Posts Tagged Kehidupan

genERAsi KLIK!

No Comments »

August 6th, 2010 Posted 7:45 pm

(Bhudi Tjahja)

Nama gw Cu Man KLIK!
Gw lahir akibat bokap gw nge-KLIK! nyokap waktu mereka blom merid
Bokap gw kenal nyokap akibat iseng2 nge-KLIK! foto2 friendlist temennya di jejaring Fast-KLIK!
Nyokap gw yg masih polos kena KLIK! bujukan bokap yg dulu masih jd playboy cap junk-KLIK!
Akh.. namanya juga remaja Go-KLIK!.. mereka gak takut dengan seks bebas yang tinggal nge-KLIK!
Ya jadinya beginilah gw hasilnya.. genERAsi KLIK!
Seperti yang diajarkan bokap-nyokap gw yg suka nge-KLIK!
Mao apa aja gw tinggal nge-KLIK!
KLIK!.. KLIK!.. dan KLIK!
Itulah siklus hidup gw di era dunia yg full KLIK! ini

(more…)

Tags:
Posted in Bhudi Tjahja

surat untuk mama

No Comments »

July 15th, 2010 Posted 7:44 pm

(Carlita Rozetta)

dear mom…

Kurang lebih 30 menit ku habis hanya untuk menatap layar komputer ini. Untuk memberitahu mama bahwa betapa aku bahagia bisa menjadi anak mama. betapa aku sangat beruntung telah memilikimu sebagai ibuku…Sulit sekali mewujudkan semua itu hanya dengan tulisan. karena semua yang telah mama berikan sudah lebih dari sekedar tulisan.

aku bisa menjadi sesuatu yang dapat dipandang oleh seluruh dunia karena mama…aku bisa menjadi orang karena mama, aku bisa menjadi seseorang yang seperti ini semua karena mama.

(more…)

merajai mimpi III

5 Comments »

July 1st, 2010 Posted 10:15 am

(Carlita Rozetta)

Ini sudah hari ketiga, Nara tidak juga bertemu dengan Haris. Apa yang harus Nara pikirkan? Haris sakit? Haris pindah? Haris…meninggal? Ah, aku benci kalo harus membuat cerita yang tragis. ini kan kisah gadis berumur 13 tahun, kenapa harus berakhir tragis? hanya untuk memahami hati pembaca post ku ini? sekali lagi, ini kan hanya sebuah kisah biasa dari gadis berumur 13 tahun. realistis sedikit lahh.

Semua hal telah Nara pikirkan. Bagaimana kalau Haris sakit? haruskan ia menjenguknya ke rumahnya yang berada di kawasan elit? di kawasan yang akan menjadikan dirinya sebagai pecundang sejati? Bagaimana kalau ternyata Haris sedang sibuk dengan tugas sekolahnya? haruskah Nara menginjakkan kakinya ke sekolah Haris yang begitu megah dan cukup mewah untuk gadis seperti Nara, tempat yang akan menjadikan Nara seperti gadis paling bodoh? atau bagaimana kalau ternyata Haris harus pindah sekolah? Apakah Nara sudah menyiapkan hatinya untuk hal itu? Apakah ia akan rela kalau nantinya ia tidak lagi bisa bertemu dengan Haris? Apa yang harus Nara lakukan terhadap semua kemungkinan itu?

(more…)

merajai mimpi II

2 Comments »

June 30th, 2010 Posted 6:04 pm

(Carlita Rozetta)

Sekian hari berlalu, Nara terus menghitung jumlah pertemuannya dengan Haris. Aku juga yakin tak sedikit dari kalian yang berpikir, “kenapa juga harus dihitung? kerajinan banget!!”…Yah, sekali lagi aku sadari kalian para pembaca, mereka sedang JATUH CINTA. Apapun menjadi penting. setiap pertemuan, setiap pembicaraan, setiap tatapan yang mereka lakukan satu sama lain, selalu memiliki arti.

Nara menghitung, serius, ia menghitung jumlah pertemuannya dengan Haris. Kini ia yakin bahwa hari ini seharusnya menjadi pertemuannya yang ke 63. Memang sudah lebih dari dua bulan mereka sering bertemu. tempat pertemuan mereka juga bukan tempat yang cukup romantis yang selalu dibayangkan semua gadis yang menanti pangeran hatinya. Hanya di pasar berbau amis dan busuk. Tapi mereka bahagia dengan semua itu.

(more…)

The Way Children See the World

No Comments »

June 24th, 2010 Posted 7:30 pm

(Astrid Tansidar)

Hari ini iseng kubaca ulang isi blog ku dan entah mengapa yang pertama kubaca adalah posting ini, posting lama yang kutulis tahun lalu tentang suatu film yang…well…membuatku berpikir. Jadi ingin membaginya……

270609

I watched a movie in HBO this afternoon (forgot the title ;p ). It’s about a man who have  Tourette Syndrome (an inheritedneuropsychiatric disorder characterized by multiple physical (motor) tics and at least one vocal (phonic) tic – from Wikipedia) and become the best teacher in his county.

There are several things in this movie that make me want to share it with you.

When he accepted the award he said that he’s grateful of his disability. Because his disability taught him more than anyone in his life. It taught him to keep going and continue his life, to keep dreaming,etc.

(more…)

Tags: ,
Posted in Astrid Tansidar

←Older