Posts Tagged Cerpen
Labya berilah Ratio waktu
August 23rd, 2010 Posted 9:50 am
(Rebbeca Kezia)
Di balik deru motor-motor yang menyalak satu sama lain, labya duduk dalam keheningannya sendiri. Tidak pernah dia begitu sulit memaafkan seperti hari ini. Walaupun telah pergi mengadu pada senja yang kini berlabuh, ia tidak menemukan suatu dorongan yang biasa didapatnya dalam perjalanan bersama senja. Ditariknya satu lagi batang putih, siap dihabisi. Dikulum dihisap ditelan racunnya. Ia bergumul dengan deru motor, sinar yang pergi perlahan dan asap yang berkabung di sekitarnya. Satu persatu lampu mulai menyala. Langit oranye peralahan bergradasi jadi biru yang gelap dan dalam. Yang selalu takut ia selami, sebab dalam gelap ia sulit untuk berenang.
Pikirannya mengambang. Di antara batas kesadaran logika dan kesakitan di dalam dada yang memantul-mantul tanpa ampun. Jika bukan karena dering telepon jahanam itu ia tidak perlu merasa begini bersalah. Dering telepon itu berbunyi di saat dimana ia harusnya paling bahagia. Kepul asap warnanya telah sama dengan pikirannya. Keruh. Ia tidak bisa memafkan dua hal hari ini. Dering telepon dan dirinya yang menjawab dering itu.
Tags: Cerpen
Posted in Rebbeca Kezia
Hapeku Tuhanku?
July 9th, 2010 Posted 9:54 am
(Albertus Goentoer Tjahjadi)
Namanya Joni. Pemuda tanggung anak Pak Wira. Juragan tempe di kampung Sedayu. Orangnya nyentrik dan ‘demen’ sekali dengan yang namanya hape. Setiap ada hape keluaran terbaru ia selalu buru-buru pengen memilikinya. Prinsipnya: aku harus memilikinya terlebih dahulu daripada orang lain, tidak peduli berapa pun harganya.
Kemana-mana, Joni selalu membawa hape kesayangannya yang berjumlah 3 buah. Satu dikalungkannya di leher dan dua lagi ditaruh di saku celananya. Setiap hari ia selalu berkutat dengan tombol-tombol hapenya. Entah menelepon, sms, cari-cari informasi, atau sekedar update status di sebuah situs jaringan sosial yang saat ini lagi digandrungi banyak orang. Tanpa itu semua, Joni merasa hidupnya kosong, sepi, lagi hampa.
Tags: Cerpen
Posted in Albertus Goentoer Tjahjadi
Taman Sore
July 4th, 2010 Posted 8:55 am
(Eko Bimantara)
Cinta itu tak terduga….
Ia dapat muncul dari balik layar penghias sepi…
Penerang dalam kabut selimut misteri…
Membuncah disela-sela hingar-bingar nuansa hati…
****
Willy berjalan sendiri di taman kota, tempat biasa ia meluangkan waktu untuk bernafas dalam liburan, melepas kepenatan hari-harinya. Taman itu hiburan untuknya, melihat orang-orang berwajah ceria lalu-lalang, tawa anak-anak kecil yang sedang berlarian, sapaan penjual pernak-pernik berwajah ramah, tempat minum teh dibawah teduh pohon rindang yang nyaman dan langit cerah dihiasi awan indah disertai sepoi angin sore yang melengkapi. Willy selalu ingin sendiri bila sesekali waktu seperti ini bisa menikmati semua itu.
Tags: Cerpen
Posted in Eko Bimantara
Sepotong Jari di Mulutku
June 4th, 2010 Posted 2:58 pm
(Puji Lestari)
Kami biasa bercanda di sore hari setelah semua kesibukan selesai dilakukan. Saling menggoda satu sama lain untuk melepas penat. Tetapi kadang-kadang cara bercanda kami kelewat batas. Misalnya sore itu, aku menggigit telinganya ketika kami sedang nonton tv bersama. Cuma bercanda. Tidak benar-benar digigit sebenarnya. Tapi tetap saja, dia berteriak-teriak ketakutan. Dan kami pun tertawa bersama-sama. Lain waktu, ketika aku sedang mengupas buah, aku menakuti-nakutinya dengan pisau yang kugenggam. Kuketuk-ketukkan di lantai mendekati jari-jari kakinya seakan hendak memotong jari-jari itu. Dan dia akan menjerit-jerit ketakutan. Kengerian yang diperlihatkannya justru membuatku senang dan tertawa terpingkal-pingkal.
