Festival Nulis Sadar Bahasa, Hari Aksara 8 September 2009

8 September ditetapkan sebagai Hari Aksara.
Sebagai pesta yang patut dirayakan, kami mengajak teman-temin untuk ikutan Festival Nulis Sadar Bahasa. Dengan sehari saja meninggalkan bahasa gaul, bahasa prokem, dan memperhatikan ejaan yang baik.

Meskipun tema yang dipilih adalah pengalaman pertama belajar menulis, ternyata tulisan yang masuk sungguh variatif.

Ini TK Yuk Nulis!, tidak ada hukuman atas benar atau salah. Yang benar didukung terus, yang salah dibetulkan. Di TK Yuk Nulis! prinsipnya adalah kegembiraan menulis, apapun boleh saja.

Bahasa adalah jati diri. Inilah karya teman-teman yang menunjukkan kebanggaannya jadi orang Indonesia dengan berbagai keragaman bahasanya.

Yuk Nulis!
“To write well, you have to write what you know”
(Never Been Kissed, 1999)

Pertamo kali aku belajar nulis pake Bahaso Indonesia yang baek dan bener tuh pas SMA rasonyo. Abis pas SMA itu, ado sikok guru Bahaso Indonesia kami yang nyuruh kami nulis surat ke sikok koran, semacem surat redaksi cak itu na. Abis itu jadilah kami …ngirim surat, tapinyo aku jugo dak ngeraso biso sih, abis dak biaso. Kalo nulis dewek dengan bahaso campur-campur, sudah jadi kebiasaan aku sejak SD lewat buku harian, jadi idak kagok lagi. Tapi pas musti nulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, nah itu baru jadi masalah. Musti belajar lagi. Untungnyo yo akhirnyo lamo-lamo kebiasoan sih. Walaupun dengan banyak kesalahan di sano-sini, tapi aku masih terus berusaha untuk nulis. Mudah-mudahan biso nulis tambah baek dalam Bahasa Indonesia yang baik dan bener.
(Bahasa Palembang)

Terjemahan:
Pertama kali aku belajar menulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sekitar SMA rasanya. Karena ketika SMA itu, ada seorang guru Bahasa Indonesia kami yang menyuruh kami… menulis surat ke sebuah koran, semacam surat redaksi begitu. Sesudah itu jadilah kami mengirim surat, tapi aku juga tidak merasa bisa karena tak terbiasa. Kalau menulis sendiri dengan bahasa campur-campur, sudah jadi kebiasaan aku sejak SD melalui buku harian, jadi tidak kagok lagi. Tapi ketika harus menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, nah itu baru jadi masalah. Harus belajar lagi. Untungnya, lama-lama akhirnya menjadi kebiasaan. Walaupun dengan banyak kesalahan di sana-sini, tapi aku masih terus berusaha untuk menulis. Mudah-mudahan bisa menulis tambah baik dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Fonny Jodikin

Secanggung ketemu mantan pacar rasa@ waktu pertama kali mencoba menulis tanpa embel2 bahasa gaul. Ketika dibaca, terkesan agak kaku didengar. Sampai akhir@ aku tertarik pada novel karangan Ilana Tan. Novel tersebut menstimulasi inspirasiku untuk menu…lis dengan menggunakan EYD.
Dan dari novel itu juga, aku sadar kalau ternyata tanpa memakai bhasa gaul pun, kita tetap bisa menghasilkan karya tulis yang bagus.
Geum Jan Di

Bagi seorang remaja yang gemar berkumpul dengan teman-teman sebaya, tentu saja terasa kaku bila diharuskan menulis sesuai dengan EYD dan tanpa bahasa gaul. Hal itu bisa dibilang tidak asyik oleh lingkungan pergaulan, yang tentu saja akan dihindari ol…eh para remaja. Begitu juga dengan saya yang perhitungan umurnya masih perbatasan antara remaja dan dewasa. namun setelah banyak membaca novel yang menurut teman-teman saya tidak asyik. Saya jadi gemar menulis sesuai EYD, walaupun masih banyak melakukan kesalahan penulisan disana sini. Namun saya takkan pernah menyerah untuk menyempurnakan cara menulis saya sesuai dengan EYD, Karena saya bangga menjadi bangsa Indonesia. Jangan sampai bahasa Indonesia yang indah ini pun diakui oleh bangsa lain sebagai bahasa mereka ^^
Soffi Ana

