TANPA JUDUL

(Theresia Rita)

Ketika aku masih kecil,umurku belum enam tahun,

Ada seorang pengemis yang tiap hari datang kerumahku, mula-mula rasanya sangat lucu karena kami tinggal dikampung, bagaimana mungkin ada pengemis, menurutku pengemis biasanya hanya ada dikota

Tiap kali pengemis itu datang,aku senang sekali,

dan biasanya ibuku menyiapkan sepiring nasi dan lauk nya menyuruh nenek itu makan.

Suatu hari pengemis itu tak datang lagi,

Aku selalu duduk di depan pintu, menunggunya

Aku kuatir..bagaimana nenek itu makan, bagaimana jika ia sakit

Tapi kemudian,….. kata orang-orang dikampungku dia sudah meninggal

Hati ku sedih sekali…..

Tetangga kami juga ada beberapa yang sudah lansia, tidak punya anak.

Ibuku setiap hari membuat kue untuk camilan sore hari untuk  kami sekeluarga

Ibu selalu membuat kue dalam jumlah banyak….

Ketika senja hari, ibu menyuruh aku berdandan manis ….

Dan  mengantarkan kue-kue itu kepada keluarga lansia seperti mbah Salim …..

Mbah salim selalu tersenyum senang ….dibalik giginya yang ompong….

Ibu juga sering masak masakan yang cocok untuk orang sakit,

ketika ada tetangga yang sakit…,ibuku sering menyuruh aku yang mengantarkan makanan buatannya sendiri, biasanya ibu pesan juga ”besok ingin makan apa”, ”hari ini rasanya bagaimana,apakah sudah baikan?”

Waktu Pak De Noto meninggal, bu de Noto tidak punya uang sama sekali.

Akhirnya sluruh biaya pemakamannya, ibuku mengeluarkan dari kantongnya sendiri.

Juga waktu istrinya Lik Harto meninggal dengan cara menyedihkan, ditengah kemiskinan.

Ibu ku yang memangku almarhum ketika titik terakhir menghembuskan nafas,

Ibuku adalah anak tunggal, maka orang lainlah yang menjadi saudara demikian kata ibuku,dia bahagia melakukan itu semua buat orang lain.

Ibuku tidak pernah memberi teori yang muluk-muluk tentang budi pekerti,

Ibuku tidak berdiri di mimbar dan kotbah tentang kabar baik seperti yang dilakukan para pewarta

Ibuku cuma guru sekolah SD didesa yang biasa-biasa saja

Seperti orang lain pada umumnya

Tampangnya cenderung galak, judes,tak religius,suka negatif thinking dan kadang suka bergosip

Tetapi ibuku memberi teladan yang luar biasa tentang ”KASIH”

Atas nama itu lah saya tumbuh dan besar. Saya belajar tentang empati dengan sesama, dari ibuku.

10 tahun lalu aku pindah ke Jakarta, kata orang disini semua orang individual.

7 bulan lalu, teman ku,namanya ibu Rini putrinya meninggal karena hyper tyroid acuut,dari kalangan umat katolik yang datang cuma sedikit, seakan enggan berbela rasa, dijakarta semua orang sibuk…tak ada waktu lagi . Dari sejak putrinya bu Rini sakit, yang datang untuk berkunjung, mendoakan dan menguatkan keluarga hanyalah saudara-saudara dari gereja lain.

Ketika aku bercerita kepada teman-teman ku tentang masalah ini digereja kata mereka : ”salahnya mungkin bu rini tidak aktif dilingkungan jadi tidak terkenal!”. Orang-orang lebih melihat kesalahan, timbang jasanya.

Padahal bila diukur dari pengabdian, bu irene rela meninggalkan keluarga berminggu-minggu, untuk memberi training of trainer kepada para dokter,perawat, suster dan awam yang berkecimpung di rumah sakit-rumah sakit se Indonesia.

Apakah ”terkenal” menjadi ukuran seseorang untuk dicintai ?

Apakah jika Yesus tidak mati di kayu salib, hidupnya lalu tidak sensasional?

Apakah hanya para aktivis dan relawan saja yang perlu diperhatikan dan dicintai?

Apakah kita menaburkan yang baik agar nanti ketika sakit dan meninggal banyak yg melayat?

Bagaimana dengan mereka2 yang terjebak dalan ”dunia kecil” disudut-sudut gang yang malu keluar rumah ? Apakah mereka  layak ditinggalkan bila mereka sakit dan terpuruk? Karena ”Salah sendiri”!

Lalu dari keprihatinan kecil itu, saya belajar dan mengajak semua teman untuk mulai ”peduli”

Alangkah baiknya menyadari bahwa kita sebagai aktivis ”sibuk setengah mati” sampai tak punya waktu…. rasanya bila boleh mengajukan proposal para Tuhan

maka aku ingin mengajukan proposal agar waktu bukan 24 Jam sehari tetapi 40 Jam sehari supaya cukup untuk apa saja.

Tetapi bila waktu ditambah menjadi 40 jam rasanya juga orang akan tetap sibuk, apalagi orang jakarta. Kalau diajak bezuk orang sakit,atau yang kesusahan…alasannya banyak sekali. Tetapi kalau untuk acara have fun,makan-makan……sigap sekali dan selalu berusaha ada waktu.

Bisa sangat dimengerti, dunia metropolitan tak memberi ruang istirahat, butuh privacy, butuh sendirian, nyaman didalam kapsul kemandirian, dunia kecil. Seseorang biasa menjadi sahabat untuk yang lain bila sungguh menguntungkan. Bila tidak…judulnya adalah harus hati-hati dengan si anu..si anu, dia begini, dia begitu…dia berbahaya dll pokoknya label nya macam-macam.

Kita dijaman modern ini sesuai dengan tuntutan jaman lebih suka mengkotak-kotak keadaan, kita buatkan labirin-labirin supaya orang juga berputar-putar untuk menemukan jalan masuk. Dibuatkan tembok pemisah supaya orang menjadi individual. Itu pola jaman sekarang.

Kita semua termasuk saya tidak bisa memungkirinya, yang diperlukan cuma mengerti dengan bijaksana, jamannya sudah tidak cocok jika mengali budaya primordial yang dianggap kuno, padahal ada pula budaya lama yang amat luhur yang kiranya baik untuk di lestarikan dan itu adalah budaya dari manivetasi cinta Tuhan.

By : theresia rita

Tertarik dengan yang ini?

  • Aku belajar dari anjingku
  • Aku vs Menulis
  • Masih Ada Sejumput Kasih di Progo
  • Kidung Rindu
  • Na, Jaga Diri Lu (2)
  • Kasih (Ibu)
  • Butuh Jatuh Untuk Bangkit
  • Untuk Bunga
  • StOp ” Menunda”
  • Seharusnya Indah….

Comments (1)

fekhiDecember 14th, 2009 at 9:22 am

Perenungan yang bagussss

Leave a comment

Your comment