Pecahan Hati
(Yohana Fransiska Lily)
Cinta mungkin bisa membuat dirimu menangis
Dan menghancurkan hatimu berkeping-keping…,
Tetapi karena cinta pula akan ada seseorang yang akan mengumpulkan serpihan-serpihan hati itu menjadi utuh kembali.
Pergantian tahun demi tahun disusul dengan perjalanan yang panjang, aku sendirian tapi aku tidak kesepian. Bangku-bangku panjang terlihat kosong di taman kota yang biasanya bising oleh keramaian dan kesibukan kota. Tapi hari ini sangat begitu sepi. Hanya beberapa bangku saja yang terlihat ada orang-orangnya sedang melamun, sedang merokok, dan ada juga yang sedang minum kopi menikmati siang hari. Sedangkan diriku, aku memikirkan seorang lelaki yang tiba-tiba menyusup di hatiku dan sesaat memberikan dadanya untuk menjadi sandaranku.
Terbentang didepanku ingatan 2 tahun yang lalu, betapa sakitnya saat orang yang kucintai menghianatiku dengan wanita lain. Orang yang kuyakini akan menjadi pelabuhan terakhir dari pencarian cinta sejatiku ternyata mencoret dan membawa luka yang begitu dalamnya. Tiba-tiba sekarang…,ada lelaki yang kutemui dan kurasakan dapat menjadi sandaran hidupku yang penuh luka. Sesaat dia memberikan cahayanya untuk diriku. Tapi dengan berjalannya waktu, rupanya aku salah… !! aku terjebak didalamnya.
Memang aku belum begitu mengenalnya.., mungkin setelah aku mengenal dia.., bisa-bisa aku malah tidak menyukainya. Tapi namanya juga usaha!!
Hanya saja… saat aku memberanikan diri untuk jujur kepadanya bahwa aku merasakan ‘klik’ saat berbicara dengannya, dia malah menghilang dari hidupku! Aku mengerti, mungkin ini cara dia memberitahukan kepadaku bahwa dia tidak merasakan seperti yang ku rasa. Tapi apakah harus disikapi dengan ‘DIAM’??? tidak menerima telphoneku!, tidak membalas sms ku!, apalagi ngomong ama aku??? Mungkin aku memang tidak akan pernah mengerti.
Entah mengapa hati ini menjadi begitu rapuh dan aku mulai hancur kembali. Bahkan aku sendiri tidak berani untuk melihat hatiku sendiri, dan keyakinan menjadi pergulatan dalam hidup romantika ku bahwa aku yakin tidak akan ada orang yang berani memungut dan mengumpulkannya menjadi utuh kembali. Aku tidak tau bagaimana cara “memperbaikinya”.
Yang ku rasakan hanya satu hal. Seluruh tubuhku terasa sakit. Tak seorangpun, tidak temanku atau orangtuaku sekalipun, yang benar-benar tahu betapa parahnya rasa sakitku. Aku tidak ingin keluar kamar, aku tidak ingin makan, aku tidak ingin tidur, sampai-sampai kerjaan dari gereja maupun kantor sedikit berantakan, aku hanya mau sendirian karena aku ingin dia memelukku dan berbicara padaku. Aku tidak ingin membicarakan pada siapapun – yang pasti tidak dengan orangtuaku dan adikku.
Namun, adikku tetap saja bertanya. Melihat aku gusar pada hampir semua orang dan cenderung sensitif, adikku bertanya . “Ly, mau membicarakan sesuatu yang mengganggumu?”
“Tidak” tangisku.
“Dengan membicarakannya bisa membuatmu lebih tenang dan lebih lega” Lulu mengingatkanku.
“Ini cuma kesalahan tolol aja…,terlalu banyak berharap. Aku tidak apa-apa kok!” kataku, berharap tak perlu menjelaskan lagi.
Adikku tak bertanya lagi. Dan memberikan waktu untuk diriku sendiri. Pastilah dia berasumsi jika sudah baikkan pasti nanti akan cerita. Setelah semingguan aku menangis, adikku meningkatkan perhatiannya pada masalah ini, aplagi setelah apa yang pernah aku lewatkan belum menyembuhkan perasaan dan hati.
“Aku tau, kau menderita karena masalah ini,” katanya.
“Aku rasa kita harus membicarakannya” dengan serius lulu memperhatikan wajahku yang meneteskan air mata.
“Lu….” tangisku.
“Terlalu sakit untuk dibicarakan!” aku semakin menangis.
“Iya kakakku… aku tau itu, dan aku mengerti,” dia menghibur
“Aku, bisa melihat kau sangat terluka” sambil membelai rambutku.
“Kenapa rasanya begitu sakit?” tanyaku.
“Sakit adalah cara Tuhan mengatakan bahwa hatimu patah”
“Aku tak perlu Tuhan memberitahukan hatiku patah” tangisku
“Aku hanya perlu Dia memperbaikinya”.
“Ly…, walaupun agama kita sekarang berbeda.., tapi yang aku tau kamu pasti bisa mengerti posisi Tuhan saat bertindak!, Dia bertindak tepat pada waktunya, mungkin saat ini kamu perlu duduk diam dan mendengar serta koreksi diri.
Kamu wanita mandiri, kamu tulang punggung keluarga, kamu bekerja berdasarkan hasil yang kamu tanam, dan kamu pantas untuk dicintai oleh siapa saja!” lulu menasehati.
“Lebih baik kau serahkan semua pecahan hatimu pada-Nya, Tuhan tidak dapat memperbaiki hatimu yang patah jika kau tidak menyerahkan semua pecahan hatimu yang patah pada-Nya”
Dan akhirnya aku melihat diriku apakah aku sudah menyerahkan semua hati dan kepercayaan perkara pada-Nya atau aku hanya berpegang pada kehendak dan kemauan diriku sendiri? Tanpa memikirkan kehendak orang yang kusayangi!
Aku teringat tulisan yang membuat aku tersenyum kembali sejak ayahku pergi kerumah Bapa di surga dan aku merasa sendirian:
“Tuhan tidak dapat memperbaiki hatiku yang patah jika aku tidak menyerahkan semua hatiku pada-Nya, dan walaupun sampai sekarang aku masih sendirian tapi aku tidak kesepian karena Tuhan memperbaiki hatiku setiap hari, setiap waktu dalam setiap hembusan nafasku.”
Aku bersyukur rasa sakit ini terjadi padaku, karena dengan melewati ini semua, aku diajarkan menjadi semakin lebih bijak, tidak memaksakan kehendak ku sendiri dan yang pasti semakin menyerahkan semua perkara padaNya serta terus berusaha untuk maju lebih baik lagi karena aku pantas mendapatkan yang baik.













^_^ GOd is GOod all the time :p
thanks yaaa… God is good…Yesss