MALAIKAT ITU TAK PUNYA SAYAP

(Theresia Rita)

Bertahun – tahun aku merayakan valentine dengan biasa saja meski jaman SMA dulu, valentine selalu hadir dengan nuansa istimewa karena hebohnya teman-teman merayakan. Tapi  tahun ini valentine menjadi sangat istimewa. Aku ketemu dengan dia saat retret valentine bersama. Semula yang sama sekali tak kenal., menjadi amat dekat dan kenal luar dalam.

Mungil dan cantik, mirip seperti burung pipit yang ada foto dan puisinya mbak femi….kakinya kecil,tetapi di balik semua kemungilannya itu Tuhan memakai dia untuk hal-hal besar dalam karya pelayanan. Aku suka memanggilnya burung pipit,bukan hanya karena mungilnya…tetapi karena cerewet…celotehnya ramai mirip burung-burung pipit di sawah di kampungku.

Aku tak pernah tahu kalau dia itu ”selebrity”. Jadi, mulailah persahabatan kami penuh dengan keterkejutan-keterkejutan ku tentang siapa dia. Tapi dasarnya aku ini bukan orang yang suka melihat label….maka akupun berteman dengan dia dengan cara yang lugas dan apa adanya, embel-embel selebrity nya tak penting untukku.

Tapi sungguh kehadirannya menjadi jembatan bagiku untuk makin dekat dengan sang Pencipta. Hati saya mulai berubah menjadi lebih baik, perilaku negatif ku dulu yang tukang marah, serta mudah tersingung lambat laun terkikis……

Semua berawal dari kata sederhana, cintanya padaku….kasih Tuhan yang besar sekali, ada didalam dirinya. Kasih itu bukan retorika…tapi jelas nampak dalam cara hidupnya. Aku yang keras kepala dan keras hati, menjadi luluh karena kebaikan dan kerendahan hatinya. Dia memeluk aku meski aku kerap lari, dia selalu berhasil menemukan aku disaat aku menjadi pecundang.  Dia menjadi hadiah istimewa untukku tahun ini, dan entah harus mengucap syukur bagaimana kepada Tuhan atas anugerah persahabatan ini…….

Akupun tahu bahwa aku adalah ”tempat sampah” untuk membuang setiap uneg-uneg dalam hatinya, menjadi teman diskusi, sekaligus kamus teologi eh…maap keliatan sombong deh…maksudnya jadi kuping buat dia. Dia yang pendiam dan pemilih dalam hal sahabat, dan aku tahu aku adalah bagian dari hidupnya.

Kadang-kadang kami bertengkar, berselisih paham, kadang berdebat….tetapi kasih selalu menjadi jembatan yang menghubungkan relasi kami. Makin lama akar itu semakin kuat, karena ada rasa saling menghargai, menyayangi,menerima satu sama lain, mensyukuri rahmat Tuhan yang hadir dalam persahabatan kami.

Tapi kebahagiaan itu tak pernah datang sendirian, dalam persahabatan kami ada si X yang sahabatnya, sahabatku ini, mereka tinggal serumah, dan sudah bersahabat belasan tahun. Sahabatku ini kost di rumah itu. Maka dibandingkan dengan aku dan burung pipitku ini, persahabatan kami baru seumur jagung, persahabatan kami bukanlah apa-apa. Namun aku amat menghargai relasi mereka dan tak memaksakan bahwa sahabatnya sahabatku ini harus pula menjadi sabahatku..tidak sama sekali. Ini mirip penuturan mbak Lini tentang ”sahabatmu bukan sahabatku”. Dan entah atas nama apa, si X ini begitu membenci aku, padahal aku selalu berusaha bersikap baik dan mengalah padanya.

Si X sempat mengatakan pada sahabatku kalau menurut intuisinya, sahabatku harus hati-hati padaku karena aku menyimpan sesuatu yang jahat, entah apa sebutannya dia belum dapat menemukan kata yang tepat, tapi kurang lebih aku ini jenis orang yang memakai topeng dalam menjalin relasi dengan orang lain. Saking bencinya, dia jijik padaku dan melarang aku mengijakkan kakiku dirumahnya. Dia hanya menerima adikku, karena adikku bisa menjadi supir untuknya, juga bisa disuruh-suruh. Adikku mengusulkan agar dia diberi nama Miss Hamster, karena  katanya kalau kelakuannya mirip hamster. Adikku bilang hamster suka makan temannya sendiri.

Sebenarnya aku masih bingung mencari sebab yang tepat, mengapa aku begitu dibenci olehnya? Apakah orang lain merasa lebih mulia dan punya hak untuk menghakimi orang lain.

Jujur sih…ditolak itu tidak indah, rasanya sakit banget…sampai ke lubuk hati, tetapi justru karena kebenciannya itulah yang membuka mata ku.

Ketika aku terluka, aku jadi belajar tidak menghakimi orang lain, karena yang punya hak menghakimi dan memberi label itu hanya Tuhan…., meski Tuhan tak pernah memberi label, seburuk apapun kita.

