Posts Tagged Belajar

E-Book MMI: Mengenai Kepanjangan Nafas

No Comments »

April 26th, 2010 Posted 8:41 pm

(Indra Afriza)

‘Kepanjangan Nafas’ istilah ini pertama kali Udo baca dalam sebuah buku kumpulan surat-menyurat H.B. Jassin (alm.). Waktu itu dia menggunakan istilah ini untuk mengomentari puisi seorang penyair muda yang sedang belajar lebih dalam tentang puisi.

Sebuah larik dikatakan ‘kepanjangan nafas’ ketika:

  • dia menjadi terlalu panjang dan cenderung berubah menjadi prosa atau cerita mini. Misalnya: “Aku ingin dia memapahku dan menjaga serta membangunkanku dari tidur panjang ini…”
  • Ketika bangunan kata atau penempatan kata pada lariknya tidak seimbang atau searah dengan larik-larik pendampingnya. Contoh:

(more...)

StOp ” Menunda”

No Comments »

February 23rd, 2010 Posted 2:18 pm

(Shafira Sulaiman)

Asli, kesal kelas hiu, giliran dibutuhkan siprinter malah ngadat sangat. Walah, konsul perdana bakalan runyam kalau gambar flowsheet ini urung diprint, dan jika pagi-pagi buta harus menuju rental, what?? Wah pergeseran jadwal lagi artinya..oh..no, no,…

Mendadak printer membisu

Kumat membeku tanpa tutur

Tanpa cetak abjad terrekam

Oh, kau, kenapa lahirkan gugup

harus konsul perdana tertunda seminggu

haruskah berakhir lagi disudut sabtu

(more…)

Tags: ,
Posted in Shafira Sulaiman

KUCING

1 Comment »

January 5th, 2010 Posted 6:30 pm

(San San Tjahaya)

Pada dasarnya aku adalah seorang penyayang binatang. Hampir semua binatang aku suka. Memang terutama binatang yang berbulu halus atau yang menggemaskan. Tetapi banyak binatang lain seperti serangga, ikan, bahkan beberapa reptilia dan ular cukup menarik di mataku. Hanya ada beberapa hewan yang memang tak dapat kutoleransi dan menjadi phobia bagiku.

Tetapi di atas semua jenis hewan, kucing merupakan hewan favoritku. Mengapa kucing? Padahal ada sebagian orang justru membenci hewan yang satu ini. Mitos yang banyak kita dengar adalah bahwa kucing itu hewan yang egois dan hanya memanfaatkan majikannya. Susah diatur dan berbuat sekehendak hatinya, datang dan pergi pun semaunya, tidak setia seperti anjing misalnya. Justru alasan inilah yang menggelitikku untuk sedikit membagikan sedikit pengalamanku berinteraksi dengan jenis hewan ini.

(more…)

Tags: ,
Posted in San San Tjahaya

Anak-anak

2 Comments »

January 4th, 2010 Posted 5:08 pm

(Maria Marselina)

Anak-anak

Suatu hari saya diajak keponakan yang baru berusia 6 th memasuki sebuah toserba yang sudah sangat dikenalnya.  Ditunjukannya beberapa barang yang disukainya, seperti botol minum bergambar princess warna merah muda, serta sekumpulan boneka Barbie yang tertata rapi di etalase.

Kemudian saya tanyakan mana yang dia ingin beli saat itu tapi seolah tak mendengar dia berlalu sambil mengajak saya keluar toko tanpa ada yang dimintanya.

Sebagai orang yang lebih dewasa, dalam hal ini dewasa dari segi umur, saya mencoba memahami apa yang dipikirkannya. Ada beberapa kemungkinan dalam hal ini:

(more…)

Pemenang atau Pecundang?

2 Comments »

December 29th, 2009 Posted 1:56 pm

(Martina Felesia)

Sering dalam hidup ini, kita mengalami suatu peristiwa yang sungguh tidak diharapkan. Tapi apa mau dikata, peristiwa yang sungguh tidak diharapkan itu, terkadang malah mampir dan singgah di rumah kita, mencakar dan melukai dengan jari jemari yang runcing, tajam dan menyakitkan. Pada akhirnya, kita hanya mampu berteriak ,”Why, God?”

Banyak orang terluka, malah menjauh dari obat yang bisa menyembuhkan lukanya. Banyak orang tersesat, malah lari dari lampu penerang yang bisa menunjukkan jalannya. Banyak orang hilang harap, malah menghindar dari berbagai asa yang mendekat di hidupnya. Hingga akhirnya, yang tertinggal hanyalah rasa benci, frustasi, hilang iman dan harapan, bahkan hilang kendali atas diri sendiri.

