Posts Tagged Sharing
Berakhir Bahagia
July 31st, 2010 Posted 4:26 pm
(Lia Maria Agnes)
Punya pacar. Laki-laki brengsek. Sering menghilang. Tiba-tiba muncul lagi. Hilang lagi. Seperti jelangkung. Datang tak dijemput. Pulang tak diantar. Membuat gila. Membuat cemas. Berpikir negatif. Menepis pemikiran sendiri. Tapi kok menghilang lagi? Berpikir negatif lagi. Menepis lagi. Kenyataannya menghilang. Sok berpikir positif. Ditampar kenyataan. Sang pacar selingkuh. Di depan mata. Berpikir negatif lagi. Terpuruk. Memaki diri. Memaki sang pacar. Terpuruk lagi. Akhirnya sadar. Mulai bangkit. Tertatih. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Berpikir positif. Sedikit memaki keadaan. Berbenah diri. Biasa? Sangat biasa. Umum.
Apa yang tak biasa?
Tags: Curhat, Sharing
Posted in Lia Maria Agnes
Kacang mongso ninggal lanjaran
July 30th, 2010 Posted 9:22 am
(Lusia Widijaningrum)
Peribahasa di atas begitu dalam kumaknai, sesaat setelah khotbah misa pagi di sebuah gereja yang semua serba sederhana, baik bangunan gedung dan seisinya . Suasana pedesaan, bebunyian angin di dedaunan, kicauan burung membawa aroma kesejukkan.
Misa pagi dalam bahasa jawa, membuatku harus ekstra menyimak, untuk dapat menangkap makna dari kalimat perkalimatnya,
terjemahan bebas yang ku maknai dengan segala keterbatasan kemampuanku dalam menangkap arti dari peribahasa itu:
Tags: Sharing
Posted in Lusia Widijaningrum
Menulis, Menggiat, Menggondrongkan diri lalu botak lagi
July 4th, 2010 Posted 8:16 am
(Eko Bimantara)
Terakhir kali saya aktif dan giat dikampus adalah ketika saya menjadi panitia di PERMASARU (Perkenalan Mahasiswa Baru) tahun 2008, OSPEK-nya Mahasiswa Seni Rupa UNJ (IKIP Jakarta kalau dulu).
Di kegiatan ini saya bertindak sebagai salah satu panitia yang memegang peranan pusing…. disini atau mungkin dimana-mana kalau jadi panitia kegiatan, konsekuensi yang harus siap dihadapi kalau tidak pusing ya capek, tinggal pilih, mudah-mudahan bisa memilih karena banyak teman yang kena imbas kedua-duanya… jadi beruntunglah saya karena saya hanya pusing saja, tidak secapek teman-teman panitia yang lain. Saya mem-PERMASARU-kan anak yang baru masuk dan terdaftar sebagai mahasiswa Seni Rupa angkatan 2008, dan sadar, kalau ternyata anak-anak baru itu memang benar-benar terlihat polos, lugu nan linglung, mungkin sama seperti saya dulu ketika ada di posisi mereka, selalu menjauhi kerumunan anak kampus gondrong seram yang nongkrong-nongkrong sambil melihat galak ka arah saya. Lalu posisi itu berganti, saya adalah anak kampus yang gondrong-gondrong nongkrong itu sekarang, tapi saya ragukan apakah saya ini galak atau tidak…
Tags: Sharing
Posted in Eko Bimantara
The Way Children See the World
June 24th, 2010 Posted 7:30 pm
(Astrid Tansidar)
Hari ini iseng kubaca ulang isi blog ku dan entah mengapa yang pertama kubaca adalah posting ini, posting lama yang kutulis tahun lalu tentang suatu film yang…well…membuatku berpikir. Jadi ingin membaginya……
270609
I watched a movie in HBO this afternoon (forgot the title ;p ). It’s about a man who have Tourette Syndrome (an inheritedneuropsychiatric disorder characterized by multiple physical (motor) tics and at least one vocal (phonic) tic – from Wikipedia) and become the best teacher in his county.
There are several things in this movie that make me want to share it with you.
When he accepted the award he said that he’s grateful of his disability. Because his disability taught him more than anyone in his life. It taught him to keep going and continue his life, to keep dreaming,etc.
