Posts Tagged Keluarga
Dear Mom
May 19th, 2011 Posted 1:25 pm
(Yohanna Yang)
Dear Mom,
I miss you so bad, mom… ![]()
***whispering in the late night, with any nightmares come in my mind.
flashback…
Sore itu… Teman-teman saya cukup sibuk menyiapkan hari spesial itu dengan begitu antusiasnya.
Membeli karangan bunga dan meyiapkan kado istimewa buat mama yang sangat mereka kasihi.
“Kamu gimana? biasanya memberi apa saat hari Ibu?”
Hmm…saya berpikir lama, dan akhirnya menggeleng “tidak ada”
Temanku sedikit kaget mendengarnya.
“Oh ya? Kenapa?”
“Entahlah” jawabku datar.
“Ibuku tidak terbiasa melakukan hal itu, dan akupun tidak pernah berpikir melakukan hal itu.”
Tapi sebenarnya ada perasaan rindu untuk melakukan itu. Aku selalu iri melihat keluarga yang hangat, yang penuh dengan kasih.
Saat ini aku jauh dari ibuku… So well, i can’t do anything…
Banyak sekali orang yang bertanya “Apa kamu tidak sayang pada ibumu?”
“Kenapa harus pergi bekerja dan belajar jauh dari ibumu?”
Huh… Pertanyaan yang cukup membosankan untuk diriku. Karena selalu saja seperti itu…
Dan saat aku menjawabnya, selalu saja ada ocehan yang tidak masuk akal bagi mereka.
Jadi aku hanya diam, tanpa memperdulikan apa yang mereka katakan. Mereka tidak mengerti apa yang aku rasakan.
Tahun berganti tahun… Hal yang sama yang aku dapatkan, tidak ada yang berubah.
Membuatku bosan… Mengapa tidak ada perubahan yang aku alami.
bahkan dari keluargaku sendiri.
Tags: Keluarga, Sharing
Posted in Yohanna Yang
Mimpi Berhadiah
May 18th, 2011 Posted 1:27 pm
(Yulita Nilawati)
Pagi-pagi bu Sentot sudah bangun, menyiapkan semua kebutuhan suami serta anak-anaknya. Ada sinar kebahagiaan di raut wajahnya, seperti hendak menceritakan sesuatu. Tak sabar hatinya untuk menceritakan mimpi semalam ke suami dan anak-anak.
“Pak.. pak.., ibu semalam bermimpi! kira-kira apa… arti mimpiku ini?” katanya.
“Apa sih bu, bapakkan mau pergi, sudah kesiangan nih! nanti saja ceritanya” sahut Pak Sentot sambil menyambar tasnya untuk berangkat ke kantor.
Tags: Cinta, Keluarga, Mimpi, Syukur
Posted in Yulita Nilawati
(Feels like) Stranger in My Own House Part 1
January 28th, 2011 Posted 12:41 pm
(Feels like) Stranger in My Own House Part 1
*** with translation
This is (supposed to be) my house.
My bedroom, my kitchen, my bed, my chair, my laptop, my wardrobe, my table…
But, why do I feel like a stranger? Is it because a house is not always a home? Why is the feeling suddenly changed so quickly? Is there something wrong inside of me?
I’m searching and searching for the right answer.
Couldn’t always find one-still haven’t found the right one until now…
Sometimes trying too hard and let myself cry to sleep.
Is it so bad to live in a what-so-called house without any intimacy involved in it?
My brother and sister…
Uh, they’re just seemed so far away from me. Even though the distance is just next door. I mean their rooms are only next to mine. But yet, we’re all too busy to talk. The maximum conversation we’ll have is only around 15 minutes during a quick dinner. Such a meaningless tradition to keep if its goal is to keep this family bonding together, well it failed I might say…
After those quick dinners, we’ll all run into our rooms and keep busy with our laptops, Ipad, and Blackberries. Sometimes, we even bring those Blackberries when we’re having dinner. And those 15 minutes minus the BBM and Yahoo Messenger will fly even faster. I’m still wondering though, why the technology must end up this way? This is supposed to be a good thing that will make us lead an easier life. Yes, it’s true. There’s no doubt about it. But why…oh why? They’re separating us even further? Or is it because we choose to? Or we’re just too busy finding the emptiness inside, those unhappy moments in our life, those lonely days, and try to change it with such gadgets? Or Korean Drama DVDs? Or chattings? Why it’s still so empty?
