Posts Tagged Kasih

Masih Ada Sejumput Kasih di Progo

No Comments »

July 20th, 2010 Posted 9:07 am

(Grace Natali)

Kereta Progo Jakarta-Jogjakarta

Minggu, 27 Juni 2010

Kereta Progo jurusan Jogjakarta-Jakarta berlari kencang menembus kepekatan malam. Angin kencang berhembus di sela-sela jendela kereta ekonomi ini. Masing-masing penumpang telah duduk manis di bangkunya. Sembari sesekali membenarkan letak duduknya di bangku yang keras. Masih 11 jam lagi sebelum kereta mencapai stasiun Senen, Jakarta.

Tiba di stasiun Janti, naiklah ibu setengah baya ke dalam gerbong delapan. Terbungkuk-bungkuk ia membimbing putra kecilnya melewati lorong gerbong. Ia kehabisan tiket duduk. Namun, ia tak tega membuat putranya berdiri sepanjang malam untuk mencapai Jakarta. Memikirkannya saja membuat hatinya miris.

(more…)

Tags: ,
Posted in Grace Natali

Kasih (Ibu)

No Comments »

April 16th, 2010 Posted 6:05 pm

(Olyvia Santoso)

Kasih ibu, kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai Sang Surya, menyinari dunia.

Pernah dengar lagu itu?
Belom? Masa sich?
Perasaan itu lagu anak-anak jaman balehula.
Sampai sekarang juga masih membekas diingatanku.
Menceritakan bagaimana indah dan hebatnya kasih seorang ibu (bukan ibu bernama Kasih).
Lagu itu tidak sepenuhnya benar, karena kadang si Ibu terasa mengecewakan anaknya.
Mau bukti?

(more…)

Tags: , ,
Posted in Olyvia Santoso

Untuk Bunga

No Comments »

March 28th, 2010 Posted 8:45 pm

(Eko Supriyono)

Kuharap kabarmu seindah mentari pagi.

Hampir dua tahun berlalu kata cinta dan sayang setiap pagi tak terkirim kehatimu kata rindu tak jua terbang kejendela pintu dan ruang kosong jiwamu kata – kata indah kini terasa hambar tercipta. Langkah kaki yang dulu menapak dengan satu jalan sekarang melewati jalan yang disebut langkah air yang tak bisa tenang dan aku pasrah karena itu.
Hampir dua tahun berlalu sesuatu yang pernah ada antara hatiku dan hati seorang bunga dibalik dinding besar berubah menjadi bayangan yang sulit untuk pergi dari dalam pikiran dan ku akui kamu adalah bunga yang tercium wanginya hingga relung jiwaku namun tak sanggup aku menyentuh kelopak walau cuma satu kali hembusan nafas dan kamu bungaku.

Ku selalu teringat apa yang pernah terjadi dari bahasa hingga rasa dari tawa hingga tangis dan aku mulai paham apa maksud dari sesuatu yang pernah terjadai. Melupakan hal yang indah adalah kematian muda untukku, mengenang kemanisan adalah cambukan hati dari sebuah harapan. (more…)

Seharusnya Indah….

4 Comments »

February 23rd, 2010 Posted 2:18 pm

(Yulita Nilawati)

Semenjak surat Undangan itu kuterima, tak lepas dari benakku apa yang akan kukenakan dihari istimewa itu. Padahal hari indah itu masih 2 minggu lagi tapi persiapan yang kulakukan seperti aku sendiri yang akan merayakannya. Pernikahan Silvia, sahabatku sewaktu di SMA, begitu membahagiakanku. Akhirnya ia menemukan cinta sejatinya, begitu yang terlintas dalam benakku. Walaupun tempatnya jauh dan waktunya malam hari, tak menghentikan niatku untuk menghadirinya. Membayangkan menikah di JHCC, pada saat perekonomian di negara ini sedang dilanda krisis moneter, pastilah bisa dikatagorikan mereka yang berkantung tebal.

Walaupun dengan sedikit memohon, akhirnya izin dari orang tua dapat kuperoleh. Biasanya orangtuaku agak keberatan kalau anak-anaknya pergi sendirian pada malam hari. Berhubung saat itu aku belum memiliki pasangan, kuajak adikku untuk menemaniku. Kebetulan dia menyukai acara pesta, apalagi makan-makan ditempat yang mewah seperti di JHCC.

