Posts Tagged Hari-hari
Tentang Dia dan rencanaNya
March 1st, 2010 Posted 11:57 am
(Ani Sinam)
Sabtu dini hari di bulan Februari, Changi Airport, Singapura.
Jiiaaaahhh…akhirnya saya menginjakkan kaki di Changi! Ini bukan kunjungan pertama saya di negeri Merlion ini tetapi ini pertama kalinya saya melihat Changi. Lho kok bisa? Nanti saya ceritain lebih lanjut.
Rencana awal, begitu landing saya mau keliling-keliling bandara dulu buat foto-foto (norak never dies). Gara-gara delay 2 jam lebih, semangat foto-foto pun terkalahkan oleh kantuk dan lapar. Diputuskan jadwal foto-foto dilakukan pada saat pulang nanti.
Rasanya seperti mimpi bisa mengunjungi negeri ini lagi. Dalam hati saya nggak berhenti bersyukur sama Dia. Karena campur tanganNyalah saya bisa sampai di sini.
TANPA JUDUL
February 26th, 2010 Posted 10:18 pm
(Irene Wibowo)
“Panggil ambulans cepat!” tegasnya.
Ada apa ini? Kenapa dia terlihat panik? Tidak biasanya.
“ SUDAH belum?” teriaknya.
Ini. Ini dia wajahnya. Ini wajah yang ingin aku lihat. (more…)
Tags: Hari-hari
Posted in Irene Wibowo
from “Honey Bee”
February 19th, 2010 Posted 5:37 pm
Felicia Yin
Hari Kamis, 18 Februari kemarin, Airen mengikuti lomba “Rhymes Reading” yang diadakan oleh Gramedia. Bukan soal lombanya yang mau saya ceritakan, bukan masalah menang kalahnya yang mau dibagi di sini tetapi saya ingin berbagi mengenai pengalaman persiapan lombanya. Ada beberapa hal manis yang saya dapatkan selama beberapa hari ini dalam rangka persiapan lomba tersebut. (more…)
Tiga Hal Hari ini
January 22nd, 2010 Posted 4:07 pm
(Dilla Maulina)
Kalau ngga salah ini hari Jumat. Eh, Jumat atau Kamis ya?. Ah, aku ngga pernah ingat hari. Bukan anak sekolahan. Hohoho, para pembaca yang status nya masih pelajar sampai mengerutkan dahi “apa hubungannya?”. Seingatku, waktu sekolah selalu mengingat hari dengan mengingat jadwal pelajaran untuk hari tersebut.
Ngga tahu kenapa, dua minggu belakangan ini waktu berjalan sangat lambat. Menunggu akhir bulan rasanya seperti setahun, itu kata teman-temanku yang sudah bekerja juga. Aku pun sekarang menghitung hari untuk sampai bertemu weekend lagi akan terasa sangat berat menghadapi segala urusan pre wedding ku. Oh, no.
Tags: Hari-hari
Posted in Dilla Maulina
Cerita
January 22nd, 2010 Posted 3:26 pm
(Luluk Faidah)
Barusan selesai nyuci. Habis acara Khutbatul Arsy 3. Planning sih habis nyuci mau makan. Laper banget. E…… sampai di KOPDA, kecewa banget. Lauk&sayurnya habis. Tinggal nasi. Hmmm….. Ya, salah sendiri nyuci dulu. Ya kehabisan.
Di saat seperti ini, kita bisa bersikap:
1. Apakah kamu akan terus merasa kecewa, sebel, marah-marah karena ga kebagian sayur&lauk, lantas kamu balas dendam dengan jajan di DLP sesukamu. Heheeee… segitunya….. Childish banget….. atau
2. Ga perlu kecewa. Ambil kesimpulan. Berarti besok lagi ga boleh telat makan. Masa gara-gara ga makan siang aja kecewa. masih banyak di luar sana yang makan hanya sekali sehari. bahkan untuk makan sehari saja masih kesusahan. So, just keep yuor smile! cheeersss….. ‘-’
Tags: Hari-hari
Posted in Luluk Faidah
Jeritan di tengah malam
December 26th, 2009 Posted 6:27 am
Aku sudah mulai terasa ngantuk sejak sore. Dan juga capek. Opera Van Java yang biasanya masih mampu menyedot perhatian, kali ini tidak mampu mengalahkan kantuk yang benar-benar terasa. Aku pasrah. Melepas kacamata dan langsung menyerahkan diri pada lelap yang memang sedari tadi sudah menunggu.
