Posts Tagged Fiksi

Galau

No Comments »

February 14th, 2011 Posted 9:22 pm

Mungkin ini jawaban atas rasa gelisahku selama dua hari ini. Lagi-lagi , kata-kata yang menyindir keluar dari mulutnya. Kata-kata Bodoh, tidak punya otak dan sebagainya keluar lancar dari bibirnya. Sebuah kesalahan atau kesalahpahaman dari pekerjaan dibalas dengan kata-kata yang didengarnya mungkin akan sakit hati atau menangis.

Tetapi tidak denganku, kata-kata makiannya sudah kebal ditelingaku. Setiap kesalahan kerja yang aku perbuat, seribu kata-kata menyudutkan dan semakin menekanku. “Hmm.. padahal aku hanya ingin memintanya untuk berdiskusi atau minta solusi darinya sebagai pimpinan. Kenapa seperti ini lagi yang aku dapati?”

Tidak pernah benar dihadapannya. Sampai aku berfikir , mungkin dia ingin memecatku dari pekerjaan ini karena menurutnya aku ini sudah seenaknya menjalankan tugas dan tidak bisa koordinasi dengan bagian lain terutama dengannya. Dari hasil beberapa orang yang saya tangkap dari percakapan mereka, bahwa pimpinan ini sedang menghadapi masalah. Jika demikian , mengapa aku yang menjadi luapan emosinya? Kadang, bukan kadang, tetapi seringkali aku mengeluh dalam hati bahkan sampai menangis jika sampai dirumah.

Berbagai pikiran muncul menghantuiku, mengerebungiku dan tidak mau pergi. Setiap kali kata-katanya menghujam sampai ke hatiku , pikiran buruk itu muncul. Aku tak pantas lah, aku memang bodohlah, aku memang tak punya otak, aku memang bersalah. Rasanya aku ingin membalas kata-katanya yang menyakitiku itu. Tetapi, aku hanya bisa menahannya sendiri, lelah pikiran ini rasanya. Aku menyakini setiap hal terjadi seperti ini membuat umurku berkurang dan bahkan mempercepat kematianku.

Aku ingin mencari pekerjaan baru tetapi sudah lelah mencari. Mungkin ingin buka usaha saja dengan waktu dirumah yang lebih banyak, pertimbangan saja. Sering terlintas keinginan seperti itu , jika emosi ku sudah berlebihan akibat omelan yang bertubi-tubi menghampiriku. Lelah pikiranku, sudah cukup pekik hatiku! aku memang lemah, bicarapun rasanya sudah tidak sanggup. Aku memang tidak pandai bicara ataupun mencari muka untuk menyelamatkan diri. Apa yang ku kerjakan itu yang aku katakan , mungkin karena apa adanya aku bicara , hal itu kurang diterima , tetapi mengapa kepada yang lain tidak? Hmm… entahlah, apa mungkin aku memang sudah tidak berkenan dihatinya. Atau begitu melihatku entah apa yang terlintas dipikirannya dan langsung emosinya memuncak. Sedih..

Harus bagaimana untuk bekerja sebenarnya? Aku hanya ingin bekerja sebaiknya dan tidak mau juga dikatakan seenaknya karena aku tahu peraturan pekerjaan serta harus bagaimana bersikap. Aku menjadi ragu untuk mengadu jika hendak meminta pendapat kepadanya lagi karena akan muncul berbagai pertanyaan dan jika aku jawab sebenarnya hanya omelan yang aku terima.. Entahnya berapa lama lagi aku bertahan , sesanggupnya aku bekerja mungkin. Kuatkanlah aku ya Maha Baik semampunya aku menjalankan tugasku sampai batas kemampuanku.

Tags:
Posted in Veronica Setiawati

Mantan pacar

No Comments »

January 11th, 2011 Posted 9:36 pm

Suara meongan kucing yang gak jelas yang aku jadikan ringtone hapeku – melengking tanpa ampun dan menyeretku dari lamunan yang gak jelas juga siang itu.

Istriku.

“Mas, aku boleh gak – ikut jadi panitia reuni SMA?” Aku mendengar suara – suara agak berisik di latar belakangnya. Apakah istriku lagi di pasar?

“Ikut aja. Siapa tahu ada teman-teman lamamu yang bisa diajak ngembangin bisnis. Ngomong-ngomong, kamu lagi di mana?”  Aku bergegas bangun menuju kulkas di kamar hotel itu. Haus ….

“Lagi di Dapur Sunda. Diajak makan siang sama mereka. Tapi salah satu panitianya adalah mantanku. Gpp?”

Tanganku yang sedang meraih botol minuman langsung terhenti. Mantan?

“Mantanmu yang mana?” Setahuku, pada waktu SMA pacarnya cukup banyak.

Aku mengurungkan niat untuk mengambil minuman dan langsung menuju jendela kamar. Aku memandang keluar. Dari lantai 15 hotel ini, kota Jakarta siang itu terlihat cerah. Mungkin secerah hatiku.

