Posts Tagged Cerber
Behind the Scene: Thank God I Found You – The Series
November 17th, 2010 Posted 11:42 am
Serial Thank God I Found You (TGIFY) yang baru saja tamat di episodenya yang ke-22 beberapa waktu yang lalu merupakan serial saya yang ke-sekian:). Ada Dara yang akhirnya menjadi souvenir pernikahan saya, Irena, My Dreams, Being Mom-the Series, dan Diana’s Diary. Setelah vakum cukup lama, TGIFY hadir kembali mengobati kerinduan saya pribadi untuk mengeksplor tokoh-tokoh rekaan di dalam kisah TGIFY tersebut.
Awalnya juga sangat sederhana. Bermula dari kegemaran mendengar musik dan menyanyi, saya terpaku pada lagu Mariah Carey yang berjudul sama: Thank God I Found You. Kebiasaan saya berlama-lama dalam mendengar satu lagu dan meresapinya, ternyata kali ini membuahkan sebuah cerpen dengan judul sama. Betapa Evita yang biasa dipanggil Vita, menemukan tambatan hatinya setelah sekian lama seorang diri di usianya yang mendekati 40 tahun. Masa pacaran pun telah dilaluinya dengan
Hanya sampai di situ saja. Saya pikir, TGIFY akan jadi tambahan cerpen saya. Bersama dengan karya-karya cerpen lainnya yang sedang dikumpulkan untuk menjadi kompilasi cerpen dengan seorang sahabat, saya pikir hanya sampai di situ. Sampai seorang sahabat di FB, Suhu agama Buddha yang sering mengomentari tulisan saya bilang bahwa banyak yang belum di-explore. Semisal: hubungan Jason dengan Susi dan Willem yang awalnya menyukai Vita kemudian banting setir jadi tergila-gila pada Susi, dan banyak hal lainnya lagi. Lalu, saya pikir tak ada salahnya pula jika saya mencoba mengembangkannya menjadi serial. Dengan catatan, bila inspirasi mengalir tentunya…
Minggu demi minggu, saya berusaha menyelesaikan TGIFY-setidaknya satu episode saja. Hal ini menjadi lebih sulit, ketika kondisi saya yang lemah di saat awal-awal kehamilan. Banyak sahabat menanyakan soal kelanjutan TGIFY. Jujurnya, walaupun keinginan menyelesaikan serial itu setiap minggunya begitu kuat, namun di kala itu saya tak kuasa menahan mual. Saya pun tak mampu duduk terlalu lama, apalagi berkonsentrasi menyelesaikan satu episode saja yang terdiri dari sekitar 4-5 halaman Word.
Setelah kondisi lebih stabil dan kehamilan lebih besar, saya pun mencoba menulis lagi. Di Vietnam, saya terbiasa melakukannya di sebuah coffee shop semacam Starbucks tetapi ‘made in
Harus saya akui, bahwa pengalaman menuliskan cerber berantai dengan sekitar 17 sahabat penulis lainnya di sebuah milis penulis pemula menjadikan ide saya lebih bervariasi. Semua itu atas bantuan dan kejutan ide yang luar biasa dari mereka. Karena cara mainnya, ketika Fonny selesai beberapa paragraf, harus dipotong dan dilempar ke Etty misalnya. Setelah Etty selesai, pindah ke Bram, Bram ke Mike, dan seterusnya. Seru, karena kami terkadang tak pernah menyangka isi otak teman kami dan inspirasi ‘gila’ yang ada di kepala mereka. Belum lagi, kami harus melanjutkannya dengan versi kami tetapi tidak boleh keluar dari alur cerita. Saya menyukainya dan secara tidak langsung mengadaptasinya buat TGIFY kali ini. Sehingga pemotongan kisah terkesan seru bak sinetron ( thanks juga to film seri yang sudah saya tonton dari kecil hehe…).
Juga bumbu-bumbu di sana-sini, terkadang saya terpengaruh juga dengan apa yang saya tonton. Di tengah-tengah TGIFY ada episode di hotel di Hongkong di mana Vic ditangkap. Inspirasinya timbul sehabis menonton film Knight and Day (Tom Cruise dan Cameron Diaz). Inspirasi bisa timbul kapan saja dan dari mana saja, tergantung bagaimana kita memetiknya.
Akhir kata, terima kasih buat semua dukungan, komentar, input, maupun kritik yang sudah saya dapatkan selama serial ini. Sampai jumpa di serial berikutnya yang semoga tidak mengecewakan. Di file di otak saya sudah ada satu kisah yang ingin saya tuangkan. Namun, di tengah-tengah penulisan itu, malah saya menuliskan fiksi yang awalnya ingin saya jadikan fiksi mini berjudul: Leaving on a Jet Plane (masih dipengaruhi lagu juga, soundtrack Film Armageddon dan dinyanyikan oleh Chantal Kreviazuk). Sambutan yang saya terima cukup baik, bahkan lebih baik dari yang saya perkirakan sebelumnya. Beberapa sahabat pun menyarankan untuk dibuat serialnya kembali. So, we’ll see…
Sekian sekilas tentang di balik layar: TGIFY. Thank you
-fon-
Tags: Cerber
Posted in Fonny Jodikin
Thank God I Found You Part 22- The End
November 11th, 2010 Posted 1:11 pm
*** Episode: Terima Kasih, Tuhan!
Previously on Thank God I Found You part 21 (Episode: Saling Setia).
Vita menjalani hari-harinya di Singapura dengan tidak bersemangat. Dia kuatir akan hasil tes yang akan diterimanya dari Dr. Ng di Gleneagles Hospital. Dia harus menghadapi semuanya sendirian. Begitu pikirnya. Namun, pada kenyataannya, setelah Vita memasang sikap cuek atas segala atensi dari Jason berupa telepon maupun SMS, membuat dirinya tak pernah menyangka kalau Jason akan menyusulnya ke Singapura. Vita tengah berbahagia, di tengah semua kegalauan yang terjadi akibat tumor di otaknya. Dan dia bersiap menghadapi apa pun hasilnya, selama dia dan Jason saling setia. Sementara Susi dan Mama Willem telah bertemu di rumah Susi yang terletak di kawasan PIK. Terjadi pertikaian di sana, Susi terkena pecahan kaca dari vas bunga yang pecah akibat lemparan Mama Willem, sekaligus menyadarkannya bahwa Willem sudah pergi dan itu kenyataan yang harus Mamanya terima. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Simak di episode berikut ini…
Episode: Terima Kasih, Tuhan!
Mama Willem sudah pergi dari rumah keluarga Susi di PIK. Kepergiannya tidak dalam kondisi marah-marah, melainkan hati yang lebih tenang. Wajah yang diliputi kedamaian sudah memancar, mencerminkan emosinya yang sudah mereda. Susi pun merasa tenang. Setidaknya ini rumahnya sendiri. Rumah ayahnya. Dan kenyataan bahwa ia hamil tak menghalangi penerimaan yang luar biasa dari pihak keluarganya. Termasuk Tante Reni yang selama ini dengan terpaksa dia panggil Mama.
Ijah yang dibawa serta dari rumah Mama Willem sudah mulai berbenah. Membenahi kamar barunya yang kecil namun tertata rapi. Membenahi keperluan majikan barunya – kali ini dengan kelegaan karena sudah mendapat persetujuan dari Nyonya besarnya sebelumnya. Dia pun sudah minta maaf tadi pada Mama Willem, untuk kemudian memohon izin agar dia bisa bekerja melayani Susi di rumah ini. Mama Willem pun mengangguk setuju, walaupun wajahnya belum menyunggingkan senyuman ketika mengatakan hal itu, namun setidaknya tidak lagi ada penolakan.
Susi mulai memasuki kamarnya lagi. Putih. Bersih. Rapi. Karena seprai baru diganti saat dia ada di ruang tamu tadi bersama Mama Willem. Handuk, taplak meja, serta keset kaki, semua pun serba putih juga baru diganti. Mengingatkan orang yang melihatnya pada hotel berkelas, setidaknya bintang empat atau
***
Aku sudah tiba di ruangan Dr. Ng, jantungku masih berdegup kencang. Jason berusaha menenangkan aku dengan menggenggam tanganku lebih erat. Aku merasakan aliran hangat penuh cinta dari telapak tangannya. Meski hanya sebentar, aku sempat berucap syukur karena aku bahagia menikah dengannya.
