Posts Tagged Refleksi
SUKSES
March 19th, 2011 Posted 8:02 am
Seorang guru Bahasa Indonesia sedang mengajarkan tentang topik “Menulis”, ketika seorang anak murid menyela.
“Bu, saya mau tanya,” kata si murid.
“Silahkan, apa pertanyaanmu?”
“Ibu sudah pernah menulis buku?”
“Belum, Nak,”
“Ada artikel ibu yang diterbitkan di majalah atau surat kabar?”
“Tidak ada, Nak,”
“Hm… menulis makalah, mungkin?”
“Sekali dua kali pernah…”
Si murid itu tambah gencar mencecar gurunya. Tetapi, tetap jawaban si ibu guru itu adalah ia tidak memiliki hasil karya tulis yang membanggakan.
“Lalu, kalau tidak ada satu pun karya tulis yang bisa ibu tunjukkan pada kami, apa gunanya ibu mengajarkan pelajaran Menulis ini?” katanya dengan angkuh.
Si Guru Bahasa Indonesia itu terdiam sejenak. Kemudian, ia mengambil laptopnya, dan membukanya.
“Benar, tidak ada satu pun buku atau artikel pun yang ibu tulis. Ibu menulis makalah juga hanya sekali dalam empat tahun, mengikuti ketentuan kenaikan pangkat. Tapi, ibu punya beberapa catatan berikut ini,” ibu guru itu terdiam sejenak, dan mulai membaca dari laptop-nya.
“Ibu, saya mau bilang terima kasih. Saya sedang stress berat, karena skripsi saya selalu dikritik tata bahasanya tanpa diberi pembetulan. Akhirnya, saya gunakan catatan yang dulu ibu berikan. Dan, tahu nggak, bu, catatan itu memudahkan saya melihat kesalahan dalam penulisan skripsi saya…”
“Ibu, saya nggak nyangka, jadi hakim juga harus berurusan dengan dunia tulis menulis. Saya jadi ingat ibu dan pengajaran yang ibu berikan. Untunglah saya mengalami semua itu, karena terbukti sangat berguna buat saya…”
“Ibu, terima kasih buat pengajaran Bahasa Indonesia yang ibu berikan. Saya dulunya benci Bahasa Indonesia, tapi semenjak belajar dengan ibu, saya jadi suka. Bahkan sekarang, saya menjadi dosen Bahasa Indonesia di University of Brisbane….”
“Hai, Ibu, novel saya yang terbaru sudah terbit! Ibu pasti akan saya kirimi! Jangan kawatir bu, pasti free, hitung-hitung untuk membayar kenakalan saya pada waktu belajar Bahasa Indonesia dulu….”
Dan, ibu guru tua itu masih melanjutkan dengan beberapa catatan lagi, yang rupanya ia terima dari mantan muridnya. Catatan-catatan itu diketiknya rapi-rapi di laptopnya. Dan rupanya, catatan itu berupa daftar yang lumayan panjang. Tidak hanya itu saja, semakin catatan-catatan itu dibacakan, terlihat kepala si murid sombong itu semakin tertunduk.
“Nah, anakku, bila ukurannya adalah jumlah tulisan yang sudah ibu buat, maka ibu bukanlah guru yang baik buatmu. Namun, buat ibu sendiri, ibu sangat senang dan bangga bila berhasil membuat orang lain menulis dengan benar dan tepat. Di situlah ibu menjalankan fungsi sebagai guru…”
Pekanbaru, 17 Maret 2011
Agnes Bemoe
Tulisan ini diunggah juga di blog saya “meine welt” : http://abemoe.blogspot.com/2011_03_01_archive.html

Sumber Gambar: http://3.bp.blogspot.com/_5Xo8e2eDWxU/TSl-R2FLEdI/AAAAAAAAAA0/3l6mSHT58ik/s1600/05_teaching_1024.jpg
Tags: Refleksi
Posted in Agnes Bemoe
Telinga Mendengar
January 19th, 2011 Posted 4:10 pm
KENAPA? Selalu saja dia menutup telinganya!
Hei, kau kenapa?
Jangan peduli padaku!
Aku mempunya dua telinga untuk mendengar, ceritakan padaku!
Emm, Kau tidak akan menutup telingamu seperti mereka?
Aku akan mendengar dan selalu mendengar suara hatimu.
Mengapa Kau tidak seperti mereka?
Karena Aku tahu, kau membutuhkan telinga yang mau mendengar.
Hei, apakah aku sama seperti mereka yang suka menutup telinganya?
‘Dia tersenyum.’
Mungkin.
Aku harus bagaimana menurutmu? Aku ingin di dengar.
Maka kau harus mau mendengar juga.
Apakah aku bisa?
Selalu bisa. Kau bisa melakukan apapun, asalkan kau mau.
Sekarang, ceritakan padaKu.
Em, Kau benar takkan menutup telingamu?
Tidak, aku janji padamu.
Jakarta, 19 Januari 2011
Tags: Refleksi
Posted in Irene Wibowo
Remeh
November 8th, 2010 Posted 6:44 pm

Uang sudah jadi sahabatnya akhir-akhir ini. Dengan ramah ia menyapa, mendekat dan memenuhi hidupnya dengan kemilau kemewahan. Mobil, rumah, fasilitas kantor yang dinikmatinya, sungguh luar biasa. Bahkan bisa membuatnya lupa daratan! Ah, begini rasanya sekecup kenikmatan kekayaan itu, ujar hatinya…
Perubahan status dan strata sosial juga mempengaruhi pergaulannya. Teman-teman yang dulu seperjuangan naik bus bersama, memenuhi halte, ataupun tukang ojek langganannya, tak lagi dipandangnya sebelah mana. Mereka mungkin jadi tak kasat mata, seolah hilang dan tinggal di belahan bumi lainnya. Kini yang ada: janji sana-sini, gaul kanan-kiri, party sampai pagi. Inilah
Tingkahnya semakin lama semakin ‘bossy’ saja.
“ Aku ‘
Sikap itu terbawa juga sampai ke istrinya, ke ibu-bapaknya yang adalah orang tua kandungnya, kepada mertuanya, kakek-neneknya, oom-tantenya. Semua jadi kurang penting, apalagi kalau mereka bukan yang bertipe keren atau mendongkrak statusnya. Kalau hanya akan menjatuhkan dirinya, mending mereka pergi saja. Remehkan saja mereka! Tokh mereka tak penting inilah…
Suatu hari…
Dipandang hinanya seorang pria yang duduk di sofa kantornya. Di ruang tunggu tamu dekat resepsionis, bapak tua berbaju tak layak itu tampil bak mau ke pasar saja. Baju lengan pendek, kaos tepatnya yang warna putihnya sudah kekuning-kuningan dimakan usia, celana pendek yang juga kusam warna hitamnya. Dan sandal jepit, Saudara-saudara! Sungguh tidak pantas dia duduk di sofa kantor warna merah darah yang elegan dan mewah. Dipandangnya dengan sinis:
“ Bapak mau cari siapa?” Pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Walaupun itu bukan ‘job description-nya’
“ Oh, saya menunggu anak saya.” Jawabnya perlahan dengan senyuman.
“ Apa gak bisa Bapak tunggu di bawah saja, daripada duduk di sofa ini bikin malu yang lihat Bapak dengan kondisi begini? Kayak mau ke pasar aja, Pak…” Ucapnya bak rentetan peluru yang keluar dari senapan mesin. Masih dengan tatapan sinis dan wajah menghina…
“ Sabar, Pak. Beri saya dua menit saja, katanya anak saya akan keluar sebentar lagi. Dia lagi ada pertemuan di dalam.” Ujar Bapak itu lagi.
Hampir naik pitam, dipanggilnya satpam perusahaan dan disuruhnya mengusir Bapak itu. Entah kenapa, dia jadi emosi luar biasa, padahal itu bukanlah urusannya.
Dan pada saat yang bersamaan, keluarlah Pak Dira, Direktur sekaligus pemilik perusahaan ini.
“
“ Oh, Bapak… Kapan sampai, Pak?” Pak Dira langsung berpaling ke Bapak tua yang hampir ditarik satpam keluar dan habis dimaki-makinya.
Dia mematung. Malu luar biasa.
Itu??? Bapaknya Pak Dira??? Hampir tak mungkin rasanya! Tapi itu kenyataannya.
“ Bapak masih mau menunggu kamu, tapi anak muda yang hebat ini mau mengusir Bapak karena dianggap menodai citra kemewahan kantormu dengan pakaian Bapak yang ala kadarnya ini,” kata Bapak itu menjelaskan.
Pak Dira mendelik sebentar, menghela nafas, lalu bilang:
“ Saya tunggu kamu di ruangan saya, sepuluh menit lagi.”
“ Baik, Pak,” ujarnya. Pasrah.
Masih mendelik pada resepsionis, dia masih sempat berkata:
“ Kenapa gak bilang kalau itu Bapaknya Pak Dira?” Tanyanya marah.
“ Lho, Bapak ‘
Sepuluh menit berikutnya…
Dia kehilangan semua fasilitasnya. Dia diturunkan jabatannya jadi staf saja. Tetapi bagusnya dia tidak di-PHK. Dalam hatinya, dia menyesali tindakannya.
Dan dia sadar, begitu ‘remeh’ jiwanya hanya karena mengecap kemewahan yang sementara saja.
Hasil meremehkan orang lain, terbayar hari ini dengan diremehkannya dirinya.
Remeh?
Gak lagi-lagi deh…
Tak ada lagi celoteh…
Hanya diam tanpa terkekeh…
Tanpa sadar air mata meleleh…
Tobat, kuundang dirimu, boleh?
-fon-
* untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak memandang remeh siapa pun, apalagi hanya berdasarkan penampilan belaka…:) Semua sama-sama manusia…
sumber gambar:
jerry71man.blog.friendster.com
Tags: Refleksi
Posted in Fonny Jodikin
Bingung?
October 6th, 2010 Posted 8:11 pm
(Fonny Jodikin)
Bingung?
Pernah bingung? Dan upaya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal itu seolah tiada artinya? Hmmm, Anda tidak sendirian kalau begitu. Saya juga pernah. Dan bukan hanya sekali ini terjadi.
Pernah merencanakan suatu ‘planning’ yang luar biasa rapi jali dan kemudian menemukan perencanaan itu nyatanya harus hancur berantakan padahal sudah diupayakan sekuat tenaga? Jangan kuatir, lagi-lagi saya pun sama. Senasib sepenanggungan dengan Anda.
Tags: Motivasi, Refleksi
Posted in Fonny Jodikin
surat cinta topeng legowo
August 6th, 2010 Posted 9:59 am
(Bhudi Tjahja)
disukai banyak orang
aku mempunyai berlaksa ekspresi
dari yang bersedih
hingga menyombong pasang aksi
biarkan saja orang-orang memakaiku
bahkan namaku dibuat sebagai sindiran
tapi aku sudah terbiasa
karena sejak terlahir aku sadar
bahwa aku dijadikan topeng oleh mereka
Tags: Puisi, Refleksi
Posted in Bhudi Tjahja