Mungkin karena aku lupa untuk berdoa dan mungkin juga karena kondisi badan yang sedang lelah luarbiasa, aku langsung disergap mimpi yang tidak jelas. Orang-orang berteriak dan berlari panik ditingkahi bunyi alarm yang memekakkan telinga. Alarm itu masih menjerit-jerit ketika aku berasa sudah terjaga dengan badan yang bersimbah keringat.
Aku langsung duduk dengan kepala yang terasa pusing. Keliyengan. Jerit alarm itu kembali terdengar. Dengan kepala terasa nyut-nyutan, aku mencari sumber jeritan itu. Kesadaranku masih belum pulih sepenuhnya, ketika menyadari bahwa yang menjerit dari tadi adalah telepon rumah. Deringnya memang diatur pada posisi maksimal, supaya kalau kami kebetulan sedang ada di luar rumah masih bisa mendengar kalau ada yang menelepon.
Aku menyambar kacamata dan dengan terhuyung mengangkat telepon. Kulirik jam dinding. 00:30. Lewat tengah malam. Pasti telepon penting. Dan telepon penting pada jam-jam segini biasanya adalah kabar duka cita. Tiba-tiba aku merasa benar-benar terjaga.
Suara di seberang menanyakan apakah aku masih ingat dengan ibu Agus. Hmmm. Banyak teman di lingkungan kami yang dipanggil dengan nama suaminya.
Yang rumahnya di pertigaan di depan pak. Suara di telepon menghilangkan kebingunganku.
Ya. Pada Misa Adven kedua, kami bertemu di depan halaman gereja pak. Jawabku. Kenapa pak?
Ibu Agus meninggal sekitar jam 11 tadi. Setelah sebelumnya sakit dan sempat dirawat di MMC.
Aku terdiam. Waktu terakhir kali kami ketemu, dia terlihat sehat. Menyapa kami dengan hangat. Seperti biasanya. Walaupun kami memang tidak sempat ngobrol banyak. Tapi tidak terlihat bahwa sedang sakit. Atau mungkin aku yang tidak terlalu memperhatikan?
Telepon aku tutup setelah sebelumnya kami janjian mau langsung melayat malam ini.
Ibu Agus. Aku mengenalnya cukup baik. Satu hal yang paling aku ingat adalah, dia selalu senang bertemu dengan orang lain. Wajahnya selalu menunjukkan kebahagiaan ketika dia menyapa orang lain di setiap kesempatan. Dan seingatku, dia selalu berusaha untuk lebih dahulu menyapa.
Aku teringat kejadian yang sudah lama sekali berlalu. Saat itu kami berdoa di rumahnya. Entah memang ibu Agus menyiapkan sajian makanan yang berlebih atau memang yang datang lebih sedikit dari yang diperkirakan, kue dan gorengan yang dihidangkan tersisa cukup banyak. Seperti biasa, para ibu sibuk membagi-bagi kue itu untuk dibawa pulang. Aku yang datang hanya dengan bidadari – mungkin waktu itu masih berumur sekitar 4 tahun, sudah pamit dan kami menunggu di depan pintu, karena kami nebeng naik kendaraan salah satu ibu yang sedang berbagi makanan.
Sempat terbesit keinginan untuk ikut mengambil gorengan, karena aku lihat bidadari - walaupun tidak bilang kepadaku, matanya melihat ke arah makanan-makanan itu. Tapi rasa malu membuat aku menarik bidadari ke luar rumah. Kami menunggu di luar rumah. Jalanan depan rumahnya yang memang termasuk jalan besar masih cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, sehingga aku mengenggam tangan bidadariku erat.
Aku sedang berpikir untuk mampir warung dan membelikan makanan kecil buat bidadari biar dia tidak terlalu kecewa, ketika tiba-tiba ada yang memegang pundakku dari belakang. Kulihat ibu Agus berdiri di belakangku dan di tangannya ada 2 plastik kecil yang berisi makanan yang dibagi di dalam tadi.
“Buat si kecil pak.” katanya sambil mengangsurkan makanan ke tangan bidadari.
“Tidak usah bu. Tidak usah merepotkan.” Aku menjawab basa-basi. Sekilas aku melihat tangan putri kecilku tidak jadi terulur. Matanya memandang ke arahku.