Dr. Ng dengan senyum simpatiknya kembali mempersilakan kami duduk. Wajahnya yang selalu penuh senyuman itu membuatku bingung juga. Bagaimana jika dia harus menyampaikan kabar buruk kepada pasiennya? Apa masih dengan penuh senyuman seperti itu juga? Aku hanya berharap, semoga hasilnya tidak seburuk yang kubayangkan!
Dr. Ng langsung bicara pada pokok permasalahannya. Seolah dia tahu aku begitu tak sabar menunggu hasil hari ini. Juga untuk mempersingkat waktu rasanya, karena kulihat hari ini antrian pasiennya lebih daripada biasanya.
“ The result is better than expected. It seems that what we did last time has worked out quite well. Your tumor is smaller now. The medicine brings a positive result.” Dr Ng tersenyum lebar.
Kukucek mataku hampir tak percaya. Benarkah? Ini bukan mimpi,
Thank God!
***
Dua puluh bulan kemudian…
Susi mendekap Wilsy erat. Dalam gendongannya, Wilsy masih tertidur. Sementara Susi sibuk mempersiapkan gelas-gelas plastik untuk pesta ulang tahun Wilsy. Tak lama, tangan yang lembut itu menyentuh bahunya.
“ Mama gantian gendong dulu. Nanti dia tak nyenyak gara-gara gerakanmu yang sibuk itu,” ujarnya ceria.
Susi menoleh. Mengangguk setuju dan menyerahkan Wilsy pada neneknya. Mama Willem menggendong Wilsy. Annabelle Wilsy. Cucunya dari Willem. Wilsy sendiri adalah gabungan nama Willem dan Susy.
Pesta berlangsung ceria. Meriah. Dan tentu saja tetap mewah… Karena Mama Willem dan Susi hanya ingin memberikan yang terbaik bagi Wilsy tentunya…
Susi tetap tinggal di rumah kedua orang tuanya. Namun, sekitar seminggu dalam sebulan, dia akan tinggal di rumah Mama Willem. Susi saat ini kembali bekerja aktif, membantu di perusahaan orang tua Willem sebagai Marketing Director. Dia pun berubah menjadi seorang wanita yang baik, keibuan, dan amat mengasihi Wilsy. Siapa bilang orang tidak bisa berubah? Ternyata hadirnya Wilsy dalam hidupnya serta seluruh kumpulan kejadian sebelumnya telah mengubahnya. Menjadikannya dewasa, berpaling dari jalan yang keliru, dan memutuskan untuk hidup benar…
***
Aku bergerak perlahan. Berjingkat sedikit agar tidak membangunkan Jason. Aku pengin pipis! Jam di dinding kulihat menunjukkan pukul 03.00 pagi.
Gerakanku tanpa sengaja menarik selimutnya. Dia membuka matanya.
“ Vit, mau ke mana? “
“ Toilet. Mau pipis, “ Ujarku. “ Udah, kamu bobok lagi
“ Aku temani, ya…” Ujarnya lagi.
“ Aduh, Jasonnn.. Kayak mau ke mana ajaaa, lagian toilet juga di dalam kamar ini…” Aku terkekeh geli.
“ Aku mau menemani istri dan anakku ke toilet.” Katanya lagi sambil mengelus perutku perlahan.
Aku hanya tersenyum sambil membetulkan selimutnya serta menyuruhnya tidur kembali. Memang sejak kehamilan pertamaku ini diketahuinya, dia sungguh protektif terhadapku dan kandunganku- anak kami.
Di toilet, aku tersenyum sendiri. Membayangkan perjalanan hidupku. Kehamilanku di atas usia 40. Dan tumor di kepalaku? Sudah hilang berkat obat ajaib Dr. Ng…
Aku mensyukuri semuanya ini sebagai berkat yang tak ternilai dalam hidupku. Kuelus perutku perlahan. “ I love you, my child.” Kubisikkan perlahan, namun kuyakin dia menyadari cintaku. Cinta papanya, Jason. Dan aku menggumam: thank God I found you, Jason!
