Posts Tagged Tuhan
MUJIZAT ITU NYATA
May 18th, 2011 Posted 1:27 pm
(Yulita Nilawati)
Dari Pagi hari, keasyikanku bertambah satu. Pikiranku begitu asyiknya berkelana membaca sebuah buku yang baru kuterima. Aku baru sempat beristirahat sebentar, ketika tiba-tiba dering telpon mengejutkanku. Terdengar anakku berteriak memanggilku, “Mamaaa…! ada telpon dari oma” sejenak kubatalkan keinginanku untuk melanjutkan membaca. Terdengar suara disana menanyakan obat yang dipesannya.
“Obat baru diterima Benny hari ini, ma. Kalau tidak pulang malam, akan langsung diantar, atau baru besok aku yang akan mengantarnya” sahutku menjawab pertanyaannya.
Tags: Catatan Harian, Sharing, Syukur, Tuhan
Posted in Yulita Nilawati
(Feels like) Stranger in My Own House Part 1
January 28th, 2011 Posted 12:41 pm
(Feels like) Stranger in My Own House Part 1
*** with translation
This is (supposed to be) my house.
My bedroom, my kitchen, my bed, my chair, my laptop, my wardrobe, my table…
But, why do I feel like a stranger? Is it because a house is not always a home? Why is the feeling suddenly changed so quickly? Is there something wrong inside of me?
I’m searching and searching for the right answer.
Couldn’t always find one-still haven’t found the right one until now…
Sometimes trying too hard and let myself cry to sleep.
Is it so bad to live in a what-so-called house without any intimacy involved in it?
My brother and sister…
Uh, they’re just seemed so far away from me. Even though the distance is just next door. I mean their rooms are only next to mine. But yet, we’re all too busy to talk. The maximum conversation we’ll have is only around 15 minutes during a quick dinner. Such a meaningless tradition to keep if its goal is to keep this family bonding together, well it failed I might say…
After those quick dinners, we’ll all run into our rooms and keep busy with our laptops, Ipad, and Blackberries. Sometimes, we even bring those Blackberries when we’re having dinner. And those 15 minutes minus the BBM and Yahoo Messenger will fly even faster. I’m still wondering though, why the technology must end up this way? This is supposed to be a good thing that will make us lead an easier life. Yes, it’s true. There’s no doubt about it. But why…oh why? They’re separating us even further? Or is it because we choose to? Or we’re just too busy finding the emptiness inside, those unhappy moments in our life, those lonely days, and try to change it with such gadgets? Or Korean Drama DVDs? Or chattings? Why it’s still so empty?
I’ve tried hard enough to find the answer. But, unexpectedly I found another answer instead.
This is going to be the same old story, if I myself don’t make any changes about it. It will be a-not-so-homey home after all, so why should I bother? It seems that my parent doesn’t do anything about it… So, why should I take the responsibility? As the youngest child in this family, I don’t feel that it’s my obligation anyway.
If anyone should be responsible, we can leave it to my mom, my dad, or even my elder brother and sister. Definitely, it’s not mine!
Then, what should I do? Will they listen to me if I said something? While most of the time, my voice has never been really heard anyway. Would they care to know what I feel, what I think? While most of the time they think that I’m a nobody- young kid who lives in my own world and doesn’t know anything. One thing that they’ve forgotten, I’m older now. Every year I get older-and hopefully get wiser, things that they don’t really bother. Oh, most people don’t! They’ve never really care about the fact that they’re supposed to gain more wisdom when they’re older. Time will pass by, we’ll all have to face the aging process anyway. Even we don’t want it, we want to stay young as long as we could. We put anti-aging cream, do some surgery or facelifts, botox, hair-coloring, just to reduce or minimize the aging…
I’ve found that I need to change, I need to speak up. I’m doing good for this family. It’s for our sake. But, I don’t know-once again I have a huge doubt about it- will I ever be succeed?
Finally, I don’t feel like eating. I don’t feel like browsing the internet. I lost interest in Blackberry and its chatting system. I have to tell you that I’m still lonely. The alienation inside my heart is getting stronger. I need help. But, I don’t know will my family member feel the same as well? Or they might think that I’m a bit lost of my mind?
Then, I begin to pray.
Something that I’ve never done for the last 5 years of my life. I begin to search God. The new connection is formed again. Last time it was there, but it was disconnected several times. Even though maybe God is trying hard to do the redial through His Love’s modem, but it seemed that I failed to connect due to several technical problems inside of me.
To be continued…
(Merasa Seperti) Orang Asing di Rumahku Sendiri Bagian Pertama
*** dengan terjemahan
Ini (seharusnya) adalah rumahku.
Kamarku, dapurku, tempat tidurku, kursiku, laptopku, lemari pakaianku, mejaku…
Tetapi, mengapa aku merasa seperti seorang asing? Apakah karena sebuah rumah bukanlah tempat di mana aku merasa kerasan/betah? Mengapa perasaan itu begitu mudah berubah? Apakah ada sesuatu yang salah dengan diriku?
