PENYEMBUHAN

- si olsy -

Perhatikanlah sebuah pintu. Pada umumnya, daun pintu di rumah-rumah bergerak ke dalam sehingga bila Anda dari luar dan untuk membuka pintu, yang Anda lakukan adalah mendorong daun pintu ke dalam dan bila sedang di dalam, menarik daun pintu ke dalam.

Berdasarkan pola gerakan bersumbu daun pintu itu, cobalah sekali-kali, bila Anda sakit gigi, taruh telapak tangan Anda di salah satu sisi tegak gawang pintu yang merupakan sisi tempat gerendel dan pasangan kunci terpasang. Setelah Anda memastikan bahwa telapak tangan telah menempel mantap pada sisi gawang tersebut, pastikan pula bahwa bagian ujung jemari Anda harus tertekuk ke sisi dalam gawang tersebut. Lalu, dengan tangan yang satu raih gagang kunci dan bantingkan daun pintu itu agar tertutup dengan keras dan cepat. Alhasil, Anda akan meraung kesakitan karena telapak tangan yang Anda taruh dan menempel di sisi gawang itu tertimpa oleh gerakan daun pintu yang cepat; yang percepatannya, menurut hukum fisika, diperoleh dari berat daun pintu, dan energi yang dipergunakan untuk mengayunkan daun pintu. Begitu hebatnya rasa sakit yang Anda dapat dari momentum akhir atas gerakan daun pintu itu, seketika sakit gigi terlupakan. Akibat dari tumbukannya, paling tidak membuat kulit di jemari Anda memar atau berdarah; paling parah, tulang jemari Anda remuk. Tapi setidaknya persoalan sakit gigi Anda teralihkan.

Begitulah kiasan jurus tolol bagi orang yang suka mencari pelarian atas persoalan-persoalan yang dia hadapi. Saking tololnya orang itu, yang dia persalahkan adalah daun pintu yang dia sangka, lewat pseudo-teori yang sulit disebut logis namun beroperasi terus-menerus dalam benaknya, membuat jemarinya sakit. Lalu, karena memang pada dasarnya ada yang tidak beres dalam pengelolaan pikirannya, lalu dia menggelar penelitian untuk membuat daun pintu yang bila dibanting tidak akan membuat jemari yang ditaruh di gawang pintu menderita dan pengalihan dari sakit gigi tetap terjadi. Dia membuat forum diskusi tentang korban kekerasan daun pintu. Adakah daun pintu yang tidak keras?

Selama dia berkutat dengan teori itu, dia mengabaikan persoalan awalnya, sakit gigi.

Akhirnya, karena giginya tidak diurus, maka akar giginya membusuk, gusinya meradang parah, bengkak bernanah dan kemudian beberapa saraf THT terganggu. Setiap dia berbicara, lawan bicaranya sekuat tenaga menahan muntah, atau harus melanggar kesopanan, demikian menurutnya si pebanting itu, ngibrit dan muntah demi bau busuk dari mulutnya. Tapi tetap yang dia persalahkan adalah daun pintu sehingga dia tetap menyelesaikan penelitian yang baginya adalah magnum opus. Lalu bila dia barhadapan dengan orang yang tidak tahan dengan bau mulutnya ketika dia berbicara, maka dia akan membuat semacam pseudo-teori tanpa hipotesa tentang arti persahabatan.

Dengan gencar dia berkhotbah ke penjuru dunia bahwa dia adalah orang yang telah dirugikan oleh daun pintu yang dia banting dengan kekuatan yang hebat itu. Karena hanya mampu mencari pelarian, dia tak dapat melihat bahwa ada yang tidak beres pada dirinya yang butuh suatu pengarusutamaan untuk diselesaikan segera. Paling tidak, dia tidak berpikir bahwa orang yang ngibrit karena bau dari radang gusi akibat sakit gigi yang tidak diobati itu harus disembuhkan dulu untuk menyelesaikan persoalannya.

Karena pelarian sudah serupa agama bagi dia, maka apapun ritus-ritus keagamaan dia gunakan untuk membenarkan pelariannya itu: Meraung-raung di Goa Maria agar daun pintu yang dia anggap jahanam itu mau minta maaf pada dia setelah berkali-kali bertanya ke daun pintu itu, “kamu gak minta maaf? Gak terbiasa minta maaf, ya?” Karena pelarian adalah ekspresi imannya, maka setiap orang yang tidak tahan berhadapan dengannya adalah orang yang tidak paham Amsal 17: 17. Akhirnya, yang semula adalah persoalan orientasi diri, bagi dia berubah menjadi persoalan tata krama. Sementara gusinya telah membusuk sehingga simpul-simpul saraf THT di sekitar gusi termasuk beberapa simpul saraf yang berkaitan dengan detak jantung terganggu.