(more…)

Tags: , ,
Posted in Yulita Nilawati

Senandung Airmata Dalam Balutan Melankolia

No Comments »

February 11th, 2010 Posted 6:33 pm

Ia menetes, setetes.
Basah dan membasahi.
Aku terhasut dalam buaian keindahannya.
Seketika melankolia lalu bersenandung.
Mengeluarkan bunyian terisak bersama wajah yang lalu basah.
Aku terhasut oleh kebahagiaan.
Kebahagiaan diantara desahan nafas dan betapa kokoh garis rahangnya.
Ia pun kini menetes, setetes.
Basah dan lalu menggenangi.
Tanpa bahagia karena kini balutan kesepian yang menghasutku.
Lagi-lagi melankolia ikut bersenandung.
Menumpahkan berjuta kegundahan dan rindu.
Isaknya kini berbeda, kepedihan yang membalutnya.
Aku terbelenggu dan terjebak dalam duka.
Ia, airmata dan melankolia.
Selalu datang dikala suka dan duka.
Ia, airmata dan melankolia
Tebet 11 februari 2010

Tags: , ,
Posted in Shandra Syailendra

Batas Kasih 4

6 Comments »

January 28th, 2010 Posted 7:14 pm

Felicia Yin

4 November 2005

Dua hari mengobrak-abrik alkitab, bacaan renungan harian, tidak juga menemukan apa yang Tari cari.  Semua seolah-olah hendak menunjukkan, tidak ada jalan lain, terima saja dan jalani kehidupan perkawinan ini selamanya, perbaiki semua kerusakan yang terjadi.  Uh…Tari merasa terpojok.  Hatinya terombang-ambing.  Seharian Tari gundah, bimbang, tidak bisa fokus dengan apa yang dikerjakannya.  Hingga tak terasa Rizky pulang dan menyodorkan sesuatu padanya.  Sepucuk amplop kecil, kartu ucapan.  Tapi terasa ada sesuatu di dalamnya.  Ya, hari ini ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5.  Tari sebenarnya ingat akan hal itu, tapi dia menolak untuk mengingatnya.  Terasa sakit hatinya memikirkan hanya 5 tahun Rizky sanggup menjaga kesetiaannya.  Baru seumur jagung, kalau diibaratkan dengan anak-anak, berarti baru kelas TK.  Belum belajar banyak, masih senang bermain, belum mandiri.  Mungkin itu sebabnya kalau banyak yang bilang 5 tahun pertama usia perkawinan masih rawan, mudah tercerai-berai, berantakan.

(more…)

Tags: ,
Posted in Felicia Yin

Cinta kasih, ketulusan, dan harapan

No Comments »

January 24th, 2010 Posted 9:51 pm

(Petrus bayu puja mega irawan)

“Bunda lihat bun,..!!! bunda,..!!! cepat kesini bunda,..!!! cepat,..!!!”.

Teriak seorang suami kepada istrinya yang sedang berada di dapur, dengan ekspresi yang mungkin untuk kita sangatlah berlebihan ketika untuk pertama kalinya sang suami tersebut melihat anak pertamanya dapat berjalan.

“bunda,…cepat bunda,..!!! sini cepat.!!

Dan sang istripun kemudian mendekat kearah sang suami, dan tak lama setelah itu, sang istri mendorong kursi roda yang memang sudah diduduki oleh sang suami sejak lahir, karena kelumpuhan yang diderita oleh sang suami, mendekat kearah sang anak, yang meski sesekali tejatuh, tetap berusaha untuk berjalan.

kamu, kamu, rumitmu dan aku

2 Comments »

January 22nd, 2010 Posted 6:25 pm

(Shandra Syailendra)

Seandainya saja kau tahu begitu megah perasaan yang telah terbangun ini. tak hanya aku, tapi kau pun ikut andil.
Mengapa kini dengan semena-mena kau robohkan begitu saja hanya karena kebingunganmu yang aku tak tahu apa?
Susah payah aku mengumpulkan satu persatu pengharapan sehingga telah hampir mendekati sempurna, bahkan dalam setiap doaku pun tak lupa aku meminta agar kau nanti yang menyempurnakannya.
Tapi tidak! Ternyata kau terlalu angkuh untuk mengakui kalau hidupmu dan hidupku akan indah bila kita tahu bagaimana mengatur porsinya. Mengatur alirannya hingga tak harus menyesatkan salah satu dari kita. Tapi kini kau melakukannya. Kau bahkan menenggelamkanku lagi dalam keterpurukan. Kau pelakunya.
Kau terlalu egois untuk bisa mengerti. Jangankan untuk mengerti dirimu. Kau bahkan tak menyediakan tempat untukku agar aku bisa mengertimu. Kau bahkan tak membiarkan waktu dan alam mengerti dirimu. Kau terlalu angkuh untuk itu. Lalu bagaimana kau dapat mememahami aku? Apakah aku hanyalah makanan penutup untukmu. Bukan sesuatu yang penting seperti bagaimana aku menganggapmu?

Tebet dini hari

Tags: ,
Posted in Shandra Syailendra

Batas Kasih 2

2 Comments »

January 20th, 2010 Posted 9:08 pm

(Felicia Yin)

16 oktober 2005

Tiga hari berlalu sudah sejak pengakuan Rizky, membuat hubungan Tari dan Rizky menjadi dingin dan kaku.  Di depan mertua yang tinggal serumah dengan mereka, di depan orang lain, relasi dan teman-teman, mereka berusaha tampil rileks seperti sedang tidak ada masalah.  Bila sedang berdua, seperti ada jarak, lembaran kaca tak terlihat yang membatasi mereka.  Komunikasi seperlunya, sebatas tentang kebutuhan Viana, tak pernah ada yang berani memulai ‘topik’ yang sensitif tersebut.  Begitu pula Tari, menjaga perasaannya serapat mungkin terutama di hadapan Viana.  Tari tidak ingin Viana merasakan ada masalah di antara kedua orang tuanya.  Tari tidak ingin hati Viana ikut terluka.  Hanya sedikit waktu Tari untuk menikmati kesendirian, bebas mengeluarkan emosi, gejolak hatinya tanpa gangguan.  Biasanya pada saat menyetir menjemput Viana di sekolah dan tempat kursus atau saat menuju ke butik pakaian anak milik Tari yang baru dibuka 1 bulan yang lalu.
Seperti pagi ini, air mata Tari kembali turun membanjiri pipinya tak mampu dicegahnya saat meresapi syair lagu lewat suara bening Siti Nurhaliza.  Lagu dari CD pemberian Rizky saat ulang tahunnya sekitar bulan lalu.

(more…)

Tags: ,
Posted in Felicia Yin

TAK SELAMANYA MENYENANGKAN

No Comments »

December 22nd, 2009 Posted 5:25 pm

(Theresia Rita)

Beberapa hari lalu saya sempat sakit dan opname di sebuah rumah sakit swasta. Saat liburan adalah saat menyenangkan untuk bersama-sama dengan orang – orang tercinta, namun hari itu terpaksa aku mendekam di emergency.
Sayangnya pelayanan rumah sakit itu tak terlalu cepat (bukan complain lho…nanti jadi testimoni seperti kasusnya Prita dan OMNI..he…he…he) ini hanya sekedar cerita inside yang bagiku menarik dibalik peristiwa ini.

Si Perawat menusukkan jarum untuk mengambil darah guna pemeriksaan lab. Setelah agak bingung mencari nadi, akhirnya ketemu di tempat yang dirasa tepat,jarum yang ditusukkan amat sakit sampai ke seluruh lengan terasa pegal dan nyeri. Ini sungguh tak biasa . Dan entah kenapa darahku yang biasanya cepat sekali keluar, sekali ini darahnya amat sedikit, tapi siksaan ngilu karena tusukan jarum itu sampai ke tulang belikat. Akhirnya si perawat minta maaf berkali-kali karena akan cari daerah tusukan ditempat lain yang banyak menghasilkan darah. Jadi…terpaksa aku harus merasakan tusukan jarum untuk kedua kalinya. Rasa ngilu di lengan terasa sampai berhari-hari.

(more…)

TANPA JUDUL

1 Comment »

December 14th, 2009 Posted 6:10 am

(Theresia Rita)

Ketika aku masih kecil,umurku belum enam tahun,

Ada seorang pengemis yang tiap hari datang kerumahku, mula-mula rasanya sangat lucu karena kami tinggal dikampung, bagaimana mungkin ada pengemis, menurutku pengemis biasanya hanya ada dikota

Tiap kali pengemis itu datang,aku senang sekali,

dan biasanya ibuku menyiapkan sepiring nasi dan lauk nya menyuruh nenek itu makan.

(more…)

Untuk Terakhir Kalinya…

No Comments »

December 10th, 2009 Posted 10:50 am

(Fonny Jodikin)

Pernahkah kau mengalami kesakitan yang amat sangat. Terlukai yang amat dalam. Dan kau pikir kau takkan pernah sanggup berhadapan dengan orang yang begitu melukai hatimu?

Hmmm, aku pernah. Memikirkannya saja sudah membuat diriku ketakutan. Bahkan tak pernah sanggup kubayangkan untuk bertemu kembali dengannya dalam waktu dan tempat yang berbeda. Membayangkannya saja tak sanggup, apalagi menjalaninya. Tetapi alur hidup membawaku menemuinya untuk terakhir kali. Untuk mendamaikan kegalauan di hatiku. Untuk menyembuhkan luka yang berdarah dan menganga itu. Luka itu terlalu lebar, terlalu dalam untuk betul-betul disembuhkan. Namun, waktu jualah yang menyembuhkan diriku dan menguatkanku sekali lagi ketika aku berjumpa dengannya. Seperti yang sudah kukatakan tadi, untuk terakhir kalinya.

(more...)

Aku belajar dari anjingku

2 Comments »

November 26th, 2009 Posted 2:13 pm

(Theresia Rita)

Aku masih SD ketika keluarga kami memiliki anjing keturunan Labrador, bulu nya lebat sampai mukanya hanya terlihat moncongnya saja. Dia cantik sekali warnanya putih dan coklat muda, tapi kegemukan karena kami selalu berebut memberinya makan. Namanya Foni. Maaf tidak bermaksud menyamakan dengan anjingku bila ada teman yang namanya sama, tapi ibuku entah kenapa memberi nama demikian. Umurnya baru 4 tahun waktu hamil pertama kalinya. Anak nya 6 ekor, sangat cantik dan gendut-gendut.

Ayahku seorang kepala sekolah, tetapi menghabiskan sisa waktu mengajar dengan berkebun. Biasanya kalau buah jeruk dikebun kami mulai berbuah dan terlalu lebat, beliau memotong beberapa putik buah agar yang lain bisa besar dan matang sempurna.

(more…)

Do I Know You?

9 Comments »

August 11th, 2009 Posted 7:52 am

(G. Lini Hanafiah)

Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.

Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.

(more…)

Aku Cemburu!

1 Comment »

May 30th, 2009 Posted 7:51 am

Kenapa orang bisa cemburu? Katanya cinta dan benci itu seperti dua sisi mata uang yang bedanya hanya sehelai rambut. Pantas saja cemburu itu jadi “satu paket” dengan cinta dan benci. Semakin orang cinta, semakin orang mudah cemburu, semakin juga mudah benci.

Aku tidak cinta pada tetanggaku, maka aku tidak cemburu apalagi benci. Aku cinta pada keluargaku, maka aku cemburu dan berusaha untuk tidak benci. Kesal? Pasti! Katanya benci itu tak terobati. Jadi cukup sampai kesal saja lah.

Sahabatku punya kesibukan baru, tidak lagi memperhatikan, jelas aku cemburu. Anakku lebih akrab dengan temannya, tentu aku lebih cemburu. Si Ayah sibuk dan tidak memperhatikan, pasti aku sangat cemburu. Jaman pacaran dengan mantan-mantan yang dulu, aku hampir nggak pernah cemburu. Kok bisa? Nggak tahu, nggak merasa begitu. Apa karena nggak cinta? Si Ayah bukan pencemburu, apa karena nggak cinta? Nggak juga. Sesekali memang dia cemburu, hanya sikapnya yang diam perlu dicermati kalau dia lagi cemburu.

(more…)

Tags: ,
Posted in G. Lini Hanafiah

Training Ulang Si Ego

No Comments »

April 30th, 2009 Posted 10:38 am

Sudah hampir 3 minggu aku judeg, pusing klo kata orang Jawa. Bawaannya suntuk. Pokoknya gak produktif banget lah. Klopun ada yang dikerjain ya itu bukan nulis, tapi update sana-sini aja. Lagu-lagu di mp3 – mulai dari Safri Duo yang techno percussion sampe Halmahera yang jazzy – biasanya bisa menggoda untuk joged2, kali ini ga mempan. Kok [...]