Aku mencari dan terus mencari jawaban yang sesungguhnya.
Tidak selalu bisa menemukannya-masih belum menemukan jawaban yang tepat sampai saat ini.
Terkadang aku berusaha terlalu keras untuk itu sampai membiarkan diriku menangis sampai tertidur.
Apakah begitu buruknya tinggal di sebuah rumah tanpa keterlibatan yang intim di dalamnya?
Kakak lelaki dan perempuanku…
Ah, mereka kelihatannya terlalu jauh dariku. Walaupun jarak mereka sesungguhnya hanyalah di sebelahku saja. Maksudku, kamar mereka ada di sebelahku. Tetapi, kami semua terlalu sibuk untuk berbicara. Percakapan terlama yang kami lakukan hanyalah sekitar 15 menit selama makan malam yang terburu-buru. Tradisi yang amat tidak berarti jika tujuannya mempererat keluarga ini, tujuan itu takkan tercapai.
Setelah makan malam yang buru-buru, kami semua akan dengan tergesa-gesa lari ke kamar kami masing-masing dan akan sibuk dengan laptop, Ipad, serta Blackberry kami. Terkadang, bahkan kami membawa Blackberry tersebut saat kami sedang makan malam. Dan 15 menit minus BBM dan Yahoo Messenger akan terbang lebih cepat lagi. Aku terus bertanya-tanya sebetulnya, mengapa teknologi harus berakhir seperti ini? Bukankah dia bertujuan baik, yang seharusnya membawa kita ke kehidupan yang lebih mudah? Ya, benar. Tak ada keraguan akan fungsi tersebut.
Tetapi mengapa oh mengapa? Mereka malah memisahkan kita semakin jauh. Apakah karena kita memilih untuk itu? Atau kita terlalu sibuk untuk menemukan suatu kekosongan di dalam diri kita, saat-saat yang kurang membahagiakan, hari-hari sepi, dan berusaha menggantikannya dengan alat-alat komunikasi modern? Atau DVD drama
Aku sudah berusaha keras menemukan jawabnya. Tetapi, secara tak terduga, kutemukan jawaban yang lain sebagai gantinya.
Ini akan jadi cerita usang yang sama, ketika aku tak melakukan perubahan apa pun dalam situasi ini. Akan tetap jadi rumah yang tidak membuat anggotanya kerasan, jadi mengapa aku harus peduli? Kelihatannya orang tuaku tidak melakukan apa pun mengenai hal ini… Jadi, mengapa aku harus bertanggung jawab? Sebagai anak terkecil di keluarga ini, aku tidak merasa ini adalah kewajibanku.
Kalau ada yang harus bertanggung jawab, harusnya adalah mama, papa, atau kakak yang lebih tua dariku. Pastinya, bukan diriku!
Lalu, apa yang harus kulakukan? Akankah mereka mendengarkan aku kalau aku mengatakan sesuatu? Ketika banyak kali, suaraku tak pernah didengarkan juga. Akankah mereka peduli tentang perasaanku, tentang pikiranku? Ketika banyak kali mereka pikir aku bukanlah siapa-siapa— hanya seorang anak kecil yang hidup dalam duniaku sendiri dan tidak tahu apa-apa. Satu hal yang mereka lupa, usiaku semakin bertambah. Setiap tahun aku tambah tua-dan semoga tambah bijaksana, hal yang tak pernah mereka pdulikan. Oh, begitu juga dengan banyak orang di luar
Kusadari bahwa aku harus berubah, aku harus bicara. Aku melakukan hal yang baik bagi keluarga ini. Ini untuk kebaikan kami bersama. Tetapi, aku tak tahu— sekali lagi keraguan yang besar menyergapku—akankah aku berhasil?
Akhirnya, aku tak berselera makan. Aku tak kepengin main internet. Aku kehilangan minat main Blackberry dan chattingnya. Harus kuakui bahwa aku masih kesepian. Rasa terasing di dalam hatiku bertambah kuat. Aku butuh pertolongan. Aku tak tahu apa anggota keluargaku akan merasakan hal yang sama? Atau mereka pikir aku agak kurang waras???
Kemudian, aku mulai berdoa.
Suatu hal yang tak pernah kulakukan selama 5 tahun terakhir di hidupku. Aku mulai mencari Tuhan. Hubungan yang baru terbentuk lagi. Waktu yang lalu, hubungan itu sempat ada tetapi pernah putus-sambung beberapa kali. Walaupun Tuhan melalui modem cintanya berusaha keras melakukan ‘redial’, tetapi kelihatannya aku gagal ‘connect’ ke Tuhan karena beberapa masalah teknis di dalam diriku.
