Posts Tagged Cerpen

* * PULBAR ( pelupa berat ) * *

No Comments »

March 9th, 2010 Posted 2:32 pm

(Sri Wahyuni)

Menunggu memang hal yang paling membosankan. Kenapa bekecot satu ini gak pernah bisa on-time sih..!!! aku udah abis air putih lima gelas juga. Lihat aja nanti, kalo udah sampe. Gue bikin perkedel gulung. Biar tahu rasa, emang enak apa disuruh nunggu. Janjian jam tiga, jam tujuh belom nongol juga!!! Mana mbak waitress lihatin gue mulu lagi. Dari tadi Cuma pesen air putih sama kentang goreng. Lisma yang sedang nunggu sahabat karibnya. Sahabat yang hobi ngaret, dan sedikit tulalit. Tapi apa mau dikata biar tukang ngaret, dan tulalit berat. Rasa solidaritas ke Lisma sangat tinggi.

“ Lisma…….???” Tanya seorang cowok. Yang berdiri di depan meja lisma.

(more…)

Tags:
Posted in Sri Wahyuni

Perpisahan di Sore Itu

No Comments »

March 4th, 2010 Posted 8:41 pm

(Puji Lestari)

Sore itu terasa lebih sepi dari biasanya. Matahari serasa tenggelam lebih cepat. Lampu neon kami mendadak tak menyala terang. Suasana redup seperti hati kami berdua. Kami lantas memutuskan untuk duduk di teras saja. Keputusan yang diambil tanpa sepatah kata pun. Hanya bahasa tubuh kami menggambarkan keinginan itu.

Kami duduk berjauhan. Masing-masing menghadap ke arah yang berbeda. Diam tanpa kata, mencoba menyelami hati masing-masing yang galau. Ternyata duduk di teras dan menunggu malam yang hampir turun tak juga mengusir mendung di hati kami.

Kurang lebih tiga puluh menit berselang, nyamuk-nyamuk mulai berdatangan. Suaranya berdenging di atas kepala. Beberapa menghisap darah kami dengan rakus, tapi kami tak menghiraukannya. Malam mulai menjamah dengan hitamnya yang pekat. Aku tak bisa lagi memandang wajahnya dengan jelas dan dia juga tak bisa memandang wajahku. Maka kupikir inilah saat yang tepat untuk mencurahkan hatiku yang remuk redam. Air mataku mengalir seperti air bah. Benteng pertahananku runtuh seketika.

(more…)

Tags: ,
Posted in Puji Lestari

Bunga

3 Comments »

March 4th, 2010 Posted 1:50 pm

Bunga itu tertunduk layu pada potnya. Warnanya mulai memudar. Helai-helai daunnya tampak kering, beberapa bahkan sudah tanggal dari tangkainya.

Pot itu kini teronggok di pojok, hampir tak terlihat dan tak mencolok. Pot baru yang berisi bunga segar nan cantik berseri berdiri riang menggantikan posisi kesayangan sang majikan di ambang jendela kamarnya.

Bentuknya yang mutakhir, warnanya yang cemerlang, sampai pada potnya yang tampak bersih mengkilap kelihatan pantas bertengger di sana. Sang majikan tak pernah lalai menyiraminya dengan air yang menyejukkan dan memberinya pupuk yang menyehatkan dan kian menonjolkan kecantikan si bunga baru.

Seandainya bunga bisa menangis, ia akan menangis. Meratapi kesederhanaan dirinya, meratapi kenangan yang seolah tak bernilai bagi sang majikan, dan meratapi kematiannya yang kian mendekat dan tak dapat ditampiknya.

Dia berjuang semampu dia bisa. Dicobanya untuk memancarkan sisa-sisa warnanya. Dicobanya untuk menghisap apa yang bisa didapatnya dari tanah kering yang ditempatinya. Dicobanya untuk menebarkan keharumannya meski hal itu akan menghabiskan seluruh tenaganya.

Sang majikan pun tak tega untuk membuangnya. Bunga kecil yang diperolehnya saat ia masih belum mempunyai apa-apa. Bunga kecil yang selalu ada di sana walaupun tidak membanggakan dan terkadang merepotkan. Mungkin itulah sebabnya sampai kini ia masih menaruhnya di pojok yang berdebu, meski sebisa mungkin tak dipandangnya.

Pagi itu, setelah melalui satu lagi malam yang begitu gelap dan membekukan, seperti biasa si bunga kecil berusaha mengangkat wajahnya untuk melihat sekilas bayangan sang majikan yang selalu membuka jendelanya di pagi hari.

Tak seperti biasanya, pagi itu embun terasa begitu menyejukkan. Tak seperti biasanya pula, pagi itu semua gerakan terasa begitu mudah. Si bunga kecil bisa mengangkat wajahnya, mengembangkan daun-daunnya, meliukkan batangnya.

Betapa cerahnya mentari bersinar pagi ini. Betapa ringan tubuhnya. Betapa cantiknya dirinya. Begitu ringan sehingga ia merasa dapat melayang. Dikembangkannya daun-daunnya yang lebat dan segar. Ditengadahkannya wajahnya yang berseri dan cemerlang kea rah matahari, dan ia pun terbang. Semakin tinggi ke angkasa, meninggalkan pot yang selama ini menjadi rumahnya. Meninggalkan semua cinta dan kepedihannya menuju sepasang tangan yang terbuka dan seraut wajah yang tersenyum menyambutnya pulang.

Tak dilihatnya lagi apabila sang majikan menghela napas lega memandang sisa-sisa tubuhnya yang telah tak bernyawa dan menyingkirkannya dengan segera. Tak dilihatnya pula apabila sang majikan menangis dan merindukan kenangan bersamanya.

Kini hanya kedamaian yang dirasakannya. Tak ada duka, tak ada kesakitan, tak ada penyesalan.
Untuk semua bunga yang terluka…
Untuk semua bunga yang telah memudar…
Untuk semua bunga yang berjuang…

Tags:
Posted in San San Tjahaya

Andai Dia Tahu

2 Comments »

March 1st, 2010 Posted 5:11 pm

(Imelda Wijaya)

Dua anak manusia itu duduk berdampingan. Memandang kejauhan tak saling bicara. Suara debur ombak yang memecah pantai, tidak lagi terdengar indah di telinga. Angin laut lembut membelai wajah, pasir putih di sela jemari … tak ada yang sanggup menarik perhatian mereka. Senja itu terasa panjang nyaris abadi. Sesekali Bayu menengok Agni. Banyak kata yang ingin terucap tapi hanya tersekat di tenggorokan.

Kata-kata Agni masih terngiang di telinganya,”Aku harus pergi jauh dari sini. Mungkin kita takkan bertemu lagi.” Kata itu singkat, tapi bermakna sangat dalam. Bukan itu yang ingin didengar dari mulut makhluk indah yang disayanginya itu.

(more...)

Tags:
Posted in Imelda Wijaya

BERSAMA DIA

No Comments »

February 28th, 2010 Posted 11:07 am

(Irene Wibowo)
Dia : “ Apa yang kau pikirkan?”
Aku: “ Tidak. Tidak ada.”

Keesokan harinya,
Dia : “ Kau terlihat bingung, ada apa?”
Aku: “ Tidak. Aku tidak apa-apa.”

Empat hari kemudian,
Dia : “ Kau tidak apa-apa?”
AKu: “ Tidak. Aku baik-baik saja.” (more…)

Tags:
Posted in Irene Wibowo

SI SEMUT

No Comments »

February 27th, 2010 Posted 7:27 pm

(Irene Wibowo)
Bernama si merah dan si hitam.
Dia hidup di tanah, dan dia suka manis , bukan tepatnya suka pada makanan.
Ketika serpihan jatuh kelantai, mereka berkumpul dan mengelilingi serpihan itu.
Terkadang tidak peduli bagaimana rasanya.
Mereka menyebalkan ketika mereka berkumpul dan terlihat menjijikan.
Anehnya, mereka bisa menjadi guru yang baik.
Pertama, mereka selalu terlihat saling membantu,untuk membawa serpihan makanan ke dalam sarangnya.
Lalu mereka terlihat selalu bersama-sama dan tidak pernah berkelompok
Berakhir pada cinta kasih mereka yang tidak terlihat.
Anehnya, semua itu diajarkan oleh sekerumunan mahkluk kecil,
Kepada mahkluk besar yang bisa membunuhnya dengan mudah,
bila mereka menganggu.

Tags:
Posted in Irene Wibowo

MELAHIRKAN

No Comments »

February 26th, 2010 Posted 10:20 pm

(Irene Wibowo)

“ Kau sudah siap? ”
Bagaimana aku bisa siap?
“ Silakan duduk.”
Baiklah. Ini saatnya untuk tenang. Aku pasti bisa!
15 menit kemudian,
Lama sekali. Aduh,bagaimana ini? Jadi takut, Tuhan beri aku kekuatan.
30 menit kemudian,
Sudah segini lama? Mana dia? Aduh aku jadi tidak tenang. Bagaimana kalau aku tiba-tiba… tidak! Tidak akan terjadi!
“ Selamat siang. Saya Josef yang akan menangani anda.”
Okay. Sekarang tenang. Saatnya akan dimulai.
“ Silakan tunggu sebentar, lalu kita mulai.”
Tunggu lagi?? Apakah harus menunggu terus?
Dia lupa aku akan melahirkan ya?
Bagaimana bila akhirnya dia tidak mau keluar?

(hanya fiksi)

Tags:
Posted in Irene Wibowo

Bad Day (1)

No Comments »

February 26th, 2010 Posted 10:16 pm

(Martha Liumei)

Pulang ..gak..pulang..gak..pulang gak ya ? Kutatap langit – langit kamar kos ku yang sempit , berharap akan mendapat jawaban di sana. Ada keinginan untuk pulang, tapi aku malu karena baru seminggu yang lalu aku pulang kampung. Udah besar kok masih kolokan..pasti akan muncul kata – kata seperti itu dari mama. Pikiran iseng ku muncul,  kukeluarkan uang logam 500 rupiah yang ada di dompetku. Uang logam ini akan membantuku untuk ambil keputusan antara pulang dan tidak. Aku akan melemparkan koin itu dan jika gambar garuda yang di atas, berarti aku pulang. Tuing….plok…koin yang kulempar tadi , kini jatuh tepat di depanku. Segera kulihat sisi atas dari koin itu dan kudapati gambar burung garuda. Itu artinya besok aku pulang, hore… (more…)

Tags:
Posted in Martha Liumei

Ulang Taon

2 Comments »

February 25th, 2010 Posted 11:00 pm

(fransyustiana)

“Woi bro, met ulang taon ye.”

“Thanks deh.”
“Kenapa gak semangat gitu lo? Ulang taon seharusnya hepi bro. Kemana kita ntar?”

“Kemana kita gimana maksud lo?”

“Ah jangan belagak pilon deh. Lo mau traktir gue dimana? Di Balsem juga boleh.”

Aku menghela nafas dalam-dalam. Sepanjang hari ini sepertinya aku terpaksa harus bersabar menanggapi teman-temanku yang taunya dan maunya hanya makan gratis.

(more…)

Tags: ,
Posted in Ferni Yustiana

SELIMUT HIJAU

No Comments »

February 25th, 2010 Posted 2:01 pm

(Irene Wibowo)

Di sebuah kamar yang sempit pada malam yang dingin :

“ Apakah kau kedinginan?”

“ Em, sedikit.”

“ Aku ambilkan selimut hijau kesayanganmu.”

“ Kakak, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, sebelum kau mengambilkan selimut untukku.”

“ Ada apa Emma?”

“ Aku sayang kakak. Maafkan aku kalau aku harus sakit keras seperti ini dan menyusahkan dirimu.”

“ Apa maksudmu Emma? Kau tidak menyusahkan aku.”

“ Aku membuatmu membelikan selimut hijau yang mahal itu untukku. Karena aku sakit. Itu telah menguras penghasilmu.”

“ Tidak. Jangan katakana itu Mili. Kau adik kecilku yang aku sayang. Dan aku tidak merasa susah hanya karena membelikanmu selimut hijau yang sangat kau sukai itu.”

“ Terima kasih kakak. Karena kau sudah menghangatkanku sejak kepergian kedua orang tua kita.”

“ Aku ambilkan selimut untukmu dulu ya.”

Bebaring dengan selimut hijau, mengingatkan aku pada cinta yang selama ini aku rindukan. Cinta yang membuat aku bertemu dengan dunia ini dan mengenal kakakku. Dia menghangatkanku dan menemaniku meski aku menangis, aku tersenyum, aku tertawa. Terima kasih selimut hijau kau memberikan ketenangan padaku sekarang. Dan jagalah kakakku, karena aku harus pergi sekarang.

-love mili-

Tags:
Posted in Irene Wibowo

TOKO BUKU

No Comments »

February 25th, 2010 Posted 2:01 pm

(Irene Wibowo)

Ada. Akhirnya ada.Ya, memang ada.
Nama, benar.
Judul, benar.
Akhirnya. Tidak aku sangka. Aku berhasil.
Dulu, ingin.
Sekarang, ada.
Hey, tapi kenapa masih banyak? Apa tidak laku?
Ah, ada yang lihat. Ayo beli, beli, beli.
No… no… no…
Tenang, dia tersenyum. Berati dia akan beli.
1jam kemudian.
Dia baca disini. Apa harganya terlalu mahal?
Tidak… tidak… Jangan pergi!
Sudahlah, tak apa. Baca gratis, dia terlihat senang.
Apa mungkin dia seperti aku dulu?
Semoga bisa memberikan inspirasi seperti buku yang dulu.
Tidak sia-sia berada di sini 1 jam.
Saatnya mencari inspirasi lainnya dan melanjutkan perjalanan yang baru saja dimulai.
Harus semangat!

PS : ini hanya fiksi…^^

Tags:
Posted in Irene Wibowo

LAGU RINDU

No Comments »

February 24th, 2010 Posted 9:24 pm

(Irene Wibowo)

Ini untuk orang yang aku sayangi,
Terima kasih karena lagu rindu ini, kau buat aku mengerti hidup sesungguhnya.
Kau buat aku hidup di dalam dunia ini.
Terkadang aku tidak ingin dilahirkan, apalagi melalui dirimu.
Tetapi sekarang aku mengerti, ketika kau pergi, aku merindukanmu.
Tidak, bermula dari kepergianku, aku sudah merindukanmu.
Kau membuat aku mengerti sekarang, mengapa kau marah waktu itu.
Dan seharusnya aku tidak lari.
Maafkan aku. Lagu rindu ini terlalu membuatku rindu padamu.
Maafkan aku. Air mataku ini tidak lagi dapat aku tahan.
Aku sayang padamu. Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan kehadiranmu sewaktu kau hidup.
Aku sungguh rindu padamu.
Love your daughter,
Reni Hindriawan

Tags:
Posted in Irene Wibowo

februari, ruang hampa udara

Comments Off

February 24th, 2010 Posted 8:39 am

(Rebecca Kezia)

Aima menengadah ke langit, menatap pemandangan kesukaannya terbentang di atas. Menyaksikan kebesaran dari sebuah hidup yang tak pernah ia bayangkan. Sebuah misteri yang bergulung di dalam hidup seperti awan-awan yang menyelimuti langit kesukaannya.

Tubuh kaku ayahnya telah turun ke bawah tanah, ditimbun rapi oleh tumpukan tanah merah. Menjadi basah dan lumer kemana-mana. Dan Aima masih berdiri di sana. Kakinya telah penuh oleh lumpur yang menggenang di sekitar. Sementara rombongan simpatisan telah menjauh dari pemakaman ayahnya. Ia menghela nafas menikmati langit senja yang mencair bersama hujan menghantar pergi ayahnya ke pembaringan terakir.

(more…)

Tags:
Posted in Rebbeca Kezia

Perjalanan Pulang

No Comments »

February 23rd, 2010 Posted 9:47 pm

(Levina Widyarsa)

“Parah…Kacau ni anak !”, gerutu Ben dalam hati. Dinginnya pagi tak mempengaruhi suasana hatinya yang sudah panas. Ditatapnya HP dalam genggaman tangannya. Kemarin malam ia mengirimkan SMS kepada adiknya untuk mengajaknya beribadah hari Minggu ini. Kosong, tidak ada tanggapan hingga pagi berikutnya menjelang. Dan tidak ada tanda-tanda SMS balasan dikirim semalam.

“Biarlah. Aku jemput saja ke kosnya.” Pikir Ben sambil bangkit menuju kamar mandi.

Di bawah dinginnya guyuran air, Ben mulai bisa berpikir. Benaknya berjalan mundur, memandangi peristiwa-peristiwa dan percakapan-percakapan yg pernah terjalin antara dia dan adik semata wayangnya. Teringat setiap pagi yang ia alami ketika ia menjemput adiknya di kos.

(more…)

Tags: , ,
Posted in Levina Widyarsa

Rasanya

No Comments »

February 23rd, 2010 Posted 2:19 pm

(Irene Wibowo)

Apa yang aku pikirkan?

Mungkin, bagaimana rasanya menjadi sebuah harapan.

Apa yang aku inginkan?

Mungkin, ingin mencoba rasanya melihat sebuah kenyataan.

Apa yang aku tanyakan lagi?

Mungkin, seperti inikah rasanya?

(more…)

Tags:
Posted in Irene Wibowo

←Older