Tags: Cerpen, Fiksi, Mimpi
Posted in Puji Lestari
Sebuah Rumah
June 1st, 2010 Posted 12:58 pm
Salah satu wanita muda di antara kumpulan orang itu, berkata kepada si pemilik rumah itu :
“Janganlah jual rumah ini, sebab banyak sejarah yang terkandung di dalamnya”
Tags: Cerpen
Posted in Nuning Soedibjo
HADIRMU..
May 27th, 2010 Posted 1:52 pm
(Verawati Cakrasenjaya)
Pertama kali aku menyadari kehadirannya pada saat dia berlari menghindari kejaran pemilik rumah no 1, dia terengah-engah dan mencari tempat perlindungan dengan panik.
Pada saat itulah, baru kusadari pesona kecantikan fisiknya yang begitu luar biasa. Mata hijau kekuningan yang bercahaya, muka abu-abunya yang dempak, ekor buntet, warna bulunya yang bernuansa abu kecoklatan, belum lagi dengan kaki rampingnya, semuanya membuat aku terpesona.
Mulai saat itu kemanapun dia pergi, selalu kuawasi dari jauh, aku tak yakin dia akan menyukaiku. Tapi semakin lama kuawasi semakin kuat cengkraman pesonanya atasku. Lenggoknya, caranya mengendap-ngendap ketika akan mengorek tempat sampah rumah no 1, atau ketika lari terbirit-birit dikejar anjing buas rumah no 1, semua, semuanya begitu mempesonakanku seolah tak ada lagi mahluk sepertinya.
Tags: Cerpen
Posted in Zheng Qiu Hui
Badut Kentut
May 25th, 2010 Posted 8:05 am
(Verawati Cakrasenjaya)
Seorang badut duduk di sudut sebuah pesta sambil terkentut-kentut. Dia duduk menyendiri sambil menatap pesta di hadapannya dengan pandangan ingin, tapi tak seorangpun yang mau mengajak Badut untuk ikut menikmati pesta.Malahan banyak orang yang dengan sengaja menjauhi dan pura-pura tak melihat. Badut bingung mengapa orang-orang tidak mau mendekati dia.
“Apa kentut saya terlalu bau? Apa boleh buat. Saya kentut kan karena perut saya gendut. Habis, mana ada sih badut yang perutnya kempes? Tapi perut gendut itu ada resikonya, ya itu dia, tidak bisa berhenti kentut.” Wajah murung si Badut menjadi semakin murung menyadari kondisinya yang jauh dari sempurna.
“Tapi kan saya sudah berakting selucu mungkin untuk menghibur orang, masa orang hanya dinilai dari kentutnya saja?”
Tags: Cerpen
Posted in Zheng Qiu Hui
SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
May 18th, 2010 Posted 1:54 pm
(Mercy Sitanggang)
Mata sudah mengantuk, guling sudah kulingkari, tapi mata tidak mau terpejam, badan seperti menolak meniduri kasur yang empuk ini. Aku terpelanting jatuh, dan kusadari aku sedang merokok di balkon depan kamar, asapnya aku butuhkan penyelaras gundah hati sejak semalam. Semua ini karena mata yang tidak janjian melihat pada seragam putih abu – abu yang masih tersimpan rapi di dalam almari, aku hanya melihat sebentar, lalu membiarkan lagi tergantung. Mulai sejak malam itu, pikiranku tidak pernah semata sudah mengantuk, guling sudah kulingkari, tapi mata tidak mau terpejam, badan seperti menolak meniduri kasur yang empuk ini.