Hari itu badanku demam, oleh kantor aku diminta istirahat maka aku ambil cuti sakit. Sejak tiga hari sebelumnya sahabatku ini juga terbaring sakit, tubuhnya lemah dan kurus. Dan sejak tiga hari itu aku terus-menerus resah, karena tidak bisa merawatnya. Aku bimbang karena tidak boleh mengunjungi rumah nya hanya karena Miss Hamster sebagai pemilik rumah itu tak mau ada jejak ku disana. Panik, bingung, resah dan sedih menyatu dalam hati dan pikiranku.

Aku menerima sms nya kalau tubuhnya mulai lemah, tak bisa makan,terus menerus muntah dan dia dirumah sendirian, tanpa pikir panjang aku naik ojek kerumah sahabatku, karena kebetulan miss hamster tidak ada di rumah, sedang keluar kota. Maka ini adalah kesempatan yang Tuhan beri untuk ku agar aku bisa merawatnya. Meski aku sakit, demam dan flu berat, aku tak peduli menerobos macet,debu,panas terik matahari. Hatiku pias memikirkan sahabatku ini, aku ingin segera membawa nya ke rumah sakit.

Rumah ku dan rumahnya sangat jauh bisa 1,5 Jam, tapi bisa ditempuh satu jam dengan motor kecepatan tinggi. Biasanya aku takut naik motor ngebut…tapi hari itu aku tak takut apa-apa,tak peduli debu dan truk-truk besar dikiri kanan motor yang kutumpangi.

Sampai di rumah kost sahabatku ini, ternyata ada tamu yang kebetulan adalah sahabat dekatnya di Miss Hamster,dia datang beberapa menit lebih dulu. Maka melalui selular aku menghubungi sahabatku ini dan mengatakan bahwa aku berada 10 meter dari rumah nya, aku meminta ijin apakah boleh masuk. Tapi sahabatku ini dengan penuh ketakutan mengatakan kalau Miss Hamster tahu bahwa aku akan datang ke rumahnya, dan dia melarang aku masuk. Dia akan marah besar pada sahabatku bila dia mengijinkan aku masuk rumahnya. Si Tamu juga pasti akan melapor pada miss Hamster bila aku ada disana.

Saat itu air mata mengalir deras bersamaan turunnya hujan menguyur Jakarta, sembari duduk menunggu hujan reda didalam gardu ronda, aku berdoa melantunkan permohonan kesembuhan buat sahabatku. Aku ingin sekali berada disampingnya, membuatkan bubur untuk dia, menyuapi dia makan, memaksa makan obat, ingin sekali memijitinya agar dia bisa tidur nyeyak. Aku sedih karena hanya berhenti di gardu ronda …jarak diantara kami hanya sepuluh meter, jarak diantara kami ada pagar putih yang tinggi…jarak diantara kami yang terbesar adalah  ada sebuah Hati yang cemburu dan terluka dengan keberadaanku. Hari itu dadaku penuh air mata….,tiba-tiba aku sadar bahwa bahagia tak pernah datang sendirian …dia selalu bersama-sama dengan sahabatnya yaitu duka….

Mirip dengan filmnya Julia Robert dan Mel Gibson yang judulnya ”Loves gives us Wings” yang bertutur tentang kisah seorang Hakim yang memutuskan hukuman untuk seorang penjahat yang diperankan Mel Gibson. Hakim ini memiliki puteri tunggal yang cantik yang diperankan Julia Robert. Si Penjahat kabur dari penjara dan menjadi buronan, penjahat ini berencana membunuh hakim,tapi ternyata dia jatuh cinta puteri hakim itu. Dengan Epilog yang dikemas cantik, si penjahat ini memaafkan hakim itu, meskipun ending nya sedih karena akhirnya hakim itu mati tertembak untuk melindungi puterinya ketika polisi akan meringkus Mel Gibson.

Cinta memang memberi sayap, untuk melakukan hal-hal yang rasanya tak mungkin.

Ini juga mirip seperti anjing saya yang membuka septitank beton untuk menyelamatkan anak-anaknya yang dibuang ayahku, hanya bedanya endingnya anjingku bahagia karena pengorbanannya tak sia-sia.

Saat itu meskipun sakit, lelah, kepanasan dna pulangnya kehujanan di penjompongan sampai rumah, semua tak terasa…benar-benar cinta itu memberi saya sayap untuk memaafkan perlakuan buruk sahabatnya sahabatku itu. Cinta dalam persahabatan kami sungguh mampu menjadi jembatan bagi persoalan-persoalan kami.

Sampai sekarang kami tetap bisa ketemu, meski harus kucing-kucingan tanpa sepengetahuan miss Hamster. Kami bisa nonton bareng, pelayanan bareng, makan bareng, semua tetap menyenangkan, tanpa harus melukai orang lain.

Sahabat ku yang ini hatinya baik sekali, maka aku memberinya nama malaikat meski pun tidak bersayap. Akupun berusaha menjadi malaikat yang baik untuk dia. Ketika malaikat – malaikat itu hidup dalam diri kita, maka kita akan punya sayap yang lebar untuk banyak orang. Bukan soal timbal balik persahabatan dua belah pihak saja tetapi ketika kita menemukan kebahagiaan, itu akan memampukan kita memiliki jembatan untuk orang lain yang menghubungkan semua perbedaan persepsi.

Jadilah sahabat untuk Tuhan, diri sendiri, sesama.

Jakarta, 19 November 2009.

(artikel ini kutulis saat burung pipitku berhenti berceloteh)



Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment