Posts Tagged Hari-hari

Sehari di Keramba-Pulau Pahawang

No Comments »

June 1st, 2010 Posted 8:44 pm

(Felicia Yin)

Jumat, 28 Mei 2010, umat Budha memperingati hari Raya Waisak. Sekolah diliburkan, istilah kerennya ‘long weekend’.. :P . Dua hari sebelumnya bapaknya anak-anak mengabarkan ada undangan dari rekan sekantornya, Frans yang mengajak kami bermain di keramba milik Yoyok, saudaranya. Undangan itu disambut AiRen dengan teriakan gembira yang cenderung histeris. Kami sudah pernah berlibur ke sana sekitar setahun yang lalu dan AiRen sangat menikmati bermain di sana. Si kecil HanErl yang memang belum terlalu mengerti hanya mengikuti kakaknya, ikut berteriak gembira. Yang dia tau hanya dia akan diajak berenang di laut.

Perlengkapan berlibur di keramba sudah disiapkan sehari sebelumnya. Anak-anak, termasuk saya tak sabar untuk segera ke sana. Kami semua hobi bermain air alias berenang, anak-anak juga senang sekali mendapat pengalaman baru melihat berbagai macam binatang laut, melihat bagaimana cara memancing, memberi makan ikan yang diternak, sungguh menambah wawasan mereka. Semua perlengkapan sudah siap, kacamata renang, ban renang untuk si kecil, baju renang, baju ganti, termasuk bekal selama perjalanan dan di keramba.

(more…)

Tags: ,
Posted in Felicia Yin

Facebook…ckckck…boleh juga…

1 Comment »

May 18th, 2010 Posted 7:40 am

Gue gabung di Facebook (FB) kalo gak salah 1.5 taun yang lalu. Itu juga dibuatin adik gue yang waktu itu pengen gue ikutan ngisi salah quiz yang ada di FB. Baru beberapa hari gabung, gak lama kemudian udah ketemuan ama beberapa temen kuliah gue dulu di Unpar, yang udah 12 taun gak ketemu. Seneng banget!! Untung ada lo Len yang jadi “EO” dadakan…hehehe.

Dari FB seperti yang udah seharusnya terjadi, gue “ketemu” lagi ama temen-temen lama dari SD sampe waktu kerja dulu, bahkan dapet banyak juga temen-temen baru. Buat gue yang gak punya temen di sini (di Johor), FB jadi tempat gue “hang out”. Perasaan jadi punya banyak temen walaupun cuma di dunia maya, tapi mungkin saat ini itu aja yang gue perluin karna lagi gak mungkin banget buat gue hang out di dunia nyata. Dengan 3 krucil yang masih glayutan di kaki, jalan-jalan ma temen dilupain aja dulu…
(more…)

Nikmatnya Bersyukur

No Comments »

May 17th, 2010 Posted 11:52 pm

(Dilla Maulina)

Ada beberapa hal yang sama sekali ngga bisa terbeli di dunia ini, diantaranya nikmat hidayah keimanan dari Tuhan, nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.

Apakah ada yang mampu membeli semua nikmat tersebut? aku rasa tidak akan pernah ada. Apakah bisa membayar orang untuk menjadi iman? jika pun bisa, apa pasti keimanannya murni dari hati atau hanya sekedar jasmani saja yang beriman. Apakah ada yang mampu membeli nikmat sehat? kesehatan atau nyawa tidak bisa di beli. Apakah bisa membeli nyawa untuk orang yang sudah tak bernyawa?. Tidak. Apakah bisa membeli waktu yang sudah terlewat? jika waktu sudah terlewat, maka kita tidak punya kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Atau apakah ada yang mampu membeli kesempatan untuk hidup?. Kesempatan untuk melakukan apapun tidak akan bisa tanpa nikmat sempat dariNya.

(more…)

seribu rindu … untukmu

2 Comments »

April 28th, 2010 Posted 5:26 pm

aku mengais kata
di antara sore yang memerah kesumba
di sela asa yang berserak tak berupa
sementara di sana
teronggok di sudut senja
bayangmu pias meraja
tertindih tangis hampa
melengos tanpa makna

….

aku hanya terpaku
berkubang seribu rindu

image dari : http://ww2.photolibrary.com/comp.html?similar_id=19685357

Filed under: hari-hari Tagged: hari puisi

Tags: ,
Posted in YS. Pamuji

Akulah laki-laki itu …

No Comments »

March 26th, 2010 Posted 8:35 pm

Rumah Sakit Umum A. Yani.
Metro – Lampung Tengah.

