Posts Tagged Inspirasi

Kemana Larinya Inspirasi?

No Comments »

September 19th, 2011 Posted 4:59 pm

Setiap kali aku bertanya dengan orang yang katanya mau menulis, pasti jawabannya “iya nih, lagi gak ada inspirasi.”
Hmm…jawaban yang cukup klise, pikirku. Lagi-lagi kurang inspirasi untuk menulis. Kemana sih inspirasi? dia lari kemana emangnya? kenapa sampai-sampai membuat orang tidak bisa menulis apapun?ckck…aku ngoceh-ngoceh dalam hati mengutuk si Inspirasi yang selalu mencoba lari dari para penulis.

Tadi pagi aku sudah berencana ketemu dengan si Inspirasi. Aku membuat janji padanya hari ini, namun dia tidak kunjung datang juga. Aku bingung dia pulang ke rumahnya lewat mana ya? Harusnya dia melewati rumahku hari ini. Karena satu-satunya jalan menuju rumahnya hanya melewati rumahku atau…rumah penulis lainnya. hmm… apa dia lewat depan rumahku namun aku tidak pernah melihatnya sama sekali? tiba-tiba aku teringat film Invisible Man.hehe…dia bisa berada di dekat seseorang tanpa diketahui. Dia melakukan sesuatu namun tidak kelihatan.Aku sangat seru sewaktu menonton film ini, terkadang juga kesal sama perbuatan si Invisible Man. Apakah si Inspirasi meniru kelakuan Invisible Man? Wah nanti si Inspirasi bisa aku sebut Invisible Inspiration. Hmm… tapi aku tidak tahu, apakah aku akan merasa seru atau justru aku bertambah geram melihat si Inspirasi.

Nah, gak tau gimana caranya. Aku tadi bertemu si Inspirasi di jalan. Aku berbincang sebentar dengannya di taman. Aku bertanya padanya: “Kemana saja Kau beberapa hari ini? hampir sebulan Kau menghilang?”
Wajah Si Inspirasi hari ini tampak lebih cerah dari biasanya, dia tersenyum dan dia tidak invisible seperti yang aku terka tadi.
“Aku gak kemana-mana. Aku selalu duduk di taman ini. Bahkan aku berlari dan berputar-putar, bernyanyi di sekitar halaman rumahmu.”
“Tapi aku tidak bisa melihatmu, Inspirasi. Apa kamu mencoba menyamar seperti Invisible Man? keterlaluan kamu!” kataku memarahinya, Inspirasi tertunduk. Selama ini aku bersahabat dengan Inspirasi. Aku belom pernah marah sampai seperti ini padanya. Selama ini ia banyak membantuku menuangkan semua apa yang aku rasakan dan aku lihat.
Inspirasi terdiam, dia tidak mau membalas pertanyaanku.
“Sahabatku, Inspirasi kamu baik-baik aja? maaf aku terlalu kasar padamu.”
Ia menoleh padaku, mencoba menyembunyikan air matanya, iapun berkata “Aku selalu ada disampingmu. Tapi kamu tidak menghiraukanku karena kamu terlalu sibuk.”

“Kamu ingat kemarin pagi? aku ingin kamu menulis tentang ceritaku! tentang seseorang yang aku temui di jalan, aku menyukainya. Pria itu tersenyum padaku, aku ingin kau menulisnya di ceritamu. Tapi di saat aku bercerita , kau bilang ceritaku kurang seru karena gak sempat kenalan sama pria itu.”

“Lalu…malamnya aku ingin kau menulis tentang rasanya sepi. Karena aku kesepian, tapi kau malah sibuk cari teman-teman facebookmu…kau ngobrol sampai tengah malam.”

“Kemudian akhirnya tadi pagi…aku sudah berusaha muncul di hadapanmu namun kau tak melihat juga. Aku sudah bilang padamu betapa aku berusaha ceria hari ini dan betapa senangnya aku mendapat ucapan selamat pagi darimu. Aku ingin kau menulis tentang sederhananya kata selamat pagi dan itu sangat menghangatkan jiwaku.”

“Sisa hari yang lain…aku gak kemana-mana. Aku masih sering mampir ke rumahmu namun terkadang kau tak ada di meja kerjamu, kau meninggalkan pesan pada tetanggamu bahwa kau mau berlibur ke pulau mau mencari inspirasi, padahal aku tak pernah menyuruhmu ke pulau untuk mencariku. Kamu tahu? cukup kamu memanggilku dan ketika aku ucapkan hal apa yang aku ingin kamu tulis, maka tuliskanlah. Jangan persoalkan baik buruknya tulisanmu, atau jelek bagusnya inspirasi dariku. Karena kau pasti tahu.. Setiap harinya Si Inspirasi memiliki inspirasi yang berbeda-beda.” jawab Si Inspirasi panjang lebar.
Dia terlihat lega sekarang. Ia menarik nafas panjang dan berkata, “Akhirnya aku bisa menjelaskan semua ini…tolong sampaikan pada penulis-penulis lain, aku tidak kemana-mana.”

Aku merasa sangat bersalah pada Si Inspirasi. “Maaf yah…aku gak tahu kenyataannya begitu. Aku pikir kau lari dariku..sampai aku berpikir bahwa kau menyamar jadi Invisible Man.”

Inspirasi tertawa padaku…”Iya kali ini kumaafkan, kalau kau menyalahkan Inspirasi lagi karena tak bisa menulis awas yah…saat aku kasih ideku, kau harus ingat atau minimal kau mencatat ideku. Jadi ada bukti aku sudah memberimu ide untuk menulis.”

Hehehehe…”Iya deh sahabatku..Kau memang Inspirasiku.Terimakasih ya…nanti aku ceritakan hal ini pada teman-temanku yang lagi butuh dirimu.”

*ditulis dengan kepala blank…entah kenapa tadi tiba-tiba bertemu si Inspirasi dan menyuruhku untuk menuliskan ini. Thanks ya Inspirasi, ternyata dia tidak pernah lari…ia cuma berkeliling-keliling saja disekitar kita. :)

Cheers,

Anna~

Tags: ,
Posted in Yohanna Yang

Elastis Seperti Karet Gelang

No Comments »

January 25th, 2011 Posted 11:40 am


Karet gelang itu berwarna kuning. Kecil. Kupakai untuk membungkus sisa makanan yang kubeli tadi. Roti Vietnam itu (atau bahn mi dalam Bahasa Vietnam), biasa dibungkus dengan kertas dan ditarik karet gelang untuk mengencangkannya. Mataku tertuju padanya. Kecil tetapi bisa membesar di kala diperlukan. Elastis. Fleksibel. Sepertinya dia mengingatkan diriku akan elastisitas yang juga dibutuhkan dalam kehidupan ini…

Adaptasi…

Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diganggu-gugat. Hal-hal prinsip dalam hidup semisal kebaikan, kepercayaan yang dipegang, ataupun norma-norma lainnya yang memang tetap dipertahankan. Tentunya, setiap orang punya standar dan pemikiran yang berbeda. Amatlah tergantung di mana atau bagaimana dia dibesarkan, lingkungannya, atau kejadian-kejadian apa yang terjadi di hidupnya sehingga menjadikan dia seperti hari ini atau memilih hal-hal tertentu yang dia yakini.

Saya menyadari, dari kecil saya sudah diberikan contoh oleh orang tua saya bagaimana seharusnya untuk hidup. Beberapa contoh itu adalah contoh baik dan harus dipertahankan semisal kejujuran, kerendah-hatian, simpati dan empati, mengasihi. Walau dalam hidup, saya tidak memungkiri, saya pun pernah bersalah, berdosa, ataupun lalai. Namun, saya percaya pada kebaikan yang berasal dari-Nya. Karena Dialah sumber kebaikan, jadi setidaknya saya punya acuan mana yang baik dan tidak (bukan subyektif melulu menurut saya).

Hidup membawa setiap orang pada proses adaptasi. Dari bayi menjadi balita, remaja, kemudian kuliah, bekerja, menikah. Peran dari anak, orangtua, lalu jadi kakek/nenek. Pindah sekolah, pindah kota, pindah negara. Selalu kita hadapi proses adaptasi ini. Kalau kita keukeuh mempertahankan sesuatu, misalnya: aku kan masih kecil, jadi aku tak bisa pergi kuliah sendiri. Masih terus mengganggap diri bayi, sementara umur melaju terus tentunya tidak sesuai juga, ya…

Fleksibilitas dan elastisitas…

Adaptasi yang terakhir-terakhir ini saya jalani adalah pindah negara. Dari Indonesia- karena tugas suami-kami sudah berpindah ke dua negara. Jujur tiap kali pindah, ada ‘comfort zone’ yang diporak-porandakan… Karena segala sesuatu harus mulai lagi. Cari tempat tinggal, cari teman, membiasakan diri dengan kota/negara tersebut termasuk sistem transportasi, perbankan, shopping, bahkan berbelanja ke pasar. Banyak hal juga yang bisa dipelajari sebagai bagian dari adaptasi itu sendiri. Pertama pasti sulit, tetapi menyenangkan karena ada tantangan di dalamnya. Tetapi setelah sekian lama, jadi terbiasa dengan alur kehidupan di negara itu dan segala sesuatunya.

Saya belajar elastis. Dulu pastinya saya orang yang malas pindah-pindah. Boro-boro pindah rumah, pindah kamar kos saja gak pengin :) Saya suka keteraturan dalam jadwal keseharian saya, sementara kalau pindah-pindah, saya harus mulai dari awal lagi. Beda siklus lagi. Tetapi sekarang saya menikmatinya…

Karet gelang itu masih di sana. Teregang rapi di bungkus roti. Di sana saya melihat hidup terkadang harus fleksibel dalam beberapa hal. Tentunya bukan fleksibel terhadap hal-hal yang buruk (misalnya lihat orang mencuri lalu aku fleksibel ikutan atau lihat orang berprofesi pengedar narkoba juga tertarik untuk memulai)… Tetapi, ketika perubahan itu selalu ada di sana: baik sisi peran ataupun segala pernik kehidupannya… Rasanya, sikap yang elastis, bisa beradaptasi dengan baik di mana pun ditempatkan, perlu juga diterapkan.

Karet gelang mengingatkan saya akan hidup yang elastis tetapi tetap terarah dalam Tuhan. Sehingga kita tidak jadi orang-orang yang kaku atau merasa diri selalu benar, tetapi lebih terbuka terhadap banyak perubahan. Terutama perubahan untuk menuju diri sendiri yang makin baik, makin mengasihi sesama, sebagai anak-anak Allah yang seharusnya selalu mencirikan citra-Nya di mana pun kita berada.

Ho Chi Minh City, 25 Januari 2011

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya

sumber gambar:

chem-is-try.org

Tags:
Posted in Fonny Jodikin

Ah, Tuhan…

No Comments »

January 24th, 2011 Posted 8:21 pm

Ah, Tuhan…

Baru tanggal 1 sudah kuatir tanggal 31…

Baru tahun baru, sudah kepikiran akhir tahun…

Baru Januari, sudah cemas akan Desember…

Baru lahir bayi, sudah gelisah memikirkan kuliahnya…


Tipikal manusia yang penuh kecemasan, kekuatiran, kegelisahan, dan ketakutan. Tak ada salahnya berencana, namun ketika sudah begitu menghantui kepala dan bikin diri tak lagi fokus pada masa sekarang. Introspeksi diri agaknya diperlukan. Dengan melakukan hal-hal itu, hari ini jadi berlalu dengan gerutu… Seolah kehilangan mutu, padahal alunan musikal simfoni ‘present moment’ ini masih amatlah merdu.

Lihat teman naik motor sementara aku jalan kaki, kepengin…

Lihat teman naik mobil sementara aku naik motor, iri hati…

Lihat teman naik pesawat bisnis class sementara aku tak pernah ke luar negeri, cemburu…

Ah, gejala apa itu?


Gejala yang selalu sama di tiap waktu. Sulit bersyukur untuk apa yang dimiliki, dililit rasa iri dan cemburu terhadap apa yang dimiliki orang lain. Beberapa orang menganggap, tindakan bersyukur terkadang identik dengan kemalasan (tidak mau melakukan apa-apa, nrimo saja). Padahal, tentu saja yang diharapkan adalah terus berjuang tanpa henti… Walaupun sulit, walaupun banyak halangan menghadang… Tidak mudah putus asa. Malah terus maju dalam karya. Sambil melakukan hal itu, biarlah sikap syukur akan apa yang dimiliki tetap dipertahankan. Ada kalanya memang baik melihat ke atas, sehingga kita tidak mudah berpuas diri dan stagnan-tak melakukan apa pun lagi. Tetapi, tak ada salahnya pula untuk sesekali melihat ke bawah, mensyukuri bahwa begitu banyak hal yang sudah kita nikmati… Sementara bagi sebagian orang lainnya, itu adalah kelimpahan. Itu adalah kemewahan.

Banyak orang yang menjerit kelaparan,

Banyak pula yang tak punya rumah kediaman,

Banyak orang tak sempat mengenyam pendidikan,

Banyak pula yang hanya punya satu baju yang menempel di badan…


Lalu mengapa aku tak bisa mensyukuri apa yang ada? Lalu mengapa harus kucemas senantiasa? Bukankah burung pipit di udara pun Dia pelihara? Tak perlu kutakut akan kesusahan. Karena setiap hari akan ada kesusahan sendiri-sendiri, sekaligus ada jalan keluar juga dari-Nya. Asalkan ku tetap berusaha, bersyukur, serahkan kuatirku…

Ah, Tuhan… Engkau tak sebegitu jauh seperti pikirku…

Engkau sesungguhnya teramat dekat di hatiku…


Biarkan aku nikmati hari ini dengan senyuman,

Biarkan aku rasakan cinta dan kasih-Mu yang penuh kelembutan,

Biarkan aku kecap betapa besarnya kebaikan,

Yang selalu sertaiku yang berasal dari-Mu, Tuhan.


Ho Chi Minh City, 24 Januari 2011

-fon-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

Menulis dan Terus Menulis

No Comments »

January 12th, 2011 Posted 12:35 pm


Dulu…

Ketika tepatnya 4 tahun lebih yang lalu, saya mencoba memulai menulis secara lebih serius… Mungkin saya mengawalinya sebagai kegiatan yang sekadar berjudul ‘killing time’. Menanti kehadiran anak pertama, pindah negara ikut suami yang bertugas, dan harus di rumah sementara telah terbiasa bekerja dan aktif di Jakarta.

Menulis pada saat itu lebih merupakan upaya uji-coba. Daripada tidak ada kerjaan, sedangkan ‘blogging’ sedang mulai ‘in’, tak ada salahnya mencoba. Setelah menulis sekian lama, ada tanggapan yang lebih positif dari beberapa teman, berkenalan dengan teman-teman penulis dari pemula sampai yang lebih senior dan berbagi semangat saling mendukung untuk terus menulis… Menulis menjadi satu kegiatan yang harus ada. Seolah tanpa cabai, makanan jadi tak sedap. Tak menulis sehari, rasanya ada sesuatu yang kurang. Jadilah menulis merupakan kegiatan harian yang saya tunggu-tunggu. Menyalurkan hobby sekaligus berbagi cerita bersama sahabat, teman penulis, dan pembaca yang budimanJ

Menulis, di kali lainnya menjadi sebuah terapi bagi jiwa saya. Dengan menulis tanpa sadar, seringkali banyak masalah pribadi yang merupakan pertanyaan saya akan kehidupan ini terpecahkan. Menulis juga menjadi terapi ketika saya sedang dilanda kecewa, stres, mungkin depresi. Atau luka yang mendalam. Dengan menuliskannya entah dalam bentuk sharing pribadi atau dalam bentuk cerpen, ada sesuatu yang dipulihkan… Ada kecewa yang tersalurkan, ada beban yang terangkat… Dan itu juga yang membuat saya ketagihan menulis…

Mungkin pernah di satu masa, menulis menjadi sebuah ajang untuk mencari dan menemukan eksistensi diri. Untuk jadi terkenal, untuk dikagumi, untuk menginspirasi orang lain… Tetapi, akhirnya saya sadari setelah sekian lama menulis… Bahwa tujuan-tujuan itu bagi saya pribadi, tidak akan membawa saya ke arah yang positif. Ketika saya berpikir untuk menjadi terkenal, itu berarti kalau saya tidak terkenal, saya berhenti menulis? Atau ketika tulisan saya tidaklah dikagumi malahan dicaci-maki misalnya, akankah membuat saya tidak lagi mau menuliskan segala sesuatunya? Motivasi diri saya sendiri juga mengalam pemurnian… Bahwa pada akhirnya, tujuan saya menulis akanlah tetap sebagaimana saya bertujuan di saat awal saya menulis: berbagi (sharing), juga sebagai bentuk ungkapan syukur atas talenta yang Tuhan berikan kepada saya.

Pernahkah saya capek atau bosan menulis? Sebagaimana layaknya seorang juru masak yang harus masak tiap hari, pasti pernah dihinggapi kebosanan. Tetapi, tentunya mereka punya cara buat mengatasinya. Bagi saya pribadi, karena cenderung sedikit pembosan, saya berusaha bereksperimen dengan kata-kata dan bentuk-bentuk tulisan. Itu bisa berarti essay, artikel, curahan hati, cerpen/cerber, puisi, renungan atau refleksi… Di kali lain, mungkin saya ingin menulis dalam Bahasa Inggris, tergantung suasana hati. Satu yang pasti: konsistensi penulis tetap harus saya jaga. Karena ada beberapa rubrik yang secara rutin saya tuliskan setiap harinya. Seperti renungan harian ‘Thought of the Day’ misalnya… Tetap saya tuliskan, berusaha dengan setia dalam kondisi apa pun… Entah saya yang sakit, atau anak yang sedang rewel.. Sejenak, saya membaca dan merenungkan firman Tuhan lalu menuangkannya dalam bentuk renungan singkat.

Apa pernah saya merasa hebat karena saya menuliskan standar yang begitu tinggi dari apa yang saya baca dari Kitab Suci misalnya? Tak pernah sedikit pun saya merasa lebih jago, apalagi lebih hebat. Saya, sama-sama dengan Anda, adalah bagian dari manusia-manusia yang juga bergumul dengan banyak masalah di dalam diri saya. Tetapi saya berusaha mencari kekuatan dari-Nya dan berusaha menuangkan dalam bentuk tulisan untuk kemudian memotivasi saya. Syukur-syukur, bila dianggap baik, sobat-sobat sekalian juga bisa mendapatkan sedikit pencerahan dari apa yang tersalurkan lewat tulisan saya. Saya selalu menganggap bahwa adalah Tuhan yang hendak menyampaikannya, tetapi lewat tangan saya, Dia ungkapkan itu semua. Biarlah semua pujian kembali kepada-Nya.

Ketika Utada Hikaru, penyanyi asal Jepang yang terkenal dengan lagu ‘First Love’-nya mengumumkan pengunduran dirinya beberapa saat yang lalu, di usianya yang ke-27 untuk kemudian berkonsentrasi di bidang kehidupannya yang lain… Saya sempat berpikir, sampai kapan saya akan terus menulis?

Jika menulis malah memperkaya kehidupan saya (dan syukur-syukur juga pembacanya), jika menulis memberikan begitu banyak kelegaan sekaligus terapi jiwa bagi saya… Saat menulis memberikan begitu banyak harapan bagi kehidupan saya pribadi karena saya menjadi termotivasi untuk melihat begitu banyak kebaikan dalam kesederhanaan walaupun di tengah dunia yang semakin kacau atau bobrok sekalipun, apa kemudian saya harus berhenti?

Saya hanya berusaha untuk menulis dan terus menulis dengan setia. Apa pun yang terjadi, semoga saya tetap bisa meluangkan waktu untuk menulis dengan penuh cinta, dari hati yang terdalam. Karena tulisan yang berasal dari hati juga mampu menjangkau setiap hati pembacanya di luar sana…
Menulis bagi saya tetaplah merupakan ungkapan syukur karena saya masih diberikan kehidupan yang luar bisa oleh Sang Pencipta-dalam suka-dukanya- saya percaya bahwa inilah yang terbaik bagi diri saya.

Mohon doanya:) Salam dari rantau…

Ho Chi Minh City, 12 Januari 2011

-fon-

sumber gambar:

abt.com

Tags: ,
Posted in Fonny Jodikin

Ruin is a Gift.

No Comments »

January 5th, 2011 Posted 6:49 pm


Ruin is a gift. Ruin is the road to transformation.

(Eat Pray Love – Julia Roberts as Liz Gilbert)

Saya sempat tercenung sejenak ketika mendengar perkataan Julia Roberts di Film Eat Pray Love tersebut. Terjemahan bebasnya mungkin sebagai berikut:

Kejatuhan/ keruntuhan adalah suatu anugerah. Keruntuhan adalah jalan menuju transformasi/perubahan.

Benarkah demikian? Saat kejatuhan tiba, kita melihatnya sebagai berkat yang terselubung dalam bungkusan anugerah? Atau malah sebaliknya? Kita melihatnya sebagai malapetaka tanpa akhir yang menghancur-leburkan kehidupan kita? Sekali lagi, penting bagi kita untuk memilih perspektif yang mana ketika berhadapan dengan kegagalan, kejatuhan, ataupun keruntuhan. Akan ke mana kita bawa puing-puing reruntuhan kehidupan kita tersebut, memang agaknya merupakan pilihan kita.

Anggaplah kita adalah orang-orang positif, sebagaimana layaknya Liz (Elizabeth) Gilbert- Sang Penulis yang mampu melihatnya sebagai berkat. Tentunya, dari kejatuhan kita belajar untuk bangkit kembali. Menganalisa setiap kesalahan yang terjadi dan mencoba meminimasinya untuk kemudian tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Tidak tertutup kemungkinan walaupun mencoba melihatnya secara positif, tetap saja perasaan hancur-kecewa- putus asa itu pernah singgah. Lagi-lagi, orang-orang positif- para pemenang kehidupan itu memilih untuk tidak menyerah kalah terhadap perasaan yang timbul ataupun kenyataan yang ada. Malahan mereka berjuang lagi, mencoba memunguti sebagian puing terpenting yang tersisa untuk kemudian bangkit lagi sebagai manusia baru.

Pernah juga kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, keruntuhan itu malah menjadikan orang yang bersangkutan terpuruk. Malah cenderung menyesali hidup. Tak jarang, kejatuhan itu membawa orang-orang ke arah putus asa untuk kemudian memilih jalan pintas seperti bunuh diri. Tentunya, bukan hal yang terpuji dan tidak didukung oleh ajaran agama mana pun… Tetapi, seolah kejatuhan itu adalah akhir segalanya bagi dirinya dan memilih untuk mengakhiri dengan caranya. Sayang sekali sebetulnya… Kalau saja dia bertahan satu, dua hari lagi… Kalau saja dia bertahan satu, dua, tiga tahun lagi…Keadaan pasti berubah, asalkan ada usaha juga dari diri sendiri untuk menggapai perubahan itu pula.

Kita pun pernah menyaksikan saat orang-orang yang terpuruk dan merasa kalah itu memenuhi dirinya dengan amarah karena terluka. Dendam, lalu melakukan tindakan kejahatan. Tentunya, amatlah disayangkan perbuatan-perbuatan semacam ini. Walaupun kita sadari, adalah sulit juga untuk tetap berpikir jernih, ketika kepala terlalu ditimbuni masalah. Kalau saja mereka masih punya harapan, kalau saja mereka punya iman… Percaya bahwa masih ada kebaikan di tengah seluruh reruntuhan, mungkin keadaan tidak jadi begini…

Di saat-saat seperti ini, sebagaimana yang dialami Liz, dia mencoba mencarinya melalui makanan di Italia. Untuk menemukan kembali cita rasa sedapnya makanan yang sempat dikecapnya, lalu hilang meluap begitu saja. Lalu, dia pun mencarinya lewat doa. Hubungan yang lebih dekat dengan Sang Pencipta. Adalah hal yang wajar ketika berbeban berat, seseorang akan lari menuju penciptanya. Tetapi, tentu saja kita mengharapkan bahwa kita ingat Tuhan bukan melulu di saat hancur, namun juga di saat senang. Walaupun harus diakui, di saat-saat hati jadi berkeping-keping itulah, hubungan yang amat dekat bisa dirasakan oleh orang yang sungguh-sungguh menyadari keterbatasannya walaupun sudah melakukan yang maksimal. Dan sadar bahwa tanpa Tuhan, dia bukan siapa-siapa.

Ruin is a gift. Ruin is the road to transformation.

Inilah yang sikap yang kita harapkan dalam menghadapi kehidupan ini. Dalam kaca mata iman, kita bisa berkata: kehancuran adalah anugerah. Ini adalah saatnya untuk perubahan. Dan kita percaya, apa pun yang terjadi dalam hidup ini, Tuhan tak pernah lepas tangan. Dia punya rencana yang indah buat kita. Hancur di mata kita, belum tentu sebetulnya hancur secara keseluruhan. Tak jarang, kehancuran itu malahan membuahkan kebaikan dalam kehidupan kita di masa yang akan datang.

Apa pun yang terjadi, kita percaya bahwa Tuhan selalu serta kita. Itu yang terpenting. Persembahkan semua suka-duka kehidupan kita kepada-Nya tanpa menjadi terlalu berputus asa, karena kita punya iman…Kita punya Tuhan.

Ho Chi Minh City, 5 Januari 2011

-fon-

* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya. Trims.

Tags: ,
Posted in Fonny Jodikin

←Older