Aku kembali ke kamar. Menarik selimut Jason dan membaginya dengan diriku sendiri. Aku tahu, hidup ini adalah sekumpulan badai yang datang dan pergi. Mengharapkan hidup tenang, tanpa riak, adalah hal yang mustahil. Jadi, tak ada yang lebih baik yang bisa kulakukan selain menikmati hari ini, menikmati semua cinta kasih yang kurasakan dari Tuhan… Dari Jason… Menikmati segala bentuk kebaikan, termasuk janin yang ada di kandunganku saat ini, yang akan lahir sekitar empat bulan lagi… Sambil berdoa pula mohon kekuatan…Ketika berita semacam tumor waktu itu datang kembali atau berita-berita yang lebih berat daripada berita itu sekali pun… Kuingin punya kesabaran melewati semuanya dan tak lekas putus asa…Walaupun aku pasti dipenuhi kegelisahan dan ketakutan sebagaimana ketika kuketahui tumor berdiameter 3 cm itu atau ketika aku belum juga menemukan pasangan hidupku sementara usiaku beranjak ke-38 tahun, namun aku rasa aku tak perlu kehilangan harapan. Karena aku punya Dia… Thank God I Found YOU in my life, God! Thanks for bringing joy and happiness in Jason, in our child… Dan memenuhi setiap sudut hatiku dengan keharuan yang menyesakkan dada.
Air mata menetes di pipiku. Ini air mata bahagiaJ
Thank God…Terima kasih, Tuhan!
TAMAT.
-fon-
* terima kasih untuk setiap atensi dan perhatian pada cerber ini. Aku merasakan tanggapan yang luar biasa dari teman-teman atas cerber sederhana ini. Sampai jumpa di cerber-cerber berikutnya. Maaf bila masih ada kekurangan di sana-sini, anggaplah ini acara ‘welcome back’ setelah sekian tahun vakum menulis cerberJ
Tags: Cerber
Posted in Fonny Jodikin
Thank God I Found You Part 21
October 28th, 2010 Posted 1:54 pm
(Fonny Jodikin)
*** Episode: Saling Setia
Previously on Thank God I Found You part 20 (Episode: Melintasi Fase Kehidupan).
Susi positif hamil. Kemudian, dia mengajak Ijah untuk ikut serta membantunya kelak. Ijah setuju, memesan taksi, lalu berkemas pergi. Mama Willem kemudian tahu kalau mereka kabur dari rumah dan mengejar mereka sampai PIK. Di Ruko Cordoba, taksi Susi dipepet oleh Mama Willem. Lalu, bagaimana pengejaran Mama Willem dan kelanjutan pertikaiannya dengan Susi? Juga Vita yang diminta scan sekali lagi oleh Dr. Ng, datang ke Singapura sendirian lalu berniat melakukannya. Terjadi perubahan sikap yang sangat signifikan, karena Vita merasa dia harus menanggung semua beban penyakitnya ini seorang diri. Dia merasa menyesal harus mengalami semua ini di awal pernikahannya dengan Jason. Merasa stress,lalu berubah sikap menjadi lebih emosional dan pemarah. Bagaimana pula kelanjutan perkembangan penyakitnya, juga hidup perkawinannya dengan Jason? Simak di episode berikut ini…
Tags: Cerber
Posted in Fonny Jodikin
Thank God I Found You Part 20
October 21st, 2010 Posted 12:50 pm
*** Episode: Melintasi Fase Kehidupan
Previously on Thank God I Found You part 19 (Episode: Jadi, Bagaimana?)…
Vita dan Jason kembali ke
Episode: Melintasi Fase Kehidupan
Susi masih menunggu di toilet. Tak lama perubahan warna terlihat. Dua strip, artinya dia positif hamil! Disekanya air mata haru yang turun perlahan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasakan perubahan itu. Janin di dalam perutnya telah mengubahnya. Dia yang licik dan sangat mementingkan diri sendiri selama ini, tiba-tiba merasakan keinginan yang kuat untuk berbagi. Berbagi kehidupan dengan seorang yang memang adalah darah dagingnya-terlepas dari siapa ayah sesungguhnya dari bayi ini. Suatu kali dalam hidupmu, mungkin kau bisa tersentak dengan kenyataan yang ada. Mungkin kenyataan itu membawamu ke arah perubahan yang positif. Setelah sekian lama ‘tersesat’ tak tentu arah, hanya hidup semaunya saja. Hari ini, dia merasakan niat yang kuat untuk melanjutkan hidup dengan benar. Untuk anaknya, dia akan lakukan hal itu: perubahan menjadi Susi yang lebih baik lagi.
