Festival Nulis tentang Batik
Pada tanggal 2 Oktober 2009, batik menjadi budaya Indonesia ketiga yang diakui sebagai warisan dunia bukan benda (Intangible Cultural Heritage (ICH) setelah keris (2003) dan wayang (2005) oleh UNESCO.
Untuk mendukung dan memeriahkan momen tersebut, kami mengajak teman-teman untuk menulis tentang batik.
Dari Discussion Board page Yuk Nulis di Facebook inilah karya teman-teman. Saya senang sekali ada 21 orang teman yang ikut menulis.
Terima kasih bagi semua yang sudah berpartisipasi.
Yuk Nulis!
G. Lini Hanafiah
ibu kost
Didukung sepenuhnya oleh
Via Lattea Foundation
hmmm…batik merupakan hasil karya seni yang unik.untuk menghasilkan batik butuh kesabaran..krn banyak proses yg dilalui. menurutku kelebihan batik selain karena aneka lurik dan jenisnya..baju batik itu adem dipake dibadan.
sekarang ini banyak kantor yang menjadikan batik sebagai salah satu seragam wajib. termasuk di kanyor suamiku. tiap hari jumat merupakan hari wajib ‘ngebatik’. malah sekarang suamiku kalo bisa tiap hari pake batik. karena praktis ga usah masukin baju tapi tetap terlihat rapi. hehehehe
wah kalo ibu2 Sang Timur pada panik nyari baju batik, untungnya gw ga ikutan panik. karena kebeneran kita sekeluarga ada bikin seragam batik buat kita pake ke kondangan..
Hidup Batik!!!!
***
Batik….belakangan ini antara Indonesia dengan Malaysia mengkalim bahwa batik adalah budayanya. Batik sendiri berasalh dari bahasa Jawa “amba” berarti menulis dan “nitik”.
Sedangkan asal-usulnya menurut Wikipedia berasal dari Sumeria walaupun tidak ada keterangan menurut sejarah tidak ada, hanya menduga bahwa Batik dini berasa dari Sumeria kemudia berkembang dengan pesat di Jawa setelah dibawa dengan pedagang dari India.
Di Indonesia (Jawa) ini teknik membuat Batik berkembang begitu pesat.
Dan Batik Indonesia lah yang sangat terkenal di seluruh dunia.
Hidup Indonesia!!!
***
Semasa kecil, saya selalu melihat kain batik sebagai kain jarik saja, setiapkali kami sekeluarga ziarah 1 Suro di Petilasan Jayabaya, Kediri. Bahkan saya sering diajak oleh Ibu untuk memilih motif kain batik tulis yang bagus, dikala singgah ke toko batik. Tak pernah saya duga jika batik mampu meluas ke segala makna, mulai dari nuansa tradisional hingga modern.
Menjelang remaja, barulah saya mulai sering melihat Bapak memakai kemeja batik setiapkali kondangan. Bahkan kakak lelaki saya juga. Ibu kadang mengimbangi Bapak dengan batik sarimbit (1 stel, atasan dan bawahan), dilengkapi dengan selendangnya. Menambah serasinya pasangan bapak-ibu.
Melihat kain batik selalu melayangkan pikiran saya kepada satu kata saja, “formal”. Mengembang dari “tradisional”, yang artinya sudah mulai modern. Seolah-olah ingin menghilangkan kesan formal, kain batik dijelmakan kembali menjadi sebuah blus batik, atau sebuah gaun batik, sebuah sackdress, rok panjang (rok duyung, istilah modern yang baru) ataupun baju lainnya.
Suatu saat, saya mendapatkan undangan pernikahan dari seorang teman lama. Dia berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Segala sesuatu yang dikenakannya sangat sederhana dan biasa-biasa saja. Saya yang terbiasa memakai baju yang eksklusif, menjadi bingung.
Sesaat saya putuskan memakai kebaya lengan pendek dan rok hitam berpayet yang panjangnya lebih dari selutut, tetapi ibu saya berkata,
“Pakai sackdress batik itu saja, yang kamu beli beberapa hari yang lalu. Terlihat lebih modis dan simpel.”
Kebaya itu memang memberi kesan anggun, tapi ribet.
Semua orang memuji penampilan saya yang cantik dengan baju batik tersebut. Saya merasa bangga memakai batik, dan senang bahwa baju yang terlihat kasual dapat menjadi baju pesta yang mengesankan.
Meskipun demikian, saya tetap lebih menyukai batik sebagai kain jarik. Banyak keagungan yang dapat dibahasakan oleh motif batik di kain-kain jarik. Entah motif Madura, motif Solo, motif Jogja, motif Cirebon dan motif daerah lainnya.
Terlebih lagi bila dikenakan pada saat pernikahan adat Solo dan Jogja yang lebih sering terdengar gemanya. Ada berbagai modifikasi motif-motif yang dapat diciptakan baik melalui canting dan mesin, tetapi dapat menciptakan beberapa jenjang. Yang dapat dipilah-pilah mana yang pantas untuk orangtua temanten, manten sendiri, dan berbagai divisi yang ikut menyemarakkan pernikahan itu sendiri.
Tidak salah jika pada tanggal 2 Oktober 2009 nanti, UNESCO mengukuhkan BATIK Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Bahkan siapa tahu, ada Negara lain yang bisa saja mengklaim lebih dulu batik yang indah sebagai budayanya.
Nuning Soedibjo
***
hanya ingin mencoba mengikuti apa yang telah disampaikan pada sebuah situs pertemanan. bukankah menulis itu hal yang menarik? kita bisa mengeluarkan apa saja yang ada dipikiran kita. tanpa menyinggung SARA tentunya. apakah itu yang dinamakan “kita bisa mengeluarkan apa saja dipikiran”?bagaimana kalau pada saat ingin menulis kita sedang memikirkan SARA?. MUNAFIK.hanya ingin mengeluarkan yang ada di benak bocil.
sebuah analogi dan ilustrasi.
terjadi keributan di dalam sebuah pusat perbelanjaan terbesar di dunia, keributan itu berasal dari 2 orang pria yang sedang bertengkar karena memperebutkan baju yang sedang sale dan hanya tersisa 1 buah dengan ukuran M. jhoni, pria berumur 24 tahun dengan tinggi badan 175 cm mengenakan t shirt berwarna merah dan bercelana putih, sedangkan yang satunya bernama derry, dilihat dari wajahnya, umurnya sekitar 26 tahun dan tingginya 173 cm yang mengenakan t shirt yang bergambarkan menara twin tower(kaos yang biasa dijadikan oleh oleh ketika berpulang dari negeri jiran)
mereka memperebutkan baju tersebut, karena baju itu merupakan baju yang telah di incar oleh kedua belah pihak.jhoni mengaku telah mengincar baju tersebut 6 bulan yang lalu. namun derry pun tak mau kalah, dia mengaku telah mengincarnya selama 9 bulan yang lalu.
jhoni: “mas, jangan gitu dong, ini kan baju sudah saya duluan yang ambil..”
derry: “waduh, mas, ada juga saya duluan yang ngambil, tapi pas saya ambil tak tahunya ada tangan mas yang menyambar dari belakang.”
jhoni: “lho?koq saya yang jadi disalahkan. jelas jelas saya duluan yang mengambilnya.”
derry: “lah? emang salah situ kan?”
jhoni: “situ bisa kan milih baju yang lain lagi?kalau saya emang saya udah niat beli baju ini dari enam bulan yang lalu..”
derry: “jangan sok tahu ya mas, ini baju saya sudah incar dari 9 bulan yang lalu.”
jhoni: “ooh, maen lama lamaan nih..bangke juga lo, gw mau baju ini.kata jhoni sambil menarik dengan paksa baju yang ada ditangannya.”
derry: “enak aja, gw juga mau baju ini. derry berusaha tidak melepaskan genggamannya pada baju tersebut.”
melihat keadaan seperti ini, security disana pun tidak tinggal diam. mereka mencoba meleraikan jhoni dan derry yang tengah memperebutkan baju tersebut. mereka di bawa ke posko keamanan untuk minta keterangan lebih lanjut dari kedua belah pihak.
security: “sebenarnya masalah apa yang kalian ributkan?udah gede masih masih aja berantem. maen tarik tarikan, kayak anak kecil aja.”
jhoni: derry: “ini pak..mereka berbicara bersamaan.”
security: “HEI, NGOMONG SATU SATU..KAMU, YANG BERBAJU MERAH, KAMU DULUAN YANG NGOMONG”.nada bicara security agak meningkat.