I’ve tried hard enough to find the answer. But, unexpectedly I found another answer instead.
This is going to be the same old story, if I myself don’t make any changes about it. It will be a-not-so-homey home after all, so why should I bother? It seems that my parent doesn’t do anything about it… So, why should I take the responsibility? As the youngest child in this family, I don’t feel that it’s my obligation anyway.
If anyone should be responsible, we can leave it to my mom, my dad, or even my elder brother and sister. Definitely, it’s not mine!
Then, what should I do? Will they listen to me if I said something? While most of the time, my voice has never been really heard anyway. Would they care to know what I feel, what I think? While most of the time they think that I’m a nobody- young kid who lives in my own world and doesn’t know anything. One thing that they’ve forgotten, I’m older now. Every year I get older-and hopefully get wiser, things that they don’t really bother. Oh, most people don’t! They’ve never really care about the fact that they’re supposed to gain more wisdom when they’re older. Time will pass by, we’ll all have to face the aging process anyway. Even we don’t want it, we want to stay young as long as we could. We put anti-aging cream, do some surgery or facelifts, botox, hair-coloring, just to reduce or minimize the aging…
I’ve found that I need to change, I need to speak up. I’m doing good for this family. It’s for our sake. But, I don’t know-once again I have a huge doubt about it- will I ever be succeed?
Finally, I don’t feel like eating. I don’t feel like browsing the internet. I lost interest in Blackberry and its chatting system. I have to tell you that I’m still lonely. The alienation inside my heart is getting stronger. I need help. But, I don’t know will my family member feel the same as well? Or they might think that I’m a bit lost of my mind?
Then, I begin to pray.
Something that I’ve never done for the last 5 years of my life. I begin to search God. The new connection is formed again. Last time it was there, but it was disconnected several times. Even though maybe God is trying hard to do the redial through His Love’s modem, but it seemed that I failed to connect due to several technical problems inside of me.
To be continued…
(Merasa Seperti) Orang Asing di Rumahku Sendiri Bagian Pertama
*** dengan terjemahan
Ini (seharusnya) adalah rumahku.
Kamarku, dapurku, tempat tidurku, kursiku, laptopku, lemari pakaianku, mejaku…
Tetapi, mengapa aku merasa seperti seorang asing? Apakah karena sebuah rumah bukanlah tempat di mana aku merasa kerasan/betah? Mengapa perasaan itu begitu mudah berubah? Apakah ada sesuatu yang salah dengan diriku?
Aku mencari dan terus mencari jawaban yang sesungguhnya.
Tidak selalu bisa menemukannya-masih belum menemukan jawaban yang tepat sampai saat ini.
Terkadang aku berusaha terlalu keras untuk itu sampai membiarkan diriku menangis sampai tertidur.
Apakah begitu buruknya tinggal di sebuah rumah tanpa keterlibatan yang intim di dalamnya?
Kakak lelaki dan perempuanku…
Ah, mereka kelihatannya terlalu jauh dariku. Walaupun jarak mereka sesungguhnya hanyalah di sebelahku saja. Maksudku, kamar mereka ada di sebelahku. Tetapi, kami semua terlalu sibuk untuk berbicara. Percakapan terlama yang kami lakukan hanyalah sekitar 15 menit selama makan malam yang terburu-buru. Tradisi yang amat tidak berarti jika tujuannya mempererat keluarga ini, tujuan itu takkan tercapai.
Setelah makan malam yang buru-buru, kami semua akan dengan tergesa-gesa lari ke kamar kami masing-masing dan akan sibuk dengan laptop, Ipad, serta Blackberry kami. Terkadang, bahkan kami membawa Blackberry tersebut saat kami sedang makan malam. Dan 15 menit minus BBM dan Yahoo Messenger akan terbang lebih cepat lagi. Aku terus bertanya-tanya sebetulnya, mengapa teknologi harus berakhir seperti ini? Bukankah dia bertujuan baik, yang seharusnya membawa kita ke kehidupan yang lebih mudah? Ya, benar. Tak ada keraguan akan fungsi tersebut.
