Posts Tagged Yuk Nulis!
Catatan Akhir Tahun 2009
December 24th, 2009 Posted 3:36 pm
(Fonny Jodikin)
Akhir tahun kembali tiba, menyapa dengan ciri khasnya. Seiring desiran angin dan hujan yang sering mampir, entah itu di Jakarta dan di Singapura, tapi tidak terlalu sering terjadi di Saigon, saya ingin sekadar merekapitulasi apa yang telah terjadi sepanjang tahun ini. Sebagai ikhtisar, sebagai rangkuman, untuk pembelajaran bagi diri saya sendiri. Dan semoga juga bermanfaat bagi teman-teman yang membacanya. (more...)
Tags: Akhir tahun, Belajar, Sharing, Yuk Nulis!
Posted in Fonny Jodikin
Reward (Penghargaan)
December 9th, 2009 Posted 12:01 am
(Fonny Jodikin)
*** Belajar dari Farmville bagian kelima (terakhir).
Akhirnya, secara resmi, Facebook (FB) di-banned. Beberapa minggu lalu, guru Bahasa Vietnam saya masih bilang melalui internet provider yang lain, masih bisa akses ke FB. Sekarang dia pun mengalami nasib yang sama dengan saya. Hanya masalah waktu. Jadi, anggaplah ini edisi perpisahan dengan Farmville (FV), karena saya tidak tahu, kapan lagi saya akan mendapatkan kesempatan untuk main FV. Sampai hari ini, saya sudah agak terbiasa tanpa FV, tanpa FB masih agak sulit karena berhubungan dengan ‘update’ tulisan dan komentar terhadap tulisan teman-teman tertutama di Yuk Nulis, tapi saya sudah mulai menerima bahwa inilah kenyataan yang tak bisa terelakkan. Ciaile, bahasanya berat bow…Ck ck ck…:) Apa boleh buat, life goes on, tokh?
Pada saat saya menuliskan artikel berjudul “Layu”, sebetulnya saya sudah menyiapkan judul di atas sebagai bagian keempatnya. Namun, akhirnya ‘layu’ yang lebih mendominasi ‘mood’ menulis saya di kala itu, dan dia yang selesai terlebih dahulu…
Tags: Belajar, Yuk Nulis!
Posted in Fonny Jodikin
Mencari Wajah Ibu
November 26th, 2009 Posted 3:10 pm
(Angel Li)
Berjalan di bawah panas terik matahari sudah menjadi hal biasa bagi Tono. Setiap hari menghirup udara Jakarta yang selalu bercampur debu tebal dan asap knalpot adalah salah satu ciri kemiskinan hidupnya. Tono adalah seorang peminta-minta di sudut sebuah jalan di ibukota ini . Bersama dengan beberapa orang yang lain dari berbagai tingkat umur, mereka menghabiskan sepanjang hari di sana, di dekat lampu merah. Terkadang mereka berteduh di bawah pohon atau sekedar duduk di samping trotoar. Tapi tetap saja, lampu merah terlalu penting untuk ditinggalkan jauh-jauh, karena benda itu selalu memberikan tanda kapan mereka harus beraksi atau pergi. Merah artinya jalan dan hijau artinya mundur.
Belakangan ini bocah itu sering meneliti wajah-wajah yang lewat di hadapannya. Orang-orang yang berjalan kaki melewatinya atau pun yang duduk di dalam mobil-mobil yang ia ketuk kaca jendelanya. Tono sedang mencari ibunya. Wanita yang melahirkannya. Entah ada di mana dirinya sekarang. Tono berharap bisa mengenalinya di antara wajah-wajah wanita yang ditemuinya setiap hari. Mungkin suatu hari nanti ia akan benar-benar bisa menemukannya. Mungkin… Bila ia berusaha keras.
Tags: Kasih, Keluarga, Yuk Nulis!
Posted in Angel Li
Temu Sapa dengan Zara Zettira ZR dan Rekan di Forum Yuk Nulis!
October 20th, 2009 Posted 1:41 pm
Bersama Zara Zettira ZR
Akhirnya, bisa juga aku bertemu dengan penulis kesenanganku. Penulis yang karyanya banyak kubaca waktu masih ABG. Yang hidup semasa denganku dan menyukai buku serta majalah remaja sudah jelas mengenalnya. Penulis Catatan Si Boy yang fenomenal di tahun 1980-an, Zara Zettira ZR.
Salah satu misi kedatangan ke Jakarta di awal Oktober lalu memang bertemu [...]
Tags: Yuk Nulis!
Posted in Femikhirana
Metamorfosa Menjadi Penulis
October 15th, 2009 Posted 12:27 am
(Oleh : Femikhirana)
Penulis, apa yang membuat seseorang dapat menganggap dirinya penulis?
Pertanyaan ini mungkin harus ditelaah oleh mereka yang ‘ngaku’ suka menulis, hobi menulis.
Saya sendiri terus terang tidak tahu apakah ada ukuran empiris tentang seseorang bila ingin disebut penulis. Beberapa orang yang bertanya kepada saya, apakah saya penulis, sering saya jawab dengan,
“Penulis di blog, karena media saya memang sekarang baru blog.”
Tags: Kaidah Bahasa, Menulis, Penulis, Yuk Nulis!
Posted in Femikhirana
Festival Nulis tentang Batik
October 5th, 2009 Posted 12:01 am
Pada tanggal 2 Oktober 2009, batik menjadi budaya Indonesia ketiga yang diakui sebagai warisan dunia bukan benda (Intangible Cultural Heritage (ICH) setelah keris (2003) dan wayang (2005) oleh UNESCO.
Untuk mendukung dan memeriahkan momen tersebut, kami mengajak teman-teman untuk menulis tentang batik.
Dari Discussion Board page Yuk Nulis di Facebook inilah karya teman-teman. Saya senang sekali ada 21 orang teman yang ikut menulis.
Terima kasih bagi semua yang sudah berpartisipasi.
Yuk Nulis!
G. Lini Hanafiah
ibu kost
Didukung sepenuhnya oleh
Via Lattea Foundation
Tags: Batik, Festival Nulis tentang Batik, Woro-woro, Yuk Nulis!
Posted in Via Lattea Foundation
Ibu Rumah Tangga Berkualifikasi Tinggi
October 3rd, 2009 Posted 3:48 pm

Tulisan ini juga sudah ada di kepalaku dalam bentuk ide, kurang lebih dua minggu yang lalu. Ketika temanku di Singapura ini menceritakan latar belakangnya di tengah-tengah obrolan kami. Dan sepertinya agak senada namun dengan sisi yang sedikit berbeda dengan tulisan-tulisan rekan-rekan Nulisers di Yuk Nulis beberapa waktu yang lalu. Setelah sebelumnya ada tulisan Lini yang berjudul “Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu” dan tulisan Femi dengan judul “Pernyataan : Menjadi Babu Sejenak”, tulisan ini mungkin bisa dimasukkan dalam seri Ibu Rumah Tangga sebagai bentuk pilihan:)
Awalnya, hendak kuberi judul over-qualified housewives, biar agak saingan dikit sama desperate housewives hehehe… Tapi akhirnya kuputuskan untuk menuliskan judul seperti di atas, dalam bahasa Indonesia tercinta.
Langsung saja ke pokok permasalahannya. Dari obrolan dengan seorang teman, tepatnya mama dari salah satu teman sekolah Audrey di playgroup, aku baru tahu kalau latar belakangnya cukup cemerlang.
Waktu pindah ke Singapura tak lama sesudah kerusuhan tahun 1998, temanku ini, sebut saja Shella (bukan nama sebenarnya), sempat mengenyam pendidikan S2. Jadi, gelar yang diperolehnya adalah dari National University of Singapore (NUS) dan gelarnya adalah Master of Science (M.Sc). Katanya sih waktu itu dia bingung untuk memilih apa harus kursus bahasa atau kuliah lagi. Karena biayanya lebih mahal untuk kursus bahasa, dia memutuskan untuk kuliah lagi. Dan dia menyelesaikan program Master-nya itu. Dan lulus di tahun 2000, dengan kondisi perekonomian yang lebih parah dari sekarang ini, dia tidak mendapatkan satu pekerjaan pun. Alasannya klise, boss tidak mau menerima tamatan S2 karena berpikir si lulusan S2 ini akan minta gaji tinggi. Kalau dibayar seharga S1 apa dia mau?
Juga, kondisi perekonomian Singapura dan dunia yang tidak menunjang, ‘timing’ yang tidak pas ketika dia mencari kerja, membuatnya jadi pengangguran.
Tahun demi tahun berlalu. Tiga anak sudah lahir dari hasil perkawinannya. Dan akhirnya, dia tak pernah lagi melamar satu pekerjaan pun. Lalu, memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga sepenuhnya.
Dan dia yang sehari-hari saya lihat, amat sederhana. Jemput anak sekolah, antar anak les, mencoba resep masakan dan melakukan kegiatan-kegiatan ibu rumah tangga pada umumnya. Tidak ada bedanya, kecuali memang dia bergelar Master dan memilih untuk mendedikasikan hidupnya bagi anak-anaknya.
Mungkin juga karena dia tinggal di Singapura yang tidak memungkinkan dia bekerja. Dalam arti, dengan kondisi 3 anak, sulit punya pembantu 3 orang atau baby sitter 3 orang seperti di Indonesia. Satu orang saja, harganya sudah 700 dollar untuk pembantu (Rp. 4.900.000) dan 1500 dollar untuk baby sitter (Rp. 10.500.000). Mana sanggup kalau harus punya 3, kecuali memang mampu betul kali yaaa :). Selain itu, hal tersebut adalah pilihan dirinya, karena sang suami pun mendukung dirinya untuk berkarya penuh di rumah tangga mereka. Karena memikirkan nasib 3 anak yang sudah dititipkan Tuhan padanya.
Saya yakin, pengalaman Shella bukanlah satu-satunya. Masih banyak Shella-Shella lain yang saya jumpai dan masih banyak pula Shella-Shella lain dengan kondisi yang sama tetapi tidak saya kenal. Di Facebook-pun ada beberapa teman yang tinggal di Australia, Jepang, dan Amerika Serikat yang kemudian memilih menjadi full time housewife dengan berbagai alasan. Dan saya tahu kualifikasi mereka bukan main-main. Lulusan luar negeri, minimal S1 dan ada yang S2.
Di Indonesia sendiri, saya pun menjumpai banyak teman yang juga memilih menjadi full time mom dengan kondisi pendidikan yang sama, lulusan luar negeri, lulusan lokal pun ada. S1, S2, bertebaran …
Pada akhirnya, berkaca pada pengalaman teman-teman saya dan juga melihat pengalaman diri saya sendiri, saya betul-betul memahami kalau menjadi ibu rumah tangga penuh waktu adalah pilihan. Pilihan yang memang tidak mudah. Pilihan yang terkadang terasa sulit, karena harus mengorbankan banyak hal. Seolah uang sekolah dan ketekunan bertahun-tahun harus habis, lenyap begitu saja. Memang itulah yang terjadi, ketika kita hanya berpikir bahwa uang adalah yang terutama dan harus dicari terus tanpa henti. Sayang, ada kesempatan untuk meraih uang lebih lewat pengalaman dan kualifikasi yang begitu tinggi koq tidak dimanfaatkan. Adanya opportunity cost yang hilang akibat tidak bekerjanya si Ibu.
Namun, di balik itu semua… Nasib anak-anak yang lahir dari perkawinan mereka juga dipertaruhkan. Memang, tidak ada jaminan bahwa orang yang merawat anaknya sendiri, anak-anaknya pasti lebih pintar, lebih baik, atau lebih sukses dibanding yang dirawat oleh pembantu atau nanny. Yang ingin saya tekankan hanyalah, hidup adalah pilihan. Ketika seorang wanita memilih untuk menyerahkan segala masa depannya : karirnya, pendidikannya, dan kemungkinan untuk ikut menyumbang secara finansial bagi keluarga, dia melihat kemungkinan lain yaitu mendidikasikan diri bagi anak-anaknya. Melayani mereka secara purna waktu.
