Posts Tagged Surat

surat untuk mama

No Comments »

July 15th, 2010 Posted 7:44 pm

(Carlita Rozetta)

dear mom…

Kurang lebih 30 menit ku habis hanya untuk menatap layar komputer ini. Untuk memberitahu mama bahwa betapa aku bahagia bisa menjadi anak mama. betapa aku sangat beruntung telah memilikimu sebagai ibuku…Sulit sekali mewujudkan semua itu hanya dengan tulisan. karena semua yang telah mama berikan sudah lebih dari sekedar tulisan.

aku bisa menjadi sesuatu yang dapat dipandang oleh seluruh dunia karena mama…aku bisa menjadi orang karena mama, aku bisa menjadi seseorang yang seperti ini semua karena mama.

(more…)

“Apa kabar, Non?”

No Comments »

June 17th, 2010 Posted 1:18 am

Siang tadi, seorang teman berbincang lewat layanan pesan instan. Tanpa sengaja ia menyebut namamu. Seketika konsentrasiku buyar. Kangenku menyeruak seenaknya. Tak kupandangi lagi layar monitorku. Aku lebih suka memandangi rintik hujan dari balik jendela. Gemericiknya mengingatkan pada renyah leluconmu. Apa kabar kamu? Lama sekali kita tidak ngobrol. Genap enam minggu sejak terakhir kudengar suaramu. Aku [...]

Tags: , ,
Posted in G. Lini Hanafiah

Sharing: Homeschooler yang sudah jadi “orang” (1)

No Comments »

June 4th, 2010 Posted 5:00 pm

Surat dari Margareta Kesumadewi pelaku homeschooler yang sekarang sudah jadi “orang”. Mudah-mudahan sharing dari Reta menjadi “pelipur lara” atas segala label negatif homeschooling. hey mbak lini n smuaa reta dulu HS pas SMA, 2 taun. jujur, gara2nya ga suka sama sistem pendidikan sekolah formal. di kelas cuma nyatet yang didikte guru, yang dibahas pun semua [...]

Tags: ,
Posted in G. Lini Hanafiah

Kukirim Sepucuk Surat Untukmu, Hasian

2 Comments »

June 1st, 2010 Posted 8:43 pm

(Vincensia Naibaho)

Saat kamu membaca surat ini, aku pasti sedang di pinggir danau, duduk di sebuah batu besar dengan leher berlilitkan syal ungu (kamu yang memberinya dulu, tanggal 12 Februari. Kamu masih ingat?), seraya menggosok-gosok perut dengan minyak kayu putih cap Ayam (entahlah, penyakit perutku yang tak tahan dingin ini rasanya tak bakal sembuh lagi). Jika kamu bertanya mengapa aku disini sekarang, dikelilingi sunyi dan diserbu dingin, tolong carikan jawabannya dan berikan padaku. Karena aku juga tidak tahu kenapa kakiku harus melangkah menuju danau ini. Atau mungkin karena sepi dan beku di sini seakan partner yang baik bagi hatiku. Yang juga sepi dan beku.

Hasian…
Setelah sekian lama, harus kuakui juga bahwa kakiku lelah mengambang di udara. Aku butuh tanah yang padat, untuk menjejakkan kaki-kaki lelahku.

(more…)

Tags: ,
Posted in Vincensia Naibaho