TAK SELAMANYA MENYENANGKAN
(Theresia Rita)
Beberapa hari lalu saya sempat sakit dan opname di sebuah rumah sakit swasta. Saat liburan adalah saat menyenangkan untuk bersama-sama dengan orang – orang tercinta, namun hari itu terpaksa aku mendekam di emergency.
Sayangnya pelayanan rumah sakit itu tak terlalu cepat (bukan complain lho…nanti jadi testimoni seperti kasusnya Prita dan OMNI..he…he…he) ini hanya sekedar cerita inside yang bagiku menarik dibalik peristiwa ini.
Si Perawat menusukkan jarum untuk mengambil darah guna pemeriksaan lab. Setelah agak bingung mencari nadi, akhirnya ketemu di tempat yang dirasa tepat,jarum yang ditusukkan amat sakit sampai ke seluruh lengan terasa pegal dan nyeri. Ini sungguh tak biasa . Dan entah kenapa darahku yang biasanya cepat sekali keluar, sekali ini darahnya amat sedikit, tapi siksaan ngilu karena tusukan jarum itu sampai ke tulang belikat. Akhirnya si perawat minta maaf berkali-kali karena akan cari daerah tusukan ditempat lain yang banyak menghasilkan darah. Jadi…terpaksa aku harus merasakan tusukan jarum untuk kedua kalinya. Rasa ngilu di lengan terasa sampai berhari-hari.
Hari berikutnya darahku diambil lagi untuk test lab lengkap. Dengan wanti-wanti aku mengatakan kepada suster agar tidak menusuk dalam nadi ditempat yang kemarin karena disitu darahnya tak keluar. Tapi si perawat dengan lembut mengatakan bahwa nadinya cukup besar, tidak masalah. Aku merasa trauma karena ditusuk didekat yang hampir sama seperti kemarin , tapi ternyata hanya dalam hitungan detik darahnya mengucur deras dan segera memenuhi tube-tube tanpa terasa apa-apa.
Aku hanya menduga pengambilan sample darah untuk lab. di hari pertama itu, mungkin karena si suster salah menusuk ke dalam daging bukan ke dalam nadi sehingga darah nya tidak keluar, namun meninggalkan rasa sakit luar biasa.
Semalam aku sempat berselisih pendapat dengan sahabatku, dia mengkritik aku habis-habisan. Biasanya aku akan dengan penuh perhatian dan kerendahan hati mau menerima masukan darinya. Aku biasanya selalu bersedia mendengarkan dia, menurut semua saran-saran positifnya karena aku tahu dia sayang padaku, dia berani melakukan itu demi kebaikan ku.
Tapi entah sekali ini aku sangat marah, analisa-analisa nya tentang diriku aku tentang habis-habisan. Rasanya semua pendapatnya itu keliru, rasanya seperti benar-benar dihakimi. Aku begitu marahnya sampai nafasku sesak. Dia sahabatku, dia sangat mengenal aku,tetapi dia juga manusia biasa,analisanya bisa saja salah.
Barangkali kesalahan itu tak ada bedanya dengan suster yang mengambil darahku di rumah sakit itu. Suster yang satu menusuk ditempat yang salah, sehingga meninggalkan rasa sakit dan trauma yang mendalam sekaligus tak menghasilkan darah yang dibutuhkan.
Suster yang satunya dengan gayanya yang amat lembut berhasil mengambil sample darah ditempat yang hampir sama, dan menghasilkan apa yang dibutuhkan.
Sahabat saya ini, biasanya pandai berkata-kata, terasa amat sejuk dalam hati ku, setajam apapun kritikannya aku tidak pernah marah. Barangkali karena ia menusukkan ditempat yang tepat sehingga semua terasa baik-baik saja. Tapi ada waktu nya dia menusuk ditempat yang salah, dan tak menghasilkan apa-apa kecuali luka.
Malam tadi terasa begitu lambat menjadi pagi……
Sesak ku tak kunjung hilang sampai saat ini, dan aku tahu…tak akan mudah menyejukkan hati disaat pagi kehilangan embun…..
Aku hanya tahu bahwa cinta kasih akan menjadi jembatan untuk menyelesaikan semua persoalan, semoga…..