Tetapi mengapa oh mengapa? Mereka malah memisahkan kita semakin jauh. Apakah karena kita memilih untuk itu? Atau kita terlalu sibuk untuk menemukan suatu kekosongan di dalam diri kita, saat-saat yang kurang membahagiakan, hari-hari sepi, dan berusaha menggantikannya dengan alat-alat komunikasi modern? Atau DVD drama
Aku sudah berusaha keras menemukan jawabnya. Tetapi, secara tak terduga, kutemukan jawaban yang lain sebagai gantinya.
Ini akan jadi cerita usang yang sama, ketika aku tak melakukan perubahan apa pun dalam situasi ini. Akan tetap jadi rumah yang tidak membuat anggotanya kerasan, jadi mengapa aku harus peduli? Kelihatannya orang tuaku tidak melakukan apa pun mengenai hal ini… Jadi, mengapa aku harus bertanggung jawab? Sebagai anak terkecil di keluarga ini, aku tidak merasa ini adalah kewajibanku.
Kalau ada yang harus bertanggung jawab, harusnya adalah mama, papa, atau kakak yang lebih tua dariku. Pastinya, bukan diriku!
Lalu, apa yang harus kulakukan? Akankah mereka mendengarkan aku kalau aku mengatakan sesuatu? Ketika banyak kali, suaraku tak pernah didengarkan juga. Akankah mereka peduli tentang perasaanku, tentang pikiranku? Ketika banyak kali mereka pikir aku bukanlah siapa-siapa— hanya seorang anak kecil yang hidup dalam duniaku sendiri dan tidak tahu apa-apa. Satu hal yang mereka lupa, usiaku semakin bertambah. Setiap tahun aku tambah tua-dan semoga tambah bijaksana, hal yang tak pernah mereka pdulikan. Oh, begitu juga dengan banyak orang di luar
Kusadari bahwa aku harus berubah, aku harus bicara. Aku melakukan hal yang baik bagi keluarga ini. Ini untuk kebaikan kami bersama. Tetapi, aku tak tahu— sekali lagi keraguan yang besar menyergapku—akankah aku berhasil?
Akhirnya, aku tak berselera makan. Aku tak kepengin main internet. Aku kehilangan minat main Blackberry dan chattingnya. Harus kuakui bahwa aku masih kesepian. Rasa terasing di dalam hatiku bertambah kuat. Aku butuh pertolongan. Aku tak tahu apa anggota keluargaku akan merasakan hal yang sama? Atau mereka pikir aku agak kurang waras???
Kemudian, aku mulai berdoa.
Suatu hal yang tak pernah kulakukan selama 5 tahun terakhir di hidupku. Aku mulai mencari Tuhan. Hubungan yang baru terbentuk lagi. Waktu yang lalu, hubungan itu sempat ada tetapi pernah putus-sambung beberapa kali. Walaupun Tuhan melalui modem cintanya berusaha keras melakukan ‘redial’, tetapi kelihatannya aku gagal ‘connect’ ke Tuhan karena beberapa masalah teknis di dalam diriku.
Bersambung…
sumber gambar:
4interior-design.com
Tags: Keluarga, Tuhan
Posted in Fonny Jodikin
Bolu Kukus
December 9th, 2010 Posted 10:31 am
Bolu Kukus
*Arti Sebuah Perjuangan dan Kasih Mama bagiku…
Ketika tak berselera untuk makan saat awal kehamilan, aku sukanya hanya ‘ngemil’ saja. Mulai dari tahu goreng,
Di antara semuanya itu, seorang tetangga yang baik hati memberikan dua buah bolu kukus. Warna krem mendominasi, dengan warna cokelat tua di pinggirannya menandakan dia rasa cokelat. Kubuka kertas ‘cup cake’ yang menjadi dasar Si Bolu, lalu mulai memakannya. Rasanya enak. Halus dan empuk. Dia memang tidaklah secantik ‘cup cake’ yang tengah menjamur saat ini. Namun, di hatiku, dia tetap memegang suatu kenangan khusus yang tak tergantikan. Seketika, kenangan akan bolu kukus membawaku ke masa-masa itu…
Palembang, kenangan masa SMP, hampir 20 tahun lalu…
Papaku sakit.