jhoni: “jadi gini pak, baju ini saya sudah mengincarnya dari enam bulan yang lalu. namun pada saat itu saya tidak mempunyai uang, makanya saya tahan niatan saya untuk membeli baju ini. hari ini saya berniat kesini hanya untuk membeli baju ini, karena saya baru mendapatkan uang dari hasil kerjaan saya. tapi tiba2 mas ini juga memegang baju ini.”
security: “kenapa gak minta bantuan mbak2 SPG yang ada disana membantu mencarikan baju dengan size dan model yang sama?”
derry: “kalau ada satu lagi, saya gak akan berebutan sama dia pak. masalahnya saya sudah bertanya kepada mbak2 yang ada disana, dan katanya yang tertinggal cuma 1 baju ini.”
security: “nah, sekarang kamu beri penjelasan kenapa kamu berebut baju?”tanya security kepada derry
derry: “saya malah lebih lama mengincar baju ini dibanding dia pak, saya sudah mengincarnya selama 9 bulan, karena saya cuma seorang wirausaha dan mencari uang sekarang susah, saya harus mengumpulkan uang dahulu unutk membeli baju semahal ini.”
security: “sebentar, saya coba memastikan dahulu data2 yang saya dapat disini. saya juga akan memastikan pada pihak gudang, apakah ada pakaian dengan size dan model yang sama yang masih tersisa.”
security itu pun meninggalkan ruangannya, mencoba mencari tahu apakah baju ini masih tersisa atau tidak.
setelah kurang lebih 30 menit, security itu kembali, dan membawa secarcik kertas yang didalamnya terdapat data data tentang baju tersebut.
security: “sebagai pihak penengah dalam kasus ini, saya sebagai ketua security departemen store memutuskan bahwa baju ini berhak dibeli oleh mas jhoni..”
derry: “lho?koq gitu sih? kan saya duluan yang ambil baju ini..dan saya sudah mengincarnya lebih lama dari mas ini..”
security: “JANGAN DIPOTONG DULU!SAYA BELUM SELESAI BICARA!!MENGERTI!”
derry: “mengerti pak”..kata derry sambil menganggukkan kepalanya.
security: “data disini mengatakan bahwa baju ini masuk pada 7 bulan yang lalu. dan hal yang tidak mungkin kalau anda, tuan derry, menginginkan baju tersebut selama 9 bulan yang lalu. anda telah melakukan penipuan.”
derry: “ah..ti..tidak mungkin, saya sudah me..melihatnya dari 9 bulaaan yang la lalu”..nada bicara derry agak terbata bata
security: “anda masih ingin mempertahankan argumen anda?anda ingin dituntut oleh tuan derry karena melakukan penipuan?”
derry: “hmm..tidak usah deh pak, saya tidak jadi membeli baju ini, saya masih bisa membeli baju yang lain. lagi pula saya juga masih dapat menyelesaikan masalah ini dengan damai koq sama mas jhoni ini, iya gak mas”. derry menyenggol tangan jhoni.
jhoni: “hahahaha..pa, kira2 tahap apa saja yang musti saya lakukan untuk membawa perkara ini sampai ke meja hijau?”
derry: “yah mas, jangan gitu dong, saya kan cuma bercanda. maafkan saya ya mas.. ini deh, bajunya mas aja yang beli. saya bisa beli yang lain koq.”
jhoni: “hahaha..iya mas, saya cuma becanda koq. yaudah, mas yakin mau ga mau beli baju ini?”
derry: “YAKIN banget malah..maafkan saya ya..
security: “akhirnya masalah selesaikan, sekarang kalian saling berjabat tangan dan ketika kalian keluar dari ruangan ini, kalian telah menjadi teman yang dipertemukan karena baju ini.”
sebuah kata kata yang bijak di katakan oleh security tersebut mengakhiri perdebatan yang tadi sempat terjadi. setelah mereka keluar dari ruangan mereka pun berjalan beriringan dan memutuskan untuk bertukar alamat kartu nama.
jhoni pun dengan bangganya langsung bergegas menuju kasir untuk membayar baju tersebut. dengan senyum bahagia yang tak lepas dari bibirnya jhoni pulang dengan riang membawa baju kesukaannya.
Apa pendapatmu tentang batik?
baju tradisional yang berasal dari INDONESIA. kita sebagai rakyat indonesia haruslah bangga mengenakan batik. sehingga nilai luhur kita terhadap para leluhur tidak luntur. usul saya kepada bapak president: mewajibkan 1 hari pada setiap minggu untuk mengenakan batik. (hanya usul)
Maukah kamu mengenakan batik sebagai pakaian resmi?
saya akan sangat bangga menggunakan batik sebagai pakaian resmi. karena dengan mengenakan batik, secara tidak langsung rasa nasionalis kita terhadap bangsa tetap terjaga.
Maukah kamu mengenakan batik – bukan gaun/jas – ke pesta (party/ceremony)?
dengan senang hati.
Maukah kamu mengenakan batik ke kantor/kerja?
mau, sangat mau dan bangga.
NB: dengan kesotoyan bocil menulis.
***
Batik sudah akrab dengan kita sejak kecil. Batik macam-macam jenisnya, batik pekalongan, batik Papua, batik Solo, batik Yogya…banyak batik di Indonesia. Batik menjadi pakaian resmi. Dulu batik digunakan acara formal. Sekarang batik dapat digunakan dimana pun…acara apapun…
Ada dua pengalaman menarik yang saya alami seputar cerita batik:
-Tahun lalu, saya merayakan 1000 hari meninggalnya mertua saya. Setelah misa (kebaktian malam) kami keluarga besar ngobrol tentang almarhum ibu dan saya melihat foto-foto lamanya. Saya tertegun, melihat foto-foto itu…ternyata almarhum ibu, sejak dulu hingga meninggalnya pakaian sehari harinya kebaya, pake stagen dan jarik. Wow….takjub juga…bahkan dalam peti mati pun yang kami pakaikan juga kebaya beliau…
Ketika asyik melihat foto-foto…Kakak2 ipar saya, mengajak ke kamar almarhum ibu dan membuka lemari almarhum ibu…
Saya kaget sekali ketika melihat isi lemari, 3/4 lemari isinya kebaya dan jarik.
Yang lebih kaget lagi kami menemukan jarik yang dibeli tahun 60 an pun masih ada…wow………..
Kami sepakat membagi jarik-jarik, stagen dan kebaya…wah saya kebagian juga jarik-jarik kuno…(teksturnya halus, motifnya bagus..motif lama yang mungkin tak ada pada zaman sekarang).
Saya kagum dengan kecintaan almarhum ibu, pada Pakaian Kebaya dan Jarik.
Almarhum ibu meninggal pada usia 75 tahun.
Pengalaman lain;
Tahun 1997 saat menyusun skripsi, saya mengambil judul Modal Ventura, ternyata modal ventura ikut membantu, usaha menengah dan kecil. Saat itu saya tertarik untuk melihat usaha batik “SUNUIKO”, di Yogyakarta, setelah mewancarai pemilik Batik..saya melihat keliling..keliling bagaimana proses pembuatan batik. Yang menarik perhatian saya, sebagian besar pekerjanya wanita separo baya. Yang muda muda bisa dihitung pake jari…
Saat sempat beranya, kenapa kok, kebanyakan ibu-ibu..anak mudanya kok enggak bantu membatik. Pemilik Batik tersebut mengatakan bahwa zaman sekarang anak muda sulit diajak untuk membuat batik. Mereka lebih memilih kerja jaga toko di mall.
Saya sempat baertanya lagi, ke ibu Pemilik batik, Kalau usaha ini kelak siapa yang lanjutkan. Maaf, melihat ibu pun sudah tua.
Beliau (pemilik) Batik itu cuma menerawang dan berkata:”2 (dua) orang anak saya laki laki, mbak Renny. Mereka enggak mau jadi pengusaha Batik. Yang pertama anak saya di Amerika. Yang kedua masih kuliah di UGM (Univ. Gadjah Mada). Saya tak tau kemana warisan budaya ini saya estafetkan???
Selang 3 tahun setelah lulus dari Universitas, saya main ke rumah ibu pemilik batik itu. Saya tanya bagaimana usaha batiknya. Katanya :”Ini yang saya mau bicarakan ke Mbak Renny.” Maksudnya bu?? saya mencoba nanya..karena nggak ngerti maksudnya.
“Usaha Batik ini akan saya jual. Saya berharap Mbak Renny, mau membelinya?” ujarnya lanjut. “Hah?? Saya bu?? Saya, kan tidak bisa membatik?? Lalu saya sekarang tinggal dan kerja di Jakarta. Bagaimana mungkin saya, usaha jauh dari tempat tinggal??”. Saya juga terus terang tak ada uang untuk membeli perusahaan batiknya.
Saat itu saya sedih juga, sayang tak ada yang meneruskan usaha batik itu. Padahal tahun-tahun sebelumnya batik Sunuiko itu pernah masuk ke Pertokoan Sarinah-Thamrin-Jakarta. Artinya telah diterima masyarakat. Dan mempunyai daya jual.
Sekarang saya tidak tau, apakah BATIK SUNUIKO itu masih excist atau telah tiada…
Kalau ditanya, maukah kamu memakai batik sebagai pakaian sehari hari. Ya, saya mau..di rumah aja saya pakai daster batik…terasa adem.
Dikantor saya sering pake batik juga….Karyawan ya saya, wajibkan juga berbatik ria.
Batik sekarang pun designnya juga simple, elegance dan menarik. Yang modelnya buat pesta ada, yang buat sekolah ada, yang buat jalan jalan ke mall juga ada…Batik jadi bisa digunakan kapan saya, dimana saja.
Tangerang, 01 Oktober 2009.
***
Batik…..
Sebenarnya aku bisa mendaftar jadi pengguna batik seumur hidup. Batik fans all my life time kata mamaku.
Gimana nggak, sejak baby aku tidur beralaskan kain batik. Tapi saat itu (berlaku sampai setahun lalu) aku selalu hanya menyebutnya kain sarung.
Bentuknya ya seperti sarung-sarung lainnya. Cuma bedanya, ini sarung favoritku. Setiap tidur harus ditemani ama sarung. Nggak cuma selembar tapi beberapa lembar. Semua dilipat, disusun, dan ditata rapi disamping kepalaku. Khusus untuk yang kepilih, maka akan kugulung dan kuletakkan didada dan pipiku. Asyikkkkkk…………
Kebiasaan ini berlaku sampai setelah menikah. Si sarung tetap menemaniku, walau udah tidak seperti dulu lagi. Jadi sekarang boleh kan aku mengklaim sebagai fans batik?
Sayangnya kebiasaan ini tidak bisa diturunkan pada anak-anakku. Mereka tetap tidur menggunakan kain, tapi sudah bukan batik lagi. Kenapa? Karena si batik yang mutunya bagus, harganya sangat sangat mahal. Sedangkan mau pakai batik cetakan pabrik rasanya nggak sama. Memang sampai saat ini aku tidak pernah mengerti arti cetakan batik itu. Yang ku tahu hanya ada perbedaan kehalusannya, beda ketebalannya, pokoknya beda rasanya kalau dipegang. Berbeda dengan batik yang dulu (dan masih ada dilemariku sampai sekarang) kuterima dari almarhumah nenekku. Sayangnya kain batik itu sudah rapuh, gampang sobek karena sudah dipakai tiga generasi dari nenek, mama, dan aku. Jadi tidak dapat digunakan oleh anak-anak.
Mungkin aku tidak seperti Jhony yang gagah berani merebut bajunya dari lawan karena aku merasa tidak cocok menggunakan batik. Mungkin hanya perasaan tidak nyaman karena tidak biasa saja. Tapi seperti yang sudah dibilang juga, batik itu punya kesan formil. Membuatku tidak nyaman memakainya kalau hanya untuk keseharian. Bahkan untuk jalan ke pusat perbelanjaan saja nggak cocok. Tapi bukan berarti aku anti memakai baju batik. Buktinya aku punya tiga lembar atasan batik dilemariku, walaupun itu pemberian mertua. Aku juga senang kalau melihat orang memakai baju batik. Kesannya mahal dan elegan.
Kalau yang namanya daster batik, itu bukan butuh tapi harus punya. Kalau ada wanita Indonesia mengaku tidak punya atau tidak pernah memakai daster batik, koq rasanya mustahil ya? Ada perasaan nyaman dan dingin bila memakai daster batik yang tidak dapat dikalahkan oleh jenis kain lain. Percaya deh….. Nggak peduli itu batik tulis asli atau batik cetakan pabrik, selalu ada perasaan itu melekat bila sudah memakai daster batik. Makanya, mau murah, mau mahal, mau model tempo doloe, atau model daster manis yang ada sekarang, pasti laku dibeli orang-orang.
Kalau sekarang batik sudah diakui secara resmi jadi warisan budaya Indonesia, aku turut berbangga akan hal itu. Semoga itu berlaku untuk semua warga negara Indonesia. Jangan sudah dihidupi dari batik malah meninggalkan batik untuk beralih ke kebudayaan asing, seperti yang kubaca pada salah satu posting. Rasanya miris membayangkan betapa rendahnya kita menilai warisan budaya yang kita miliki. Tapi inilah pilihan hidup, semua kembali pada kita kan? Take it or leave it.
***
Cintai batik sejak dini…
Agak mengherankan juga kesukaanku pada batik yang seolah ‘nyeleneh’ sendiri di antara teman-teman yang bersikap biasa-biasa saja terhadap keindahan seni yang menurutku mengagumkan ini…
Setelah kucoba berkaca pada masa lalu, aku menemukan satu peristiwa yang menumbuhkan rasa sukaku pada batik. Kala itu aku masih usia TK, mungkin 4 atau 5 tahun, mamaku membuatkan aku baju batik dengan model sailor. aku ingat betul model dan detilnya, meskipun sudah puluhan tahun yang lalu, baju itu sungguh bagus dan nyaman di pakai. Warna dasarnya hitam, tapi variasi batiknya membuat cerah dan ceria, dengan pita mungil di bagian depan… orang-orang mengatakan betapa bagusnya aku memakai baju itu… meski masih kecil aku sangat senang, sehingga suka sekali memakainya dan terus mengingat baju itu sampai sekarang… dan tentunya sejak saat itu aku mencintai batik dengan sendirinya…
Aku berpikir, kalau kita ingin melestarikan batik (atau apa pun juga warisan budaya bangsa kita yang sesungguhnya amat kaya ini) maka kita perlu menanamkan kecintaan terhadapnya sejak dini pada anak-anak, karena di tangan merekalah masa depan bangsa ini berada… Jika sejak kecil mereka sudah mencintai budaya bangsanya sendiri, maka menumbuhkannya pada masa dewasa akan jauh lebih mudah…
lewat tulisan sederhana ini, aku ingin mengajak kita semua untuk sama-sama menaburkan cinta terhadap batik pada anak-anak dimana pun mereka berada, di rumah, di sekolah, di rumah ibadah, di jalan, di mall, di pantai, di mana pun juga… tanamkan pada mereka bahwa batik itu indah, batik itu bagus, batik itu ‘keren’, batik itu ‘lucu’, atau apa pun yang positif… setelah itu siramilah benih-benih kecintaan terhadap batik dengan kita sendiri memakainya kapan pun ada kesempatan, baik ke tempat kerja, ke pesta, ke mana pun juga di mana batik bisa di pakai… teladan yang baik jauh lebih bermakna dibandingkan 1000 kata-kata.
Karena itu, aku mau ajak semua yang membaca tulisan ini, ajaklah juga anak-anak dengan ajakan yang sama, “Yuk, kita pakai batik….”
***
Ketika saya sekolah dulu,belum ada seragam sekolah nasional seperti saat ini.
Sekarang kita dapat membedakan yang mana seragam SD, SMP dan SMU. Beberapa sekolah ada yang mengenakan seragam batik yang ditentukan sekolah masing-masing pada hari Jumat.
Sekolah saya dulu, setiap hari mengenakan seragam batik. Seragam tersebut menandakan dari sekolah mana kita berasal. Padahal dulu, batik masih dikenakan untuk kesempatan-kesempatan tertentu, pesta-pesta resmi atau bersantai di rumah (daster dan piama), atau sebagai pakaian sehari-hari para ibu .
Nenek saya dulu, juga teman-teman sebayanya yang beretnis keturunan Tionghoa, memakai kain batik dan kebaya untuk pakaian sehari-hari. Motif kain batiknya mempunyai ciri khas. Biasanya yang disebut batik pesisir. Warnanya tidak hanya coklat dan hitam, tetapi lebih berwarna cerah, pengaruh dari kebudayaan Cina.
Beberapa tahun lalu batik tampak “booming”. Berbagai corak dan model pakaian digemari masyarakat, dimana-mana pertokoan penuh dengan batik. Dimana-mana kesempatan, kita melihat batik dikenakan, dari yang murah sampai yang mewah.
Ketika “booming” batik mulai surut, jujur saya katakan ada keengganan memakainya lagi untuk dipakai sehari-hari, karena sudah mulai jarang kembali digunakan sebagai “trend” di masyarakat.Ini berarti pengrajin dan pengusaha batik mulai bebenah lagi karena pendapatan yang berkurang.
Kini pemerintah menganjurkan memakai batik, khususnya pada hari Jumat. Ada pertanyaan menggelitik di hati saya, apakah ini juga cuma “trend ” sementara karena di perintah ? Mengapa kok, masyarakat kita suka “diseragamkan” ?
Rasanya untuk sebuah kebanggaan dan mempertahankan batik menjadi pakaian nasional bangsa kita, tidak perlu menunggu keputusan pemerintah.Apalagi dengan mencanangkan sebagai pakaian wajib yang harus dipakai pada hari-hari tertentu. Masyarakat jadi seperti kurcaci saja atau boneka yang terima jadi untuk dipakaikan apa saja seturut pemiliknya. Buat saya, aneh saja. Kita tidak dianggap dewasa, kok pakaian saja mesti diperintah ?
Adakah cara yang lebih baik untuk melestarikan batik ? Pemerintah dan departemen terkait mungkin punya kebijakan dan usaha lain dari hanya sekedar mencanangkan, memerintah, untuk kemudian sirna lagi dalam beberapa waktu.
***
Batik, aku kenal sejak kecil, karena nenek aku pemakai kain jarik sebagai “tapih” (pakaian orang jawa kuno). Neneku pandai banget memilih corak-corak batik, dan aku sangat suka tidur berselimutkan jarik batik itu.
Melihat cara pembuatan batik, aku kira dengan membuat batik bisa melatih kesabaran kita, karena kita memerlukan ketenangan, ketelitian dan kelemah lembutan untuk menghasilkan hasil yang bagus.
Batik buatku seperti karya seni, dengan corak yang berbeda-beda, hhmmm indah banget, ada satu kain jarik nenek aku paling aku ingat sampai sekarang.
Namanya pun beda-beda, tapi aku lupa, karena itu cerita nenekku waktu aku masih kecil.
Saya setuju kalau batik di gunakan sebagai pakaian resmi, sederhana tapi anggun. bukankah pemerintah sudah menyarankan, agar irit pemakaian AC daripada kita pakai jas.
Saat batik booming beberapa waktu yang lalu, aku memakainya untuk datang ke undangan, tapi untuk sekarang memang dah ga lagi, tapi aku senang memakai batik untuk acara-acara party or ceremony, karena batik sekarang bisa dibuat seindah gaun, dengan berbagai model dan coraknya.
Dulu pas jaman sekolah tiap kamis dan jum’at kami di suruh memakai batik, saat kerjapun jum’at di minta memakai batik. Jadi batik dah sangat melekat pada kami dari dulu.
Ga mungkin malaysia bisa merebutnya dari kita.
Harapanku semoga bangsa kita lebih bangga dan mencintai budaya kita, kalau sudah cinta apapun pasti akan di lakukannya untuk menjaganya.
So pakai batik, siapa takut…!!!!!
***
Friday, October 2, 2009– source: The Jakarta Post– “UNESCO NAMES RI’s HANDMADE BATIK AS WORLD HERITAGE”
Maka saya akan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
“Apa pendapatmu tentang judul headline di atas?”
BANGGA, saya tahu ada yang bilang begitu.
SENANG, ya…kita memang harus senang akhirnya dunia mengakui salah satu kekayaan negara kita.
LEGA… ow…setelah beberapa lama terjadi ketegangan dengan negara tetangga, pada akhirnya semua orang Indonesia (*terutama arwah para penemu batik saya kira…), harusnya lega bahwa kita tak jadi bersitegang dengan kemungkinan kehilangan sebuah aset budaya yang amat unik ini.
PRIHATIN…. maaf, itulah perasaan saya yang terdalam hari ini , lagi-lagi kalau saya boleh jujur….
Mengapa kemudian kita menanamkan kebanggaan atas dasar penilaian orang lain, negara lain, institusi dunia yang sebenar-benarnya belum pernah menjiwai seperti apa budaya batik sebenarnya??
Mengapa rasanya pemerintah terlalu sibuk dengan tetek bengek urusan yang tak membanggakan, ketimbang dari dulu-dulu mengajak rakyat Indonesia untuk melestarikan budaya batik, yang notabene adalah bagian dari peninggalan nenek moyangnya?
Mengapa kita mesti terusik dengan usaha negara tetangga mengklaim batik sebagai bagian dari budayanya, sementara kita memang nyaris lupa, nyaris tak bangga akan apa yang telah ada di pelukan kita selama beratus-ratus tahun lamanya?
Lalu, seperti status facebook saya hari ini: “Hari ini orang-orang mendadak batik… Seperti seorang perempuan yang baru sadar suaminya akan direbut perempuan lain, akhirnya Indonesia hampir terlambat mencintai kekayaannya sendiri… Something is very-very wrong with this country!”
Maaf, sekali lagi maaf Indonesia, bukan berarti tak mencintaimu, tapi mencintai bukanlah hanya persoalan setuju…
Saya tahu batik. Seperti apa? Tak begitu dekat, tak begitu sayang dan entah salah siapa. Buat saya, batik adalah pakaian resmi, dikenakan saat kondangan, acara resmi, kadang-kadang ke kantor (dulu…), dan oleh anak-anak di sekolah sekali seminggu.
Selebihnya, batik tak begitu familiar. Ya, paling-paling yang paling dekat adalah daster batik ibu saya yang sudah jadi seragam sehari-hari meski jujur itupun tak terlalu membuat saya terkesan. Yang kemudian terpikir suatu hari yang lampau adalah, batik adalah sebuah bukti nyata kreativitas dan kecemerlangan orang-orang Indonesia, yang mana batik adalah hasil pekerjaan tangan yang butuh kesabaran, ketelitian, berikut penghayatan nilai estetika kelas tinggi. Kalaupun ada yang membuat saya tertarik, saya ingin sekali bisa belajar membatik, merasakan memegang canting dan mengukir gambar-gambar unik di atas selembar kain sembari menjaga gerakan tangan saya dengan amat hati-hati dan melatih kesabaran, menikmati detik demi detik prosesnya hingga selesai.
Saya belum pernah mencobanya, tapi sungguh saya bisa merasakan sensasi kepuasan yang tiada terkira tatkala batik buatan saya selesai dikerjakan. Jangankan memakainya, memandangnya saja dalam imajinasi saya, saya merasa amat bangga. Dan tentu saja, terima kasih masih saja terhaturkan dalam hati saya yang membuncah haru sekaligus pilu pada siapapun penemu dan penerus kebudayaan mbatik, bahwa hari ini pada akhirnya Indonesia bisa benar-benar membuka kedua matanya dan mensyukuri segala kelebihan yang dimilikinya….
Rasanya mungkin seperti sadar tapi melalui sebuah tamparan keras di pipi. Dan saya masih bertanya lagi, apakah penetapan hari batik nasional adalah sebuah langkah yang akan terus digayungi semangat mencintai, ataukah hanyalah sebuah kepuasan sesaat, sekedar yel-yel kemenangan bahwa batik tak jadi diklaim oleh negara tetangga?
Karena mencintai bukanlah proses tentang mencari sebab, bukan sebuah langkah untuk menjadi bangga dan bukan juga sebuah kata yang diucapkan satu kali kemudian basi di kali kedua dan ketiga.
Mencintai adalah mencintai, merasakan kehadiran yang menyejukkan sukma setiap saat, sebuah proses yang tak perlu koordinasi tingkat pemerintahan tertinggi yang terasa datang begitu terlambat, yang lahir tidak karena terpancing kesepakatan yang tercetus dan terurai dari mulut ke mulut…dan benar-benar latah…
Mencintai adalah kesungguhan menjaga, memelihara, melestarikan dan membuatnya tetap hidup dan bahagia dengan keberadaannya, seberat apapun langkah yang harus ditempuh demi menegakkannya, seberapa besarpun pengorbanan yang dibutuhkan untuk menaunginya…
Persoalannya, apakah kau mencintai batik tulus dari hati? Apakah ia telah kau anggap bagian dari dirimu, dulu atau sekarang, ada atau tiada penghargaan dari dunia, bahwa batik memang khas Indonesia yang tak akan terpisahkan sedetikpun dari citra dan kepribadian rakyat Indonesia yang tekun, telaten dan penuh kecemerlangan yang dibalut kebersahajaan?
Saya tak tahu jawabannya, tapi sepengetahuan saya selalu ada kesempatan kedua di tiap keadaan yang tersulit sekalipun. Batik adalah sebuah kenyataan yang masih hidup, meski dengan nafas tertatih yang nyaris mati, tapi masih ada kesempatan untuk tidak membiarkannya beku dalam balutan sebuah sejarah dan kenangan.
Semoga….
***
Cintailah budaya Indonesia,.. Seperti cinta-nya negeri tetangga terhadap budaya kita, Indonesia.
***
BATIK. .
Wah batik di indonesia sudah diakui oleh PBB. Bila aku melihat masa lalu kehidupan ku, aku sering memakai batik, terhitung kelas 1 Sd, apalagi setiap jumat semua murid wajib memakai seragam batik. Corak batik seragam ku dulu sudah ciri khas s…ekolah ku SD YOS SUDARSO Bandung. Hanya saja setiap tingkatan Sd dan Smp warna batik saja yang membedakan. Batik memang corak khas yang setiap orang tahu keindahan beragam rupa. Indah bukan bila batik menjadi budaya Indonesia. Kita harus bangga menjadi orang Indonesia. Aku ingat dulu saat pelajaran menggambar batik pada jam pelajaran kesenian, sempat aku malas membuat nya tapi pada saat aku menyelesaikan aku terpesona dengan hasil nya. Wow, meskipun rumit menggambar nya. Batik memang menarik perhatian semua yang memandangnya. Aku paling suka celana sarung batik ku beli di Yogyakarta. Sekarang pun aku bekerja, baju batik setiap hari jumat selalu kukenakkan.
Terimakasih Tuhan batik menjadi budaya Indonesia.
***
Negara Batik : Nagara Kesatuan Republik Indonesia
Oleh Guntur Bisowarno S. Si., Apt.
Kata Kunci : Sastra Negara Batik
Negara : Nagara : NAng GaRa, NAng RaGa ( Ke, Kepada Raga, Buat Raga, Pada Raga)
Negara : Nagara : NAng GAmbar; NAng GAmbaran RAga
Negara : Nagara Kesatuan Republik Indonesia
Dimanakah GAmbaran Nagara Kesatuan Repbulik Indonesia, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau pulau, sambung menyambung dengan berbagai laut, kelautan dan perairan, sungai-sungai dan gununge, bukit2 serta lembah2nya? Jika salah satunya tidak pada WAJAH BATIK INDONESIA !!!
Semua kekayaaan GAmbara RAga Nagara Kesatuan Repbulik Indonesia itu bisa diUKIR, diGAmbarkan di kain-kain BATIK di seluruh Tanah aIr Indonesia.
Sejak jaman dahulu hal itu sudah berlangsung, sejak jaman2 kerajaaan2 di seluruh belahan Tanah aIr Indonesia ini. Sekarang apakah GAmbaran Raga itu ada?
Ada berapa jumlah dan kualitas GAmbaran Raga Nagara Kesatuan Republik Indonesia itu berpatri, tergambarkan di raga-raga warga Nagara Kesatuan Republik Indonesia ini? Jika salah satunya
Jika bukannya MELALUI GERAKAN BATIK INDONESIA!!!
TANDA2 FIRASAT ALAM:
Negara Batik : Nek Gara2 Batik, Jika Gara2 Batik sekali lagi, lagi-lagi Nagara Kesatuan Repubik Indonesia, warga Nagaranya di seluruh dunia ini, dipermalukan lagi, dihinakan lagi, diremehkan lagi keberadaannya, eksistensinya, dalam mengGAmbarkan ke-Diri-annya, di kain-kain BATIK Indonesia, dengan cara dipatenkan karya asli, karya kreatif anak2 bangsa Nagara Kesatuan Republik Indonesia ini, pada Nagara-Nagara yang bukan asli pemilik BATIK Indonesia ini.
Itulah tanda-tanda firasat Alam, bagi kita semua untuk bangkit bergerak untuk MengGAmbarkan Kesatuan Kesadaran Kita. Untuk MengGAmbarkan Kesatuan Persoalan Harga Diri kita, dalam :
Gerakan Membangun Harga Diri Batik Indonesia.
Kata2 Kunci : Sastra Gerakan Membangun Harga Diri Batik Indonesia
Gerakan :
Menggambarkan adanya tekanan dari dalam dan luar yang serentak secara berkesinambungan dan simultan mendorong terjadinya perpindahan dalam jumlah massa yang besar hinggga kualitas massa yang besar pula. Tekanan patenisasi kekayaan budaya Indonesia ini plus tekanan teroris internasional ini jika belum mampu mendorong kita rakyat Indonesia untuk bergerak bersama yo kebacut rek!!! Yo kebangeten cak!! Yo ancene Mas!!!! Yo sudah diambang batas kesabaran, Ibuk2, Kakek2, Nenek2 dan mbak2 sekalian!!!
Gerakan :
Menggambarkan adanya kesadaran kebutuhan bersama untuk memecahkan sebuah masalah, yang tak mampu dikerjakan sendiri sendiri, karena memang persoalan BATIK Indonesia sesungguhnya adalah persoalan SOLIDARITAS SOSIAL, SOLIDARITAS BERSAMA.
Gerakan :
Menunjukkan adanya kerja – kerja yang terorganisir secara alamiah sekaligus rasional dan berbasis ilmu pengetahuan serta tidak keluar dari jalan Allah.
Gerakan :
Menandakan apapun bentuk partispasi dan dukungannya, baik berupa tenaga, waktu, pikiran, ilmu pengetahuan, teknologi, sarana prasarana, legalitas hukum atau apapun itu, tidak ada sesuatupun yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan untuk membangun efektifitas dan efesiensi gerakan ini.
Indikator Gerakan
Menunjukkan adanya Fenomena yang Menarik yaitu semua terjadi dan terbentuk sesuai dengan kapasitas dan pertumbuhan partisipasi dan dukungannya masing2masing seiring berjalannya waktu, ruang2 dan media gerakan yang semakin terbentuk.
Kualitas dan Kuantitas Komunitas Gerakan meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Individu Gerakan dan sebaliknya Kuantitas-Kualitas Individu Gerakan meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Komunitas Gerakan.
Harga Diri :
Nilai Diri kita bukan pertama2 ditentukan oleh orang lain atau diri kita sendiri, oleh sekedar cermin sosial budaya kia yang cenderung Bias Biasa dan Biasa Bias itu, terlebih cenderung melemaskan dan melemahkan Harga Diri kita secara pribadi, masyarakat hingga tingkat Nagara, namun justru oleh penilaian dan pandangan dari Sang Pencipta kita sendiri, yang jauh lebih penting, essential dan malah membangun Kuantitas dan Kualitas Harga Diri kita sesungguhnya. Harga Diri Batik Indonesia Sesungguhnya.
Tugas dan Amanah Batik Indonesia sebagai salah satu GAmbaran Nagara Kesatuan Republik Indonesia adalah Nilai Harga Diri kita dihadapkanNya.
Tuhan tidak akan mau menolong bangsa atau manusia yang tidak mau menolong dirinya sendiri
Namun :Sebaik2nya seorang muslim adalah mereka yang mampu menolong sesamanya!
Saling membantulah kamu, dan bertolong-tolonglah menanggung bebanmu!
Meskipun tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri
Dan Setiap Manusia Bertanggung Jawab atas dirinya
Bentuk :
Membuat facebook group Gerakan Batik Indonesia (Guntur Bisowarno, bersedia menjadi salah satu adminnya)
Membuat blooger Gerakan Batik Indonesia. (Guntur Bisowarno, bersedia menjadi salah satu adminnya)
Membuat blooger wordpress Gerakan Baik Indonesia. (Guntur Bisowarno, bersedia menjadi salah satu adminnya)
Dasar Pemikiran
Bagaimana membangun gerakan perdagangan Batik Indonesia melalui dunia maya?
Bagaimana membangun gerakan penggunaan Batik Indonesia dari tingkat pribadi, keluarga, RT-RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi, Antar Pulau, Hingga Negara secara serentak dalam bidang-bidang kehidupan dan kebudayaan yang memungkinkan.
Bagaimana membangun harga diri Bangsa Indonesia dan harga diri Rakyat Indonesia melalui Perdagangan dan Penggunaan Batik Indonesia.
Tujuan Gerakan :
Penggunaan Batik Indonesia semakin bertambah, rasional, ilmiah dan merambah semua lapisan masyarakat dan Negara.
Gerakan fungsionalisasi Batik Indonesia di semua lini masyarakat dan Negara, yang dimungkinkan untuk dipikirkan, dikerjakan dan diciptakan, sekaligus di perdagangkan.
Bagaimana Gerakan fungsionalisasi Batik Indonesia ini memiliki nilai sosial budaya, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indoensia.
Persoalan Gerakan :
Di hampir kebanyakan kalangan pebisnis selalu ada Ikon, bahwa orang sukses harus berdasi, berjas hitam, coklat dan warna2 baju dan pakaian ala barat.
Di hampir kebanyakan wisudawan D1-D4 hingga S1-S3, serta pelantikan professor dan guru besar, pakaian2 resmi yang digunakan hampir sebagian besar menggunakan kemeja jas dan pakaian ala birokrat dan teknokrat Eropa dan Amerika.
Di hampir kebanyakan ajang penghargaan dan pelantikan para pemenang lomba Olah Raga, Kesenian, Pendidikan, Pertanian, dan Kebudayaan, seragam para panitia dan pejabat, serta pimpinan instansi dan perusahaan hampir menggunakan pakaian resmi ala kebudayaaan Eropa dan Amerika.
Bahkan di kebanyakan pakaian muslim untuk keperluan ke masyarakatan, dimanakan posisi energi dan bentuk GAmbaran Raga BATIK INDONESIA berada?
Solusi Gerakan :
Bagaimana mengambil sebagaian acara2 seperti di atas dengan peRAgaan dan penggunaan Baju2 Jas dan Kemeja, Celana Batik bagi laki2 dan Gaun perempuan Batik Indonesia, Gaun Acara Sosial Agama Kemasyarakatan Batik Indonesia?
Bagaimana mengambil sebagian acara2 wisuda pendidikan dan seragam kantor, sekolah, instansi, perusahaan mengunakan GAmbaran RAga BATIK INDONEISA?
Bagaimana facebook Group Gerakan Pembelaan Harga Diri Batik Indonesia ini mampu menemukan kendala2 dan solusi kreatif dari persoalan Batik Indonesia menjadi GAMbaran Raga Nagara Republik Indoensia?
Bismillah
Allahuakbar
Semoga Kasih Karunia Allah menyertai kita semua.
Amin Amin Amin.
***
Tadi saat makan siang, melihat ke sekeliling, beberapa orang mengenakan batik. Aku beritahu suamiku tentang batik yang menjadi world heritage, dan dia manggut-manggut. Masih tak sadar akan orang-orang yang mengenakan batik. Saat aku menyuruhnya memperhatikan sekeliling, dia berucap, “Kok tidak beritahu aku? Aku kan juga mau pake batik.” Terharu juga aku mendengar pernyataan itu keluar dari seseorang yang bukan orang Indonesia.
Terus terang, mendengar informasi bahwa batik menjadi world heritage, sangat membanggakan hati. Pengakuan ini layaknya mendapatkan perhatian dari seluruh rakyat Indonesia untuk lebih mencintai batik dan lebih mempopulerkan batik di kalangan bangsa sendiri.
Pakai batik? Asyik-asyik saja. Batik itu juga sebuah seni menurutku. Pakai batik ke tempat kerja? Bagus kok. Ada kesan resmi di dalamnya. Tinggal pilih warna dan model yang cocok. Pakai batik ke pesta? Kalau yang pria kayaknya sudah banyak, tapi wanita? Aku mau saja. Batik dengan model fashion yang bagus juga ada. Bahkan beberapa perancang sering mengangkat batik sebagai tema dari peragaan busana mereka.
Jadi, bagaimanapun juga, Selamat Hari Batik. Cintailah Batik kita
***
hem,, batik ya? B-A-T-I-K
B= budaya
A= asli
T= Terbaik
I = Indonesia
K = kan?
ujungnya ga enak banget… sumpah.. tapi itulah batik, dari jaman neneknya nenek gue batik itu udah ada, dulu batik biasa dipakai sahari hari sebagai pakaian raja kraton, namun sekarang kita semua bisa make batik, contohna disekolah, ada seragam batiknya, kalo seragamnya kotak kotak itu bukan batik, tapi taplak meja jadi baju.
seni membuat ukiran ukiran batik itu gak semua orang bisa bikin, dan daerah daerah tertentu itu punya motif batiknya masing masing, kayak motif bunga, burung, tokoh perwayangan, binatang, tumbuhan. gue lupa tempatnya dimana aja, yang jelas batik is the best indonesian art. sayangnya hari bersejarah ini jatuh pada hari jumat, dimana gue sekolah make baju pramuka. yah gak apa lah,
Indonesia itu Bhineka tunggal Batik, jadi mohon maap lahir dan batik.
HAPPY BATIK DAY!!!
***
Batik, sejak kecil saya sudah akrab dengan yang satu inii. Mulai dari selendang, daster, jarik ( untuk alas tidur) sampai sprei. Saya suka dengan batik. Kalo pakai batik terasa adem apalagi kalo hawanya panas..tapi ya itu tadi pemakaian batik hanya terbatas untuk yang santai2 aja di rumah.Engga pernah memakai batik untuk acara formal. Habisnya kebanyakan modelnya untuk orang tua sih, saya jadi malas takut ga up to date.
Tapii itu dulu, sejak setahunan ini baju-baju batik dengan model yang trendi banyak diproduksi. Pertamanya masih malu memakainya karena tidak banyak teman saya yang memakai batik. Tetapi sekarang udah enggak lagi, karena hampir setiap orang memakainya. Model dan coraknya juga macam-macam.
Saya senang sekali batik menjadi primadona bangsa sendiri dan bukan hanya orang-orang asing yang menghargarinya. Semoga hal ini akan terus bertahan dan bukan euforia sesaat saja.
***
BATIK….. BATIK…BATIK…. Aku cinta batik.
Awalnya aku tahu batik digunakan kalo hari jum’at dan untuk menghadiri acara-acara formal tertentu. Batik memang berbeda, menarik, indah. Dari kecil aku selalu semangat kalo hari jum’at tiba karena saatnya untuk memakai batik ke sekolah.Tapi sayang kenapa anak Indonesia masih malu dan merasa tidak nyaman kalo harus menggunkan batik ya…
Jauh sebelum batik ngetrend, aku pernah ke kampus menggunakan batik. Batik yang ku gunakan waktu itu adalah batik dari Papua. Tapi respon teman-teman malah “habis dari undangan??”. Seolah aneh kalo batik di pakai sehari-hari. Aku juga sempat punya baju tidur yang berbahan batik kaos. Kalo ada yang liat aku memakai baju itu…. Pasti dibilang kayak emak-emak jaman dulu. Tapi sekarang saat batik mulai menjamur sebagai trend fashion, banyak yang mengaku memang menyukai batik dan mengoleksinya, berebutan mencari batik tercantik dan termoderen. Dengan percaya dirinya batik digunakan dalam keseharian beraktifitas. Padahal sebelum batik menjadi trend kembali???
Harusnya sebagai bangsa Indonesia kita lebih bisa mencintai produk asli Indonesia. Yang terjadi malah bangsa luar dengan jelas mengagumi warisan budaya Indonesia, semangat ingin mempelajari berbagai macam kebudayaan asli bumi pertiwi, nah kita sendiri apa yang sudah kita pelajari dan kita ketahui tentang kebudayaan warisan leluhur??
Masih teringat beberapa waktu lalu ketika Malaysia mengakui beberapa kebudayaan dan pulau kita sebagai milik mereka, semua masyarakat Indonesia marah dan geram. Seharusnya kita sadar bahwa mereka mau mengakui kebudayaan milik kita karena memang apa yang kita miliki sangat mengagumkan dan tak ada yang dapat menyainginya. Tapi menaggapi penetapan batik oleh UNESCO menjadi warisan budaya bukan benda asli milik Indonesia, masyarakan kita seolah adem ayem saja tanpa ada respon, walaupun tidak sedikit juga yang menunjukan dukungannya.
kita harus bangga sama apa yang telah di miliki…. atas pencapaian ini harus di dukung dan dipertahankan. Semoga setelah ini kebudayaan warisan leluhur lainnya juga mendapat dukungan yang sama dari berbagai pihak.
Terimakasih kepada masyarakat yang dengan semangat tetap mempertahankan warisan budaya Indonesia. Selalu dengan setia mencintai kebudayaan bumi pertiwi. Terimaksih juga kepada para desainer yang telah merancang kain batik yang indah menjadi pakaian yang sangat cantik dan cocok untuk digunakan dalam beraktifitas sehari-hari..
Anak muda yang menentukan dan menjanjikan masa depan (Anies Baswedan. Ph.D).Tak bisa dibayang kan kalau anak muda sekarang lebih bergaya kebarat-baratan, mengagumi budaya luar dari pada budaya bangsa sendiri. Apa lagi yang akan terjadi dengan budaya Indonesia, bangsa mana lagi yang akan mengaku-ngaku dan berusaha merebut kekayaan budaya nasional??
Ayo anak muda Indonesia…. Semangatlah… pancarkan potensi dirimu dan cintailah bangsa mu ini…. Indonesia. Kalo bukan kita, siapa lagi.
***
Beberapa hari yang lalu, saya menerima invitation dari Lini G. Hanafiah untuk ikut festival nulis tentang batik. Spontan, saya klik “attending” di invitation itu. Walopun sesaat setelah saya “klik” saya jadi bingung “nulis apa ya?!” Udah banyak artikel dan tulisan dibuat sehubungan dengan di tetapkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO tanggal 2 Oktober kemarin. Mau bicara tentang nasionalisme, kayaknya udah terlalu sering orang bicara tentang itu, mereka pasti sudah bosan, dan saya gak mau dianggap pahlawan kesiangan yang tiba – tiba menjadi sangat nasionalis sekali…sementara sebulan yang lalu waktu diundang untuk Upacara bendera pembukaan Orientasi Mahasiswa Baru di kantor saya, saya lebih memilih untuk berteduh di ruangan ber-AC. Mau mengangkat tentang motif dan filosofi motif, saya takut salah ngomong…dan sepertinya orang akan lebih akurat mendapatkan info tentang itu dari ahlinya… atau Wikipedia atau google… Mau bicara tentang hingar – bingar orang yang mendadak hobi pakai batik, sepertinya juga sudah banyak artikel tentang itu… jadi, perkenankan saya melihat batik dari sisi yang berbeda….
Batik.
Karya seni satu ini jadi “primadona” sejak beberapa tahun belakangan. Proses hebohnya dimulai ketika Negara tetangga bermaksud mengklaim “si batik” ini milik mereka. Menurut sumber yang saya baca (kalau tidak salah Wikipedia), kata batik itu berasal dari bahasa Jawa “amba” (to write, nulis) dan “titik” (dot, titik). Memang kalau diperhatikan (saya perhatikan), motif batik itu merupakan gabungan dari garis lurus, garis lengkung, dan titik, campur aduk, morat marit sedemikian rupa…tapi ajaibnya, kesemrawutan itu jadi sesuatu yang bagus kalo dilihat dan diperhatikan secara general. Setuju?!
Ditengah – tengah kebingungan saya menulis tentang batik….tiba – tiba terlintas dalam benak saya, untuk menghubungkan batik dengan hidup….mendapati kenyataan bahwa saat ini, kita semua sedang “membatik” hidup kita masing – masing. Kita beri garis lengkung di sana – sini, kita beri garis lurus, kadang titik, kadang motif bunga, motif binatang, dan warna…atau apapun yang kita mau… Saat ini, kita sendiri gak bisa ngeliat sebagus apa atau seburuk apa kita “membatik” hidup kita. Walaupun ada orang – orang yang punya kesadaran tinggi, yang sudah memiliki gambaran atau pola “akan dibuat seperti apa hidupnya”. Setiap goresan, garis, titik, dan motif merupakan perwakilan dari setiap usaha, kerja keras, kebahagiaan, kesedihan, dan keseluruhan pasang surut dinamika hidup manusia. Saat kita menorehkan “canting” kita, tanpa sadar kita juga sedang berperan dalam penulisan sebuah sejarah. Sejarah kita dalam media yang bernama kehidupan. Awalnya, saat kita lahir media itu hanya berupa lembaran putih, namun dengan semua motif, garis, lengkung, dan warna yang kita torehkan sepanjang hidup kita, akan terbentuk suatu gambar besar tentang siapa kita dan bagaimana hidup kita. Proses “membatik” kita baru berakhir pada saat kita tutup usia nanti. Gambar besar yang kita buat itu, akan menjadi warisan bagi orang – orang yang mengenal kita atau mencintai kita. Saat itu akan kelihatan, semua garis lengkung, garis lurus, warna, titik dan motif yang kita buat dalam hidup kita, dan mereka lah yang akan membuat penilaian, apakah hidup kita pantas dianggap sebagai “masterpiece” atau bukan. Dalam menilai apakah hidup seseorang layak dijadikan masterpiece atau bukan, kita harus melihat secara keseluruhan, tidak bisa hanya sepenggal atau sebagian. Alangkah tidak bijaknya ketika kita menilai hidup seseorang pada saat dia sedang di atas saja, atau pada saat dia sedang dibawah saja. Sama seperti kita menikmati keindahan motif sebuah batik, kita tidak bisa menilainya ketika kita hanya disodorkan potongan kain batik ukuran 10 x 10 cm, karena pasti akan ada bagian yang terpotong, entah itu garis, lengkung, sulur, atau motif lain.
Satu yang patut dijadikan catatan bahwa membuat sebuah “masterpiece” bukan pekerjaan yang gampang. Untuk selembar batik tulis saja dibutuhkan waktu lebih dari satu bulan. Butuh kerja keras, dan ketekunan. Demikian pula hidup kita, dibutuhkan perjuangan, pengorbanan, ketekunan dan kerja keras sampai akhirnya mendapatkan pengakuan bahwa hidup kita berarti dan bernilai buat orang lain.
Dalam sebuah refleksi, Michael Jackson mengasosiasikan ikan lumba – lumba (dolphin) sebagai sebuah tarian. Dalam refleksi saya kali ini, saya mengasosiasikan batik sebagai hidup. Batik menurut pemikiran dan pemahaman saya. Saya senang karena pada akhirnya batik diakui sebagai milik bangsa ini. Semoga itu juga berarti kehidupan juga akan menjadi milik bangsa ini, bangsa ini akan menjadi bangsa yang pro kehidupan. Saya bangga karena bangsa ini memperjuangkan batik sampai ke tingkat internasional. Semoga bangsa ini juga berani memperjuangkan kehidupan. Saya bersyukur karena bangsa ini akhirnya mulai menghargai dan mencintai batik. Semoga bangsa ini juga semakin menghargai dan mencintai kehidupan itu sendiri, (kehidupannya dan kehidupan orang lain) dan akhirnya, saya berharap para pemilik kehidupan itu semakin berhati – hati dan bijak dalam menggoreskan “canting” masing – masing. Karena setiap kehidupan berhak untuk menjadi “masterpiece”.
…….
Every day create your history
Every path you take you’re leaving your legacy
Every soldier dies in his glory
Every legend tells of conquest and liberty
…….
(HIStory, Michael Jackson)
I’m sending you happy and sunny thought
-sunflower-
***
Batik yang Kupakai Setiap Hari
(silakan klik pada judul)
***
Sepercik Rasa Bangga di Hari Batik
(silakan klik pada judul)
***
(silakan klik pada judul)













SADURAN :
Batik dan Budaya Positif Bangsa
Published on October 2, 2009 by viktus
Soetrisno Bachir
Pengusaha Batik, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)
Membicarakan batik tidak sekadar membicarakan secarik kain yang dipakai untuk pakaian,seprei,taplak meja atau keperluan rumah tangga lainnya.
Membicarakan batik berarti membicarakan budaya bangsa Indonesia. Batik telah menjadi bagian aktivitas keseharian manusia Indonesia berabad-abad silam. Batik telah dikenal sejak zaman kerajaan Jenggala, Airlangga, Majapahit hingga masa kini. Yang sering tidak kita sadari adalah dalam batik dan membatik ada budaya positif yang sebenarnya sudah mendarah daging dalam masyarakat kita walau budaya positif tersebut seiring dengan perkembangan zaman mulai terkikis perlahan.
Budaya-budaya positif itu antara lain ketekunan, kemandirian, kewirausahaan, dan kreativitas–– yang kalau boleh meminjam bahasa anak muda––tak ada matinya. Membatik adalah kegiatan yang harus dilakoni dengan kesungguhan dan ketekunan. Untuk menghasilkan selembar batik tulis halus diperlukan sikap konsistensi dan kesabaran dengan tingkat kecermatan yang tinggi. Ini mengajarkan pada kita budaya tekun dan konsisten dalam mengejar dan mewujudkan cita-cita dengan menghasilkan sebuah karya yang paripurna.