Memang, ada pula yang tidak bisa berhenti bekerja dikarenakan faktor ekonomi. Misalnya gaji suami tidak cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari keluarga, sehingga sang istri harus turun tangan.
Namun, ketika gaji suami mencukupi untuk istri tinggal di rumah, banyak pula istri yang rela menerima kenyataan yang walaupun over-qualified, tetapi memilih ‘karir’ sebagai Ibu Rumah Tangga demi keluarga. Dengan konsekuensi kehilangan teman dari lingkup kerja, kehilangan kesempatan untuk tampil cantik dan keren untuk ke kantor (karena kalau di rumah, tidak mungkin juga pakai jas
Namun, bila itu adalah pilihan hatinya, sungguh mulia dan tentunya patut diberi dukungan!
Shella mengajarkan saya kesederhanaan dalam hidup yang bersahaja. Apa adanya. Tidak neko-neko. Tidak sok, sombong, ataupun arogan. Kata-kata itu jauhhh sekali dari gambaran dirinya.
Over-qualified housewives ada di mana-mana. Di sekitar kita. Mungkin juga diri kita termasuk di dalamnya. Jadi, si S2, si Master of Science itu tadi dengan fasih menyapu-mengepel-memasak-mengurus anak-mengurus rumah-membantu suami-pusing ikut memikirkan PR anak- dan seterusnya…
Ini mungkin amat berbeda dengan pandangan yang ada di masyarakat umum yang menyatakan ketika mengerjakan sedikit pekerjaan rumah tangga sama dengan pembabuan diri. Karena menganggap diri lebih tinggi, diri lebih hebat dari maaf…seorang babu, seorang pembantu…
Pembantu juga manusia yang tidak sepantasnya direndahkan. Dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan penuh dedikasi dan cinta, serta melupakan kebesaran milik dirinya di masa lalu (kesarjanaannnya, gelar Master-nya, direktris ataupun manager-nya), membuat ibu rumah tangga semacam ini layak menerima bintang yang disematkan di dadanya. Karena mereka layak dapat bintang. Bintang kesetiaan, bintang kerendah-hatian, dan bintang penerimaan/keikhlasan.
Dan dengan over-qualified housewives yang mengajar dan mendampingi anak-anaknya, aku pun menaruh harapan besar, semoga anak-anaknya menjadi anak-anak yang baik dan cerdas.
Akhir kata, tulisan ini tidak pernah dimaksudkan untuk menyinggung para wanita karir yang juga adalah seorang Ibu, para Ibu yang bekerja. Anda pun punya beban yang tidak mudah untuk membagi tugas antara keluarga dan pekerjaan. Belum lagi diri sendiri yang juga membutuhkan waktu pribadi. Namun, saya kira, tak perlu juga bersombong diri dengan menganggap bahwa melakukan pekerjaan rumah tangga dan memelihara anak sendiri adalah pekerjaan hina, pekerjaan kelas dua atau bahkan kelas sepuluh mungkin? Karena dianggap terlalu rendah. Bukan pula pekerjaan pembantu atau baby sitter semata. Karena ketika seorang wanita berpendidikan memilih mengerjakan itu semua, dia sadari semua konsekuensinya. Yang walaupun tidak mudah, melelahkan, bahkan lebih letih dari kerja kantoran…Namun, itulah bukti cintanya bagi keluarganya.
My full support for high quality housewives out there! Jangan berhenti untuk mendedikasikan diri bagi keluarga. Saat ini mungkin kondisi terasa sulit, lelah, letih, semua bercampur menjadi satu. Kalau status FB teman-teman bilang hari ini jadi Oshin, minggu ini jadi Oshin, tapi bagi ibu RT purna waktu….forever Oshin donk? Kasihan? Nggak juga… Biasa saja, tuh…
Karena aku tetap yakin, pada suatu saat nanti, hasil jerih payah ini akan terlihat pula. Semoga.
-fon-
* mulai ditulis sekitar 1 Oktober, finishing touch di hari ini.
Tags: Yuk Nulis!
Posted in Fonny Jodikin
1965 Hari Sesudah Penulisan Dara…
September 20th, 2009 Posted 12:43 am
(Fonny Jodikin)
Mulai Selasa lalu, saya melakukan re-post (posting ulang) cerber saya yang berjudul Dara di blog saya: Chapters of Life (http://fjodikin.blogspot.com/), sekaligus di blog Yuk Nulis. Sebetulnya Dara pernah di-edit, diberi ilustrasi dan dicetak sebagai souvenir pernikahan saya di tahun 2006. Itu semua atas pertolongan beberapa teman. Tapi versi yang ada di word saya, adalah versi yang asli, tanpa editing apa pun.
Hari ini adalah 1965 hari ( 5 tahun, 4 bulan, 16 hari) sesudah penulisan Dara seri yang pertama yaitu di tanggal 4 Mei 2004. Ketika membaca ulang Dara setelah sekian tahun tidak menyentuh teks ini, saya melihat juga banyak kekurangan di sana-sini. Memang, Dara dibuat berdasarkan spontanitas kejadian yang terjadi pada diri saya dan sekeliling saya, sebagai wanita yang menikah tidak di usia muda. Melainkan mendekati, pas, atau lebih dari 30 tahun. Dara merupakan catatan gabungan antara apa yang saya lihat dari sekitar saya, teman-teman single terutama kaum perempuannya dan permasalahan yang ada, yang mungkin terjadi, ditambahi bumbu di sana-sini, plus imajinasi. Jadilah Dara.
Tags: Yuk Nulis!
Posted in Fonny Jodikin
And The Winner Is…
September 18th, 2009 Posted 12:01 am
Terima kasih bagi para peserta yang udah ikutan berpartisipasi dalam Lomba Nulis Hari Aksara 2009.
- Selamat Tinggal Sahabatku (Ratna Fri)
- Memori Bulan September (Martina Felesia)
- Aku Membutuhkan Bebanmu (Maria Rosa Anggraini)
- Sobatku Bernama Iin (Veronica Setiawati)
- 4 Sekawan (San San Tjahaya)
- Tertusuk Padaku, Luka Padamu Jua (Rini Giri)
- Eng, Harga Sebuah Keputusan (Simon Nagari)
- Teman, Apakah Masih Boleh Kau Kupanggil Teman? (Shandra Syailendra)
Setelah berembug sana-sini. Maka dipilihlah pemenang yang berhak ikut dalam buku yang sedang dalam proses penerbitan.
Memori Bulan September (Martina Felesia)
Selamat buat Tina!
Bagi yang tidak terpilih – karena ini TK Yuk Nulis!, semua bisa terjadi – akan diterbitkan dalam bentuk e-book berbarengan dengan peluncuran buku nanti.
Atas kerja kerasnya, kami ucapkan selamat!
Anita | Angel | Bekti | Danny | Dede | Fachad | Femi | Fonny | Grace | Hanna | Henny | Lini | Pamuji
Yuk Nulis!
“To write well, you have to write what you know”
(Never Been Kissed, 1999)
Didukung sepenuhnya oleh Via Lattea Foundation
Tags: Lomba Nulis Hari Aksara 2009, Woro-woro, Yuk Nulis!
Posted in Via Lattea Foundation
Di Balik “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari”
September 9th, 2009 Posted 9:09 pm
Tags: Yuk Nulis!
Posted in G. Lini Hanafiah
Menulis itu Menyenangkan
September 9th, 2009 Posted 4:30 am
(Fonny Jodikin)
Dulu, ketika aku baru belajar menulis dan mengirimkannya kepada segelintir teman-temanku, kira-kira tahun 2002-2003, aku mendapati bahwa menulis itu betul-betul menyenangkan. Bukan saja aku bisa mengekspresikan segala perasaanku, aku juga bisa menambahkan pendapat, imajinasi, sehingga terbentuk lebih dari satu jenis tulisan. Paling tidak ada cerber atau cerpen dan tulisan berupa pengalamanku.
Bahasa yang kupakai pada saat itu adalah bahasa gaul campur Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tentunya dan aku betul-betul menikmati hal itu. Merasakan kalau aku betul-betul bisa ‘on’, betul-betul bisa puas kalau aku bisa menumpahkan segala perasaanku di atas tuts keyboard, mengirimkannya, dan mendapatkan tanggapan dari teman-temanku. Sederhana sekali sebetulnya, hanya itu saja.
Tags: Yuk Nulis!
Posted in Fonny Jodikin
Festival Nulis Sadar Bahasa, Hari Aksara 8 September 2009
September 9th, 2009 Posted 12:01 am
8 September ditetapkan sebagai Hari Aksara.
Sebagai pesta yang patut dirayakan, kami mengajak teman-temin untuk ikutan Festival Nulis Sadar Bahasa. Dengan sehari saja meninggalkan bahasa gaul, bahasa prokem, dan memperhatikan ejaan yang baik.
Meskipun tema yang dipilih adalah pengalaman pertama belajar menulis, ternyata tulisan yang masuk sungguh variatif.
Ini TK Yuk Nulis!, tidak ada hukuman atas benar atau salah. Yang benar didukung terus, yang salah dibetulkan. Di TK Yuk Nulis! prinsipnya adalah kegembiraan menulis, apapun boleh saja.
Bahasa adalah jati diri. Inilah karya teman-teman yang menunjukkan kebanggaannya jadi orang Indonesia dengan berbagai keragaman bahasanya.
Yuk Nulis!
“To write well, you have to write what you know”
(Never Been Kissed, 1999)
Tags: Festival Nulis Sadar Bahasa Hari Aksara 8 September 2009, Woro-woro, Yuk Nulis!
Posted in Via Lattea Foundation
Ikutan “Lomba” Nulis di Yuk Nulis! mau?
August 27th, 2009 Posted 8:32 am
8 September ditetapkan sebagai Hari Aksara. Sebagai pesta yang patut dirayakan, Yuk Nulis! mengajak teman-temin Nuliser untuk ikutan “Lomba” Nulis.
“Lomba”? Bukan lomba?
Bukan! Lomba ada hadiahnya kan? “Lomba” ga ada hadiahnya.
“Pemenang”nya dapat apa?
Dapat kesempatan untuk berpartisipasi di buku kompilasi yang sedang dikerjakan. Naskahnya akan diikutsertakan dalam buku sebagai “bintang tamu”.
Kegiatan ini semata untuk menyemangati para Nuliser. Selain ikutan “lomba” diharapkan juga aktif di milis/blog dengan konsisten.
Ketentuannya apa?
- Terbuka untuk member Yuk Nulis!. Keterangan lebih lanjut, klik di sini.
- Sudah pernah posting di blog minimal dua kali terhitung sampai tgl 31 Agustus 2009.
- Tema: menceritakan satu sahabat terbaikmu dengan suka-duka, asem-manisnya persahabatan.
- Naskah bebas, boleh yang sudah dimuat di blog, daur ulang naskah lama, naskah baru, apa aja. Puisi, prosa, bebas aja.
- Naskah boleh dari blog sendiri, boleh menyantumkan linknya.
- Seperti biasa, masukkan sendiri naskahmu di blog Yuk Nulis!.
- Beri tag “lomba” di naskahmu atau konfirmasikan ke Lini.
Kriteria penulisannya apa?
- Panjang naskah maksimal 1.000 kata
- Kisah nyata
- Judul menarik
- Alur jelas meskipun maju-mundur
- Mudah dipahami
- Esensi cerita mengena
Kapan diserahkannya?
- Batas akhir tgl. 7 September 2009. Semua akan dimuat di blog serentak pada 8 September 2009.
“Juri”nya siapa?
Tim Yuk Nulis!:
- Anita
- Angel
- Bekti
- Danny
- Dede
- Fachad
- Femi
- Fonny
- Grace
- Hanna
- Henny
- Lini
- Pamuji
Komentar di blog juga ikut mempengaruhi. Jadi, ajak teman-temanmu untuk kasi komentar di sana, bukan di Facebook.
Pengumuman akan diumumkan pada 19 September 2009
Bagi member yang “menang” tapi tidak aktif di milis/blog, artikel yang dimuat di buku akan digantikan “pemenang kedua”. Diharapkan bergabung di Yuk Nulis! bukan semata karena lomba.
Yuk Nulis!
Tags: Woro-woro, Yuk Nulis!
Posted in Via Lattea Foundation
INSPIRASIKU, Sebuah Catatan Tengah Malam
August 27th, 2009 Posted 6:54 am
(Kemala Tillnes)
Dari manakah datangnya inspirasi?
Bila pertanyaan ini diajukan, jawabannya pasti bermacam – macam, tergantung siapa yang mendapat pertanyaan tersebut. Namun saat pertanyaan itu menghampiriku di malam – malam dimana aku tidak bisa terlelap, aku menjadi berpikir lebih dalam. Iya, benar bahwa aku membutuhkan inspirasi dalam setiap aktivitas kehidupan dan proses penciptaan kreasiku. Seseorang atau sesuatu yang membuatku memiliki ambisi dan semangat untuk menghasilkan lebih banyak lagi dan lebih baik lagi.
Bila dipikirkan, hidup ini ibarat sebuah kanvas besar dimana manusia didalamnya adalah seniman bagi hidupnya sendiri. Tinggal aliran mana yang dipilih, kembali kepada individu yang memegang kuas, pena, pisau pahat atau entah apalah nama alat yang dipakainya. Yang terpenting disini adalah proses penciptaan kreasi tersebut tidak akan terlepas dari yang namanya inspirasi. Tapi sebenarnya apa inspirasi itu? Sebuah visi ke depan? Sebuah gambaran visualisasi? Lalu bagaimana mendefinisikannya? Bagiku inspirasi adalah semua hal yang bisa ku analisa dengan ke enam indraku. Kenapa enam? Karena sebenernya indra manusia itu berjumlah lebih dari lima, bahkan lebih dari enam. Tapi untuk hal ini kurasa cukuplah hanya enam indraku saja yang bekerja menangkap dan menganalisa. Oh iya si indra keenam itu adalah rasa, suara hati, panggilan jiwa, intuisi yang berasal dari dalam diri. Lalu mengapa manusia membutuhkan inspirasi dalam melakukan sesuatu dan dalam pencapaian targetnya? (more…)
Tags: Catatan, Inspirasi, Yuk Nulis!
Posted in Kemala Tillnes
Cita-citaku
August 26th, 2009 Posted 2:28 pm
(Martina Felesia)
Cita-citaku waktu kecil sebenarnya sederhana saja. Mau jadi seniman. Seniman? Kok nggak mutu tenan, mungkin begitu pemikiran banyak orang. Biasanya orang bercita-cita pengin jadi dokter kek, insinyur kek, guru kek, minimal ibu rumah tangga lah. Ini kok seniman. Apa bagusnya jadi seniman?
Menurutku jadi seniman itu enak. Selain itu unik dan menarik. Cocoklah dengan diriku yang suka ”nggak beres” di mata orang-orang yang mengenalku. Nggak beres dalam arti suka ”sak penake dewe”. Nggak suka dandan, nggak suka pakai rok, nggak suka jalan kemayu, dsb…dsb…..! Yang lebih penting lagi, seniman itu jam kerjanya boleh suka-suka. Boleh pagi, siang, malem, tengah hari, dini hari, atau malah terkadang nggak kerja sama sekali. Diganti dengan bengong (yang katanya sih menimba inspirasi…hihihi).
Di mataku seniman itu identik dengan membaca, mengarang, melukis dan menyanyi. Semua item itu adalah kegemaranku. Hobiku. Apalagi dengan tampilan para seniman yang umumnya nyentrik bin ”nyleneh” . Semua begitu menggoda untuk punya cita-cita yang nggak ngetop itu. Bagiku, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Apapun kata orang aku tetap teguh kukuh berlapis baja (mirip judul lagu) pengin jadi seniman. Titik. Kubayangkan pasti enak ya boleh melakukan apapun yang kita suka.
Tags: Natal, Yuk Nulis!
Posted in Martina Felesia