(more…)

Tags: , , ,
Posted in Martina Felesia

Catatan Akhir Tahun 2009

No Comments »

December 24th, 2009 Posted 3:36 pm

(Fonny Jodikin)

Akhir tahun kembali tiba, menyapa dengan ciri khasnya. Seiring desiran angin dan hujan yang sering mampir, entah itu di Jakarta dan di Singapura, tapi tidak terlalu sering terjadi di Saigon, saya ingin sekadar merekapitulasi apa yang telah terjadi sepanjang tahun ini. Sebagai ikhtisar, sebagai rangkuman, untuk pembelajaran bagi diri saya sendiri. Dan semoga juga bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya. (more...)

Damai di Bumi

No Comments »

December 21st, 2009 Posted 2:55 pm

(Fonny Jodikin)

*** Cerpen Natal

Sebagai seorang ibu dari seorang anak yang bersekolah di sekolah internasional, aku terkadang suka pusing. Bukannya kenapa, karena ekonomi kami sebetulnya pas-pasan. Rizky bisa masuk ke sekolah itu karena pertolongan dari kepala sekolahnya yang memberikan keringanan berupa bea siswa, karena tahu keluarga kami bukan tergolong mampu. Sisi lain yang terasa sulit bagi kami untuk beradaptasi adalah gaya hidup para murid dan orang tua di sekolah tersebut. Sekolah yang bernama ‘Star International School’ dan berlokasi tak jauh dari rumah kami di daerah Tangerang, memang menjadi pilihan bagi banyak anak selebriti, orang kaya dan tak jarang beberapa konglomerat katanya. Aku tak tahu pasti, tapi yang aku tahu pasti, kami sering kewalahan ketika mendapat undangan untuk pergi ke pesta ultah teman Rizky. Paling tidak di restoran cepat saji dan dihadiri oleh ratusan orang. Kalau tidak, ini yang lebih parah yang pernah kami terima, di hotel berbintang empat atau lima.

(more...)

Tags: , ,
Posted in Fonny Jodikin

Serial Anak Kampung di Rantau (Bagian ke-4)

No Comments »

December 20th, 2009 Posted 5:49 pm

(Fonny Jodikin)

Setelah agak tertunda sekitar beberapa minggu, serial ini balik lagi. Mungkin ke depannya, setidaknya saya usahakan untuk menuliskannya sebulan sekali. Moga-moga bisa konsisten :) Inilah pengalaman saya di negeri orang…

Ben Thanh Market (Cho Ben Thanh) di sore hari…

Setelah bagian dalam pasar tutup, sekitar pukul 6 sore, saya melihat para pedagang sibuk dengan gerobak kayu yang ada roda di bawahnya dan bersiap membawa tenda-tenda, kardus kayu atau kotak plastik, untuk mempersiapkan restoran mereka di malam hari. Mereka bekerja keras, gesit, dan amat cepat. Dalam sekejap, siaplah tenda-tenda itu lengkap dengan meja kursinya, dan kami pun bisa memesan makanan di sana. Saya agak kasihan sebetulnya mereka berlari-lari tergopoh-gopoh untuk segera mempersiapkan tenda rumah makannya. Namun, suami saya berujar, ‘ life is tough’. Hal yang mungkin terlupakan bagi banyak orang termasuk saya di saat itu, hidup memang tak selalu mudah. Hidup memang perlu perjuangan.

Anggaplah kondisinya sedikit banyak mengingatkan saya pada daerah Pecenongan di Jakarta Pusat, di mana para pedagang buka setelah toko di dalamnya tutup. Dan makan di pinggir jalan di Ben Thanh di malam hari memang membawa suasana berbeda.

(more...)

Tags: ,
Posted in Fonny Jodikin

Minggu Stress

3 Comments »

December 18th, 2009 Posted 11:15 pm

(san San Tjahaya)

Seminggu kemarin mungkin adalah salah satu minggu terberat yang kualami selama tahun ini. Padahal selama ini jarang-jarang aku menyerah terhadap deraan masalah, tapi seminggu kemarin sepertinya batas ketahananku sudah melewati titik puncaknya.