Bertolak belakang dengan budaya instan yang belakangan sangat mendominasi dalam kehidupan masyarakat kita. Bangsa ini sudah hampir melupakan sebuah proses. Padahal sebuah proses akan menjadikan kita menjadi lebih bijak dalam bersikap dan lebih tahan terhadap tantangan. Ulat saja memerlukan proses berhari-hari untuk menjadi kupu-kupu yang indah. Demikian juga dengan batik, perlu ketekunan dan kesabaran yang konsisten untuk menghasilkan selembar kain indah. Banyak yang menginginkan kesuksesan tanpa melalui kegiatan yang bernama proses. Maunya jalan pintas. Tak mengherankan apabila segala jalan dilakukan.
Termasuk jalan haram demi untuk mengejar hasil sehingga menjadi wajar apabila kasus penyalahgunaan wewenang, termasuk korupsi, masih marak di negeri ini. Sayangnya sikap pragmatisme dan budaya instan ini juga sudah menjangkiti para pembuat kebijakan. Bangsa ini jarang suka bermain panjang dengan meletakkan dasar-dasar pembangunan yang memang baru akan dirasakan kelak.Misalnya lebih suka memilih mengimpor produk dari luar negeri yang memang kadang lebih murah daripada membuat kebijakan yang melindungi industri dalam negeri.
Kegiatan membatik juga mengajarkan budaya kemandirian. Seperti kita tahu,seluruh bahan yang digunakan dalam sebuah proses menghasilkan kain batik berasal dari dalam negeri dan bisa dibuat oleh masyarakat sendiri dengan berbagai skala industri,mulai rumah tangga hingga pabrikan. Kalaupun ada bahan yang diperlukan yang di daerah tersebut tidak ada biasanya didatangkan dari kota lain atau dari luar pulau saja.Tidak perlu sampai mengimpor dari negara lain.
Sebenarnya secara tidak langsung ini juga mengajarkan kepada kita nasionalisme yang sesungguhnya, bukan nasionalisme slogan yang terasa kaku, hambar, dan tidak menguntungkan rakyat.
*** Selain mengajarkan sikap nasionalisme, kegiatan membatik adalah kegiatan wirausaha yang padat karya dengan melibatkan banyak orang. Dulu zaman nenek saya, bahkan sampai zaman almarhum ibu saya, membatik adalah salah satu keterampilan yang pasti dikuasai oleh kaum wanita. Sampai- sampai ada gurauan, aib kalau wanita tidak bisa membatik.Membatik menjadi kegiatan yang jamak dilakukan oleh ibu-ibu hampir di setiap rumah tangga.Tentunya kegiatan positif ini mampu menunjang perekonomian keluarga.
Bahkan beberapa menjadi backbone perekonomian keluarga di sentrasentra batik seperti Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan.Termasuk dalam keluarga saya sendiri.Kedua orang tua saya menjadikan batik sebagai penghidupan.Pembagian tugasnya pun sangat jelas, kaum wanita seperti ibu saya mengurusi produksi, sedangkan bapak saya mengurusi penjualan. Makanya tak mengherankan apabila zaman saya kecil industri rumahan yang berkaitan dengan perbatikan banyak bermunculan.
Mulai industri kecil skala rumahan yang memproduksi kain, baik sutera maupun katun, pembuat alat tenun, canting hingga bahanbahan kimia yang diperlukan untuk pembuatan.Masyarakat membuatnya sendiri, hampir tidak ada yang diimpor.Ekonomi kerakyatan pada saat itu tumbuh. Masyarakat hidup.Ada denyut nadi yang terasa dalam kehidupan sehari-hari. Semua bekerja,tidak ada yang menganggur. Namun denyut kehidupan itu mulai melamban karena serbuan produk batik dari China yang menggunakan mesin, yang masuk pasar Indonesia dengan harga lebih murah.
Di sentra-sentra batik seperti kota kelahiran saya,Pekalongan, banyak industri pabrikan maupun rumahan yang mati suri. Untuk dapat bertahan saja susah. Sepertinya kejadian yang sama berlangsung di kota-kota lain seperti Yogyakarta, Solo, Cirebon, Madura, dan kota-kota kecil di sepanjang pesisir pantai utara Pulau Jawa.Tanpa adanya proteksi dan campur tangan dari pemerintah untuk melindungi industri batik dalam negeri, sama saja membiarkan budaya wirausaha yang ada dalam masyarakat kita hilang,berubah menjadi budaya konsumtif dengan menggunakan produkproduk luar negeri.
*** Boleh saja baru sekarang ini kita sibuk membicarakan industri kreatif.Namun sejatinya para pendahulu kita para pembatik telah menggeluti usaha yang bernama industri kreatif berabad-abad. Lihat saja betapa beragamnya pola batik yang mereka hasilkan. Kekreatifan mereka tak perlu diragukan. Anda bisa bayangkan, betapa rumitnya membuat pola batik. Semuanya dibuat dengan daya imajinasi tinggi tanpa bantuan perangkat elektronik yang bernama komputer.
Betapa bertalentanya masyarakat kita. Hebatnya lagi, tiap kota penghasil batik rata-rata mampu membuat pola indah yang berbeda antara batik yang satu dengan yang lain. Masing-masing mempunyai ciri khas dengan warna dominan yang berbeda. Semunya indah memesona. Saya tidak tahu persis di mana para pembuat pola-pola batik tersebut belajar. Biasanya keterampilan ini turun-temurun. Namun yang jelas pada masa itu tidak ada semacam sekolah disain grafis yang mengajarkan bagaimana membuat disain visual yang bagus. Kini batik telah diakui UNESCO sebagai warisan umat manusia, bagian dari budaya bangsa Indonesia.
Kita wajib bersyukur akan hal ini sehingga batik tidak semena-mena diklaim oleh negara lain. Walau demikian, ada sisi positifnya juga batik diklaim oleh orang lain. Bangsa kita jadi lebih bersemangat memperjuangkan hak miliknya yang selama ini dilupakannya sampai mati suri.
Kita hanya berharap adanya pengakuan dari dunia melalui UNESCO ini juga akan melecut semangat kita dalam menjaga warisan budaya bangsa dan nilai filosofi yang terkandung di dalamnya seperti budaya tekun, konsisten, mandiri, wirausaha, dan kreatif. Semoga budaya-budaya positif ini menjadi jiwa yang menggerakkan etos kerja manusia Indonesia yang mampu membawa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia.(sindo))
Filed under: Budaya Tags: Add new tag
Fauzan
“Belajarlah Walau Harus Ke Negeri Cina”
“…serbuan produk batik dari China yang menggunakan mesin, yang masuk pasar Indonesia dengan harga lebih murah” dapatlah dijadikan bahan pelajaran dalam bidang dan sektor lainnya.
Bagaimana mereka melihat peluang, improvisasi, percepatan produksi, percepatan perputaran uang,dsb yang bersifat multiplier atau “ping”. Percepatan ini-pun merupakan nilai tambah untuk produk-produk yang bersifat statis, konstan, kualitas seragam, dan massal atau pekerjaan manusia yang bisa dan bahkan harus digantikan oleh alat dan mesin. Dengan demikian manusianya senantiasa berfikir dan berbuat positif untuk selalu memperoleh kebaikan melalui efesiensi dalam segala hal.
Tersedia waktu dan tenaga lebih banyak untuk melakukan hal-hal positif lainnya karena sebagian pekerjaan tergantikan oleh mesin. Manusianya memiliki kesempatan memadai untuk mengerjakan hal-hal yang tidak tergantikan oleh mesin, seperti pengembangan ide, design, nilai-nilai filosofi,budaya,dll. Dengan demikian kita tidak anti terhadap mesinisasi, mekanisasi atau modernisasi.
Insya Allah bersambung dan berlanjut.
ttd,
Fauzan.
INDONESIA BERBALUT BATIK
Dalam sehari saja Indonesia langsungb= berbalut dengan batik. Apakah ini jawaban atas siapa Bangsa ini???selalu menunggu sebuah pengakuan baru mau mengenakan pengakuannya…
semua mulai lupa ketika batik kurang populer dimasyarakat, namun ketika sudah mulai di ambil oleh bangsa lain.maka suara2 tak bertanggung jawab mulai melakukan pengakuan….
aduh….hhh, bangsa ini kapan bisa sadar diri?