Sinterklas dan kado
(Yohana Fransiska Lily)
Doa lebih istimewa dari semua barang berharga.
Kekuatan DOA lebih dashyat dari ledakan nuklir.
Kekuatan DOA lebih besar dari pada segala kekuatan apapun.
Karena DOA merupakan hubungan terkuat dengan TUHAN, Sang Pemilik Kekuatan.
Sinterklas dan kado. Lalu disusul dengan masa natal dan pergantian tahun.
Apa pentingnya. Membayang dalam benak Robin.
Suatu hari awal Desember. Suasana natal mulai terasa. Di sebuah rumah, seorang ibu sedang menghias ruang tamu dengan pernak-pernik khas natal. Di pohon natal bergelantungan hiasan kecil lonceng, terompet, malaikat, rumbai-rumbai keemasan dan bintang besar pada puncaknya. Terkesan meriah dan sukacita. Seorang anak laki-laki duduk di pojok. Bersandar di dinding. Menatap kagum. Tiba-tiba rasa ingin tahu menggelitik hatinya.
“Ibu.., aku ingin tahu rahasia Sinterklas. Ceritakan padaku!” menatap ibunya dalam-dalam. “Bagaimana cara Sinterklas bepergian untuk memberikan hadiah di setiap rumah. Setiap tahun ia melakukannya, tapi tidak pernah kehabisan kado untuk dibagi-bagikan pada semua anak di dunia? Bagaimana ia mengisi kantong-kantong kadonya,Bu?”.
Ibunya hanya tersenyum. Menatap hangat pada Robin anaknya. “Nanti aja ceritanya. Kamu cuma ingin kado natal mobil-mobilan to?”
Robin menggelengkan kepala, “Ibu..aku serius….!! aku sangat ingin tau”.
“Nah, dengarkanlah kalo begitu. Rahasia ini akan membuat dirimu belajar menjadi lebih bijaksana. Sebetulnya hadiah Sinterklas berisi KEAJAIBAN dan CINTA.”
Robin mendekatkan wajahnya pada ibunya, “maksud ibu keajaiban apa?? Aku tidak mengerti”.
Ibu memegang tangan anaknya, “Sinterklas membawa banyak mainan, tetapi waktu mengunjungi setiap rumah ia mendapati banyak macam-macam rumah. Ada rumah besar, ada rumah kecil, ada rumah yang putus asa, ada rumah yang sedih, ada rumah yang berduka, ada rumah yang rusak dan masih banyak lagi!”
Robin menganggukkan kepala. Ibu melanjutkan penjelasannya. “Mainan banyak di kereta Sinterklas tapi apa yang bisa dilakukan Sinterklas untuk rumah yang putus asa, untuk rumah yang sedih, untuk rumah yang berduka, untuk rumah yang kesepian?”.
Robin menjawab, “Mungkin Sinterklas menangis melihat rumah itu.”
Ibu menatap Robin lekat-lekat, seakan ingin mencamkan kata-katanya di kening Robin.
“Mainan paling mahal apapun tidak dapat menghapus kesedihan, tidak dapat mengobati hati yang berduka. Karena itu, Sinterklas tidak hanya memberikan hadiah barang. Sinterklas memberikan hadiah lain yaitu cinta kasih sehingga hadiahnya tidak pernah habis. Cinta tidak pernah habis untuk dibagi-bagikan. Terkadang Sinterklas hanya mencium mereka dan berdoa bersama mereka, agar semua penghuni rumah dapat merayakan natal dengan bahagia. Natal yang membahagiakan itu tidak terletak pada berapa mahal mainan, kado apa yang kamu dapat, atau baju baru apa. Tapi terletak pada hati kamu, nak. Makanya kita perlu berdoa supaya hati kita mampu memberi cinta”.
“Lalu, apa yang aku harus lakukan untuk bisa membantu, agar setiap sudut rumah dapat merasakan damai dan indahnya natal?” Ibu tersenyum bangga dengan niat Robin.
“Tidak sulit Robin sayang. Buatlah seperti Sinterklas yang bersedia berdoa untuk orang lain, memberi senyuman lambaian tangan sebagai tanda cinta. Lakukanlah dengan gerakan dari dalam hati. Percayalah, gerakan dari dalam hati dapat menjadi saluran damai yang semuanya datang dari Tuhan juga. Hatimu merupakan pusat terang dan cinta kasih. Jadi, jangan terlalu perhatikan kado di bawah pohon natal ya.”
Raut wajah Robin mengembang senyum. “Aku mengerti. Jadi, aku harus membuka hati agar dapat berbagi diri kepada teman-teman. Berbagi diri seperti canda tawa, sukacita, perhatian, persahabatan dan berbagi pelayanan. Jadi, hadiah cinta kasih dari dalam hati jauh lebih besar.”, ditanggapi dengan anggukan kepala sang ibu.
Sang ibu melanjutkan pekerjaan hariannya. Robin merenungkan jawabannya. Terbayang Perayaan Ekaristi setiap minggu. Membatin, “Ah kesempatan bersyukur dan berdoa yang aku sering abaikan. Aku akan mulai gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Betapa sering, kesempatan ini ku ikuti hanya sambil lalu dan hanya berdoa untuk diri sendiri. Tuhan aku akan membagikan kebahagiaanku ini pada teman-teman.”.
“Terima kasih ya Bu untuk rahasianya.”, kata Robin setengah berteriak dari ruang tengah sambil tersenyum menatap pohon natal. Lagu natal menggema. Tiba-tiba, ia menyambung, “Bu, tidak usah membelikan mainan mobil-mobilan untuk aku. Uangnya untuk Riki aja. Dua minggu lalu dia tidak masuk sekolah karena tidak punya uang membeli buku”
“Ya. Lalu…, apa kamu sungguh mau membantu? Mau berbagi?”
Dengan tangan kecilnya menyentuh dadanya dan berkata di depan sang ibu, “dengan segenap hati dan cinta, AKU MAU”. Tangan lembut sang ibu membelai rambut si anak. Robin menatap polos lalu pergi dari hadapan ibunya.
Hari ini begitu indah. Tidak terasa air mata sang ibu mengalir. Dalam keheningan ibunya membatin : “Tuhan, terimakasih untuk anugerahMu. Engkau telah memberikan seorang anak yang istimewa bagiku. Terimakasih ya Tuhan, karena ia masih bisa berbagi. Ini kado natal paling istimewa dalam hidupku”.