Aku terpelanting jatuh, dan kusadari aku sedang merokok di balkon depan kamar, asapnya aku butuhkan penyelaras gundah hati sejak semalam. Semua ini karena mata yang tidak janjian melihat pada seragam putih abu – abu yang masih tersimpan rapi di dalam almari, aku hanya melihat sebentar, lalu membiarkan lagi tergantung. Mulai sejak malam itu, pikiranku tidak pernah selesai kembali pada masa abu – abu itu. harusnya tersenyum mengenang masa itu, tapi kenapa kecut bibirku ? kecut itu dinetralisir oleh batang rokokku yang sudah kesekian. Aku mengenang itu dan membiarkannya cair dalam ranah mimpiku.
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
DASI
May 14th, 2010 Posted 5:48 pm
(Mercy Sitanggang)
Muka saya merah. Itu karena, saya marah.
Menurut saya, sebagai seorang isteri, saya sudah mendekati angka sempurna, bukan hanya pintar pada urusan asmara di dalam bilik dua kali tiga milik kami berdua, dan gerakan badan saya setiap malam yang tanpa busana, tapi juga jago untuk urusan memanjakan lidah dengan segala masakan ciptaan saya. Seorang anak yang juga bertumbuh dengan baik dalam pola asuh saya, tidak ada yang kurang sedikitpun, malah berlebih kasih sayang.
Saya rela mengorbankan cita – cita dalam kepala, menanggalkannya dan menjadi seorang ibu rumah tangga.
Jadi, saat ini, saya protes keras.
Kalau citra saya yang sangat baik tersebut, menjadi luntur, hanya karena saya tidak bisa memakaikan suami saya… DASI..!!
Dan hebatnya lagi. Hanya karena hal itu, saya menerima talaknya. Bukan talak satu, melainkan langsung loncat pada angka tiga.
Saya marah, sangat marah..!! (more…)
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
CINTAKU BERAWAL DAN BERAKHIR DI UJUNG KETAPEL
May 13th, 2010 Posted 9:24 pm
(VINCENSIA NAIBAHO)
Dengan sigap, tangan kananku memetik buah mangga yang warnanya sudah kekuning-kuningan. Tangan yang satu lagi memegang ranting pohon yang lumayan besar supaya tidak jatuh ke bawah (iya iyalah, masa jatuh ke atas). Untung juga rimbun pohonnya, jadi aku bisa sembunyi di atas. Sebentar-sebentar kulihat ke bawah, siapa tahu pamanku yang pelit ruarrrr biasa itu lewat. Bisa ditempelengnya aku kalo ketahuan mencuri mangganya, tanpa peduli aku ini perempuan lemah yang tak pantas ditempeleng, tapi pantas dibelaiJ.
Kantong plastik hitam yang kuikatkan di pinggang celana pendek sudah penuh. Cukuplah kukira untuk bekal selama dua hari. Air liurku mendadak dangdut melihat mangga-mangga yang ranum itu. Karenanya, aku duduk di dahan dan mulai menggigit sebiji. Upss, tiba-tiba kulihat Ompung Jagur lewat sambil membawa cangkul. Pasti dia mau ke ladang. Matanya mendongak ke atas, melihat-lihat mangga yang bergelantungan. Behh, takut pula aku ditengoknya sedang wisata kuliner di atas. Bukan apa-apa, meski sudah bau tanah, Ompung Jagur ini punya mata yang kualitasnya pantas diacungin jempol. (more…)
Tags: Cerpen, Komedi
Posted in Vincensia Naibaho
Kau Canduku
May 13th, 2010 Posted 10:07 am
(Ika Devita S)
Aku suka melihatmu. Kau selalu tampak rupawan. Hari ini pun begitu. Harummu sangat khas. Tidak ada yang menggantikanmu. Wewangianmu bagaikan parfum langka. Orang lain tidak bisa menikmati rasamu. Hanya aku.
Banyak orang memaksa aku untuk putus denganmu. Mereka bilang kamu tidak baik. Menurutku tidak begitu. Kaulah yang selama ini selalu menemaniku. Saat aku susah, kau selalu ada untuk menenangkanku. Saat aku senang, kau selalu menambah senyum di bibirku. Saat kau mulai menemaniku, aku mulai bergairah untuk menyentuhmu. Saat kita bersentuhan, aku merasakan getaran yang menggelora.