Pada dini hari yang taksepi,saat Subuh belum sepenuhnya penuh..kenangan itu kembali menyeruak dalam otak,menggelitik hati dan menjejakkan kerinduan yang begitu dalam..Sepertinya aku rindu kembali pada berbilang-bilang tahun lalu,ketika pertama kali m…enginjakkan kakiku di kota kecil itu.Di situ aku tumbuh,berkembang dan menjadi matang.Di situ aku banyak mempelajari kata yang mungkin takpernah ada dalam buku-buku.Sepertinya aku rindu,pada tawa dan canda yang menggelayuti hari-hari dulu,ketika kita masih bersama..Ini bukan romantisme picisan,tapi ini tentang sahabat..1,2,3,4 dan seterusnya..Ini juga bukan pelajaran berhitung,,tapi tentang bilangan yang telah terlalui bersama sahabat..Aku rindu saat kita berlari,tertawa, menjadi naif,dan kadang apa adanya..Rindu menatap matahari dan bermimpi meraihnya bersama-sama..Mungkin kini taklagi sama,dan abjad-abjad yang terberai hanya mampu kukumpulkan sendiri,lirih dalam rindu hingga terangkai kalimat,’Aku rindu sahabatku…’
Nadhasenja Anna

Dulu, waktu masih SMP-an aku sering nulis drama buat acara gereja. Nah, berhubung aku tuh masih mudo, jadi kato-katonyo yo campur baur dengan bahaso gaul zaman aku itu. Nah, ternyato pemeran yang sudah berumur pada protes hehehe… Dio wong dak nge…rti beberapo kato yang kutulis, akhirnyo ilanglah makno dan keindahan isi dramanyo. Mau dak mau aku harus benerin alias revisi tuh… Sejak itu aku sadar jugo sih dan berusaha nulis pakek bahaso yang bener, ternyato bikin imajinasi lebih utuh. Malah pakek bahaso aneh-aneh itu teraso jadi kaku, karena apo? Idak pacak ditambahin kato-kato yang lebih bagus yang pacak merangsang wong untuk ikut berangan-angan tentang isi cerito. :)

Terjemahan: Dulu, waktu masih SMP-an, aku sering menulis drama untuk acara gereja. Nah, berhubung saat itu aku masih muda, jadi kata-kata ya campur baur dengan bahasa gaul zaman aku dulu. Ternyata pemeran yang sudah berumur protes hehehe… Mereka… tidak mengerti beberapa kata yang kutulis, akhirnya hilanglah makna dan keindahan isi dramanya. Mau tidak mau aku harus revisi tulisanku tuh… Sejak itu aku jadi sadar sih, dan berusaha menulis menggunakan bahasa yang benar, ternyata membuat imajinasi lebih utuh. Malah menggunakan bahasa-bahasa aneh itu terasa jadi kaku, karena apa? Karena tidak dapat dibubuhi kata-kata yang lebih bagus yang dapat merangsang orang untuk ikut berangan-angan tentang isi cerita :)
Femi Khirana Andre

MASA LALU
Aku terlahir kembar, saat itu aku hanya menjadi seorang anak yg polos dan tidak mengerti isi dunia ini. Aku tumbuh di keluarga yang cukup bahagia. Seiring berjalan nya waktu, aku berkembang menjadi anak yang patuh pada orang tua ku. Menginj…ak sekolah dasar, aku suka bermain bulutangkis di sebuah lapang di pabrik ayahku dulu. Aku senang mengenal olahraga itu. Tapi, aku seorang anak yang ingin tahu smua yang ada di dunia ini
Isabelli Lie Cristiani