Tags: Kehidupan, Sharing
Posted in Astrid Tansidar
ICU room
June 22nd, 2010 Posted 11:03 am
(Lusia Widijaningrum)
Dari ruang berbatas kaca ini, aku menuliskan untukmu, semua yang belum sempat terucap kemaren siang.
Mungkin kau masih mengira aku ini perempuan super kuat, tapi tidak! karena saat ini aku terbaring lemah di ruang ICU dengan oksigen yang di transfer melalui dua lubang kecil di hidungku.
Mengingat kembali, kejadian kemarin siang, setelah percakapan kita selesai, mendadak aku sesak nafas, dan tak kuat menahan kesedihan di dadaku , aku terjatuh untuk yang kedua kali, kali ini lebih menyakitkanku di banding kejatuhanku 23 th lalu.
Tags: Sharing
Posted in Lusia Widijaningrum
Berbagi cerita
June 13th, 2010 Posted 11:17 am
(Lusia Widijaningrum)
Ke Amerika : ( Refleksi pengamatan dari perjalanan di LA,SF, NJ,NY ,PENN)
Bagi siapa saja yang pernah tinggal atau menginjakkan kakinya di negeri orang, pastinya punya pengalaman suka dan duka, berikut ku bagikan sekelumit cerita yang ku alami sendiri di negeri Paman Sam. Dengan berbekal ‘bonek’ alias bondo nekat atau modal nekad, ku menginjakkan kaki di LA , setelah melalui pemeriksaan yang cukup ketat ( kenakalan berpikirku bicara: Apa yang Kau takutkan wahai Amerika…? karena sampai sedemikiannya pemeriksaan ketat yang di berlakukan bagi pendatang yang menuju negaramu)
Tags: Sharing
Posted in Lusia Widijaningrum
Where’s True Friend
June 8th, 2010 Posted 8:58 pm
(Dilla Maulina)
Malam itu gue sedang berusaha tidur. Udah seminggu ini penyakit insomnia gue kambuh. Tiba-tiba telepon di atas meja belajar gue berdering.
“Halo, Tarra! Besok jadi khan?” tanya Karin di telepon terdengar penuh semangat.
“Ngga janji ya, Kar?” jawab gue.
“Iiih!” pekik Karin nyaring. Bakalan tambah susah tidur nih gue. “Sejak kapan lo pake ngomong ngga janji segala. Kaya orang penting aja tau ngga!” sahutnya kesal lalu segera menutup teleponnya.
Gue Tarra. Ini awal semester dua gue kuliah. Dan sekarang gue baru merasa ada sesuatu yang kayanya ngga nyaman dalam hidup gue. Awalnya sih happy tapi makin ke sini gue makin merasakan kejanggalan itu.
Hari ini ada kuliah pagi. Tadi malam beneran gue ngga bisa tidur nyenyak. Padahal gue udah mencoba minum obat tidur. Tapi hasilnya nihil. Gue baru bisa tidur jam lima pagi. Entah ada kekuatan apa yang membuat gue bisa bangun jam enam.
Tags: Sharing
Posted in Dilla Maulina
Facebook…ckckck…boleh juga…
May 18th, 2010 Posted 7:40 am
Gue gabung di Facebook (FB) kalo gak salah 1.5 taun yang lalu. Itu juga dibuatin adik gue yang waktu itu pengen gue ikutan ngisi salah quiz yang ada di FB. Baru beberapa hari gabung, gak lama kemudian udah ketemuan ama beberapa temen kuliah gue dulu di Unpar, yang udah 12 taun gak ketemu. Seneng banget!! Untung ada lo Len yang jadi “EO” dadakan…hehehe.
Dari FB seperti yang udah seharusnya terjadi, gue “ketemu” lagi ama temen-temen lama dari SD sampe waktu kerja dulu, bahkan dapet banyak juga temen-temen baru. Buat gue yang gak punya temen di sini (di Johor), FB jadi tempat gue “hang out”. Perasaan jadi punya banyak temen walaupun cuma di dunia maya, tapi mungkin saat ini itu aja yang gue perluin karna lagi gak mungkin banget buat gue hang out di dunia nyata. Dengan 3 krucil yang masih glayutan di kaki, jalan-jalan ma temen dilupain aja dulu…
(more…)
Tags: Hari-hari, Sharing
Posted in Liana Matasik Karini
Ah… Seandainya
May 12th, 2010 Posted 7:34 am
(Carline Susanto)
Ah…seandainya aku diciptakan dengan tubuh proporsional, aku pasti lebih percaya diri.