Ijah kembali membuka pintu kamar. Susi jadi nekad dan berkata: “ Jah, kamu mau tolongin aku. Panggilkan taksi, Jah. Aku hamil, aku tak bisa tinggal di sini terus. Kalau kamu mau, kamu bisa pergi sama aku. Nanti kamu yang bantu aku karena… aku positif hamil…”
Ijah terdiam. Tetapi, naluri kewanitaannya yang bicara. Tak perlu waktu terlalu lama, dia menyetujui permintaan Susi. Dikemasnya barang seadanya, sambil menelpon taksi. Mereka harus gerak cepat, karena tidak tahu berapa lama lagi Mama Willem akan kembali dari salon langganannya.
***
Aku berusaha agar semua aktivitas berjalan biasa. Normal, apa adanya. Aku pergi ke kantor seperti biasa, walau aku tahu hatiku masih belum normal, emosiku masih labil. Tetapi, daripada aku terus di rumah bersama ibu mertuaku dan meratapi nasibku, bukankah sebaiknya aku bekerja dan bertemu teman-temanku seperti biasa? Mereka tak melihat perbedaanku. Aku pun tak merasa perlu menceritakan semuanya kepada semua orang. Paling, beberapa sahabat dekatku di kantor nanti akan kuceritakan perihal tumorku ini. Tanpa kusadari, aku jadi gampang emosi. Dalam menangani hal-hal kecil yang seharusnya adalah masalah yang mudah, malah menjadi hal yang seolah berbelit-belit. Itu dikatakan oleh teman-teman kantorku yang melihat perubahanku seminggu setelah aku kembali dari bulan maduku. Beberapa dari mereka bahkan heran, mengapa perubahan itu terjadi begitu cepat? Padahal, aku ‘
Aku tak tahu harus bagaimana. Yang pasti, sejujurnya aku tak siap dengan berita ini. Di rumah pun, aku harus adaptasi dengan mertua. Yang sebetulnya baik, sih. Dia memperhatikanku. Memasakkan makanan bagi kami- aku dan Jason. Berusaha menyenangkan kami dengan kondisi kesehatannya yang tak lagi prima. Namun, apa daya aku yang sedang berjuang mengatasi rasa yang hilang di hati. Rasa yang hilang terhadap Jason, terhadap hidup, dan terutama terhadap diriku sendiri. Aku tak lagi punya semangat hidup, separuh jiwaku terasa mati. Tumor ini terlanjur melumpuhkan aku. Aku tahu, aku harus berjuang keras mengatasi ini semua. Tak baik aku menyimpan sesal terhadap semua yang telah terjadi. Bukankah segala sesuatu terjadi pasti juga ada rencana Sang Pencipta di baliknya? Hanya saja, ketika tengah berada dalam keterombang-ambingan dalam ketidakjelasan semacam ini. Rasanya sulit bagiku untuk memikirkan bagian besar dari rencana-Nya. Yang kulakukan hanya meratapi nasib, menangis, menenggelamkan wajahku di balik bantal ketika Jason tak ada. Di hadapan Jason, setengah diriku bersandiwara. Aku berlaku bak seorang robot yang seolah ceria di hadapannya-juga di hadapan ibu mertuaku, dengan harapan mereka tak kuatir. Mungkin salahku juga, tak mau terlihat lemah, tak mau jujur di hadapan mereka. Tapi, aku sendiri masih terlalu sibuk untuk mengatasi semua yang tengah terjadi. Aku merasa amat sangat sendiri!
***
Taksi bernomor SK 2980 itu telah terparkir di halaman rumah Mama Willem. Berwarna biru, taksi langganan banyak orang di
Taksi mulai bergerak perlahan keluar kompleks. Dan di saat yang bersamaan, mobil sedan BMW milik keluarga Willem yang baru dibeli beberapa bulan yang lalu masuk ke jalan yang sama. Berpapasan, tanpa Mama Willem tahu ada siapa di dalam taksi. Susi menunduk sedikit, untuk menghindari pandangan Mama Willem ataupun sopirnya. Lolos! Mereka tak dikenali. Taksi pun kembali berjalan perlahan, membelah Kota Jakarta dan kemacetannya yang semakin tak kenal waktu. Menuju rumah papa dan Mama Reni di Pantai Indah Kapuk.
***
Karena masih tanpa semangat mencari dokter lainnya di
Kumasuki ruang praktik Dr. Ng tanpa semangat, hanya senyum simpatiknya yang memberikan angin segar di antara semua keletihan ini.