Menanti Sebuah Hati
Nafas tersengal…mengguncang tubuhnya nan renta. Ku tatap matanya yang penuh dengan tanya. Ku elus tubuhnya dengan tetesan air mataku yang mulai mengalir satu persatu. Hatiku semakin gelisah menanti anakku yang tak kunjung tiba. K…u coba kembali menghubungi melalui telefon selulernya, dan jawaban yang aku terima tetaplah sama. Anakku masih dalam perjalanan menuju pulang. Dan terbayang dalam ingatanku tiga belas tahun yang lalu. Saat itu anakku pulang sambil menggendong seekor anak anjing yang lucu, berbulu hitam pekat, bertubuh panjang dan kaki-kakinya sangat pendek, sangat mengemaskan dan sangat unik bentuk tubuhnya. Sejak itulah anak anjing itu menjadi bagian keluarga kami dan menjadi sahabat anak-anaku di rumah.Kini, di hadapanku terbaring seekor anjing yang sudah renta berjuang menahan detik-detik terakhir kehidupannya, menanti sebuah hati yang tak kunjung tiba untuk sekedar mengucapkan selamat berpisah, menanti dan menanti sampai tarikkan nafas terakhir.
Veronica Rosita

nafasku tinggal satu-satu. aku sempat berfikir ini ajalku. dimana tak ada cinta dari ibu. dan tubuhku hanyalah daging busuk di tengah jalan. hina dan tak ada yang mengakui. merah darah sudah mengucur deras dari tubuhku. tak sempat lagi aku menambal l…uka itu, karena aku juga tidak sanggup menahan perih itu. menyeruak sudah segala pedih, dan perih batin ini. ketika aku menggali kenangan yang kosong, aku menemukan satu sosok yang tak asing. namun, ia menganggapku asing, dia adalah ibuku. entah apa arti tatapan itu, menyala dan tegas. hingga getaran jiwa ini terasa hingga tulang rusuk melemah. mata itu tajam, aku sampai dibuat lemas olehnya. dan ketika malaikat kematian sudah dipelukanku, ibu baru mengatkan kata-kata yang belum pernah ku dengar , “jangan pergi anakku, aku menyayangimu. aku tidak ingin kehilanganmu. cukup kehilangan ayahmu. itu sudah membuat aku tidak hidup.”
Dina Aprilian

MANCING IKAN DAPAT DAPAT ULAR KADUT
saat itu lima tahun yang silam…..saat aku bersama rekan seperjuanganku,di desa Cilamaya- Karawang. Saat itu sedang menunggu lahan wakaf dari salah seorang donatur yang simpati dengan sepak terjang dengan komunitas kami yang bernama PUALAM pimpinan Guru kami Kh. Ustadj Muchtar Husein….dakwah dengan melakukan kreatitas seni sebagai mediumnya. Lahan itu rencananya akan di bangun sebuah wartel yang kelak akan menjadi salah satu lumbung ekonomi yang akan membiayai setiap kreatifitas seni yang akan kami kerjakan. Saat itu di siang hari yang panas,aku dan rekanku untuk menetralisirkan rasa jenuh memutuskan untuk memancing ikan. Di depan Lahan yang kami tinggali,seberang jalan adalah SMPN 1 Cilamaya. Di belakang sekolah itu ada empang umum yang cukup lebar. Kami berdua memancing di situ. Selang beberapa saat kenudian ketika kami berdua tengah seksama menunggu kail pancing kami di sentuh ikan…..tiba kami dikejutkan oleh joran pancingku yang bergerak
Sobari Empu Peng Djie

BIARKAN AKU MENULIS PUISI
Biarkan aku menulis puisi
seperti malam yang berhiaskan bintang – bintang
atau kokok – petok ayam pagi – pagi
sehingga damai yang kau harapkan
tercipta kini

Biarkan aku menulis puisi
untuk mengalahkan fajar yang semakin dingin
karen…a hari esok
kau akan terlelap dengan sajak – sajakku

Biarkan aku menulis puisi
sebelum maut menghampiri
karena hadirku esok hari
tiada yang tahu

Biarkan aku menulis puisi
berkata tentang awan gemawan
tentang hujan yang kesepian
karena halilintar tak lagi bersuara
di menara katedral
yang semakin tiada