Dengan segala komplikasi penyakitnya membuat Papa tak mampu lagi mempertahankan bisnis yang sudah ditekuninya lebih dari dua puluh tahun lamanya. Ekonomi keluarga sempat morat-marit, tetapi Mamaku tetap tegar. Kami
Di saat itulah, Mama mulai mencoba membuat kue dan lemper, serta mulai menitipkannya pada beberapa toko di pasar, maupun bakery dekat rumah. Perlahan, dia mulai berlatih membuat bolu kukus. Tidak sempurna pada awalnya, beberapa tidak mengembang bahkan berbentuk topi (tetapi terkadang menjadi kesenanganku tersendiri karena aku bisa dibagi dan makan bolu itu:)). Lalu perlahan Mama semakin mahir dan usaha berjualan kue semakin dikenal orang. Setidaknya, dapur keluarga masih mengebul dan kami masih bisa bersekolah.
Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya aku masuk SMU, Universitas dan bekerja. Harus kuakui, hari-hari perjuangan Mama memenuhi kebutuhan kami dipenuhi dengan pertemanannya dengan gula, telur, terigu, soda, dan semua komponen bahan yang menjadikan bolu kukus tercipta.
Setidaknya, bolu kukus punya andil yang cukup besar pula bagi apa yang sudah kami raih hari ini. Di situlah kulihat ketegaran dan kekuatan seorang Mama yang puji Tuhan dipilihkan-Nya bagiku. Untuk menjadi contoh bahwa hidup terkadang berat dan tak pernah bisa ditebak ke mana arahnya. Tetapi penting bagi kami untuk tidak menyerah ataupun mengaku kalah. Karena hidup adalah perjuangan untuk tetap tegar, di antara semua permasalahan ataupun lika-likunya yang tak pernah kuketahui bagaimana kompleksnya…
Terima kasih, Tuhan buat Mama. Buat bolu kukus. Dan buat kebersamaan di tengah badai dan pelajaran ketegaran di dalamnya…
Kupandangi lagi kertas bolu kukus yang tersisa… Bolunya sudah habis.
Namun, tak segera kubuang kertasnya…
Kenangan atasnya membawaku kembali ke masa-masa penuh perjuangan sekaligus pembelajaran terbesar dalam hidupku. Bahwa hidup bisa berubah drastis, bisa membawaku ke perjalanan yang suram dan mungkin tak menyenangkan…
Tetapi, Mama mengajarkanku untuk tegar dan berjuang. Tidak menyerah kalah. Tidak pula melakukan yang buruk, terlarang, atau suatu kejahatan untuk mendapatkan uang…
Bekerja keras, jujur, berikan yang terbaik… Tuhan punya mata, Dia takkan tinggal diam melihat orang-orang yang berjuang keras untuk hidup sembari terus berdoa dan berserah kepada-Nya….
Kubuang bungkus plastik dan kertas bolu kukus itu… Namun kenangan dan pembelajaran di dalamnya takkan terhenti sampai di situ, bahkan akan tetap terpatri dalam relung terdalam di hatiku. Selamanya.
-fon-
*Mataku basah saat menuliskan hal ini. Rasa haru, sekaligus syukur meliputiku. Karena kebaikan-Nya aku bisa hidup dan mengecap banyak kebaikan sampai hari ini. Salah satu yang terbaik adalah keluargaku: Mama, Papa, dan seluruh kakak-adikku… Thank God!
* copas, forward, share? Harap sertakan sumbernya…
Tags: Keluarga, Motivasi
Posted in Fonny Jodikin
Lelaki Sepertimu………….
August 30th, 2010 Posted 8:32 am
(Margaretha Dwi Hastuti)
“I just want to say that ever since I was born, daddy has been the best father you could ever imagine … and I just want to say that I love him so much…”
Seluruh dunia terhenyak dan beberapa bahkan menitikkan airmata ketika pidato kecil ini diucapkan Paris Jackson saat memorial ayahnya, Michael Jackson pada 7 Juli setahun yang lalu.
Aku mengerti sekali arti kalimat itu. Bagaimana perasaan seorang anak perempuan terhadap ayahnya.Aku tau tidak semua anak mempunyai hubungan yang baik dengan ayah mereka, dan tidak semua anak perempuan mempunyai hubungan yang dekat dengan ayah mereka.
Tags: Keluarga
Posted in Margaretha Dwi Hastuti