“Mantan waktu SMAlah. Itu …. yang anak band. Sekarang sih dia sudah nikah. Gimana? Boleh?” Aku mendengar suara tertawa ramai. Mungkin teman-temannya.

Aku tidak langsung menjawab. Aku berdiri dan meraih handuk di atas kursi.

“Kok diam? Kamu keberatan?” Ah mulai kapan aku keberatan dengan apa yang dilakukannya?

“Bukan. Bukan ga’ boleh. Atau keberatan. Hanya saja – menurutku, kalau salah satu panitia adalah mantan pacar kamu – takutnya nanti setelah reunian, lalu janjian ketemu. Lalu janjian makan. Lalu … lalu …. “

“Ya enggaklah.” istriku memotong cepat. “Gila kali. Tapi kalau memang menurut kamu gitu, ya sudah. Aku anggap kamu gak mengijinkan aku jadi panitia.”

Aku tidak menjawab. Kurebahkan badanku dan memandang langit-langit kamar. Ada cecak yang berlari mengejar sesuatu. Nyamuk? Entahlah.

“Tapi aku masih boleh datang ke acara reuninya kan? Kamu mau ikut kan?”

Aku tidak sempat menjawab pertanyaan istriku.

Pintu kamar mandi terbuka. Anita -? mantan pacar yang kutemui pada acara reuni sekolah yang diadakan bulan kemarin - ?? keluar dengan rambut basah dengan hanya berbalut handuk.


Filed under: fiksi Tagged: belajar menulis, postaday2011

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Serial Tina : “ajari aku jatuh cinta lagi , Rik.”

No Comments »

November 6th, 2010 Posted 11:10 pm

(Veronica Setiawati)

Tina memandangi hasil foto-foto yang ada dikameranya. Kadang-kadang ia tersenyum simpul melihat hasil dari foto-foto tersebut. Ketika ia melihat sebuah foto yang ia ambil secara diam-diam , yakni sepasang kekasih atau suami istri pengantin baru yang melintasi tepi pantai. Hatinya terenyuh, Tina mengingat Ardy. “I miss u , Ardy” gunggam Tina. Tak terasa , air mata membasahi pipinya yang bulat seperti bakpau itu.

(more…)

Tags:
Posted in Veronica Setiawati

potongan novel (dalam rencana), mudah – mudahan siap

No Comments »

June 22nd, 2010 Posted 10:01 pm

huaaaaa….lama ga maen kemari…Don’t be panik..yaaa…

ini catatan lamaaaa banget, bulan satu duluuu. rencananya memang mau dijadiin novel , tapi ga sabar nyiapinnya, so waktu itu langsung dipost di multiply saya… n biar tetap update di yuknulis (nyadar udah lama ga kemari—-> bukan anak kos yang baik, maaf ya ibu kos)ya untuk sementara silakan baca dulu ya…
demi agenda akhir tahun yang harus segera dikelarkan, mau ga mau harus mengurangi ruang gerak di sini,di blog pribadi, de el el.. POKOKNYA TAHUN INI HARUS SIDANG!!!!!
mohon do’anya yaaaaa….
*kepala makin pusing*
——

pagi masih sisipkan rindu
juntaikan klise lama dalam sepotong kelu
dan langitpun tak lupa tawarkan sendu
:berbait – bait rindu

senja, entah berapa kali kukirimkan abjad istimewa oleh – oleh kampus kita dan tak ada satupun respon darimu. kuanggap kau masih terlalu sibuk untuk sekedar mengklik alamat emailmu sendiri.

senja, hilir mudik debu yang terikat angin masih bersisa dikampus kita, masih sama lintasi trotoar kecil diposisi parkiran depan. dan kemarin dua sosok perdana duduk lagi disana, hiasi penantian petinggi kampus dengan kudapan – kudapan ringan.

(more…)

Tags: ,
Posted in Shafira Sulaiman

Sepotong Jari di Mulutku

4 Comments »

June 4th, 2010 Posted 2:58 pm

(Puji Lestari)

Kami biasa bercanda di sore hari setelah semua kesibukan selesai dilakukan. Saling menggoda satu sama lain untuk melepas penat. Tetapi kadang-kadang cara bercanda kami kelewat batas. Misalnya sore itu, aku menggigit telinganya ketika kami sedang nonton tv bersama. Cuma bercanda. Tidak benar-benar digigit sebenarnya. Tapi tetap saja, dia berteriak-teriak ketakutan. Dan kami pun tertawa bersama-sama. Lain waktu, ketika aku sedang mengupas buah, aku menakuti-nakutinya dengan pisau yang kugenggam. Kuketuk-ketukkan di lantai mendekati jari-jari kakinya seakan hendak memotong jari-jari itu. Dan dia akan menjerit-jerit ketakutan. Kengerian yang diperlihatkannya justru membuatku senang dan tertawa terpingkal-pingkal.

(more…)

Tags: , ,
Posted in Puji Lestari

←Older