Ah…seandainya aku tinggal di rumah seperti istana, aku akan hidup bak seorang puteri.
Ah…seandainya aku mempunyai mobil mewah, aku tidak perlu berdesakan di bus kota sambil berdiri.
Ah…seandainya aku hidup berkelimpahan, aku tidak perlu berpikir bisa makan apa hari ini.
Ah…seandainya aku mempunyai pekerjaan baik dengan gaji tinggi, aku tidak perlu khawatir soal materi.
Ah…seandainya aku dilahirkan dengan wajah cantik,orang-orang akan kagum padaku dengan kata -kata penuh memuji.
Tags: Sharing
Posted in Carline Susanto
Balada Kesepian
May 10th, 2010 Posted 8:06 am
(Ika Devita S)
Kehidupanku sederhana saja. Aku masih lajang. Bukan berarti aku tidak mau beristri. Rumah yang ditinggalkan almarhum orang tuaku juga tidak terlalu buruk. Aku hanya belum menemukan gadis yang sanggup membuka kunci hatiku. Gadis yang banyak kutemui adalah mereka yang haus perhatian. Almarhum ibuku pernah berkata, “Nak, jangan cari istri yang cantik. Cari saja yang taat beribadah. Walaupun pendiam tapi dia setia”
Akupun menuruti kata-kata ibuku. Suatu hari aku dapatkan seorang gadis yang santun. Dia taat beribadah. Tidak pernah dilupakannya saat-saat berdoa. Semua kewajiban pun dia lakukan. Dia tidak pernah membantah. Anaknya penurut. Suatu hari saat aku ingin menjadikan dia istriku, dia menolak. Ayahnya tidak setuju. Aku merasa gagal. Aku kecewa. Mengapa tidak dari awal saja aku dekati ayahnya!
(more…)
Tags: Sharing
Posted in Ika Devita S
Benarkah Tidak Ada yang Kebetulan?
May 3rd, 2010 Posted 10:11 pm
(Vina Venylia)
Waktu itu aku pergi nonton sama ciciku. Di satu tempat yang baru dibuka dan masih sepi. Berhubung tempatnya baru, maka nonton di sana masih murah *harga promo*, dan nontonlah kami di sana.
Sehabis nonton, aku sama ciciku didatangi sama SPG yang menawarkan barang gratis. Tadinya memang mau cuekin aja, tapi mendengar kata ‘barang gratis’, aku jadi penasaran. Aku hanya ikut SPG itu dengan insting negatif: masa iya sih hari ini masih ada yang gratis. Barang kayak apa sih yang mau dibagi gratis itu? Alhasil, ternyata aku dibagi gratis cairan pembersih, bisa untuk membersihkan kaca, barang elektronik, meja-kursi, barang-barang yang terbuat dari emas-logam-besi-kayu. Aku pun tak yakin cairan itu bisa berguna buatku. Tapi tak apalah kubawa pulang, toh siapa tahu mamaku mau coba pakai.
Tags: Curhat, Sharing
Posted in Vina Venylia
Sharing : Kejadian-kejadian dalam Hidup Berkeluarga Sehari-hari (1) Episode Melatih Chris Tidur di Kamarnya Sendiri
April 29th, 2010 Posted 1:17 pm
(San San Tjahaya)
Sejak melahirkan anak ke-2 kami (Christopher) di tahun 2006, saya dan suami selalu tidur terpisah. Kami tidak mempunyai box khusus untuk bayi dan kebetulan saudara-saudara kami yang memiliki anak kecil masih menggunakan box miliknya atau sudah keburu memberikan atau meminjamkannya kepada orang lain. Sementara untuk membeli yang baru kami rasa biayanya terlalu besar. Karena itu Chris si bayi tidur bersamaku di kamar utama sedangkan suamiku tidur bersama Lucky, anak kami yang sulung di kamar anak-anak.
Sekarang Chris sudah berusia lebih dari 3 tahun dan kami sedang berusaha untuk melatihnya tidur di tempat tidurnya sendiri di kamar anak yang memang sudah kami persiapkan untuknya.
Tags: Anak, Keluarga, Sharing
Posted in San San Tjahaya
Ga Penting
April 29th, 2010 Posted 10:00 am
(Zheng Qiu Hui)
Di suatu hari yang tidak penting, diriku yang tidak berarti ini menuliskan suatu karangan yang tidak berarti dan tidak penting.