Pertama-tama suamiku jatuh sakit, setelah sembuh, giliran anakku yang jatuh sakit. Seolah belum cukup, pembantuku yang biasa membantu mengasuh si kecil pun jatuh sakit dan minta pulang kampung. Ditambah lagi tamu bulananku memilih datang pada hari itu. Sakit kepala, sakit kaki dan mulas-mulas pun menemani hari-hariku. Akhirnya aku dan suamiku memutuskan untuk bergilir antara menjaga toko dan mengasuh anak yang sakit.

(more…)

Egois

4 Comments »

December 14th, 2009 Posted 11:46 pm

(Fonny Jodikin)

*** Cerpen

Empat tahun sebelumnya…

“ Will you marry me?” Dia berlutut ketika menanyakannya kepadaku. Bukan di restoran, bukan di tempat romantis, hanya di ruang tamu rumahku. Tak lupa membuka tempat cincin yang sudah disiapkannya dari seminggu sebelumnya.

“ Yes, I do!” Aku tertawa riang, berteriak girang! Sudah lama kutunggu kata-kata itu keluar dari mulut kekasihku yang amat kucintai. Amat kukasihi. Dan amat kurindukan untuk mengisi hari-hariku di sepanjang waktuku. Memenuhi hidupku dengan cinta, memenuhi rumah kami dengan suara satu, dua, sampai tiga anak kecil. Ya, aku memimpikannya. Sampai hari itu, aku mengalaminya. Aku bersorak dan melambung tinggi. Melampaui bintang-bintang, menembus awan, menggapai rembulan. Lalu pulang kembali ke bumi dengan degupan jantung yang kencang, aliran adrenalin yang membuncah, dan senyum manis tak habis-habisnya. Kekasih yang kucintai-yang sudah melewati masa pacaran selama lima tahun lebih-kini melamarku! (more...)

Tags: , , ,
Posted in Fonny Jodikin

TANPA JUDUL

1 Comment »

December 14th, 2009 Posted 6:10 am

(Theresia Rita)

Ketika aku masih kecil,umurku belum enam tahun,

Ada seorang pengemis yang tiap hari datang kerumahku, mula-mula rasanya sangat lucu karena kami tinggal dikampung, bagaimana mungkin ada pengemis, menurutku pengemis biasanya hanya ada dikota

Tiap kali pengemis itu datang,aku senang sekali,

dan biasanya ibuku menyiapkan sepiring nasi dan lauk nya menyuruh nenek itu makan.

(more…)

Fireproof

No Comments »

December 11th, 2009 Posted 9:50 am

Marriage is not fireproof. But in case it’s on fire, people must withstand it.

Cuplikan kata-kata yang menyentuh hati saya dari film Fireproof yang dibintangi oleh Kirk Cameron (aktor yang terkenal lewat sitkom ‘Growing Pains’ dan ‘Full House’). Inti ceritanya adalah sebagai berikut:

Captain Caleb Holt (Kirk Cameron) is a firefighter in Albany , Georgia and firmly keeps the cardinal rule of all firemen, "Never leave your partner behind". But Caleb's home life is an altogether different story; his seven-year marriage to his wife Catherine (Erin Bethea) is on the verge of implosion. Neither one understands the pressures the other faces, and after a heated argument in which Caleb screams in Catherine's face, she declares she wants out of the marriage, and takes off her wedding ring.

(more...)

Tags: , ,
Posted in Fonny Jodikin

Ternyata cowok itu….

2 Comments »

December 10th, 2009 Posted 6:27 pm

(Martha Liumei)

Hari itu seperti biasa, aku mendapat email dari Fery, seorang teman yang aku kenal lewat sebuah milis. Berawal dari perkenalan singkat, kemudian relasi kami menjadi dekat. Fery adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta yang cukup terkenal di Indonesia dengan karier yang menjanjikan. Satu hal yang aku kagumi dari dia adalah relasi dia yang sangat dekat dengan Sang Pencipta dan bagaimana dia selalu berusaha meluangkan waktu untuk sekedar bercakap – cakap denganNya di tengah kesibukannya berkarier.

Dari semua yang fery miliki, sudah sangat mendekati dengan sosok pendamping yang selama ini aku idam – idamkan. Kepribadian , kemapanan dan kedekatan dia dengan Tuhan jadi alasan yang kuat mengapa aku membiarkan dia masuk ke hati dan pikiranku dan menyeretku ke dalam mimpi – mimpi Indah bersama nya. Anganku semakin melambung ketika siang itu aku menerima email dari Fery.

(more…)

Tags: ,
Posted in Martha Liumei

Aku Minta Maaf Karena Aku Mencintaimu

7 Comments »

December 10th, 2009 Posted 7:25 am

(Vinna Kurniawati)

Malam ini hujan.
Sudah sejak siang, sore dan sampai malam ini hujan terus saja mengguyur tanpa perduli aku berada di atas motor, menerjang hujan dari satu tempat ke tempat lain. Aku kedinginan saat ini, saat duduk di depan televisi mungilku, menonton entah tayangan apa di sana sambil terus menyuap sekotak es krim yang ada di pangkuan, sendok demi sendok tanpa sadar. Karena aku sedang termenung dengan satu kata mengulang-ulang di dalam kepalaku: maafkan aku, sayang.
Benar, yang paling aku inginkan saat ini hanyalah meminta maaf. Berulang-ulang, sambil merangkak bahkan sampai menangis darah. Karena kesalahanku sudah begitu besar dan aku tidak yakin akan ada satu orang pun yang bisa mengampuniku. Tanpa kesalahan ini, dosaku sudah begitu besar dan dengan adanya dosaku yang satu ini aku yakin neraka akan menerimaku tanpa ragu dan dengan tangan terbuka.

(more…)

Tags: , ,
Posted in Vinna Kurniawati

MALAIKAT ITU TAK PUNYA SAYAP

No Comments »

December 9th, 2009 Posted 2:15 pm

(Theresia Rita)

Bertahun – tahun aku merayakan valentine dengan biasa saja meski jaman SMA dulu, valentine selalu hadir dengan nuansa istimewa karena hebohnya teman-teman merayakan. Tapi  tahun ini valentine menjadi sangat istimewa. Aku ketemu dengan dia saat retret valentine bersama. Semula yang sama sekali tak kenal., menjadi amat dekat dan kenal luar dalam.

Mungil dan cantik, mirip seperti burung pipit yang ada foto dan puisinya mbak femi….kakinya kecil,tetapi di balik semua kemungilannya itu Tuhan memakai dia untuk hal-hal besar dalam karya pelayanan. Aku suka memanggilnya burung pipit,bukan hanya karena mungilnya…tetapi karena cerewet…celotehnya ramai mirip burung-burung pipit di sawah di kampungku.

(more…)

Reward (Penghargaan)

No Comments »

December 9th, 2009 Posted 12:01 am

(Fonny Jodikin)

*** Belajar dari Farmville bagian kelima (terakhir).

Akhirnya, secara resmi, Facebook (FB) di-banned. Beberapa minggu lalu, guru Bahasa Vietnam saya masih bilang melalui internet provider yang lain, masih bisa akses ke FB. Sekarang dia pun mengalami nasib yang sama dengan saya. Hanya masalah waktu. Jadi, anggaplah ini edisi perpisahan dengan Farmville (FV), karena saya tidak tahu, kapan lagi saya akan mendapatkan kesempatan untuk main FV. Sampai hari ini, saya sudah agak terbiasa tanpa FV, tanpa FB masih agak sulit karena berhubungan dengan ‘update’ tulisan dan komentar terhadap tulisan teman-teman tertutama di Yuk Nulis, tapi saya sudah mulai menerima bahwa inilah kenyataan yang tak bisa terelakkan. Ciaile, bahasanya berat bow…Ck ck ck…:) Apa boleh buat, life goes on, tokh?

Pada saat saya menuliskan artikel berjudul “Layu”, sebetulnya saya sudah menyiapkan judul di atas sebagai bagian keempatnya. Namun, akhirnya ‘layu’ yang lebih mendominasi ‘mood’ menulis saya di kala itu, dan dia yang selesai terlebih dahulu…

(more...)

Tags: ,
Posted in Fonny Jodikin

Stempel di Dahi

No Comments »

December 4th, 2009 Posted 10:45 pm



Cap atau stempel? Kening, jidat, atau dahi? Semuanya benar dan semuanya ada di kamus Bahasa Indonesia. Dan masalahnya: pilih yang mana? Pada akhirnya saya memilih stempel di dahi, hanya karena masalah ‘rasa’. Rasanya kening paling sopan, jidat lebih kasar, seperti makian orang yang sering terdengar, “ Mana mata loe? Ditaro’ di jidat?” Dan dahi cenderung netral. Ini hanya perasaan saya, bisa salah bisa benar.

Tetapi, akhirnya saya memilih judul di atas untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika berada di Singapura beberapa waktu yang lalu.