Saat itu aku masih tercatat sebagai salah satu siswa di Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Beberapa kejadian masih teringat sampai sekarang. Atau teringat lagi tepatnya …

Seorang laki-laki lusuh yang kelihatan sekali orang kampung. Berdiri kebingugan tidak tahu di mana dia harus mendaftar untuk berobat.

Sepasang suami istri - setidaknya begitulah menurutku – berdiri kebingungan di depan apotik karena uangnya kurang untuk menebus resep obat.

Seorang pemuda datang dan bertanya, apakah test laboratorium ini memang harus dilakukan? Kenapa? Biayanya saya gak punya mas.

Kali lain, orang yang lain lagi, berdiri kebingungan di dekat kantin Rumah Sakit. Istrinya harus dirawat … tetapi dia tidak membawa memiliki uang.

***

Sore ini, aku teringat kembali kejadian – kejadian itu.

“Maaf mbak, uangnya gak ada kalau  265 ribu. Tadi udah dipakai untuk bayar pendaftaran”
“Adanya berapa?”
“Cuma ada 200 ribu mbak.”
Perempuan petugas apotik itu menghilang. Tidak lama kemudian dia balik lagi.
“Ya sudah. Seratus sembilan puluh lima saja.”
“Dengan harga segitu, obat apa yang belum ketebus ya mbak?”
Wanita itu memandang laki-laki di depannya seakan melihat manusia berkepala kuda.
“Katanya uangnya gak cukup. Gimana sih?” Kali ini suaranya agak meninggi.

Laki-laki itu kembali ke tempat duduk. Masih setengah bingung. Apakah obatnya yang dikurangi atau memang harganya bisa kurang.

Percakapan berikutnya.

“Pak … ini dibawa ke laboratorium. Bayar dulu ke tempat pendaftaran yang tadi ya …”
Laki-laki itu menemui tetangga yang mengantarnya ke rumah sakit. Setelah bicara bisik-bisik, dia kembali ke tempat pendaftaran dan membayar biaya laboratorium.

“Pak … silahkan dibayar biaya rongetn-nya, lalu nanti kembali ke sini dan ibu langsung dipindah ke ruang ruang rawat inap.”

Lagi-lagi berulang. Kali ini lelaki itu menerima uang dari anak sang pengantar. Di tangannya masih ada resep – infus - yang harus ditebus.

Sore ini aku teringat lagi kejadian-kejadian Itu.
Bedanya .. kali ini – akulah laki-laki itu.


Filed under: hari-hari Tagged: hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Selamat ulang tahun bidadari

No Comments »

March 25th, 2010 Posted 10:17 pm

Ulang tahunku

Tadi pagi sih biasa-biasa aja sih. Sampai siang dan juga sore tapi waktu bapak pulang, aku minta dibeliin bubur. Padahal aku gak minta ke idolmart. Mungkin karena bapak punya uang atau gara2 aku ulang tahun, aku dibeliin alat tulis dan jepit.

Pertama baru masuk sebenarnya pengen beli diary tapi kata bapak belinya di gramedia. Gak papa sih. Ya udah terus aku sama bapak pulang. Waktu ngelewatin indomaret bapak pengen fanta kuning untung aku kasih tau kalo ibu bif bikin teh. Kalo enggak gimana tuh? Tapi sayang ibu sakit.

Ya udah deh udah dulu ya


aku comot dari 'buku harian' bidadari


Filed under: hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Tentang Dia dan rencanaNya

1 Comment »

March 1st, 2010 Posted 11:57 am

(Ani Sinam)

Sabtu dini hari di bulan Februari, Changi Airport, Singapura.
Jiiaaaahhh…akhirnya saya menginjakkan kaki di Changi! Ini bukan kunjungan pertama saya di negeri Merlion ini tetapi ini pertama kalinya saya melihat Changi. Lho kok bisa? Nanti saya ceritain lebih lanjut.
Rencana awal, begitu landing saya mau keliling-keliling bandara dulu buat foto-foto (norak never dies). Gara-gara delay 2 jam lebih, semangat foto-foto pun terkalahkan oleh kantuk dan lapar. Diputuskan jadwal foto-foto dilakukan pada saat pulang nanti.
Rasanya seperti mimpi bisa mengunjungi negeri ini lagi. Dalam hati saya nggak berhenti bersyukur sama Dia. Karena campur tanganNyalah saya bisa sampai di sini.

