmu meneteskan airmata untukku lagi. Tidak akan membiarkanmu berlari tanpa sandal keliling kota hanya untuk mencariku. Tidak akan……!!”

Mendengar semua ucapan Tyler aku pun tersenyum puas. Aku tahu akulah orang yang paling bahagia saat ini. Karna aku telah mendapatkan cinta yang sangat berlebih. Cinta yang tidak akan dimiliki oleh orang lain selain aku. Cuma aku Pupu seorang…^_^… kaki yang terasa amat perih ini pun tak akan terasa sakitnya bila k uterus bersama Tyler. Dia pun menggendongku sampai ke apartemen. Saat melihat kakiku sedikit berdarah dan lecet-lecet. Aku sungguh tidak merasakan sakit saat berlari tadi. Sakit yang kurasakan hanya takut akan kehilangan cintaku untuk kedua kalinya. Jadi sakit luar seperti ini takan ada artinya bila semuanya telah terbayarkan dengan kebahagiaan.

Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment