Posts Tagged Cerpen
Sebuah Rumah
June 1st, 2010 Posted 12:58 pm
Salah satu wanita muda di antara kumpulan orang itu, berkata kepada si pemilik rumah itu :
“Janganlah jual rumah ini, sebab banyak sejarah yang terkandung di dalamnya”
Tags: Cerpen
Posted in Nuning Soedibjo
HADIRMU..
May 27th, 2010 Posted 1:52 pm
(Verawati Cakrasenjaya)
Pertama kali aku menyadari kehadirannya pada saat dia berlari menghindari kejaran pemilik rumah no 1, dia terengah-engah dan mencari tempat perlindungan dengan panik.
Pada saat itulah, baru kusadari pesona kecantikan fisiknya yang begitu luar biasa. Mata hijau kekuningan yang bercahaya, muka abu-abunya yang dempak, ekor buntet, warna bulunya yang bernuansa abu kecoklatan, belum lagi dengan kaki rampingnya, semuanya membuat aku terpesona.
Mulai saat itu kemanapun dia pergi, selalu kuawasi dari jauh, aku tak yakin dia akan menyukaiku. Tapi semakin lama kuawasi semakin kuat cengkraman pesonanya atasku. Lenggoknya, caranya mengendap-ngendap ketika akan mengorek tempat sampah rumah no 1, atau ketika lari terbirit-birit dikejar anjing buas rumah no 1, semua, semuanya begitu mempesonakanku seolah tak ada lagi mahluk sepertinya.
Tags: Cerpen
Posted in Zheng Qiu Hui
Badut Kentut
May 25th, 2010 Posted 8:05 am
(Verawati Cakrasenjaya)
Seorang badut duduk di sudut sebuah pesta sambil terkentut-kentut. Dia duduk menyendiri sambil menatap pesta di hadapannya dengan pandangan ingin, tapi tak seorangpun yang mau mengajak Badut untuk ikut menikmati pesta.Malahan banyak orang yang dengan sengaja menjauhi dan pura-pura tak melihat. Badut bingung mengapa orang-orang tidak mau mendekati dia.
“Apa kentut saya terlalu bau? Apa boleh buat. Saya kentut kan karena perut saya gendut. Habis, mana ada sih badut yang perutnya kempes? Tapi perut gendut itu ada resikonya, ya itu dia, tidak bisa berhenti kentut.” Wajah murung si Badut menjadi semakin murung menyadari kondisinya yang jauh dari sempurna.
“Tapi kan saya sudah berakting selucu mungkin untuk menghibur orang, masa orang hanya dinilai dari kentutnya saja?”
Tags: Cerpen
Posted in Zheng Qiu Hui
SEPOTONG JANJI DI WARNA ABU – ABU
May 18th, 2010 Posted 1:54 pm
(Mercy Sitanggang)
Mata sudah mengantuk, guling sudah kulingkari, tapi mata tidak mau terpejam, badan seperti menolak meniduri kasur yang empuk ini. Aku terpelanting jatuh, dan kusadari aku sedang merokok di balkon depan kamar, asapnya aku butuhkan penyelaras gundah hati sejak semalam. Semua ini karena mata yang tidak janjian melihat pada seragam putih abu – abu yang masih tersimpan rapi di dalam almari, aku hanya melihat sebentar, lalu membiarkan lagi tergantung. Mulai sejak malam itu, pikiranku tidak pernah semata sudah mengantuk, guling sudah kulingkari, tapi mata tidak mau terpejam, badan seperti menolak meniduri kasur yang empuk ini.
Aku terpelanting jatuh, dan kusadari aku sedang merokok di balkon depan kamar, asapnya aku butuhkan penyelaras gundah hati sejak semalam. Semua ini karena mata yang tidak janjian melihat pada seragam putih abu – abu yang masih tersimpan rapi di dalam almari, aku hanya melihat sebentar, lalu membiarkan lagi tergantung. Mulai sejak malam itu, pikiranku tidak pernah selesai kembali pada masa abu – abu itu. harusnya tersenyum mengenang masa itu, tapi kenapa kecut bibirku ? kecut itu dinetralisir oleh batang rokokku yang sudah kesekian. Aku mengenang itu dan membiarkannya cair dalam ranah mimpiku.
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang
DASI
May 14th, 2010 Posted 5:48 pm
(Mercy Sitanggang)
Muka saya merah. Itu karena, saya marah.
Menurut saya, sebagai seorang isteri, saya sudah mendekati angka sempurna, bukan hanya pintar pada urusan asmara di dalam bilik dua kali tiga milik kami berdua, dan gerakan badan saya setiap malam yang tanpa busana, tapi juga jago untuk urusan memanjakan lidah dengan segala masakan ciptaan saya. Seorang anak yang juga bertumbuh dengan baik dalam pola asuh saya, tidak ada yang kurang sedikitpun, malah berlebih kasih sayang.
Saya rela mengorbankan cita – cita dalam kepala, menanggalkannya dan menjadi seorang ibu rumah tangga.
Jadi, saat ini, saya protes keras.
Kalau citra saya yang sangat baik tersebut, menjadi luntur, hanya karena saya tidak bisa memakaikan suami saya… DASI..!!
Dan hebatnya lagi. Hanya karena hal itu, saya menerima talaknya. Bukan talak satu, melainkan langsung loncat pada angka tiga.
Saya marah, sangat marah..!! (more…)
Tags: Cerpen
Posted in Mercy Sitanggang