“Halah. . Enggak kok.”
“Ini, buat ibu juga yaa …. ” Kali ini dia berbicara pada bidadari. Sekali lagi bidadari melihat ke arahku. Dan begitu aku menganggukkan kepala, tangan mungilnya langsung menyambar plastik berisi kue yang disodorkan.
“Terima kasih.” Suara bidadari lirih. Tapi matanya tetap ke arah kue, bukan ke arah pemberinya. Hihihi.
“Titip salam buat ibu ya pak.” Wajahnya terlihat sangat gembira. Dengan senyum yang hampir tidak pernah hilang.
Selamat jalan ibu Agus. Selamat jalan ibu Theresia.
Posted in hari-hari
Tags: Hari-hari
Posted in YS. Pamuji
Minggu Stress
December 18th, 2009 Posted 11:15 pm
(san San Tjahaya)
Seminggu kemarin mungkin adalah salah satu minggu terberat yang kualami selama tahun ini. Padahal selama ini jarang-jarang aku menyerah terhadap deraan masalah, tapi seminggu kemarin sepertinya batas ketahananku sudah melewati titik puncaknya.
Pertama-tama suamiku jatuh sakit, setelah sembuh, giliran anakku yang jatuh sakit. Seolah belum cukup, pembantuku yang biasa membantu mengasuh si kecil pun jatuh sakit dan minta pulang kampung. Ditambah lagi tamu bulananku memilih datang pada hari itu. Sakit kepala, sakit kaki dan mulas-mulas pun menemani hari-hariku. Akhirnya aku dan suamiku memutuskan untuk bergilir antara menjaga toko dan mengasuh anak yang sakit.
Tags: Belajar, Hari-hari, Maaf
Posted in San San Tjahaya
Kenapa sakit gigi lebih sakit dari sakit hati
November 29th, 2009 Posted 11:54 pm
(Ani Sinam)

Saya nggak pernah setuju dengan syair lagunya (alm.) Meggy Z yang lebih suka sakit gigi daripada sakit hati. Sebagai orang yang berpengalaman sakit gigi dari umur 4 tahun, saya akan dengan senang hati memilih sakit hati daripada sakit gigi. Karena apa? Karena dengan sakit gigi kita sudah dapat bonus sakit-sakit lainnya termasuk sakit hati.
Nyut-nyutanan sakit gigi itu biasanya merambat jadi sakit kepala juga. Minum Ponstan 500mg hanya kesembuhan sesaat, membeli waktu semata sambil menunggu kesiapan kita pergi ke dokter gigi. Buat saya, dibutuhkan keberanian berlipat buat mengunjungi dokter gigi. Saya selalu trauma dengan suara bor-nya yang mendesing itu (duuh…membayangkannya saja sudah bikin ngilu). Akan tetapi suara bor tidaklah seberapa dibanding saat membayar tagihan. Itu adalah saat yang paling menyakitkan! Sepertinya ”penyiksaan” di ruang praktek belum cukup masih harus ditambah lagi dengan merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar itu semua.
Itulah bonus sakit hati yang kita dapatkan dari sakit gigi. Ouch!
Disamber Motor di Suatu Petang
November 13th, 2009 Posted 11:19 am
(V. Olsy Vinoli Arnof)
Suatu petang yang agak mendung di Jogjahanam yang sesiangan panasnya menyaingi neraka dan masakan Padang, berjalanlah seorang laki-laki bermuka pucat dan berwajah kurus ceking. Laki-laki tersebut, yang di Jogjahanam disebut manusia cacat karena tidak bisa atau tepatnya tidak pernah berani belajar membawa motor, adalah pedestrian sejati yang berharap ada trotoar yang nyaman untuk berjalan.
Namun, petang itu, pukul 16.55 WIB, dia hendak mencari sebuah rumah di daerah Wirobrajan. Sembari celingak-celinguk mencari nomor rumah yang hendak dia kunjungi, tiba-tiba ada sesuatu yang sedang nangkring di atas sebuah motor berbunyi nyaring ke arahnya dan kemudian, sesuatu dan motor tersebut rebah ke jalan. Sesuatu tersebut ternyata manusia yang merampas hak laki-laki kurus bermukat pucat itu dalam berjalan di trotoar. Si kurus itu agak doyong begitu stang motor menyambar pinggangnya yang sangat amat ramping sekali.
Tags: Belajar, Catatan, Hari-hari
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
Jogjahanam
November 12th, 2009 Posted 9:21 am
(V. Olsy Vinoli Arnof)
Orang Jogja itu dikenal halus, ramah, murah senyum, baik hati… pokoknya segala yang katanya baik, identik ama orang Jogja.
Tapi tau gak, itu semua omong kosong bila ngeliat kelakuan para pengendara motor di Jogja. Melihat perilaku pengendara motor tersebut, kita bisa melihat betapa ramahnya orang Jogja, sehingga untuk mengancam nyawa orang lain pun mereka masih bisa tersenyum… Saking ramahnya mereka, meraka merasa tidak perlu lagi mematuhi aturan lalu lintas yang tujuannya untuk menjaga kenyamanan bagi setiap orang dan melindungi nyawa orang lain dari ancaman-ancaman ditrabrak, diserempet…
Saking ramahnya mereka, segala aturan berkendaraan, tidak perlu dipatuhi karena segala hal telah tergantikan oleh senyum yang menikam… senyum yang melukai.
Jadi kalo Anda sedang patah hati, merasa hidup udah gak berarti, jatuh miskin, gak ada yang mau jadi teman, dan pengen bunuh diri tapi gak tau caranya, datang aja ke Jogja, nangkring di pinggir jalan, dan ribuan orang berwajah ramah dan halus itu akan segera datang bersama motor kreditan untuk menyambar tubuh Anda. Syukur bila Anda segera mati karena segala persoalan hidup telah selesai…
Tags: Curhat, Hari-hari
Posted in V. Olsy Vinoli Arnof
MALAM MINGGU
November 10th, 2009 Posted 1:12 pm
(Dede AM Setiadi)
Malam minggu malam panjang, malam yang seolah tak akan menjadi pagi…malam yang seolah selalu hidup dan tak pernah mati, malam dimana tak ada kantuk menyerang… hebat dan luar biasa…
Malam dimana tak ada keharusan belajar, mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, masa dimana tak harus bangun pagi keesokan harinya karena harus sekolah, malam dimana benar-benar bebas melakukan banyak hal. Malam yang luar biasa dan sangat special, malam bertemu orang yang sangat kita kasihi lebih lama, malam penuh kasih sayang menebar di sekitar kita, malam penuh cinta.
Senyum sedikit mengukir mulut ku saat melihat anak-anak muda berkelompok membentuk kelompoknya sendiri-sendiri. Ada yang dengan semangatnya mengenakan kaos dengan nama kelompoknya dan ada yang benar-benar hanya berkumpul bersenda gurau menghabiskan malam minggu di emperan sebuah resto fast food dekat rumah.
Tags: Hari-hari, Sharing
Posted in Dede AM Setiadi
Tentang my dream guy
October 31st, 2009 Posted 11:33 pm
(Ani Sinam)
Si ganteng itu membalikkan badannya setelah mendengar namanya dipanggil. Seorang perempuan yang berjalan di belakangnya langsung menyecarnya dengan berbagai pertanyaan yang nggak penting.
Dia terlihat enggan menanggapi. Dia melihat kepadaku yang berdiri di samping perempuan itu.
Tak menyiakan kesempatan aku bertanya tentang CD lagu yang ia pinjamkan kepadaku. Si ganteng terlihat senang aku menyelamatkannya dari perempuan itu. Ia menghampirku, menghiraukan si perempuan tadi yang masih terus bicara.
Kami berjalan berdua. Ia menggandeng tanganku.
Tangannya halus namun kuat mengenggam tanganku.
Terasa begitu pas.
Aku berjalan dengan ringan tanpa terintimadasi oleh kegantengan dan kekayaannya.
Aku merasa nyaman. Kami begitu nyambung.
Aku [masih] ada di sini.
October 26th, 2009 Posted 7:03 pm
Jalanan gelap. Hujan lebat baru saja berhenti setelah hampir setengah hari mengguyur bumi dengan derasnya. Membuat jalanan yang kami lalui menjadi genangan lumpur. Hujan pula yang membuat kami harus pulang kemalaman.