Yah, sebenarnya diriku yang tidak penting ini hanya ingin menceritakan hal-hal tidak penting yang tidak berarti bagiku. Seperti ketika pagi hari, sejenak setelah aku membuka mata terdengar suara burung yang tidak penting (karena aku tidak tahu dan tidak peduli nama,jenis,dan spesies burung tadi) berkicau dengan tidak berartinya. Juga ketika setelah rohku terkumpul sempurna, tiba-tiba terdengar teriakan yang tidak penting dari seorang tukang kue yang lewat di depan rumahku. Gilanya, teriakan tidak penting itu mendapat respon dari perutku yang terlalu duniawi. Terpaksa aku menanggapi teriakan tidak penting tadi dengan teriakanku yang bermakna (karena tukang kue itu langsung bereaksi dan berlari-lari kecil menghampiriku) Aku membeli beberapa kue yang tidak menarik untuk memuaskan napsu keduniawian perutku yang tidak bisa ditoleransi.
Tags: Sharing
Posted in Zheng Qiu Hui
temptation
April 26th, 2010 Posted 9:29 am
(Lusia Widijaningrum)
Hari itu, Jum’at ke V, hari pantang yang telah kutetapkan, membuatku tersiksa, ingin menyerah saja! berawal dari pikiran, membayangkan kepulan asap, tentu nikmat!, kali ini saja! tentu tak mengapa. “come on! don’t give up! kata suara putih itu. Baiklah kataku, menunggu sebentar, aku akan baik-baik saja, dan hari demi hari berlalu, sampai di penghujung akhir masa pantangku, memasuki masa “tiga hari suci” tak tertanggungkan rasa ini, di hamparan “altar putih” kutumpahkan semua yang bergejolak, tubuhku tumbang, tapi jiwaku tidak, hatiku bersorak riang, mengibarkan bendera kemenangan. Sungguh lebih nikmatnya rasaku saat ini, karena telah kusalibkan keinginan itu, di jalan yang telah kupilih.
“mau lihat bintang? pesan singkat yang kukirim kepadanya! di hari Jum’at malam, jantungku berdegup lebih cepat, keinginanku untuk mengulang kembali kenangan dua puluh tahun yang lalu bersamamu di tempat itu, telah menghanguskanku, melupakan “situasi” mu yang telah jauh berbeda! Kuteriakkan pada semesta, demi melihat bintang di tempat itu, kepada malam yang diam tak memihak, kepada air yang tercurah tanpa permisi, membasahi bumi tempatku berpijak, ” telah kusalibkan keinginan tubuhku”.
Tags: Sharing
Posted in Lusia Widijaningrum
rekaman sore ini
April 19th, 2010 Posted 8:03 pm
(M.M Wardhani)
Beginilah di kota kecilku…
Sore sepertinya menjadi salah satu pertunjukan yang paling dinanti. Setelah riuh digantikan sunyi. Orang-orang tergopoh dari aktifitasnya setiap hari, takut ketinggalan pertunjukannya. Cahaya meredup seakan mempersiapkan pertunjukan besarnya. Lembayung senja segera menyusul menyorot memperindah langit yang menjadi latar menawan… kesunyian nan anggun.
Sebatara raya terbius bisu ketika pujian Sang Maha mulai riuh terdengar penuhi rongga udara yang dingin. Pujian pada Sang Maha Seniman yang akan segera di serukan seluruh jagad… keharuan nan syahdu.
Lengkingan suara pertama jelas disusul lainnya yang tak kalah mengetarkan hati. Alam raya bungkam, tertegun meresapi seruan nan syahdu… keanggunan nan dahsyat.
Beginilah sore di kota kecilku…
Beginilah di kota kecilku…
Sore sepertinya menjadi salah satu pertunjukan yang paling dinantikan. Setelah riuh digantikan sunyi. Orang-orang tergopoh pulang dari aktifitasnya.
Tags: Sharing
Posted in M.M Wardhani
MIMPI DALAM MIMPI (sebuah perwujudan mimpi)
April 6th, 2010 Posted 1:45 am
Tags: Sharing
Posted in Simon Nagari
The Power of “…, please”
March 31st, 2010 Posted 3:20 pm
(Agnes Bemoe)
Ini cerita temenku yang punya bos yang bossy banget (namanya juga bos…hehehe..). Sukanya memerintah dengan gaya yang menggarisbawahi betul bahwa she is the ONE who takes control of every single thing! Raut wajah puas, itulah yang terpancar di wajah si bos, kalau ia berhasil memaksa orang lain dengan perintahnya.