Tags: Cerpen
Posted in Ika Devita S
Dalam Hujan Kujatuh Cinta
May 10th, 2010 Posted 10:16 pm
(Vincensia Naibaho)
Pukul satu dini hari.
Aku duduk di depan komputer dengan kedua tangan menopang pipiku. Tidak melakukan suatu apapun. Aku hanya duduk dan memandangi komputer yang tidak sedang menyala. Di luar masih terdengar tetes-tetes air hujan yang semakin lama semakin jarang
Tiba-tiba saja aku takut kehilangan tetes-tetes hujan itu. Segera kubuka jendela kamar dan hawa dingin segera menyergap wajahku. Kuamati tetes-tetes hujan yang jatuh ke tanah yang sudah tergenang. Satu…dua…tiga…empat…ada 24 kali tetes hujan jatuh dalam satu menit yang kemudian bergabung dalam genangan air di tanah. Dan
mungkin dalam setengah jam ke depan, tak akan ada lagi tetes hujan.
Ahh, aku mendesah. Aku sangat mencintai hujan dan selalu berharap hujan. Aku menikmati setiap panah-panah hujan membasahi sekujur tubuhku, menikmati suasana diam yang ditimbulkan hujan, dan menunggu dingin yang menyertainya. Dan utamanya, aku merindukan hujan karena dia selalu mengingatkanku pada dirimu. (more…)
Tags: Cerpen
Posted in Vincensia Naibaho
ROKOK
May 10th, 2010 Posted 12:46 am
(Mercy Sitanggang)
Berawal dari kelingking dan berakhir dengan kelingking juga.
Tergesa – gesa aku berlari masuk kamar mandi, menutup pintunya dengan tidak sopan, aku yakin pintu itu menaruh dendam padaku, tapi untuk sekali ini, biarkan aku dengan ketidaksopananku yang lainnya lagi ini, membuang teriakan di sana, dan membuka keran menghambur – hamburkan air yang bayaran setiap bulannya juga semakin mencekik leher. Keresahan ini hanya bisa selesai dengan sebatang rokok terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahku, tidak butuh waktu terlalu lama, hanya untuk membuat ruang ini berasap, aku merokok bagai kereta, lepas satu digantikan dengan batang berikutnya, dan puntung itu berserakan di lantai, hancur berantakan di sapu air yang masih terus mengalir, bentuk ketidaksopananku yang lainnya.
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
Pacarku Kurus Kering
May 8th, 2010 Posted 1:14 am
( MERCY SITANGGANG )
“ Sayang, udah minum vitaminnya ? “
“ Sayang, udah makan berapa kali hari ini ?”
“ Sayang, plis jangan begadang…!! “
Sementara cowok di seberang telpon hanya menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sekenanya, alias cuek.
“ Belum… vitaminnya ketinggalan di kamar.. “
“ Makan seperti biasanya… “
“ Tidak bisa. Penerbit menunggu ceritaku minggu ini.. “
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
seribu satu kerusakan,Tuan
May 6th, 2010 Posted 11:38 am
(Rebbeca Kezia)
Menagapa harus kau paksakan seutas senyum yang kau tahu akan diputuskannya, wanita. Tapi wanita itu enggan menjawab, dan terus ia kenakan seutas senyum di bawah hidungnya yang runcing. Dengan seutas senyuman itu ia tak malu memamerkan memar di tubuhnya, seolah memar-memar itu akan dipandang mereka sebagai tato mungkin. Ia kenakan seutas senyum lalu berjalan keluar. Di bawah sinar matahari yang terik, garis-garis seutas senyum itu makin tebal terlihat. Ia berjalan dengan pongahnya, walaupun sekujur tubuhnya sakit bukan main. Seolah senyum itu telah melindunginya dari rasa sakit dan membendung seluruh keinginannya untuk menangis. Kau kesakitan bukan, wanita. Tapi seperti yang telah lalu, wanita itu lebih suka menyimpan pahitnya di balik seutas senyum.
Tags: Cerpen
Posted in Rebbeca Kezia