Kami menginap di satu hotel di daerah ‘Orchard Road’. Dan ketika sarapan pagi, saya yang tengah sibuk menggendong sambil sesekali menuntun anak saya, telah memenuhi meja kami dengan berbagai makanan yang saya kira bisa dimakan oleh anak saya. Ada keju setengah ‘slice’, ada kue semacam ‘sponge cake’ kecil, dan ada minuman berupa jus dan teh hangat. Sambil mengambil air minum, saya bawa anak saya, dan saya tinggalkan meja saya yang penuh pernak-pernik tersebut. Dan ketika saya pulang, saya tertegun melihat meja saya telah rapi bersih. Dan seorang perempuan muda, bertubuh kurus kecil, tersenyum kepada saya. Dan saya bilang ke dia bahwa saya belum selesai. Dia kembali tersenyum dan berkata, “ It’s Okay!” Dan berjanji akan mengambilkan saya teh hangat secangkir lagi. Tetapi sampai akhir saya selesai makan pagi, tidak satu cangkir pun datang kepada saya. Dan dia sepertinya tidak peduli pada saya. Saya agak kesal, tetapi berusaha mencuekkan, karena saya pikir buat apa juga ribut hanya gara-gara hal yang sepele seperti itu. Memang merepotkan, tetapi saya kembali mengambil satu per satu makanan buat anak saya. Dan saya kira boleh saja dia membereskan bila kelihatan meja sudah penuh tumpukan piring kotor dan bukan penuh makanan seperti di meja saya. Tapi, entahlah apa yang ada di pikirannya ketika dia membereskan meja saya di pagi itu. Saya hanya berlalu sambil menyimpan kesal di dada.

Dua hari kemudian…

Saya bangun agak pagi karena lapar. Malam sebelumnya saya makan tidak terlalu banyak jadi paginya perut sudah berbunyi. Keroncongan. Pelayan hotel yang sama masih ada di pagi itu. Saya sempat memperhatikannya bahkan saya tahu namanya. ‘Miss L’. Dan pagi itu karena anak saya masih tidur, saya sarapan sendirian. Hasilnya, saya jadi memperhatikan sekitar. Dengan perasaan kesal yang masih terbawa, saya terlanjur memberi stempel di dahinya, bahwa dia orang yang kurang bertanggung jawab. Tidak peduli sekitar dan kurang tanggap. Mungkin hal kecil, tapi kalau berhadapan dengan orang yang lebih vokal, sudah pasti Miss L dilaporkan kepada Manager-nya. Tapi, lagi-lagi saya kembali mendapatkan pemikiran yang berbeda…

Seberapa sering kita memberi stempel di dahi orang-orang yang berbuat salah atau tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kita sering menyebut Si Mbak di rumah sebagai Mbak yang bodoh, tolol, udik, kampungan. Atau, kita dengan seringnya tertawa bersama karena stempel di dahi itu sudah begitu melekatnya pada diri seseorang: Si Tompel, Si Badung, dan maaf kalau ini terdengar kasar, Si Pincang. Terlalu sering kita memberi cap berdasarkan apa yang kita lihat, atau kita rasakan sebentar saja dan merasa tahu semuanya tentang seseorang. Saya melihat kejelekan ‘Miss L’ dan itu saja yang ada di mata saya. Tanpa saya sadari, dari pagi saya duduk di kursi itu, saya melihat senyum ramahnya yang kembali muncul setiap kali bertanya maukah para tamu menambah teh atau kopinya.

Bagaimana bila itu dibalik, bila kita yang diberi stempel buruk dan selalu dianggap takkan pernah berubah menjadi baik. Kita dihina terus-menerus tanpa diberi kesempatan untuk tumbuh ataupun berubah. Dan apa yang terjadi, bila Tuhan sudah putus harapan pada kita dan menganggap stempel di dahi kita sudah kartu mati, takkan pernah berubah lagi?

Saya menghela nafas. Mungkin dia salah, tapi itu hanya satu kali. Dua kali. Atau sepuluh kali. Tapi, tidak selamanya dia salah, dia bodoh, dia tak bertanggung jawab. Dan tidak seharusnya saya mengecapkan stempel itu di dahinya. Di keningnya. Dan beranggapan dia takkan pernah berubah.

Saya pulang ke kamar hotel, menjumpai anak dan suami yang tengah berbenah karena itu hari terakhir kami di Singapura. Kami pulang ke Vietnam di siang harinya. Pelajaran di hari itu membuat saya ingin menanggalkan cap atau stempel yang pernah saya berikan kepada orang lain. Tidak selalu mudah. Tidak selalu bisa. Namanya juga usaha. Tetapi saya hanya berpikir, kalau saya dicap seperti itu, apa enak? Apalagi kalau Tuhan sudah memberikan cap tersebut pada saya? Untung DIA Maha Pengampun. Maha Pengasih. Kalau tidak? Sudah jadi apa saya ini?