Sudah beberapa kali temenku ini harus menahan sabar menghadapi “keganjenan” bos nya ini. Untuk tetap menjaga kesehatan mentalnya, temenku memilih untuk menganggap si bos itu masih berada dalam taraf balita dalam kepemimpinan.
Tags: Sharing
Posted in Agnes Bemoe
DIA MASIH ADA (KENANGAN BUAT ALM ADIKKU)
March 25th, 2010 Posted 12:42 pm
DIA MASIH ADA
Oleh Rini Giri
Begini ya rasanya kehilangan seseorang yang selama ini dekat dengan kita? Seperti mimpi. Berharap dia masih ada dan bisa ditegur, padahal nyatanya dia sudah diam terkubur. Melihat foto-foto kenangan bersamanya seolah dia masih ada di sebelah kita, padahal semua itu sudah berlalu dan tak ada harapannya lagi. Masih terngiang rencana-rencana kami bersama, dan semua itu akhirnya hanya terlewat begitu saja dalam kosong. Kadang masih ingin pula kutelepon dia, tapi operator seluler menjawab,”dia sudah berada di luar area. Tak dapat dihubungi.” Oh, Tuhan. Kenapa rasa kehilangan ini terus saja melekat. Pastilah karena ada ikatan batin yang begitu kuat.
Tuhan memang Maha Kuasa. Sampai-sampai tak sedikitpun aku diberi kelonggaran. Padahal baru saja kututup buku doa, memohon agar dia sembuh, agar dia sanggup melawan sakitnya, agar dia mampu bertahan. Tapi telepon keburu berbunyi dan diseberang sana kudengar kata,”Dia sudah tiada…” Pas dalam detik ketika kututup doa buatnya. Seolah tak percaya. Aku tercekat. Padahal empat jam lalu aku bicara langsung dengannya melalui telepon dan suaranya terdengar begitu sehat. Herannya, kenapa aku yang telepon tapi dia yang menutup pembicaraan. “Sudah ya…” katanya di akhir percakapan. “Ya, istirahatlah…” itu jawabku sebelum kututup teleponku. Kenapa juga kusuruh dia istirahat? Harusnya aku bilang,”Ya, terus berjuanglah!”
Sebulan sebelumnya, akhir tahun, dia datang ke rumah, dengan t-shirt coklat dan jeans hitam. Pertemuan singkat karena dia buru-buru pulang. Ingin segera ketemu anaknya lagi karena itu Sabtu, hari libur yang paling ditunggunya untuk keluarga. Aku cuma masak sayur bening, tempe goreng, sambal bawang, dan perkedel kentang. Tapi dia makan banyak. Saat aku ingin mengantarnya sampai pintu gerbang perumahan dengan sepeda motor, dia menolak. “Sudahlah, aku naik becak saja. Lagipula kamu sedang hamil. Jangan terlalu sering naik motor lagi!” Tuturnya. Dia memang lebih bijak dan penuh perhatian sekarang. Apalagi dua bulan lalu dia sudah punya bayi, bahkan bisa memandikan dan mengganti popok anaknya. Dia jadi bapak yang baik. Aku suka itu. Aku bangga padanya.
“Aku titip foto anakku. Tolong kasih ke ibu. Coba amati, apa dia benar-benar mirip aku? Kalau iya, tolong minta ibu untuk membelinya, sebagai syarat saja. Itu hanya kata-kata orang jaman dulu, untuk menghindari petaka. Tapi kan maksudnya baik, ya sudah, kita lakukan saja.” Pesannya waktu itu. Ibu bilang, nggak mirip. “Dia hitam dan penuh jerawat, sementara anaknya putih bersih begini.” Komentar ibu saat melihat foto itu.
“Besok Maret, saat bapak dan ibu pergi ke Jakarta, aku akan bawa mobil sewaan. Kamu sekeluarga pakai mobilmu sendiri sedang aku dan keluargaku pakai mobil sewaan. Pasti saudara-saudara yang datang dari Boyolali akan terangkut semua. Kita bisa jalan-jalan ke Taman Safari bersama.” Ujarnya dalam pertemuan terakhir kami itu. Tapi semua tinggal rencana. Akhir Januari dia berpulang, sehingga keinginan itu tidak pernah terlaksana.