Bersambung…
sumber gambar:
4interior-design.com
Tags: Keluarga, Tuhan
Posted in Fonny Jodikin
Ah, Tuhan…
January 24th, 2011 Posted 8:21 pm
Ah, Tuhan…
Baru tanggal 1 sudah kuatir tanggal 31…
Baru tahun baru, sudah kepikiran akhir tahun…
Baru Januari, sudah cemas akan Desember…
Baru lahir bayi, sudah gelisah memikirkan kuliahnya…
Tipikal manusia yang penuh kecemasan, kekuatiran, kegelisahan, dan ketakutan. Tak ada salahnya berencana, namun ketika sudah begitu menghantui kepala dan bikin diri tak lagi fokus pada masa sekarang. Introspeksi diri agaknya diperlukan. Dengan melakukan hal-hal itu, hari ini jadi berlalu dengan gerutu… Seolah kehilangan mutu, padahal alunan musikal simfoni ‘present moment’ ini masih amatlah merdu.
Lihat teman naik motor sementara aku jalan kaki, kepengin…
Lihat teman naik mobil sementara aku naik motor, iri hati…
Lihat teman naik pesawat bisnis class sementara aku tak pernah ke luar negeri, cemburu…
Ah, gejala apa itu?
Gejala yang selalu sama di tiap waktu. Sulit bersyukur untuk apa yang dimiliki, dililit rasa iri dan cemburu terhadap apa yang dimiliki orang lain. Beberapa orang menganggap, tindakan bersyukur terkadang identik dengan kemalasan (tidak mau melakukan apa-apa, nrimo saja). Padahal, tentu saja yang diharapkan adalah terus berjuang tanpa henti… Walaupun sulit, walaupun banyak halangan menghadang… Tidak mudah putus asa. Malah terus maju dalam karya. Sambil melakukan hal itu, biarlah sikap syukur akan apa yang dimiliki tetap dipertahankan.
Banyak orang yang menjerit kelaparan,
Banyak pula yang tak punya rumah kediaman,
Banyak orang tak sempat mengenyam pendidikan,
Banyak pula yang hanya punya satu baju yang menempel di badan…
Lalu mengapa aku tak bisa mensyukuri apa yang ada? Lalu mengapa harus kucemas senantiasa? Bukankah burung pipit di udara pun Dia pelihara? Tak perlu kutakut akan kesusahan. Karena setiap hari akan ada kesusahan sendiri-sendiri, sekaligus ada jalan keluar juga dari-Nya. Asalkan ku tetap berusaha, bersyukur, serahkan kuatirku…
Ah, Tuhan… Engkau tak sebegitu jauh seperti pikirku…
Engkau sesungguhnya teramat dekat di hatiku…
Biarkan aku nikmati hari ini dengan senyuman,
Biarkan aku rasakan cinta dan kasih-Mu yang penuh kelembutan,
Biarkan aku kecap betapa besarnya kebaikan,
Yang selalu sertaiku yang berasal dari-Mu, Tuhan.
-fon-
* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.
Tags: Inspirasi, Motivasi, Syukur, Tuhan
Posted in Fonny Jodikin
aku manusia – Engkau TUHAN
August 6th, 2010 Posted 12:32 pm
(Bhudi Tjahja)
saat ku bersalah, Engkau memaafkan
saat ku sendiri saja, Engkau mau menjadi Teman
saat ku kelu karena berkesah, Engkau mendengarkan
aku manusia, Engkau TUHAN
sering aku menyerah kalah, Engkau terus membangkitkan
sering aku sedih berduka, Engkau terus menghiburkan
sering aku bertanya mengapa, Engkau terus memberi jawaban
Tags: Puisi, Renungan, Tuhan
Posted in Bhudi Tjahja
Catatan Tentang Iman, Percaya dan Tuhan (believe – faith – God)
July 1st, 2010 Posted 6:11 pm
(Margaretha Dwi Hastuti)
Perhatikan ilustrasi ini;
Seorang pria berteman dengan seorang wanita..belum lama, tapi tanpa perlu ragu, pria ini jatuh cinta pada teman wanitanya. Terjadilah adegan pengejaran…beberapa kali si pria menyatakan cintanya pada si wanita, tapi teman wanitanya tak pernah memberikan jawaban….sampai akhirnya setelah sekian kali pernyataan cinta, terjadilah adegan ini di malam Natal :
“kenapa sih kamu ngejar aku terus?!…” Tanya si wanita
“karena aku mau kamu jadi pacarku..”
“kenapa aku?!…” Tanya si wanita sambil menaikkan sebelah alisnya, bingung…
“karena aku percaya kamu jodohku……” jawab si pria malu – malu…
Gayung bersambut, akhirnya mareka pacaran… ;p
Tags: Tuhan
Posted in Margaretha Dwi Hastuti














