Aku belajar dari anjingku
(Theresia Rita)
Aku masih SD ketika keluarga kami memiliki anjing keturunan Labrador, bulu nya lebat sampai mukanya hanya terlihat moncongnya saja. Dia cantik sekali warnanya putih dan coklat muda, tapi kegemukan karena kami selalu berebut memberinya makan. Namanya Foni. Maaf tidak bermaksud menyamakan dengan anjingku bila ada teman yang namanya sama, tapi ibuku entah kenapa memberi nama demikian. Umurnya baru 4 tahun waktu hamil pertama kalinya. Anak nya 6 ekor, sangat cantik dan gendut-gendut.
Ayahku seorang kepala sekolah, tetapi menghabiskan sisa waktu mengajar dengan berkebun. Biasanya kalau buah jeruk dikebun kami mulai berbuah dan terlalu lebat, beliau memotong beberapa putik buah agar yang lain bisa besar dan matang sempurna.
Saat itu dalam pikiran ayahku anjing juga sama dengan tanaman, kalau anaknya terlalu banyak, beliau kuatir anaknya tak dapat tumbuh sempurna karena berebutan susu dari induknya.
Tanpa bertanya pada kami, hari itu ayah membuang 2 ekor anak anjing itu ke dalam septitank di belakang rumah kami. Septitank itu kedalamannya 2 meter, atasnya tertutup semen beton. Hanya ada lubang kecil untuk saluran udara. Ayah membuang nya lewat lubang itu…..
Anjing kecil itu kedinginan dan mengongong kecil dari kedalaman septitank…, suara nya perih menyayat hati. Foni induknya gelisah dari siang itu , terus menerus mengelilingi septitank sambil mengongong pilu. Menjelang sore dia tak sabar lagi, dia mulai mengaruk pingiran septitank….dia tak pernah berhenti…terus-menerus mengaruk semen beton yang keras sambil mengongong. Cakarnya mulai berdarah karena harus melawan semen yang cadas…, dia tak mau berhenti….sampai larut malam
4 anaknya yang lain ikut ribut karena kehausan dan ramai mengongong kecil.
Malam itu keluarga kami menjadi panik, ayahku diam tak bisa berbuat apa-apa, karena beliau tahu anak-anak dan istrinya marah padanya. Lalu kami anak-anak memohon-mohon pada ayah untuk membantu foni membongkar septitank. Tapi ayah berdalih sudah malam dan kebun gelap sekali,baru besok mau dilakukan.
Upaya kami untuk membujuk foni juga tidak membantu foni untuk diam. Adikku yang bungsu mulai menangis karena dia sangat sayang pada anjingnya.
Karena lelah kami tidur sekamar, sambil berdoa untuk foni. Tiba-tiba jam 23.00 mulai sunyi, tak ada suara gongongan foni, dengan tergesa kami berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi di belakang rumah.
Oh…ternyata Foni berhasil membongkar Septitank yang terbuat dari beton itu tanpa bantuan manusia, tetapi seluruh kaki tangannya berdarah….bulunya basah kuyup dan bau….. dia membawa kedua anaknya diatas tanah, kelelahan sambil menjilat-jilat kedua anaknya.
Ibuku langsung membuatkan susu hangat untuk foni, dengan diam kami sekeluarga mengelilingi anjing itu dengan anak-anaknya. Sejak itu Foni amat takut dan curiga dengan ayahku, gelisah setiap ayah mendekat.
Hari itu, keluarga kami belajar tentang apa arti mencintai….., bila binatang seperti anjingku saja bisa mencintai anaknya tanpa mengenal batas mengapa kita manusia seringkali membuat kotak-kotak?
Kita bisa menyayangi siapa saja tapi kadang-kadang kita menuntut timbal balik.
Kita manusia juga kadang butuh mencintai….tetapi hanya pada orang yang kita sukai, bila tidak sesuai dengan pikiran kita maka kita akan membatasi relasi dengan orang itu dan memberinya label macam-macam.
Temans…kalau kita hanya cocok dengan teman yang kita sukai, apakah jasa kita?
Pernahkah terpikir untuk mencintai orang lain yang kita benci?
Atau pernahkah terpikir mencintai orang lain yang tidak menyukai kita?
Menjadi pembawa damai….mencintai sedikit saja, tidak mudah, karena cinta menuntut komitmen dan kesetiaan.
Jakarta, 24 November 2009.
By theresia rita













ceria sederhana, namun sangat bermakna…
like this VERY much!