Posts Tagged Belajar Nulis

E-Book MMI: Mengenai Kepanjangan Nafas

No Comments »

April 26th, 2010 Posted 8:41 pm

(Indra Afriza)

‘Kepanjangan Nafas’ istilah ini pertama kali Udo baca dalam sebuah buku kumpulan surat-menyurat H.B. Jassin (alm.). Waktu itu dia menggunakan istilah ini untuk mengomentari puisi seorang penyair muda yang sedang belajar lebih dalam tentang puisi.

Sebuah larik dikatakan ‘kepanjangan nafas’ ketika:

  • dia menjadi terlalu panjang dan cenderung berubah menjadi prosa atau cerita mini. Misalnya: “Aku ingin dia memapahku dan menjaga serta membangunkanku dari tidur panjang ini…”
  • Ketika bangunan kata atau penempatan kata pada lariknya tidak seimbang atau searah dengan larik-larik pendampingnya. Contoh:

(more...)

Kamu tega …

No Comments »

May 22nd, 2009 Posted 9:06 pm

selingkuhAku berharap semoga masalah ini tuntas sebelum aku harus turun di halte Cawang UKI dan melanjutkan perjalanan pulang ke anak dan istriku.

“Kamu masih gak ngerti juga ya? Justru kulakukan ini karena aku terlalu mencintai kamu.” Suaranya terisak.

Aku menoleh melihatnya. Sejenak mata kami bertatapan. Ada telaga di matanya. Aku mengalihkan pandangan ke luar. Jalanan tidak terlalu penuh malam ini. Tapi aku membayangkan hatinya pasti sesak.

“Aku sakit. Hatiku sakit. Bohong kalau aku tidak merasa sakit dengan perpisahan ini. Kurang apa aku selama ini? Kamu tega…. Aku gak nyangka banget.”

Suaranya makin lirih. Setengah berbisik. Tapi kepedihan semakin terasa. Aku memandangnya dari pantulan pintu kaca transjakarta yang kami tumpangi. Lagi-lagi mata kami bertemu. Sekejap. Kali ini dia yang membuang pandangan ke arah lain.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku bahkan yakin dia tidak ingin mendengar jawabanku.

“Sudahlah mas, memang lebih baik kita berpisah saja. Aku pikir itu yang terbaik buat kita berdua. Hubungan ini tidak akan pernah berhasil.”

Sejenak sepi. Bus yang kami tumpangi merapat di halte cawang-otista. Tinggal 2 halte lagi. Aku berharap semoga masalah ini tuntas sebelum aku harus turun di halte Cawang UKI dan melanjutkan perjalanan pulang ke anak dan istriku.

Bus berjalan kembali. Terdengar isak tangis. Tertahan. Lirih. Duuuh. Makin runyam.

“Aku sudah memikirkannya. Kamu tuh yang harusnya mikir.”

Sepi. Hanya terdengar suara mesin bus. Menggeram pelan.

“Terserah kamu mau bilang apa. Toh bukan aku yang selingkuh.”

HAH? Selingkuh?

“Jadi kamu mau menyangkal?” Suaranya meninggi. Aku yakin beberapa penumpang mulai memperhatikan.

“Aku tuh sudah tanya sama yang bersangkutan dan dia sudah mengakui kalau dia punya hubungan sama kamu. Dia malah minta maaf dan berjanji untuk ninggalin kamu. Mau bukti apa lagi?”

Bus sampai di perempatan UKI. Kali ini jalanan sesak. Mikrolet menghadang di depan kami dengan angkuhnya. Bus tertahan dan menunggu. Aku juga menunggu.

“Kamu mau jelasin apa lagi? Sudah deh. Aku gak mau ketemu kamu lagi.”

“Aku perlu waktu untuk sendirian dulu. Mungkin itu yang terbaiik.”

Suaranya kembali melemah. Bus beringsut meninggalkan perempatan. Beberapa penumpang beringsut mendekati pintu keluar, membuatnya terdesak ke arahku.

Aku melihatnya lagi.

Telaga di matanya telah beranak tangis. Mati kami bertatapan lagi. Sejenak aku ingin memeluknya. Sekedar membagi penghiburan. Sejenak memberinya tempat menyandarkan hati.

Pintu bus terbuka. Aku melangkah keluar tanpa menyapanya. Ketika bus sudah berjalan lagi, aku masih sempat melihatnya. Menatap keluar dengan handphone masih tertempel di telinganya.

Mungkin dia sedang mendengarkan penjelasan dari pacarnya di ujung telepon sana.


Posted in Belajar Nulis, hari-hari

Aku kangen emak ….

No Comments »

February 11th, 2009 Posted 4:40 pm

Aku berhenti melangkah. Perlahan aku membalikkan badan dan melihat sosoknya yang terlihat lelah. Melihatku berbalik, dia mengangkat pandangannya dan mengulang kalimat terakhirnya.

” Iya nih. Gak tahu kenapa, tiba-tiba aku kangen ibuku. “

” Padahal baru ketemu tadi malam loch … ,” sambungnya sambil menyenderkan badan.

” Ya sudah. Ditelpon aja mas. ” Aku menjawab sambil pamitan keluar dari ruangannya. Dari balik kaca, aku melihat dia sudah tenggelam lagi dalam kesibukan kerja yang akhir-akhir ini memang lebih meningkat dari biasa.

Yang tidak terlihat adalah ~ dalam hati ~ aku sibuk mengingat, kapan aku terakhir kali menyapa emak. Dan tiba-tiba kerinduan menyeruak dan membuatku sejenak merasa sesak.

“Aku kangen emak …. “


Posted in Belajar Nulis, hari-hari

jenuh ini membunuhku …

No Comments »

January 22nd, 2009 Posted 10:26 pm


aku merasa
kita menjauh
dan enggan untuk bersama
atau sekedar menyapa….

menjelma menjadi sosok asing

bersembunyi dibalik luka
menjilat perih
mengasah cakar
dan menunggu waktu
untuk saling meluka

aku masih di sini
menghitung lara
tanpa pernah tahu
kapan bisa melabuh rindu

jenuh ini
terasa membunuhku ….

Posted in Belajar Nulis Tagged: corat-coret, gak jelas