Perternakan Kordero – Bogor

Hari masih siang setelah selesai dari Pura Jagatkarta dan saya masih enggan untuk kembali ke Jakarta. Setelah makan, kami menuju sebuah perternakan kambing etawa. Letaknya sih tidak jauh dari Jalan Raya Ciapus, Tamansari.Kami diberitahukan oleh ibu penjual warung makan sebuah jalan pintas menuju peternakan kambing tersebut.Peternakannya sederhana dengan bangunan yang sebagian besar menggunakan kayu, baik itu untuk kandang kambing maupun untuk sebuah rumah tinggal tepat di depan kadang kambing. Selain peternakan kambing, ada juga terdapat peternakan sapi. Seorang pemuda menerima kedatangan kami bertiga dengan baik. Dari seorang bapak yang bertugas di peternakan , pemuda itu adalah manajer peternakan,lulusan D3 jurusan Peternakan IPB, namanya Mas Eko.Ada sebuah kandang yang besar tertutup kawat dan berisi anak-anak kambing. Kandang tersebut ternyata diberikan pembatas atau sekat kayu tetapi ada pintu kecil sebagai penghubung sekat yang satu dan lainnya. Sekat pertama adalah untuk kumpulan anak kambing yang baru lahir. Saat mereka lahir, anak kambing tersebut sudah dipisahkan dari induknya lalu digabung dengan anak kambing lainnya dalam satu kandang. Di dalam kandang , dibuatkan juga satu kandang kecil bertumpuk jerami sebagai tempat dikumpulkannya anak-anak kambing ketika mereka akan diberi susu.Tinggi pintu kandang kecil itu setinggi pinggang orang dewasa. Nanti ketika jadwalnya menyusui, anak-anak kambing tersebut diangkat oleh petugasnya lalu diberi susu satu persatu. Untuk jadwal pemberian susu adalah pkl 06.00 dan pkl 15.00. “Ada beberapa orang yang membantu saya menyusui anak-anak kambing tersebut. Tetapi jika mereka sibuk mencari rumput untuk pangan kambing atau sedang melakukan tugas yang lain, ya saya mba yang memberikan mereka susu.” Kata Mas Eko“Sekitar 15 liter susu sapi yang diperlukan untuk menyusui anak-anak kambing itu mba setiap jadwalnya menyusui” Begitulah yang dijelaskan Mas Eko kepada saya, Mutia dan Ida. Tidak lama, Mas Eko meninggalkan kami untuk memeras susu sapi yang letaknya tidak jauh dari kandang anak kambing. Sebab sudah waktunya memberikan susu kepada anak-anak kambing yang memiliki daun telinga yang panjang ini. Sebanyak tiga liter susu sapi yang dihasilkan dari setiap perasan yang tanpa menggunakan alat bantu. Hasil perasan susu sapi tersebut dikumpulkan dalam sebuah ember kecil. Kemudian ember yang berisi susu sapi tersebut, diberikan putih dan kuning telur ayam sebanyak dua butir lalu diaduk rata. Setelah itu susu sapi dituangkan ke dalam botol susu , hanya sayangnya jumlah botol susu tersebut hanya 3 buah yang digunakan untuk menyusui sekitar 54 ekor anak kambing dengan berbagai usia. Saya dan Mutia membantu menyusui anak-anak kambing dari botol susu yang sudah diisi susu sapi. Menyenangkan sekali dan baru kali ini saya merasakan menyusui anak-anak kambing yang tidak pernah menyentuh ataupun meminum susu dari puting susu induknya sendiri. Saya sendiri sangat kewalahan karena agresifnya anak-anak kambing ini menghabiskan susu. Mereka sangat kuat menyedot karet yang ada dibotol susu seperti sedang kehausan mereka menghabiskan isi botol dalam waktu singkat. Dalam pemberian susu ada takarannya sendiri. Untuk anak kambing yang ada di sekat pertama karena usinya masih bayi, maka tiap anak kambing diberikan hanya satu botol susu sapi. Untuk yang ada di sekat kedua, usianya sekitar dua bulanan maka diberikan 1 ½ botol susu. Di sekat yang ketiga , karena usianya sudah lebih