Pada kurun waktu yang cukup panjang, saya pun pernah seperti itu. Menyelesaikan masalah dengan masalah baru dan saking bermasalahnya hidup saya, saya tidak tahu lagi apa yang disebut dengan masalah. Yang saya tahu, karena–sialnya–ingatan saya sangat tajam, tidak ada satupun yang bisa saya lupakan sehingga, menurut sangkaan saya waktu itu, memusatkan konsentrasi pada hal lain adalah cara mangkus dan sangkil untuk menyelesaikan persoalan pokok saya.

Lalu, ketika persoalan sudah sangat semrawut, untuk menyebut siapa korban dan siapa pelaku pun sudah sulit untuk di rumuskan. Siapa saksi korban dan siapa saksi pelaku pun sudah tidak jelas. Masalah oposisi biner yang pada kondisi yang waras dapat dipisahkan dengan jelas menjadi sangat berantakan. Untuk digambarkan dalam diagram venn dengan lima atau tiga ratus lingkaran yang saling bersinggungan untuk melihwat wilayah beririsnya pun sudah tidak bisa. Yang tinggal di hati hanya perkara balas dendam.

Namun, Maria tidak suka pada orang yang suka meraung-raung minta didoakan tanpa tahu pokok persoalannya. Dan, kesetiaan Tuhan pada dasarnya adalah untuk orang yang mau berjuang untuk kembali tegak; bagi orang yang percaya pada-Nya bahwa kuasa-Nya ada dalam kemauan untuk mengobati diri sendiri.

Seperti menyusun sebuah karya ilmiah, saya berlatih untuk menyusun Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Obyek Penelitian, Acuan Teoritik, Landasan Metodologi, Tinjuan Pustaka, Hipotesa, Pembahasan dan Kesimpulan. Meski butuh waktu panjang dan kadang-kadang ada masa kendur, namun ketika ada harapan di hati, dengan cara-Nya, cara yang kontekstual dan aktual, Tuhan akan berbisik. Tuhan tidak menggunakan jurus abrakadabra yang dicintai setengah mati oleh orang yang mencari pelarian ke sana-ke mari.

Untuk membebaskan umat Israel ke tanah terjanji, Tuhan pun melatih Musa untuk lulus dari berbagai ujian. Untuk memahami hakikat hidup, Adam dan Hawa pun harus terdepak dari taman Edan.

Adakalanya, dalam upaya penyembuhan itu saya berpikir untuk membatalkan upaya mengurai setiap persoalan yang sudah sangat kusut karena terus berada dalam suasana pelarian. Meski sangat berat, saya bersikukuh untuk tidak membatalkan apapun yang telah saya rencanakan karena saya tidak ingin mendendangkan lagu kelam sambil menjerit ke penjuru dunia minta belas kasihan dan pemakluman seperti yang dikritik dalam salah satu lagu Metallica, One, “No one but can help myself. But it’s too late.”

Saya tidak mau jadi pecundang meski dengan segala kekusutan tersebut lebih mudah bagi orang menyebut saya sebagai pecundang tulen. Karena itulah, saya tidak ingin sekedar menghapal pepatah Syiwa yang diakulturasi oleh kaum Mandarin pada masa akhir Dinasti Ming, “Tidak ada salahnya menghancurkan apa yang kita miliki hari ini karena dengan penghancuran itu, kita bisa berbuat lebih untuk esok.” Tinggal persoalannya, mau lebih baik apa lebih buruk. Saya tentu ingin sesuatu yang lebih baik. Persoalannya ternyata sederhana. Hanya berusaha untuk tidak berhadapan dengan susana yang harus diratapi dengan perkataan, but it’s too late. Karena semuanya berubah pelan-pelan, hanya kesabaranlah yang mampu melihatnya. Tentu saja kesabaran yang saya maksud di sini berbeda dengan kesabaran berhadapan dengan kelakuan pengemudi kendaraan bermotor di jalan atau berhadapan dengan lagu-lagu bikinan orang Indonesia saat ini.

Ketika kini saya melihat diri saya yang dulu, sepuluh hingga lima tahun lampau, alangkah menyebalkannya si Olsy bermulut karung itu. Berdekatan dengan orang untuk menularkan sakit-sakitnya. Dan bila Anda membiarkan diri Anda sakit, maka berbagai definisi yang tidak Anda pahami tentang diri Anda akan segera bermunculan. Orang-orang akan mengimani definisi itu sebagai kebenaran dari Tuhan yang disampaikan entah melalui nabi siapa. Adakalanya definisi itu sengaja dirumuskan untuk menghancurkan diri Anda sehabis-habisnya dan ada pula definisi itu muncul karena memang demikian dan Anda menolaknya karena dalam pelarian, Anda tidak punya waktu untuk mawas diri.

Ujian terberat dalam upaya menyembuhkan diri sendiri, karena kesembuhan hanya ada pada diri sendiri adalah ketika Anda berhadapan dengan fitnah. Saya tahu persis bagaimana keadaannya ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita pahami adanya, tapi orang lain sangat meyakininya melebihi keyakinan pada Kebangkitan Yesus. Pada saat seperti itu, terasa dunia memusuhi kita. Kita harus berhadapan dengan kesalahan yang tidak kita ketahui dan seperti dipaksa untuk mengiyakannya.

Namun setiap ujian selalu ada kisi-kisinya. Bukan contekannya. Kisi-kisinya ada pada latar belakang masalah yang kita susun dan pada permasalahan yang kita rumuskan. Dari situ, tanpa harus meraung-raung di Goa Maria, Tuhan akan bekerja untuk kita. Tapi kalau masih juga mempersalahkan daun pintu itu, Tuhan pun dari dulu sangat tahu diri bahwa Dia bukan Sesuatu yang bisa dikadali dan bisa digertak.

Tapi, bila kita berhadapan dengan orang yang suka membanting pintu untuk menghilangkan sakit giginya, seringkali kita harus memasuki perdebatan yang lebih konyol ketimbang debat kusir. Malah harus memperdebatkan hal yang tidak mungkin diperdebatkan. Misalnya, fakta geografis menyebutkan bahwa pegunungan Andes itu ada di Amerika Selatan.  Sementara si pebanting pintu ini, entah tahu dari mana, menyebutkan bahwa pegunungan Andes ada di Sumatera Selatan. Seperti kisah konyol dalam film Analyze This, kita akan menjadi lebih sarap dari si pebanting pintu.

Akhirnya di surga Maria berkata, “busyet dah, elu lagi, elu lagi. Kok masalah elu gak kelar-kelar, sih? Pikirin dulu tu masalah, baru datang ke gue minta didoain. Kalo elu kagak mikir mah percuma. Masalah elu bakal gitu-gitu mulu dan elu bakal nyalahin orang laen terus.”

Untung Maria bukan orang Rawa Badak, bisa-bisa di gereja ada gambar mpok-mpok lagi nyirih sambil gendong bayi atau ada gereja namanya, Gareja Hati Mpok Maria Nyang Kagak Ada Celanya. Lebih gawat kalau nanti di papan nama gereja itu, pada bagian “Celanya” si tukang bikin papan nama lupa membuat huruf “y” atau oleh orang usil, huruf “y” itu diambil untuk menulis nama si Olsy ini.

***

Ada baiknya memerhatikan sebuah pintu. Di dalamnya ada sebuah ruang untuk hening sejenak dan berpikir tentang masalah. Berpikir tentang sesuatu yang dapat diperbarui atau berpikir tentang sesuatu yang harus dihancurkan untuk memulai sesuatu yang baru.

Dari sebuah tempat yang bisa membuat kita berpikir tenang, kisah perjuangan Batman untuk bangkit dari masa lalu yang kelam tentu akan membuat kita malu karena dari pengalaman yang buruk, kita tidak mau belajar untuk menjadi orang yang kuat untuk kesembuhan diri sendiri. Tapi apa boleh buat, kalau tidak punya rasa malu akan ketololan diri sendiri, pasti lagi-lagi kita akan menimpakan segala persoalan kita pada Maria dan meraung-raung bahwa kitalah orang yang paling disakiti dan tersakiti sejagat raya; paling tidak se-Indonesia agar bisa masuk daftar MURI.

Tertarik dengan yang ini?

Leave a comment

Your comment