(more…)

Tags: ,
Posted in Ani Sinam

TANPA JUDUL

No Comments »

February 26th, 2010 Posted 10:18 pm

(Irene Wibowo)

“Panggil ambulans cepat!” tegasnya.

Ada apa ini? Kenapa dia terlihat panik? Tidak biasanya.

“ SUDAH belum?” teriaknya.

Ini. Ini dia wajahnya. Ini wajah yang ingin aku lihat. (more…)

Tags:
Posted in Irene Wibowo

from “Honey Bee”

2 Comments »

February 19th, 2010 Posted 5:37 pm

Felicia Yin

Hari Kamis, 18 Februari kemarin, Airen mengikuti lomba “Rhymes Reading” yang diadakan oleh Gramedia.  Bukan soal lombanya yang mau saya ceritakan, bukan masalah menang kalahnya yang mau dibagi di sini tetapi saya ingin berbagi mengenai pengalaman persiapan lombanya.  Ada beberapa hal manis yang saya dapatkan selama beberapa hari ini dalam rangka persiapan lomba tersebut. (more…)

Tiga Hal Hari ini

1 Comment »

January 22nd, 2010 Posted 4:07 pm

(Dilla Maulina)

Kalau ngga salah ini hari Jumat. Eh, Jumat atau Kamis ya?. Ah, aku ngga pernah ingat hari. Bukan anak sekolahan. Hohoho, para pembaca yang status nya masih pelajar sampai mengerutkan dahi “apa hubungannya?”. Seingatku, waktu sekolah selalu mengingat hari dengan mengingat jadwal pelajaran untuk hari tersebut.

Ngga tahu kenapa, dua minggu belakangan ini waktu berjalan sangat lambat. Menunggu akhir bulan rasanya seperti setahun, itu kata teman-temanku yang sudah bekerja juga. Aku pun sekarang menghitung hari untuk sampai bertemu weekend lagi akan terasa sangat berat menghadapi segala urusan pre wedding ku. Oh, no.

(more…)

Tags:
Posted in Dilla Maulina

Cerita

2 Comments »

January 22nd, 2010 Posted 3:26 pm

(Luluk Faidah)

Barusan selesai nyuci. Habis acara Khutbatul Arsy 3. Planning sih habis nyuci mau makan. Laper banget. E…… sampai di KOPDA, kecewa banget. Lauk&sayurnya habis. Tinggal nasi. Hmmm….. Ya, salah sendiri nyuci dulu. Ya kehabisan.

Di saat seperti ini, kita bisa bersikap:

1. Apakah kamu akan terus merasa kecewa, sebel, marah-marah karena ga kebagian sayur&lauk, lantas kamu balas dendam dengan jajan di DLP sesukamu. Heheeee… segitunya….. Childish banget….. atau
2. Ga perlu kecewa. Ambil kesimpulan. Berarti besok lagi ga boleh telat makan. Masa gara-gara ga makan siang aja kecewa. masih banyak di luar sana yang makan hanya sekali sehari. bahkan untuk makan sehari saja masih kesusahan. So, just keep yuor smile! cheeersss….. ‘-’

Tags:
Posted in Luluk Faidah

Jeritan di tengah malam

No Comments »

December 26th, 2009 Posted 6:27 am

Aku sudah mulai terasa ngantuk sejak sore. Dan juga capek. Opera Van Java yang biasanya masih mampu menyedot perhatian, kali ini tidak mampu mengalahkan kantuk yang benar-benar terasa. Aku pasrah. Melepas kacamata dan langsung menyerahkan diri pada lelap yang memang sedari tadi sudah menunggu.

