istriku sayang

(Veronica Setiawati)

(sebuah kisah fiksi )

Istriku dahulu seorang yang pengertian dan mengerti saya, tetapi telah “diculik” laki-laki lain dan kini ia datang mengemis dihdapan saya untuk kembali. Lelaki yang telah memikat hatinya itu menurutnya “menceraikan” dia. Segala kata maaf dan cerita pada saat kami berdua , dia ungkapkan kepada saya supaya menerimanya kembali. Tetapi hati saya telah terluka. Saya tidak dapat menerima perlakuannya dahulu. Ia tidak menghormati saya sebagai suaminya. Mengganggap remeh semua pemberian dari jerih payah saya , padahal dahulu sewaktu kami pacaran dia tidak seperti itu.

Apalagi setelah dia saya ijinkan bekerja, mendapatkan apa yang dia mau dari uang gajinya sendiri, perlahan dia mulai melupakan tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak kami. Sampai akhirnya saya mengetahui kepergiannya karena keinginannya demi seorang laki-laki yang dia katakan adalah rekan kerja dan juga teman lamanya dulu dan memiliki penghasilan lebih dari saya. Dia pergi dan tidak kembali meninggalkan aku dan anak kami satu-satunya yang masih berumur satu tahun. Saya merasa telah gagal sebagai kepala rumah tangga. Kenapa rumah tangga saya bisa menjadi seperti ini?

Selepas kepergiannya, saya berusaha menata hidup saya dan bekerja untuk anak. Segala perhatian saya curahkan untuk anak. Dan tidak ada dalam pikiran saya untuk mencari wanita lain atau mencoba membina hubungan baru. Hati saya sedih jika anak saya menanyakan dimana ibunya atau menanyakan mengapa ibu pergi meninggalkan kami berdua? Atau ketika orangtua kami datang menanyakan hal yang sama. Rasanya rasa sedih, jengkel dan marah menjadi satu di dalam diri saya. Saya tidak menyangka kehidupan akan membuat saya menjadi hina seperti ini , membuat saya malu dan membuat saya gagal sebagai kepala rumah tangga dan laki-laki. Rasanya harga diri saya telah jatuh dan diinjak-injak.

Setelah hampir lima tahun saya menata hidup dan perekomonian rumah tangga saya. Perlahan kehidupan saya membaik dan saya sedikit membuka pertemanan lagi dengan seorang wanita yang mengerti akan keadaan saya selama beberapa bulan terakhir ini. Dia sangat cantik,lembut , sayang kepada anak saya dan perlahan mengembalikan rasa percaya diri saya. Saya pikir saya mulai jatuh cinta padanya. Dia wanita mandiri dan belum menikah.Saya kenal lewat seorang teman ketika kami dalam perjalanan dinas luar kota.

DIsaat semua berjalan sangat baik dan sesuai rencana, masalah itu datang. Isteri saya sudah hampir sebulan menemuiku memohon untuk kembali. Berusaha untuk membina hubungan dengan anak kami . Kenapa dia datang lagi ke dalam hidup saya? Kenapa dia mengacaukan semua yang telah saya bangun bertahun-tahun  tanpa dia? Akhirnya saya memutuskan untuk bicara dengannya. Saya mengajak wanita yang saat ini dekat dengan saya untuk bicara dengan istri saya. Ada kecemburuan yang saya lihat dari reaksinya ketika mengetahui bahwa saya telah memiliki wanita lain.  Saya katakan hal yang sebenarnya di hadapan istri saya kalau saya hendak menikahi wanita yang sedang duduk di samping saya. Saya tidak mencintai istri saya lagi dan tidak bisa menerimanya atas apa  yang telah dia lakukan kepada saya dahulu.

Mungkin karena tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti ini, dia mengamuk dalam kata-katanya. Juga mengatakan kata-kata yang tidak sopan kepada teman wanita saya. Karena kelakuannya itu saya terpaksa menamparnya supaya diam. Bukan maksud saya untuk menyiksanya tetapi supaya dia tenang dan tidak lagi melakukan hal-hal yang juga merugikan dirinya sendiri. Saya mencoba untuk menenangkan hatinya. Saya mencoba menjelaskan dengan bahasa saya yang paling sopan agar istri saya mengerti. Saya pun meminta maaf atas keputusan saya yang mungkin telah membuatnya patah harapan kepada saya. Walaupun kami telah mempunyai anak, tetapi selama ini saya yang telah merawatnya , menjaga, membesarkannya. Saya telah berusaha untuk mengampuni segala kesalahan istri saya dan perbuatannya yang telah melukai perasaan saya yang paling dalam. Tetapi saya telah membuat keputusan untuk masa depan saya.

Beberapa tahun kemudian, terdengar kabar bahwa istri saya terbaring di rumah sakit. Usianya tidaklah lama. Dalam suratnya dia menulis :

“sayang, aku telah bersalah padamu. Engkau lah yang paling baik yang pernah aku miliki. Aku telah menyia-nyiakan kasihmu yang selama ini kamu berikan kepada ku. Aku memang jahat dan pantas menerima hukuman dengan penyakit ini. Laki-laki yang telah aku pilih dahulu, dia tidak sepertimu. Aku telah salah dan benar-benar salah. Ternyata dia tidak mencintaiku, aku hanya sebagai simpanannya saja. Dia punya kehidupan sendiri yang aku tidak pernah tahu. Dan kini, ia telah benar-benar pergi entah kemana dan tidak mau tahu dengan keadaanku sekarang.

Maafkanlah aku sayangku, mungkin ini adalah kata-kata terakhir sebelum aku meninggalkan dunia. Jaga anak kita , semoga dia tidak tahu apa yang telah ibunya lakukan. Kamu tepat memilih pendamping, dia orang yang baik untukmu dan anak kita. Semoga kalian berbahagia selamanya. Maafkanlah aku sayang.. maafkan aku..

salam.. Istrimu”

Tertarik dengan yang ini?

  • Galau
  • Mantan pacar
  • Serial Tina : “ajari aku jatuh cinta lagi , Rik.”
  • potongan novel (dalam rencana), mudah – mudahan siap
  • Sepotong Jari di Mulutku
  • Batas Kasih 1
  • A SCARY LOVE STORY
  • SUPER PAIDI
  • Ketika keinginanku bukan kehendakNya
  • AKU LUPA KELAMINKU

Comments (2)

shinta mirandaOctober 2nd, 2009 at 9:39 am

tragis, dilematis….bagaimana kalau kejadiannya terbalik ? Benarkah seorang perempuan punya maaf lebih panjang dari laki-laki…atau….? Pengampunan…menyembuhkan dan memulihkan….itu lebih baik….! Bagus, ceritanya ya..buat kita turut bercermin…

Christian YuliandiOctober 2nd, 2009 at 10:10 pm

Penyesalan selalu datang terlambat. Sebelum bertindak, apalagi bila kita sudah menikah, kita harus mempertimbangkan masak2. Sering terjadi meskipun telah menikah, ada bagian dari pribadi kita yang masih belum dewasa, dan harus kita sadari, sehingga kita bisa berubah, dan harus mau berubah, demi pernikahan dan masa depan kita.

Leave a comment

Your comment