Biarkan aku menulis puisi
bercengkrama dengan air mata
bercanda dengan gumpalan kesedihan
karena diam disampingmu
membuat hatiku semakin hampa

Biarkan aku menulis puisi
bermimpi jadi putri semalam
berkhayal dijemput kereta kencana
dengan enam pasang kuda putih
yang akan selesai bila kubuka mata

Biarkan aku menulis puisi !!!
Jesicca Yuliana

Ini pengalaman aku beberapa tahun silam.
Aku punya tetangga, yang boleh dibilang kerabat dekat, kakeknya dia dan nenekku adalah saudara kandung.
Dia butuh 12 tahun untuk bisa lulus SD, sampai akhirnya dia tidak lulus SD.
Satu per satu aku kenalkan huruf…-huruf itu, dengan gaya seperti seorang guru profesional untuk dia, satu huruf satu ketukan.
Setelah aku anggap dia mengerti, aku tes dia, aku tanya satu per satu, ini huruf apa?.
Sebagian bisa, terus di ulang lagi dia bisa, tapi ada satu huruf yang selalu salah, yaitu huruf C. Akhirnya aku bilang ke dia, karna aku pikir untuk bantu dia lebih mudah mengingatnya. Aku bilang begini “Sam, huruf sing *manga jenenge huruf C”
(Huruf yang terbuka ini namanya huruf C). Dia mengangguk bertanda mengerti.
Beberapa menit kemudia aku tanya ke dia, aku tunjuk huruf C itu, “ini huruf apa Sam?”
Terus dia jawab : “manga”. Aku tertawa sekaligus sedih.
Anie Vincent

Rumah Berdinding Kotoran Sapi?
Sabtu, pukul 22.00, waktu California, Amerika Serikat. 25 April 2009 silam. Setelah menanti selama sembilan jam tiga puluh lima menit, pengumuman itu akhirnya tersiarkan, ketegangan pun mencair.

Fika, salah satu anggota …EcoFaeBrick, lewat telepon selulernya yang pulsanya tak lagi cukup untuk melakukan pembicaraan langsung, dengan jemari gemetar tergesa-gesa menulis pesan pendek kepada sang bunda di Tanah Air,”Alhamdullilah, kami menang, Bu.” Usai menekan tombol “kirim” di telepon genggamnya, ia kembali bergabung dalam atmosfer keharuan teramat kental di antara rangkulan satu keluarga yang diakui Fika sangat mengesankan, “Saya jatuh cinta dengan kelompok ini!”

Pertemuanku dengan tim EcoFaeBrick, pertengahan Juli lalu, memang inspiratif. Mereka telah mencapai keberhasilan intelektual membumi, menggagas rencana bisnis yang paling “kotor dan kontroversial”: Mari tinggal di rumah dengan dinding berbahan baku kotoran sapi!
Methodeus Eko Yulianto Napitupulu

Silit abang
Siang itu sabtu 25 oktober 1997,para penghuni rumah kost asyik bercengkerama di salah satu kamar penghuni kost-kostan.masing-masing antusias menceritakan kota asal mereka.kala membahas istilah dalam bahasa daerah,salah seorang penghuni seb…ut saja rita nyeletuk,’di.. Silit mu abang’.sontak yg mengerti tertawa.sementara diary terpana.lalu dia bertanya dengan logat jakartanya,’emang artinye apaan?’ di jawab oleh rita,’rambut mu itu loh merah.’ oh..jawab diary,yg hingga tahun 2000 belum juga paham kalau makna dari silit abang itu..(maaf)’pantat merah.’
Indri Indrie Indrieght



Tertarik dengan yang ini?

Comments (2)

shinta mirandaSeptember 9th, 2009 at 7:19 am

Dina, Veronica, Anie, puisinya Jesica, aku suka banget..!!

mercy sitanggangSeptember 27th, 2009 at 5:19 am

Kehilangan ayah dan abangku,itu sudah sangat cukup membuat aku tidak hidup..

Leave a comment

Your comment