dari tiga bulanan diberikan dua botol susu. Nah, untuk anak kambing yang sudah menyusui, mereka dipisahkan dan dikumpulkan di sekat sebelah kadangnya yang sudah kosong, Setelah semua sudah minum susu, anak-anak kambing tersebut digiring masuk kembali ke dalam kandang kecilnya, begitupun dengan anak kambing di kandang berikutnya. Saya melihat ada seekor anak kambing yang tidak lincah dan hanya terdiam dipojok kandang kecil ketika diangkat dan diberikan susu juga tidak menghabiskannya seperti yang lainnya , sepertinya sedang sakit. Kasihan kalau ada anak kambing yang sakit , akan diberikan obat-obat seperti yang biasa dikonsumsi manusia. Karena dokter hewan juga tidak ada dan Mas Eko juga merangkap sebagai dokter untuk mengobati mereka. Selain kandang anak-anak kambing yang lucu-lucu nan menggemaskan itu, ada juga kandang khusus para pejantan dan betinanya. Kandangnya sangat bersih karena memang selalu dibersihkan setiap hari jadi tidak akan mencium bau yang menyengat. Selain itu, selalu tersedia pangan buat kambing-kambing etawa ini. Ada lima pejantan yang tersedia dan siap membuahi para betinanya. “Banyak suka dukanya mba ketika merawat kambing-kambing ini. Pernah saya ditendang ketika memandikan mereka.” Cerita Mas Eko kepada kami.“Tiap hari saya memandikan, selain itu juga merawat yang sakit, memberikan makan, membersihkan kandang, membantu melahirkan kambing betina. Jika ada pejantan yang sedang masa pembuahan saya juga harus tahu termasuk memilih betinanya untuk dikawinkan.” Kami jelas terheran-heran dengan apa yang diljelaskan oleh Mas Eko keseluruhan tugasnya di peternakan Kordero ini. Luar biasa..Menurut Mas Eko, untuk kambing betina yang baru melahirkan, sekitar sepuluh hari kemudian baru dimandikan dan itupun tergantung cuaca. Sebabnya mencegah timbulnya sakit /demam pada kambing betina itu sendiri. Setiap hari juga , kambing betina menghasilkan susu perasan sebanyak tiga liter. Hasil susunya banyak untuk dijual tetapi untuk fragmentasi belum dilakukan karena keterbatasan alat. Kambing etawa ini tidak dijual melainkan khususkan untuk dikembangbiakan populasinya. “Pernah dibawakan bibit pejantan dari luar negeri mba, tetapi adaptasinya kurang bagus , tidak bertahan lama di tempat ini dan akhirnya mati.” Demikian penjelasan Mas Eko ketika ia menunjukkan tempat kandang pejantan.Ada satu pejantan yang sudah menghasilkan pejantan yang lain, nama kambing itu adalah Rocky. Tubuhnya sangat besar , sayapun kaget melihat postur tubuhnya yang besar dan tinggi. Anaknya pun tidak jauh berbeda dan diberi nama Danny. Rocky dan Danny serta tiga penjantan lainnya dipersiapkan untuk menghasilkan bibit – bibit yang bagus untuk perkembangan kambing etawa selanjutnya , yang menurutnya sih sudah tidak ada lagi dinegeri asalnya , India. Sebelum pulang, Ida dan Mutia membeli susu kambing yang sudah dibungkus dan didinginkan berlabel Kordero, nama dari peternakan kambing ini. Perjalanan yang tidak disangka. Bermula hanya iseng ingin membeli susu kambing ternyata dari tempat sederhana ini , kami mendapat pengetahuan yang sangat penting dan berharga. Tidak akan pernah lupa pengalaman yang luar biasa dari peternakan kordero , Bogor.Bogor, 01 Januari 2011Veronica Setiawatihttp://g1g1kel1nc1.blogspot.commail to : g1g1kel1nc1@yahoo.com.auFoto-foto perjalanan kami di bogor : http://www.facebook.com/profile.php?id=1529778501#!/album.php?id=1529778501&aid=2098804Note : all pictures are belong to Tarmidah Sumargo


Leave a comment

Your comment


six − = 2