‘Miss L’, damai ya… ‘Peace’… :)

Saya juga manusia yang bisa salah. Sering menghakimi padahal diri sendiri masih jauh dari benar… Belajar jadi orang benar memang tidak pernah mudah. Semoga Tuhan selalu berikan kita semua kekuatan untuk menjadi diri sendiri yang lebih baik. Amin.

HCMC, 4 Desember 2009

-fon-

* cuplikan dari perjalanan singkat ke Singapura.

sumber gambar:

http://www.camodesign.de/images/projects/apestamp_1.jpg

Tags: ,
Posted in Fonny Jodikin

Mau U-U

1 Comment »

December 2nd, 2009 Posted 1:25 pm

(Martina Felesia)

Malam itu seperti biasa aku mengantarkan anak-anak tidur dengan iming-iming bahwa mereka akan mendapatkan sebuah cerita sebagai pengantar tidur.  Jadi jam sembilan tepat setelah semua selesai menggosok gigi dan mencuci kaki, merekapun menagih janji yang sudah kuucapkan beberapa menit sebelumnya.

”Sudah siap semua? Nah, sekarang Bunda mau mulai bercerita.  Ceritanya mengenai seekor anjing, si Kingkong (ini nyomot nama anjing temenku yang meskipun kupikir nggak nyambung banget dengan Kingkong beneran, tapi tetep kupakai sebagai tokoh utama ceritaku) dan seekor kucing namanya Manis…..”

“Bukan Anis, Buda….. Miong,” kata anak tengahku Altar dengan ucapan yang (seperti biasa) susah untuk diterjemahkan.

(more…)

Aku belajar dari anjingku

2 Comments »

November 26th, 2009 Posted 2:13 pm

(Theresia Rita)

Aku masih SD ketika keluarga kami memiliki anjing keturunan Labrador, bulu nya lebat sampai mukanya hanya terlihat moncongnya saja. Dia cantik sekali warnanya putih dan coklat muda, tapi kegemukan karena kami selalu berebut memberinya makan. Namanya Foni. Maaf tidak bermaksud menyamakan dengan anjingku bila ada teman yang namanya sama, tapi ibuku entah kenapa memberi nama demikian. Umurnya baru 4 tahun waktu hamil pertama kalinya. Anak nya 6 ekor, sangat cantik dan gendut-gendut.

Ayahku seorang kepala sekolah, tetapi menghabiskan sisa waktu mengajar dengan berkebun. Biasanya kalau buah jeruk dikebun kami mulai berbuah dan terlalu lebat, beliau memotong beberapa putik buah agar yang lain bisa besar dan matang sempurna.

(more…)

Layu

No Comments »

November 26th, 2009 Posted 10:19 am

(Fonny Jodikin)

*** Lagi-lagi belajar dari ‘Farmville’ edisi ke-4

Setelah beberapa waktu yang lalu mengira bahwa dengan di-bannednya FB di Vietnam berarti pula akhir cerita cinta saya dengan ‘FarmVille’ (FV), ternyata saya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan karya-karya mulia di ladang milik saya sendiri :). Mulia, karena dari sana saya setidaknya berhasil menelurkan empat tulisan. Dan mungkin masih akan ada susulannya. Akhirnya, FB kembali normal dengan internet provider ‘Viettel’ tercinta. Saya tidak tahu berapa lama, karena kadang normal kadang tidak, tetapi saya cukup mensyukuri, setidaknya masih ada tambahan waktu bagi saya bermain FV.

Sewaktu saya tidak bisa mengakses FB sekitar 10 harian, saya agak gelisah dengan tanaman mawar saya yang seyogyanya dipanen dua hari sesudah ditanam. Sudah terbayang keindahan mawar di ladang saya, tetapi tiba-tiba hal yang tidak diharapkan muncul. FB tidak bisa diakses. Apa boleh buat, saya harus menghadapi kenyataan bahwa apa yang sudah saya tanam harus layu. Tanpa tahu kapan saya bisa menanam lagi, kapan saya bisa mengangkut seluruh mawar yang layu dan mulai memilih tanaman baru lainnya. Menyedihkan sekaligus mengecewakan. Namun, apa boleh buat, itu kenyataan yang harus saya terima.

(more...)

Tags:
Posted in Fonny Jodikin

←Older