Mungkin karena aku lupa untuk berdoa dan mungkin juga karena kondisi badan yang sedang lelah luarbiasa, aku langsung disergap mimpi yang tidak jelas. Orang-orang berteriak dan berlari panik ditingkahi bunyi alarm yang memekakkan telinga. Alarm itu masih menjerit-jerit ketika aku berasa sudah terjaga dengan badan yang bersimbah keringat.

Aku langsung duduk dengan kepala yang terasa pusing. Keliyengan. Jerit alarm itu kembali terdengar. Dengan kepala terasa nyut-nyutan, aku mencari sumber jeritan itu. Kesadaranku masih belum pulih sepenuhnya, ketika menyadari bahwa yang menjerit dari tadi adalah telepon rumah. Deringnya memang diatur pada posisi maksimal, supaya kalau kami kebetulan sedang ada di luar rumah masih bisa mendengar kalau ada yang menelepon.

Aku menyambar kacamata dan dengan terhuyung mengangkat telepon. Kulirik jam dinding. 00:30. Lewat tengah malam. Pasti telepon penting. Dan telepon penting pada jam-jam segini biasanya adalah kabar duka cita. Tiba-tiba aku merasa benar-benar terjaga.

Suara di seberang menanyakan apakah aku masih ingat dengan ibu Agus. Hmmm. Banyak teman di lingkungan kami yang dipanggil dengan nama suaminya.

Yang rumahnya di pertigaan di depan pak. Suara di telepon menghilangkan kebingunganku.

Ya. Pada Misa Adven kedua, kami bertemu di depan halaman gereja pak. Jawabku. Kenapa pak?

Ibu Agus meninggal sekitar jam 11 tadi. Setelah sebelumnya sakit dan sempat dirawat di MMC.

Aku terdiam. Waktu terakhir kali kami ketemu, dia terlihat sehat. Menyapa kami dengan hangat. Seperti biasanya. Walaupun kami memang tidak sempat ngobrol banyak. Tapi tidak terlihat bahwa sedang sakit. Atau mungkin aku yang tidak terlalu memperhatikan?

Telepon aku tutup setelah sebelumnya kami janjian mau langsung melayat malam ini.

Ibu Agus. Aku mengenalnya cukup baik. Satu hal yang paling aku ingat adalah, dia selalu senang bertemu dengan orang lain. Wajahnya selalu menunjukkan kebahagiaan ketika dia menyapa orang lain di setiap kesempatan. Dan seingatku, dia selalu berusaha untuk lebih dahulu menyapa.

Aku teringat kejadian yang sudah lama sekali berlalu. Saat itu kami berdoa di rumahnya. Entah memang ibu Agus menyiapkan sajian makanan yang berlebih atau memang yang datang lebih sedikit dari yang diperkirakan, kue dan gorengan yang dihidangkan tersisa cukup banyak. Seperti biasa, para ibu sibuk membagi-bagi kue itu untuk dibawa pulang. Aku yang datang hanya dengan bidadari – mungkin waktu itu masih berumur sekitar 4 tahun, sudah pamit dan kami menunggu di depan pintu, karena kami nebeng naik kendaraan salah satu ibu yang sedang berbagi makanan.

Sempat terbesit keinginan untuk ikut mengambil gorengan, karena aku lihat bidadari - walaupun tidak bilang kepadaku, matanya melihat ke arah makanan-makanan itu. Tapi rasa malu membuat aku menarik bidadari ke luar rumah. Kami menunggu di luar rumah. Jalanan depan rumahnya yang memang termasuk jalan besar masih cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, sehingga aku mengenggam tangan bidadariku erat.

Aku sedang berpikir untuk mampir warung dan membelikan makanan kecil buat bidadari biar dia tidak terlalu kecewa, ketika tiba-tiba ada yang memegang pundakku dari belakang. Kulihat ibu Agus berdiri di belakangku dan di tangannya ada 2 plastik kecil yang berisi makanan yang dibagi di dalam tadi.

“Buat si kecil pak.” katanya sambil mengangsurkan makanan ke tangan bidadari.

“Tidak usah bu. Tidak usah merepotkan.” Aku menjawab basa-basi. Sekilas aku melihat tangan putri kecilku tidak jadi terulur. Matanya memandang ke arahku.

“Halah. . Enggak kok.”

