Kekalahan itu menyakitkan

bulutangkis

kalah itu menyakitkan

Aku tidak kuasa untuk melihatnya. Beberapa kali aku menunduk. Sesekali aku bertepuk tangan memberikan semangat. Tenggorokanku tersedak. Tercekat.

Kadang aku ingin berteriak kepada mereka. Sekedar memberi arah. Agar keadaan tidak semakin parah. Tapi aku tidak mampu. Atau mungkin juga karena aku sebenarnya tidak tahu.

Sesekali aku memandang Detha yang ikut cemas. Sedari tadi bidadariku cerewet bertanya. Menang yang mana pak? Keluar atau masuk pak? Dan tiba-tiba aku menjadi orang yang paling tidak sabar menghadapi pertanyaannya. Duh jangan tanyakan apa-apa dulu anakku.

Sekali waktu, mereka bersamaan memandangku. Dengan muka penuh peluh, mereka seakan bertanya kenapa aku tega menyiksanya seperti itu. Wajah mereka lelah. Mungkin juga memendam marah. Ah .. semoga saja tidak.

Diam-diam aku menangis. Dalam hati. Setiap kali mereka dihantam, aku menjerit lirih. Pedih. Tiap kali perlawanan mereka dimentahkan, aku merasakan sakit di ulu hati. Mereka memang yang bermandi peluh. Tapi aku merasa, bahwa kekalahan yang ada adalah kekalahanku.

Semuanya dimulai ketika undangan itu tiba …

OMK di salah satu lingkungan di wilayah kami sedang berulang tahun dan bermaksud mengadakan pertandingan bulu tangkis antar OMK lingkungan. Sebagai penanggung jawab anak muda di lingkungan, akulah yang ketiban sampur untuk menyiapkan semua. Kebetulan pada hari H – Ketua Lingkunganku sedang mengikuti KEP di luar kota.

Aku berpikiran bahwa ini adalah pertandangan persahabatan. Jadi daripada WO aku memilih mengirimkan OMK yang ada. Terus terang, komposisi pertandingannya agak ‘tidak biasa’.

- 1 tunggal putra
- 1 ganda putra
- 1 ganda campuran

Menuruku panitia benar-benar telah menyiapkan pertandingan yang pasti menguntungkan OMK lingkungan mereka. Dengan komposisi seperti di atas, berarti dibutuhkan 4 putra dan 1 putri untuk masing-masing lingkungan.

Padahal setahuku, di lingkunganku, justru kebanyakan pemain bulutangkis untuk OMK adalah putri. Yang putra hanya 1 orang yang ikut latihan di hall.

Ya sudah. Toh ini hanya pertandingan persahabatan. Akhirnya aku menyiapkan 3 pemain putra (ketiganya tidak begitu jago main bulutangkis – bahkan 1 orang adalah bintang lapangan basket) dan 1 pemain putri.

Ketika aku datang ke tempat pertandingan, 1 orang pemain putra ternyata sakit dan 1 orang lagi tidak ada kabarnya. Hiks.

Aku kelabakan mencari pengganti. Salah satu OMK yang sedang tidur, aku minta untuk datang dan ikut main.  Karena tidak ada lagi pemain lain, aku menghubungi panitia dan menyatakan bahwa kami hanya punya 2 pemain putra dan 1 pemain putri. Ternyata 1 pemain boleh main di partai pertandingan. Beres.

Begitulah. Sampai pertandingan dimulai. Aku melihat sang jagoan basket ditekuk habis dari mulai set pertama. Lawannya kelihatannya memang bukan lawan yang enteng. Beda kelas. Demikian juga, di set kedua, walaupun aku melihat dia sudah berusaha matia-matian, tetap saja tidak bisa memenangkan set tersebut. Partai tunggal putra – kalah.

Dilanjutkan partai kedua. Ganda putra. Karena tidak orang lain, sang pemain tunggal putra turun lapangan lagi memainkan pertandingan ganda putra. Mungkin karena cukup kelelahan karena sudah main di tunggal putra atau memang karena kedua pemain tidak pernah berlatih bersama sebelumnya, 2 set langsung dimenangkan pihak lawan.

Hasil 2 – 0 kekalahan untuk tim lingkungan kami. Karena memang hanya  memainkan 3 partai, maka hasil apapun di partai ke 3 tidak akan mempengaruhi hasilnya. Kami tetap kalah. Tapi untuk tidak mengecewakan pemain yang sudah datang, akhirnya aku tetap minta untuk memainkan partai ganda campuran.

Aku tidak tahu, bagaimana jalannya pertandingan partai terakhir, karena aku sudah pulang duluan karena ada tugas kantor yang harus aku kerjakan hari itu.

Tapi yang jelas, aku belajar banyak dari kejadian kemarin. Bahwa … kekalahan tetaplah kekalahan ~ walaupun dalam sebuah pertandingan persahabatan. Dan itu menyakitkan.

* Terima kasih kepada Wisnu, Gerry, Grin dan Chyntia untuk semua dukungan dan keikutsertaannya.


Posted in hari-hari Tagged: catatan, diary, harian

Leave a comment

Your comment