“Nanti kalau aku ke sini lagi, kereta bayi itu akan kubawa untuk anakku.” Katanya ketika melihat kereta bayi bekas anakku yang kugeletakkan di sudut teras. “Nanti biar kucuci sendiri.” Aku hanya mengangguk. “Kayaknya perlu sedikit dicat.” Komentarnya lagi. Dia tidak pernah datang lagi. Sepulang dari pemakamannya, aku segera mencuci bersih kereta bayi itu dan kuantar ke rumahnya saat peringatan tujuh hari kepergiannya.
Dia begitu cepat menghilang, padahal belum genap 31 tahun, keluarga barunya masih sangat butuh dia, dan kamipun masih sangat mengharapkan perkembangan yang baik pada rumah tangganya. Ia pergi begitu saja, lenyap dari keseharian kami. Tak ada lagi yang menelponku siang-siang hanya sekedar bertanya apa bahasa inggrisnya ini atau apa arti kata berbahasa inggris itu kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia. Alat-alat kerjanya pakai manual berbahasa inggris semua dan dia malas buka kamus.
Kadang aku hanya bisa menarik nafas sesak jika melihat foto-fotonya. “Hanya sampai di situ saja? Hanya segitu sajakah?” Gumamku dalam hati. Dia memang paling beda di antara kami tiga bersaudara. Wajahnya lonjong, perawakannya tinggi besar, jerawatnya bejibun, dan rambutnya ikal. Dia sangat supel bergaul. Beda sekali dengan aku dan adik bungsuku yang berwajah bulat, gemuk, berambut lurus, lebih pendek perawakannya, dan pendiam. Dia mendapat turunan dari keluarga ibu sedang aku dan adik bungsu mendapat turunan sifat dan fisik dari keluarga bapak.
Sejak kecil jalan hidupnya memang paling aneh. Penuh masalah dan kontroversi. Kelas 2 SMP dia jatuh dari sepeda motor. Tulang kaki dan pundaknya patah. Lulus SMP keenam giginya copot dalam kecelakaan sepeda dan tulang rahangnya sempal. Saat STM dia nyaris jadi korban tawuran di Ambarawa, padahal saat itu bekas operasinya belum sembuh dan masih berjalan dengan bantuan kreg. Diapun sering pergi dari rumah jika ada masalah dengan orangtua. Tak ada orang yang diturutinya selain suamiku. Dengan kakak iparnya dia amat penurut. Bahkan dulu ketika statusnya masih jadi pacarku sekalipun, dia menurut jika diajak pulang setelah tiga atau empat hari minggat dari rumah. Padahal dulu dia pernah komentar,”Kenapa kau pilih pacar yang kecil begini? Aku kan harus menunduk kalau mau ngomong sama dia!” Kurang ajar! Tinggi pacarku memang Cuma sepundaknya.
Saat mau kuliah, begitu susah mencarikan perguruan tinggi baginya. Dimana-mana tidak lolos tes. Sampai akhirnya kutemukan sekolah D3 teknik baru yang dibuka dosen-dosen IKIP Yogyakarta. Dia lolos tes karena standarnya rendah dan itu sekolah baru yang sedang butuh murid. Dia mujur mendapatkan pekerjaan yang baik di Jakarta berkat koneksi suamiku. Sebuah awal yang lebih melegakan bagi kami sekeluarga, sebab dia segera berubah menjadi lebih bertanggungjawab.
Kami menghormati pilihan hidupnya sebab kami mencintainya. Buat apa bersikukuh pada suatu hal yang dia sendiri juga tidak sanggup mempertahankannya. Hanya akan membuat perpecahan dalam keluarga. Maka kamipun dengan senyum supaya dia bersemangat menyongsong masa depan, mengantar dia untuk menyambut hari depannya. Walau ada kecewa dan rasa ciut di hati, tapi kami tetap tersenyum. Untuk dia. Semata-mata hanya untuk membesarkan hatinya. Ya sudah, kami sudah iklas dengan apa yang dipilihnya dalam hidup ini. Dia sudah dewasa dan tahu resiko setiap pilihan.