“Ini, buat ibu juga yaa …. ” Kali ini dia berbicara pada bidadari. Sekali lagi bidadari melihat ke arahku. Dan begitu aku menganggukkan kepala, tangan mungilnya langsung menyambar plastik berisi kue yang disodorkan.

“Terima kasih.” Suara bidadari lirih. Tapi matanya tetap ke arah kue, bukan ke arah pemberinya. Hihihi.

“Titip salam buat ibu ya pak.” Wajahnya terlihat sangat gembira. Dengan senyum yang hampir tidak pernah hilang.

Selamat jalan ibu Agus. Selamat jalan ibu Theresia.


Posted in hari-hari

Tags:
Posted in YS. Pamuji

Minggu Stress

3 Comments »

December 18th, 2009 Posted 11:15 pm

(san San Tjahaya)

Seminggu kemarin mungkin adalah salah satu minggu terberat yang kualami selama tahun ini. Padahal selama ini jarang-jarang aku menyerah terhadap deraan masalah, tapi seminggu kemarin sepertinya batas ketahananku sudah melewati titik puncaknya.

Pertama-tama suamiku jatuh sakit, setelah sembuh, giliran anakku yang jatuh sakit. Seolah belum cukup, pembantuku yang biasa membantu mengasuh si kecil pun jatuh sakit dan minta pulang kampung. Ditambah lagi tamu bulananku memilih datang pada hari itu. Sakit kepala, sakit kaki dan mulas-mulas pun menemani hari-hariku. Akhirnya aku dan suamiku memutuskan untuk bergilir antara menjaga toko dan mengasuh anak yang sakit.

(more…)

Kenapa sakit gigi lebih sakit dari sakit hati

2 Comments »

November 29th, 2009 Posted 11:54 pm

(Ani Sinam)


Saya nggak pernah setuju dengan syair lagunya (alm.) Meggy Z yang lebih suka sakit gigi daripada sakit hati. Sebagai orang yang berpengalaman sakit gigi dari umur 4 tahun, saya akan dengan senang hati memilih sakit hati daripada sakit gigi. Karena apa? Karena dengan sakit gigi kita sudah dapat bonus sakit-sakit lainnya termasuk sakit hati.

Nyut-nyutanan sakit gigi itu biasanya merambat jadi sakit kepala juga. Minum Ponstan 500mg hanya kesembuhan sesaat, membeli waktu semata sambil menunggu kesiapan kita pergi ke dokter gigi. Buat saya, dibutuhkan keberanian berlipat buat mengunjungi dokter gigi. Saya selalu trauma dengan suara bor-nya yang mendesing itu (duuh…membayangkannya saja sudah bikin ngilu). Akan tetapi suara bor tidaklah seberapa dibanding saat membayar tagihan. Itu adalah saat yang paling menyakitkan! Sepertinya ”penyiksaan” di ruang praktek belum cukup masih harus ditambah lagi dengan merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar itu semua.

Itulah bonus sakit hati yang kita dapatkan dari sakit gigi. Ouch!

Tags:
Posted in Ani Sinam

MALAM MINGGU

No Comments »

November 10th, 2009 Posted 1:12 pm

(Dede AM Setiadi)

Malam minggu malam panjang, malam yang seolah tak akan menjadi pagi…malam yang seolah selalu hidup dan tak pernah mati, malam dimana tak ada kantuk menyerang… hebat dan luar biasa…

Malam dimana tak ada keharusan belajar, mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, masa dimana tak harus bangun pagi keesokan harinya karena harus sekolah, malam dimana benar-benar bebas melakukan banyak hal. Malam yang luar biasa dan sangat special, malam bertemu orang yang sangat kita  kasihi lebih lama, malam penuh kasih sayang menebar di sekitar kita, malam penuh cinta.

Senyum sedikit mengukir mulut ku saat melihat  anak-anak muda berkelompok membentuk kelompoknya sendiri-sendiri. Ada yang dengan semangatnya mengenakan kaos dengan nama kelompoknya dan ada yang benar-benar hanya berkumpul bersenda gurau menghabiskan malam minggu di emperan sebuah resto fast food dekat rumah.

(more…)

Tags: ,
Posted in Dede AM Setiadi

←Older