Sepanjang perjalanan dia menggandengku. Tanganku erat dalam genggamannya. Hangat. Sedangkan tangan yang satunya lagi dipakai untuk menggendong adikku. Kami berjalan perlahan. Genangan air di sana-sini tidak memungkinkan kami untuk jalan bergegas. Sepanjang perjalanan kami tidak berpapasan dengan siapapun. Desa kami tak ubahnya desa mati begitu malam menyapa hari.
Ketika kami hampir sampai, adikku diturunkan dan dia menawarkan aku untuk digendong. Aku canggung. Tapi juga senang. Siapa sih yang tidak senang digendong oleh orang yang kita sayangi dan hanya jarang-jarang kita temui? Begitulah. Aku langsung diangkat dan naik ke pundaknya.
Sejenak aku merasa melayang. Sedikit gamang. Mungkin karena aku takut ketinggian. Aku melihat adikku sudah berjalan menuju ke arah rumah. Masih kudengar lelaki yang menggendongku berteriak kepada adikku dan memperingatkan untuk berjalan hati-hati karena jalanannya licin.
Tiba-tiba – sekali lagi aku merasa melayang. Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, pundakku terasa membentur sesuatu yang keras. Dan mukaku tiba-tiba saja sudah penuh lumpur. Aku tidak ingat apakah aku menangis saat itu atau tidak. Tetapi yang aku ingat, laki-laki itu sudah bangun lagi dan langsung memapahku ke arah rumah. Belakangan aku baru tahu, bahwa kamilah yang jatuh di depan rumah itu dan bukan adikku.
Dan di dalam rumah, aku masih mengingatnya dengan jelas, lelaki itu sibuk membersihkan aku dan memeriksa seluruh bagian tubuhku. Dan tidak menyadari di bagian lututnya, celananya memerah. Berdarah.
***
Lelaki itu adalah bapakku. Beliau menjalani operasi setelah sekian lama tertunda-tunda. Betapa ingin aku bisa mengenggam tangannya lagi. Atau sekedar berjaga di sampingnya.
Tetapi tidak.
Aku [masih] ada di sini. Berusaha menata hati dan berharap semua ‘kan baik-baik saja.
Posted in hari-hari
Tags: Hari-hari
Posted in YS. Pamuji
Tentang keseharian: Dirumahkan dan 20 French Window
October 25th, 2009 Posted 6:31 pm
(Ani Sinam)

Sekitar awal bulan Juli lalu, kantor saya merumahkan beberapa orang pegawainya. Saya termasuk salah satunya. Pengertian dirumahkan nggak sama halnya dengan PHK. Kita masih terhitung jadi karyawan di situ, hanya saja nggak diharuskan datang tiap hari. Dari lima hari kerja kita boleh datang 2 atau 3 hari saja, tergantung keputusan kepala bagian masing-masing. Kebetulan di departemen saya, hari datang kerja lebih longgar lagi dari itu. Kita tinggal tunggu panggilan dari kantor kalau ada pekerjaan yang membutuhkan kehadiran kita. Jadi bisa saja dalam 5 hari kerja itu, hanya 1 hari kita masuk atau bahkan tidak sama sekali. Kalaupun ada pekerjaan, kadang cukup dikoordinasikan lewat e-mail saja.
Terlepas dari adil-tidaknya keputusan yang perusahaan saya buat, ternyata ada beberapa berkah terpendam yang saya dapat dari kondisi ini.
Tentang keseharian: Jadul dan Jarang
October 20th, 2009 Posted 8:47 am
(Ani Sinam)
Kehadiran seorang keponakan baru di rumah membuat saya jadi bisa lihat perbedaan bapak jadul dan bapak jarang alias jaman sekarang. Bapak saya sebagai produk jadul dan kakak ipar saya sebagai bapak jarang.
Kelihatan sekali kalau kakak ipar saya sangat bersemangat jadi bapak baru. Dia pengen tahu semua hal dari cara gendong, ganti popok sampai membendong bayi dengan baik dan benar. Sekali waktu, sehabis pergi beli daun katuk, kakak ipar saya ini bertanya sama mama gimana cara mengolahnya. Waahh…saya saja sebagai adik nggak sampai sebegitunya. Bapak saya yang mendengar ini mungkin terkejut juga dan menyuruh kakak ipar saya untuk menyerahkan semuanya kepada mama. Intinya, itu urusan perempuan, laki-laki nggak perlu tahu deh.