Hari itu ketika istrinya melahirkan, kukatakan padanya,”Anakmu ganteng.” Dia tersenyum bangga dan aku nggak akan lupa peristiwa itu. Bapakkupun sangat gembira ketika melihat dengan mata sendiri, dia bisa memandikan bayi kecil itu. “Saat berada di rumahnya, dia begitu perhatian padaku. Aku tidak minta, tapi pagi-pagi dia sudah beli ubi manis yang bagus kualitasnya dan mengukusnya untukku.” Bapak selalu terharu setiap mengenang ini. “Saat aku diantar ke rumahmu, dia selalu menggandeng tanganku saat menyeberang jalan. Dia benar-benar sudah berubah.” Kenang bapak lagi. Seolah dia sengaja meninggalkan kenangan manis bagi orang-orang terdekatnya.
Dia sudah pergi mendahului kami. “Kita memang selalu punya harapan dan rencana, tapi nyatanya yang bekerja adalah rencana Tuhan.” Hibur salah satu sahabatku. Regina namanya. Dia benar. Ini adalah bagian dari rencana-Nya yang aku tak bakal bisa pahami. Yang kutahu hanyalah menerima ini dan mendoakannya. Sampai berjumpa kembali dalam kehidupan abadi yang telah dijanjikan dan disediakan-Nya bagi kita. Dia masih ada. Kini, di hati kami. Good bye. Rest In Peace. See you in the new everlasting life. Kiss from your sister.
LELAKI POHON SESAWI
March 24th, 2010 Posted 11:51 pm
(Rini Giri)
Tahukah kau, kenapa aku tidak pernah jatuh cinta pada lelaki dengan postur tubuh besar dan kekar? Hampir semua perempuan, temanku, selalu tergila-gila pada dada bidang, lengan besar, perut keras bergaris kotak dan punggung berbentuk segitiga terbalik itu. Apa namanya? Otot bisep dan trisep? Entahlah, aku kurang berselera dengan hal-hal seperti itu. Aku lebih suka tubuh biasa cenderung kecil tapi gesit berenergi.
Mungkin karena aku keras kepala dan penentang. Jadi kalau bersitegang dengan pasangan, akan lebih aman jika punya partner yang bertubuh kerempeng. Kalau dia mukul, aku bakalan sanggup membalas. Atau kalau dia menendang aku bisa menangkisnya. Coba kalau partnerku tinggi besar, wah, bisa jadi lemper aku di tangannya karena tidak sanggup mengimbangi kekuatan fisiknya jika murka. Ah, tapi itu hanya lelucon konyol saja. Tentunya akau akan memilih partner yang anti kekerasan. Suatu relasi cinta harus sehat, suatu hubungan harus didasari kasih, dan salah satu syaratnya adalah tiadanya kekerasan.
Iri
March 17th, 2010 Posted 4:13 pm
(Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
Aku iri kepada sebuah keluarga yang tinggal di tempat pembuangan sampah akhir, di Bantar Gebang itu. Hidup dalam ketidak beruntungan, meninggali sebuah gubuk yang akan roboh jika tertiup angin, tidak membuat keluarga tersebut mengeluh. Tak pernah kudengar terjadi pertengkaran dalam keluarga tersebut. Saling membantu,dan saling berbagi, menjadi menu sehari-hari bagi keluarga tersebut.
Aku iri, kepada bapak penarik becak itu. Diusianya yang senja, ia tetap tegar dalam menjalani hidup, bahkan sampai meninggal didalam becaknya sendiri, lantaran menahan rasa lapar demi menghidupi istri dan anak-anaknya.
Aku iri, kepada pelacur itu. Ditengah gelak tawa tuan polang, ia mampu menutupi layar pertunjukan derita keluarganya dikampung halamannya, yang selalu mengharap datangnya uang kiriman darinya. Dengan senyum yang dibalut doa, ia selalu mampu menutupi deritanya dari hadapan tuan polang yang meludahinya.
Aku iri kepada anak-anak. Jika saja terjadi pertengkaran diantara mereka, maka tak lama setelah itu, mereka mampu menetralisir semuanya menjadi kembali baik, tanpa meninggalkan dendam sedikitpun.
Sungguh, aku iri. Betapa aku yang lebih beruntung daripada mereka, justru tak pernah bersyukur.
Tags: Sharing, Syukur
Posted in Petrus Bayu Puja Mega Irawan