“ How are you doing?” Tanyanya sumringah.
“ Fine, Doctor. Thanks.” Jawabku.
Kembali Dr. Ng menyarankan untuk scan ulang. Untuk setidaknya melihat efek obat yang sudah diberikannya sekitar dua bulan yang lalu. Aku mengangguk. Tanda setuju (atau malah pasrah karena tidak tahu apa yang harus kulakukan). Aku hanya menurut saja.
***
Mama Willem memasuki rumah dengan perlahan. Dilihatnya Si Mbok yang sudah ikut mereka selama dua puluh tahun berteriak panik di ruang tamu.
“
“ I…i…itu, Bu… Si Ijah dan Non Susi kabur.” Tukasnya.
“ Hah? Kabur? Cepat panggil sopir, siapkan mobil. Jangan-jangan taksi yang tadi papasan sama ibu di depan. Ayo, cepat!”
Mama Willem langsung masuk ke BMW silver milik keluarganya. Pak Sopir dengan sigap juga langsung berujar,
“ Ke mana, Bu?”
“ Ke mana, ya?” Mama Willem membatin. Tetapi, bisikan di hatinya mengatakan kalau kemungkinan Susi akan kembali ke rumah orang tuanya di PIK. Tak ada salahnya dicoba.
“ Pantai Indah Kapuk, rumah besan saya, Pak.” Jawabnya yakin.
***
Susi sempat berhenti sebentar untuk membeli air putih di sebuah mini market dekat rumahnya. Sudah memasuki daerah PIK juga. Namun, karena pemberhentian itulah, mereka jadinya lebih terlambat sampai ke rumah. Sementara BMW Silver Mama Willem dibawa sopirnya dengan kecepatan tinggi. Tak jauh dari Ruko Cordoba di PIK, mobil BMW dan taksi itu berpapasan. Persis kejadian di film-film ‘action’ di mana mobilnya menyalip taksi yang ditumpangi Susi.
“ Turun kamu!” Seru Mama Willem.
Susi hanya membuka jendela.
“ Buat apa saya turun? Lagian saya tidak salah, Mama yang telah menculik saya dan membekap saya di dalam rumah. Kalau memang Mama mau bicara baik-baik, saya mau dengarkan. Tetapi tidak di sini. Mama buka jalan, saya undang Mama ke rumah orang tua saya. Tetapi, kalau tujuan Mama masih juga melampiaskan dendam terhadap kematian Willem, mending Mama urungkan niat Mama karena dendam itu takkan ada habisnya, Ma.” Ucap Susi tegas tetapi pelan.
Mama Willem termenung. Dalam dirinya ada pergolakan. Sementara dia terdiam, Susi memberi aba-aba pada pengemudi taksi untuk putar balik dan ambil arah yang tak terhalangi. Lalu, tancap gas! Meninggalkan Mama Willem yang masih terbengong sejenak, lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Pengejaran dimulai lagi!
Bersambung…
HCMC, 21 Oktober 2010
-fon-
Tags: Cerber
Posted in Fonny Jodikin
Thank God I Found You Part 19
October 12th, 2010 Posted 1:45 pm
(Fonny Jodikin)
*** Episode: Jadi, Bagaimana?
Previously on Thank God I Found You part 18 (Episode: Jalan Kehidupan )…
Susi diculik oleh keluarga Willem yang merasa tidak terima dengan seluruh kejadian yang menimpa anak mereka. Bukan saja Susi meninggalkan Willem di Perancis saat mereka bulan madu, malah ketika Willem meninggal pun, Susi malahan tengah bersama Vic-pria yang baru ditemuinya di Singapura. Sebetulnya Susi pun menyesal atas kejadian yang menimpa Willem, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Dalam sekapan di rumah keluarga Willem, Susi dihadapkan pada kenyataan bahwa ia mungkin hamil. Siapakah ayah dari anaknya? Willem atau Vic?
Sementara bulan madu Vita dan Jason pun tidak berakhir baik, Vita tiba-tiba menderita sakit kepala yang luar biasa yang mengakibatkan dokter menganjurkannya untuk melakukan scan. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya? Simak di episode berikut ini…
Tags: Cerber
Posted in Fonny Jodikin

















